Berita Media

TKI Bermasalah di Yordania Raih Bantuan Ekonomi

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tidak dibayar upah oleh majikannya mengetuk hati filantropis Indonesia,  Tahir. Karenanya bersama Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Duta Besar RI untuk Yordania Andy Rachmianto, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Dewan Direksi Tahir Foundation dan Bank Mayapada diberikan bantuan kepada Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) dari Yordania.
 
"Saya tidak habis pikir pada saat sekarang masih ada orang yang tidak mau membayar upah orang yang dipekerjakannya selama lebih 10 tahun," ujar Tahir di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Kamis 7 September 2017.
 
Dari keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com ,dari KBRI Amman, Jumat 8 September 2017, Tahir juga menyampaikan terima kasih kepada KBRI Amman atas kesempatan bertemu dan bertatap muka dengan para TKIB pada kunjungan ke Yordania April lalu.
 
Pimpinan Tahir Foundation ini berharap agar pemerintah tidak lagi mengirim tenaga kerja sebagai domestic worker. Indonesia harus mampu mengirim tenaga kerja yang terampil dan profesional untuk bidang-bidang kerja formal yang selama ini dikuasai oleh tenaga kerja dari Filipina, Thailand dan India.
 
Dia mengatakan Tahir Foundation siap medukung program pelatihan yang dipersiapkan oleh Menteri Tenaga Kerja dalam membentuk tenaga terampil melalui balai-balai latihan (BLK).
 
Permasalahan yang dihadapi para TKIB di Yordania pada umumnya terkait gaji dan izin tinggal yang tidak dibayar oleh majikan. Meskipun berbagai upaya hukum sudah dilakukan, namun tidak semua TKIB berhasil mendapatkan hasil jerih payahnya selama ini. 
 
Banyak majikan berusaha menghindar membayar gaji bertahun-tahun dengan berbagai alasan. Hal ini yanh memaksa sejumlah TKIB melarikan diri dan meminta perlindungan pada KBRI Amman.
 
Menteri Hanif Dhakiri dalam arahannya juga menyampaikan terima kasih atas koordinasi dan kerjasama Kementerian Luar Negeri, BNP2TKI, Perwakilan RI di luar negeri dan juga peran tokoh perorangan seperti Bapak Dato’ Tahir dalam melakukan perlindungan TKI di luar negeri. Tidak banyak pengusaha yang punya perhatian dengan pekerja migran.
 
Hanif menyebutkan Kemenaker akan terus memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja (BLK) dengan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) sebagai alternatif dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan global yang semakin ketat. Hanif menyambut baik usulan dari Tahir Foundation dalam meyiapkan software yang tepat dalam menyiapkan tenaga yang handal.
 
Dalam acara penyerahan bantuan, para TKIB dipanggil ke hadapan Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri dan Dato’ Tahir selaku Pimpinan Tahir Foundation untuk menerima secara simbolis buku tabungan yang berisi bantuan keuangan. Dato’ Tahir tidak bisa menyembunyikan rasa suka citanya pada saat menyerahkan bantuan kepada semua TKIB, sekaligus berharap agar bantuan ini dapat digunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
 
Hanif juga berharap agar bantuan ini tidak digunakan untuk keperluan yang tidak perlu. 
 
KBRI Amman sebagai perwakilan “citizen service” dalam melaksanakan fungsi perlindungan dan bantuan hukum akan terus berusaha menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi TKIB. Saat ini mereka berada di Griya Singgah (shelter) KBRI Amman untuk memperoleh hak-haknya dan dapat dipulangkan ke tanah air.
 
Dubes Andy pada kesempatan sebelumnya saat melepas para TKIB dari Griya Singgah KBRI Amman berpesan agar bantuan dari Dato’ Tahir dapat dimanfaatkan sebagai bekal hidup bersama keluarga di kampong halaman. Disamping itu, beberapa keterampilan yang didapat selama berada di Griya Singgah dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga. 
 
"Saat ini yang perlu dilakukan adalah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena masih ada seorang dermawan yang mau memperhatikan nasib para TKIB," ujar Dubes Andy.
 
Dia juga mengingatkan jangan pernah ingin kembali lagi ke luar negeri hanya untuk menjadi pembantu rumah tangga.


