Ethiopia

​ PROFIL NEGARA ETHIOPIA
 
Nama Resmi Negara               :   Republik Demokratik Federal Ethiopia, The Federal Democratic Republic of Ethiopia
Bentuk Negara                        :   Federasi
Ibukota                                    :   Addis Ababa (artinya bunga baru)
Luas Wilayah                           :   1.127.127km2 (Indonesia: 1.990.250 km2)
Jumlah Penduduk                   :   106.248.074 (World Population Review, Jan 2018)
Lagu Kebangsaan                   :   Wedefit Gesgeshi, Wid Enat Ityopya / March Forward, Dear Mother Ethiopia
Agama                                     :   Orthodoks Ethiopia (43,5%), Muslim (33,9%), Protestan (18,6), Tradisional (2,6 %), Katolik (0,7 %).
Bahasa                                     :   Amharic dan Inggris digunakan dalam korespondensi, Bahasa daerah; Tigrinya,                                                       Oromiya  Guaraginya, Somali, dan bahasa lainnya.
Mata Uang                               :   Ethiopian Birr (1 US$ = 27.78 ETB, per 27 April 2018)
Hari Nasional                           :   28 Mei (the Victory of the Ethiopian People over the Dictatorship)
Etnis/Suku                                :   Oromo 34,4%, Amhara 27%, Tigre 6,1%, Somali 6,2%, Sidama 4%, Gurage 2,5%, Wolaita 4%,
Afar 4%.
Sistem Pemerintahan               :   Parlementer, kekuasaan eksekutif tertinggi pada Perdana Menteri. Anggota Kabinet,                                                        Menteri dipilih PM dan disetujui oleh Parlemen 
Presiden                                   :   Dr. MulatuTeshome
Perdana Menteri                      :   Abiy Ahmed, Ph.D (dilantik 2 April 2018)
Menteri Luar Negeri                 :  Dr. Workneh Gebeyehu
Duta Besar Ethiopia Untuk RI  :   Prof. Admasu Tsegaye
Duta Besar RI untuk Ethiopia   :   Imam Santoso
GDP                                          :   $72.374 Milyar (World Bank 2016)
GDP per kapita                        :   $706 (World Bank 2016)
Komoditas eksport utama        :   Kopi (27%), oilseeds (17%), produk nabati termasuk khat (17%), emas (13%), bunga (7%),                                                        hewan ternak (7%), produk kulit (3%), produk hewani/ daging (3%)
Komoditas import utama         :   Peralatan mesin dan pesawat terbang (14%), metal and produk metal (14%),                                                        bahan-bahan elektronik (13%), produk minyak bumi (12%), kendaraan bermotor (10%),                                                          bahan-bahan kimia dan pupuk (4%)
Keanggotaan di Organisasi
Regional dan Internasional      :   ACP, AFDB, AU, COMESA, EITI (negara kandidat), FAO, G-24, G-77, IAEA, IBRD, ICAO,                                                         ICRM, IDA, IFAD, IFC, IFRCS, IGAD, ILO, IMF, IMO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU,                                                          ITUC, (NGOs), MIGA, NAM, OPCW, PCA, UN, UNAMID, UNCTAD, UNESCO, UNHCR,                                                          UNIDO,UNISFA, UNMIL, UNOCI, UNWTO, UPU, WCO, WFTU (NGOs), WHO, WIPO, WMO,                                                         WTO (observer)
 
ethiopia map.jpg 
 
 BENDERA ETHIOPIA
 
 
 
Tiga warna horizontal yang terdiri dari warna hijau (di atas), kuning (di tengah), dan merah (di bawah) serta lambang bulat berwarna biru muda yang berisi pentagram berwarna kuning merupakan bendera resmi Ethiopia. Warna hijau melambangkan harapan dan tanah yang subur, warna kuning melambangkan keadilan dan harmoni, sedangkan warna merah melambangkan pengorbanan dan kepahlawanan dalam membela tanah air (nasionalisme). Lambang bulat berwarna biru muda melambangkan perdamaian dan pentagram melambangkan kesatuan dan persamaan bangsa dan rakyat Ethiopia.
 

Catatan:

Ethiopia adalah negara merdeka tertua di Afrika, dan tiga warna utama bendera Ethiopia telah banyak diadopsi oleh negara-negara Afrika lainnya dikarenakan Ethiopia merupakan satu-satunya negara di Afrika yang tidak pernah dijajah. Tiga warna tersebut terkenal sebagai warna Pan-Afrika; lambang bulat berwarna biru muda dan pentagram yang berada di tengah bendera, baru ditambahkan pada tahun 1996.

