Di AMM, Indonesia Kembali Suarakan Kelapa Sawit di Pertemuan ASEAN-Uni Eropa

​​​​Singapura, Singapura: "ASEAN dan Uni Eropa (UE) sebagai dua organisasi regional terdepan di dunia seyogyanya bekerja sama dalam menyuarakan dan mengedepankan prinsip-prinsip multilateralisme dan perdagangan bebas, termasuk mencegah praktek proteksionisme. Hal ini harus tercermin dengan kebijakan yang konsisten, termasuk dalam konteks kelapa sawit." Seru Menteri Luar Negeri RI, Retno L.P. Marsudi, pada Pertemuan Menteri Luar Negeri antara ASEAN dan UE (3/8). 

Hal tersebut disampaikan oleh Menlu Retno dalam menyikapi semakin berkembangnya tren proteksionisme yang membawa dampak global, termasuk di kawasan UE. Dalam kaitan kelapa sawit, Menlu Retno juga menyatakan bahwa Indonesia mengikuti dengan seksama hasil kesepakatan Trilog UE untuk Renewable Energy Directive (RED) II pada Juni 2018. “Ada potensi diskriminasi kelapa sawit dengan penerapan  sejumlah kriteria yang bias untuk biofuel, antara lain dengan membedakannya berdasarkan tinggi rendahnya resiko emisi karbon pada skema Indirect Land Used Changed (ILUC)".

Menurut Delegasi Indonesia, isu minyak kelapa sawit harus dibahas secara bijak karena mata pencaharian lebih dari 5 juta petani kecil di ASEAN bergantung pada kelapa sawit. “Kelapa sawit sangat penting perannya dalam mendukung upaya kita meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tidak mungkin kita membahas permasalahan ini tanpa mempertimbangkan elemen-elemen terkait pemenuhan Sustainable Development Goals. Untuk itu, Indonesia kembali mengajak UE untuk bersama-sama membangun standar sustainability seluruh minyak nabati yang inklusif, SDGs Compliance on Vegetable Oils." jelas Menlu Retno.

Pernyataan Menlu Retno tersebut juga didukung oleh Menlu Malaysia Abdullah Syarifuddin yang juga mengangkat isu kelapa sawit.

Pertemuan ASEAN-UE kali ini dipimpin bersama oleh High Representative of the EU for Foreign Affairs, Federica Mogherini dan Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai selaku Country Coordinator kerja sama kemitraan ASEAN-UE (2015-2018). Seluruh Menlu negara anggota ASEAN dan Sekretaris Jenderal ASEAN turut hadir untuk membahas berbagai hal, termasuk tantangan yang dihadapi kedua kawasan dewasa ini dan upaya penguatan kerja sama ASEAN-UE bagi keamanan dan kemakmuran kedua kawasan.

Kerja sama ASEAN dan UE telah berkembang di berbagai bidang dan saat ini berada pada level enhanced partnership. UE secara resmi menjadi Mitra Wicara (Dialogue Partner) ASEAN pada tahun 1977. Tahun 2017 lalu, ASEAN dan UE memasuki 40 tahun kerja sama kemitraan yang diperingati dengan penyelenggaraan KTT Peringatan 40 Tahun Kemitraan ASEAN-UE di Manila, Filipina, November 2017.

UE adalah investor terbesar bagi ASEAN dengan nilai investasi sebesar USD 32,2 milyar pada tahun 2016. Sementara itu, total volume perdagangan ASEAN-EU pada tahun 2017 tercatat sebesar USD 257,4 milyar mengalami kenaikan dari USD 233,6 milyar pada tahun 2016; menjadikan UE sebagai mitra dagang terbesar kedua bagi ASEAN.