Pengusaha Tahir Bantu 12 TKI yang Gajinya Tak Dibayar


Liputan6.com, Jakarta Tak hanya peduli pada masalah pendidikan dan pengungsi, pengusaha dan flantropis Dato’ Sri Tahir juga peduli pada nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Kamis malam 7 September 2017, melalui Tahir Foundation, ia memberikan bantuan US$ 111.000 (hampir Rp 1,5 miliar) kepada 12 TKI yang bekerja di Amman, Yordania yang tidak dibayar gajinya oleh majikan.

Pemberian bantuan kemanusiaan itu dilakukan di kantor Kementrian Ketenagakerjaan RI, Jalan Gatot Subroto Jakarta, disaksikan oleh Mentri Ketenagakerjaan, M. Hanif Dhakiri, perwakilan KBRI Yordania serta Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan TKI (BNP2TKI).​

“Pemerintah sangat mengapresiasi kontribusi yang diberikan oleh Bapak Dato’ Tahir terhadap 12 TKI yang bermasalah di Yordania,” kata Menaker. “Banyak pengusaha yang punya kepedulian sosial. Namun sedikit yang peduli pada nasib TKI”.

Pekerja migran asal Indonesia di sektor domestik, diakui Menaker memang sangat rentan. Oleh karenanya, pemerintah telah melarang pengiriman TKI sektor domestik ke 19 negara di kawasan Timur Tengah. Pemerintah terus mengupayakan perlindungan maksimal kepada TKI dengan melibatkan Atasase Ketenagakerjaan dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di tiap-tiap negara pengguna TKI, mengupayakan kesepakatan perlindungan yang mengikat dengan negara-negara penerima TKI untuk melindungi TKI dan keluarganya, serta peningkatan kompetensi TKI.

Dua belas TKI tersebut yaitu Tati Hartati binti Hidayat Saman (Tangerang, Banten), Nining Binti Nakib Emin (Karawang, Jawa Barat), Ikah Islamiyah (Bantul DI Yogyakarta), Idah Rosyidah binti Juarta Ana (Bandung, Jawa Barat), Tira binti Tirya (Majalengk, Jawa Barat), Khusnul Khotimah (Pamekasan, Jawa Timur), Jumiah binti Nurite (Lombok Tengah, NTB), Musjalifah (Banjarmasin, Kalimantan Selatan), serta empat lainnya dari Indramayu Jawa Barat atas nama Siti Soleha, Yuyun Yuniati, Maslikah dan Siti Aisyah. Mereka tiba di Indonesia sejak 6 September 2017.

Menurut Menaker, kembalinya 12 TKI tersebut menunjukkan kerjasama yang baik dari berbagai pihak yakni Kemenaker, Kementrian Luar Negeri khususnya KBRI Yordania, BNP2TKI, serta Tahir Foundation.

Kepedulian Tahir atas 12 nasib TKI tersebut bermula ketika dirinya yang juga sebagai Eminent Advocate dari Komisioner UNHCR (Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi), berkunjung ke Yordania untuk memberikan bantuan kepada pengungsi Suriah. Oleh pihak KBRI di Amman Yordanian, Tahir dipertemukan dengan 12 TKI tersebut yang tinggal dalam penampungan KBRI. Mereka melarikan diri dari majikan karena tidak dibayar gajinya. Ada yang tidak menerima gaji selama satu tahun, ada yang sampai 10 tahun.

Pertemuan tersebut mengetuk hati Tahir untuk membantu memberikan bantuan sebagai ganti sebagian gaji serta memulangkannya ke tanah air.

“Sungguh tidak bisa diterima akal, orang bekerja bertahun-tahun tanpa menerima upah. Ini sungguh tidak adil,” kata Tahir.

Dalam kesempatan tersebut, Tahir menyatakan komitmennya mendukung pemerintah yang terus berupaya mengurangi pengiriman TKI sektor domestik serta hanya akan mengirim TKI terampil.

Baik Menteri Hanif maupun Tahir menghimbau agar bantuan yang telah diterima hendaknya tidak digunakan untuk kepentingan konsumtif, namun untuk kepentingan produktif seperti membuka usaha.