Etimologi Ethiopia

Asal nama Ethiopia berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni "Aethiopia" (Αἰθιοπία), yang terdiri dari 2 (dua) suku kata yaitu αἴθω +  ὤψ (aitho "Saya membakar" + ops "wajah"). Aethiopia juga sering di artikan sebagai wilayah yang terletak di sebelah selatan Egypt (bagian atas sungai Nil).

Geografi

A.     Letak geografis

Luas wilayah Ethiopia yakni sebesar 1.127.127 kilometer persegi, Ethiopia adalah negara ke-27 terbesar di dunia. Titik koordinat Ethiopia adalah 8. 00 Utara, 38. 00 Timur. Ethiopia berbatasan langsung dengan Eritrea di sebelah Utara, Djibouti dan Somalia di sebelah Timur, Kenya di sebelah Selatan, dan Sudan & Sudan Selatan di sebelah Barat.

B.     Keadaan/ Rentang Alam

Wilayah Ethiopia pada umumnya terdiri dari dataran luas pegunungan dan dataran tinggi yang dibelah oleh Great Rift Valley yang membujur dari utara ke selatan Ethiopia. Di bagian Barat ke arah Timur Ethiopia pada umumnya merupakan dataran rendah, padang rumput ataupun dataran semi-gurun. Keanekaragaman bentuk wilayah, telah menentukan variasi iklim, jenis tanah, jenis vegetasi alami, dan pola pemukiman masyarakat Ethiopia.

Ethiopia merupakan negara yang tidak memiliki laut (landlocked), di mana seluruh wilayahnya dikelilingi oleh negara lain. Seluruh garis pantai (coastline) yang dipunyai oleh Ethiopia telah menjadi wilayah Eritrea, setelah kemerdekaan Eritrea secara De Jure pada tanggal 24 Mei 1993. Hal tersebut menjadikan Ethiopia sebagai negara landlocked dengan jumlah populasi terbesar di dunia.

C.     Cuaca 

Sebagian besar wilayah Ethiopia berada di ketinggian, yang bervariasi tingkat ketinggiannya. Ibukota Addis Ababa memiliki ketinggian sekitar 2.400 m di atas permukaan laut dan kota Bahir Dar 1.800. Ethiopia memiliki musim hujan dari bulan Juni sampai Agustus. Bulan Desember sampai Januari adalah musim kering.

D.     Pembagian Wilayah Administratif 

Ethiopia merupakan negara Federasi yang terdiri atas sembilan negara bagian yang dibagi berdasarkan etnis yaitu: Afar; Amhara; Binshangul Gumuz; Gambela Hizboch; Hareri Hizb; Oromia; Somali; Tigray; Southern Nations, Nationalities and People's Region (SNNPR) dan dua wilayah kota administratif yaitu Addis Ababa dan Dire Dawa. 

E.     Demografis

Jumlah penduduk Ethiopia ialah sebesar 106.248.074 (World Population Review, Jan 2018). Hal tersebut menjadikan Ethiopia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Afrika setelah Nigeria. Etnis/ suku bangsa utama terdiri dari: Oromo 40%, Amhara 25%, Tigray 7%, Somali 6%, Sidama 9%, Gurage 2%, Wolayta 4%, Afar 4%, dan lain-lain 3%. Bahasa nasional Ethiopia adalah Amharic, Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar bisnis dan pengantar di pendidikan tinggi. Bahasa daerah lainnya seperti Tigrinya, Oromifa, Guaraginya, dan Somali banyak digunakan di masing-masing negara bagian, sebagai contoh antara lain bahasa Oromifa digunakan di negara bagian Oromo, Somali di gunakan di negara bagian Somali Ethiopia.

Politik 

Bentuk negara Ethiopia adalah Federasi dengan Presiden sebagai Kepala Negara, dan Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan. Sistem Parlemen Ethiopia mengadopsi sistem Bikameral, yang terdiri dari House of Peoples' Representatives (lower chamber, 547 kursi); dan House of Federation (upper chamber, 108 kursi). Anggota House of People's Representatives dipilih melalui Pemilu. Anggota House of Federation merupakan wakil dari negara bagian di Ethiopia. Sistem Hukum terbagi atas Federal dan Regional Courts, yang dibedakan atas wilayah yurisdiksinya.

Ekonomi

Di bidang ekonomi, Ethiopia secara umum memiliki ketergantungan tinggi atas barang impor. Sebagai negara landlocked, barang impor diperoleh melalui pelabuhan udara, Bole Addis Ababa dan pelabuhan laut di Djibouti, yang kemudian diangkut melalui jalan darat. Akan tetapi sejak bulan Oktober 2016, Pemerintah Ethiopia telah meresmikan jalur kereta listrik dari Djibouti menuju Ethiopia, sehingga diharapkan dalam waktu dekat pengangkutan barang dari pelabuhan Djibouti menuju Ethiopia dialihkan menggunakan transportasi kereta listrik.

Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Ethiopia, yang memberikan kontribusi PDB negara tersebut hampir separuhnya (46,2% untuk tahun 2012) serta menyerap lebih dari 80% tenaga kerja. Sejak diimplementasikannya Growth and Transformation Plan II (GTP II), Pemerintah Ethiopia secara bertahap ingin beralih dari negara agraris menjadi negara industrialiasi.

Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi Ethiopia dalam beberapa tahun belakangan ini mencapai tingkat yang tinggi (8,7% tahun 2012, 9,8% tahun 2013, 10,3% tahun 2014, 8,7% tahun 2015 dan 6,5% tahun 2016; data IMF). Prospek perdagangan di Ethiopia cukup baik, mengingat Ethiopia merupakan negara terluas ke-10 dan jumlah penduduknya terbesar ke-2 di Afrika (setelah Nigeria), serta letak geografisnya di persimpangan jalan antara Afrika, Timur-Tengah, Eropa, dan Asia. Selain itu, Ethiopia termasuk 23 negara anggota COMESA (Common Market for Eastern and Southern Africa) dengan jumlah penduduknya mencapai sekitar 380 juta jiwa. Ethiopia mendapatkan fasilitas bebas bea masuk dan kuota dari negara-negara maju yakni African Growth and Opportunity Act/AGOA (Amerika Serikat), Generalized System of Preferences/GSP (Jepang dan Kanada) dan Everything But Arms/EBA (Uni Eropa).

Hubungan Bilateral dengan Indonesia

Bidang Politik

Hubungan antara Indonesia dan Ethiopia merupakan salah satu yang terpenting di kawasan Afrika. Kedekatan hubungan kedua negara tersebut tercermin dengan antara lain kehadiran utusan Ethiopia sebagai delegasi pada Konperensi Asia - Afrika di Bandung pada tahun 1955 dan kerjasama erat kedua negara di forum Gerakan Non - Blok sejak didirikannya pada tahun 1961. Pada tahun yang sama kedua negara secara resmi membuka hubungan diplomatik. Pada tahun 1964 pemerintah Republik Indonesia membuka Kedutaan Besar Republik Indonesia di Addis Ababa. Pada tahun tersebut belum banyak negara yang mempunyai perwakilannya di Ethiopia terutama dari kawasan Asia, dan KBRI Addis Ababa merupakan kedutaan besar asing ke-35 yang berdiri di Addis Ababa. KBRI Addis Ababa saat ini diakreditasikan pula untuk Republik Djibouti dan Uni Afrika. Di pihak lain, Pemerintah Republik Demokratik Federal Ethiopia membuka Kedutaan Besarnya di Jakarta pada tahun 2016.

Segera setelah dilantik, Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi mengadakan kunjungan ke Ethiopia yang sekaligus menjadi kunjungan pertama ke negara Afrika. Pada kunjungan tersebut Menlu RI dan Menteri Luar Negeri Ethiopia, Tedros Adhanom Gebreyesus menandatangani MoU Forum Konsultasi Bilateral Indonesia - Ethiopia di Addis Ababa, Januari 2015. Sebagai tindak lanjut, maka pada kesempatan penyelenggaraan Indonesia - Africa Forum di Bali, April 2018 diadakan pertemuan pertama FKB antar kedua negara.

Bidang Ekonomi

Minat para pengusaha Ethiopia untuk memperoleh informasi produk andalan ekspor Indonesia dan keinginan bertemu langsung dengan para pengusaha/ perusahaan Indonesia guna melakukan kontak bisnis semakin meningkat. Tingginya minat para pengusaha Ethiopia tersebut terbukti dengan semakin banyaknya pengusaha Ethiopia yang mengunjungi Trade Expo Indonesia (TEI) dari tahun ke tahun dan semakin banyaknya inquiry ke KBRI Addis Ababa mengenai kontak bisnis di Indonesia. Sebagai informasi terakhir, total pengusaha Ethiopia dan Djibouti yang berpartisipasi pada TEI 2016 sebanyak 48 orang. Hal tersebut juga ditandai dengan telah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) antara Ethiopian Chamber of Commerce and Sectoral Association (ECCSA) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di sela-sela TEI Oktober 2016. Sebelumnya telah terdapat perjanjian Kerjasama ekonomi dan teknik, kerjasama dibidang pengembangan karet.

Saat ini banyak produk Indonesia yang telah beredar dan dikenal luas di pasaran Ethiopia karena harga dan mutu yang baik (mass cheap production), seperti garment, tekstil, batu baterai, baterai kendaraan, kertas/ produk kertas, bahan kimia, tissue, sabun mandi, sabun cuci, glassware, benang, furniture, enamelware, barang-barang plastik, bahan kimia, farmasi, alat kesehatan, makanan (mie instant). Namun, sebagian dari produk Indonesia tersebut diimpor oleh Ethiopia melalui pihak ketiga, seperti Singapura, Dubai dan Saudi Arabia.

Berdasarkan data International Trade Center, impor Ethiopia dari Indonesia didominasi oleh sabun, minyak sawit dan turunannya, kertas, benang, suku cadang elektronik, margarin, dan furnitur. Adapun produk Indonesia lainnya yang telah beredar dan memiliki peluang masuk di pasaran Ethiopia, antara lain: kabel (acrylic dan yarn), garment, tekstil, batu baterai, bahan kimia, aki/ baterai kendaraan, glassware, enamelware, barang plastik, pakaian bayi/anak-anak, ban mobil/truk, makanan/foodstuff (mie instant, wafer, permen), dan peralatan medis.

Indonesia mengimpor kapas, kulit kambing, rempah-rempah, dan kopi.Sebagai catatan, impor utama Ethiopia adalah bahan pangan, hewan ternak, minuman, tembakau, minyak mentah, produk minyak, bahan kimia, pupuk, produk farmasi/ obat-obatan, sabun, produk karet, kertas/produk kertas, tekstil, pakaian, gelas (glassware), logam/produk logam, mesin-mesin dan pesawat terbang, kendaraan bermotor, perlengkapan elektronik, serta perlengkapan telekomunikasi dsb.

Di bidang investasi, terdapat lima perusahaan asal Indonesia yang telah berinvestasi di Ethiopia yaitu PT Indofood (± 7 Juta USD), PT Sinar Antjol (± 5 Juta USD), PT Bukit Perak (± 5 Juta USD), Busana Apparel Group (± 15,2 Juta USD), dan PT Sumber Bintang Rejeki (± 15,2 Juta USD). PT Indofood telah membuka pabriknya sejak pertengahan tahun 2015, sedangkan PT. Sinar Antjol, pabrik pembuatan sabun dan deterjen, telah mulai beroperasi pada triwulan kedua tahun 2018.  Sementara itu, di bidang garmen, Busana Apparel Group telah beroperasi sejak Perdana Menteri Ethiopia, Hailemariam Desalegn, meresmikan kawasan Hawassa Industrial Park pada Juli 2016. PT Sumber Bintang Rejeki, pabrik pembuat pakaian dalam telah mulai beroperasi di Hawassa pada triwulan kedua tahun 2018.

ethio.JPG 

 

Total perdagangan antar Indonesia - Ethiopia untuk tahun 2016 adalah sebesar USD 351,751 juta (Penghitungan oleh Ethiopian Custom Authority berdasarkan country of origin). Nilai total perdagangan tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2015 yang sebesar USD 423,989 juta. Penurunan tersebut terjadi antara lain karena penurunan nilai ekspor produk Indonesia ke Ethiopia salah satunya dipengaruhi oleh adanya permasalah hard currency di Ethiopia.
                                                                                                                                                                     
Bidang Sosial Budaya
Di bidang sosial budaya, KBRI Addis Ababa terus mengupayakan pemberian beasiswa dari Pemerintah Indonesia kepada Ethiopia (yaitu Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang dan Beasiswa Darmasiswa); bantuan kerjasama teknik dari Pemerintah Indonesia kepada Ethiopia; serta kegiatan promosi Indonesia di Ethiopia dalam bentuk penyelenggaraan/ partisipasi pada kegiatan bazaar.
 
A.     Beasiswa KNB (Kemitraan Negara Berkembang)
 
Setiap tahun Pemerintah Indonesia menawarkan Beasiswa KNB kepada negara-negara berkembang, termasuk Ethiopia, Program beasiswa ini adalah program beasiswa untuk mendapatkan gelar pasca sarjana S - 2 di Universitas terkemuka di Indonesia. Beasiswa ini merupakan beasiswa penuh dalam arti Pemerintah Indonesia menanggung semua komponen biaya termasuk biaya tiket pesawat, biaya kuliah dan biaya hidup.  
Pemberian Beasiswa ini merupakan salah satu sarana yang strategis dalam rangka peningkatan hubungan antara kedua negara dan sekaligus peningkatan people-to-people contact. Melalui pemberian Beasiswa KNB tersebut, penerima beasiswa dari Ethiopia tentunya akan mempunyai ikatan emosi dengan Indonesia. Setelah menyelesaikan studinya di Indonesia, mereka boleh jadi memiliki antusiasme yang besar terhadap Indonesia dan dapat berperan sebagai duta-duta Indonesia di Ethiopia.
          Adapun jumlah warga Ethiopia yang berhasil mendapatkan Beasiswa KNB adalah sebagai berikut:
  • Tahun 2013   :    1 orang.
  • Tahun 2014   :    1 orang.
  • Tahun 2015   :    1 orang.
  • Tahun 2016   :    8 orang.
  • Tahun 2017   :    8 orang.

B.     Beasiswa Darmasiswa 

Di samping Beasiswa KNB, setiap tahun Pemerintah Indonesia juga menawarkan Beasiswa Darmasiswa kepada Ethiopia. Beasiswa ini merupakan program beasiswa non-degree (non-gelar) selama 1 tahun untuk mempelajari bahasa atau seni dan budaya Indonesia. Berbeda dengan Beasiswa KNB, Beasiswa ini bukan merupakan beasiswa penuh karena biaya tiket pesawat menjadi tanggungan dari penerima Beasiswa. Tujuan utama dari Beasiswa Darmasiswa adalah untuk mempromosikan dan meningkatkan minat dalam Bahasa dan Budaya Indonesia di antara pemuda/pemudi dari mancanegara.

Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa asing dari negara-negara yang mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia. Hingga saat ini, setidaknya 115 negara telah menerima Beasiswa Darmasiswa.

          Adapun jumlah warga Ethiopia yang berhasil mendapatkan Beasiswa Darmasiswa adalah sebagai berikut:

  • Tahun 2013   :    5 orang.
  • Tahun 2014   :    3 orang.
  • Tahun 2015   :    3 orang.
  • Tahun 2016   :  11 orang.
  • Tahun 2017   :    5 orang

C.     Bantuan Kerjasama Teknik

Di samping pemberian beasiswa, dalam beberapa tahun terakhir ini Pemerintah Indonesia juga memberikan bantuan kerjasama teknik kepada Ethiopia berupa capacity-building training (pelatihan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia).  

Sebagai gambaran, pada tahun 2017, Pemerintah Indonesia menawarkan kepada Ethiopia 3 pelatihan meliputi:  

  • International Training on Agriculture for African Countries di Kuningan - Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 14 Maret - 1 Mei 2017, yang dihadiri oleh 1 peserta dari Ethiopia.  
     
  • The 14th International Training Course for Mid-Career Diplomats 2017 di Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta pada tanggal 25 April - 1 Mei 2017, yang dihadiri oleh 1 diplomat dari Ethiopia.  
     
  • Dispatch of Expert on Agriculture to Africa in Mkindo - Tanzania pada tanggal 2 -16 Mei 2017, yang dihadiri oleh 1 peserta dari Ethiopia.   

D.     Kemitraan Universitas (U-to-U) 

Delegasi Bahir Dar University (BDU) yang dipimpin wakil Rektor bidang Akademik dan Kerjasama, Dr. Fikreselam Gared telah melakukan kunjungan ke Indonesia dan telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) antara BDU dan Universitas Sebelas Maret (UNS) pada bulan April 2016.  

Menindaklanjuti kunjungan BDU dan MoU antara kedua universitas tersebut, Delegasi UNS yang dipimpin oleh Wakil Rektor bidang Akademik, Prof. Sutarno, telah berkunjung ke BDU pada awal bulan Oktober 2016 dan telah mengidentifikasi bidang-bidang kerjasama antar kedua universitas sebagai implementasi dari MoU dimaksud. Pada akhir Maret 2017, UNS dan BDU sepakat untuk melakukan kerjasama riset mengenai peningkatan susu sapi.

E.     Kegiatan Promosi Indonesia di Ethiopia

Untuk mempromosikan Indonesia di Ethiopia, KBRI Addis Ababa telah melakukan beberapa upaya seperti: menyelenggarakan/ berpartisipasi pada kegiatan Bazaar, mempromosikan Indonesia melalui kegiatan wawancara dengan radio atau televisi setempat, menyelenggarakan Journalist Familiarization Trip  pada September 2017 dan April 2018, dan berpartisipasi dalam 2018 Addis Ababa Asia-Pacific Film Festival, yang berlangsung di Italian Cultural Institute-Addis Ababa pada tanggal 16-23 September 2018 dengan menayangkan film Indonesia berjudul "Malaikat Tanpa Sayap".