Seminar Ekonomi "Strategi Penetrasi Pasar Myanmar Bagi Produk Indonesia"

Pada 27 Januari 2008, KBRI Yangon mengadakan seminar ekonomi dengan tema “Strategi Penetrasi Pasar Myanmar bagi Produk Indonesia”. Acara yang diselenggarakan di Mitra Hall KBRI Yangon dihadiri oleh sekitar 120 orang masyarakat Indonesia di Myanmar, khususnya para pelaku bisnis. Hadir sebagai narasumber, Jonathan Adhi Gunawan (Direktur Utama JAPFA) dan Mark Gerald Eman (Direktur Operasional JAPFA).
 
Acara diawali sambutan KUAI KBRI Yangon Philemon Arobaya seraya menyampaikan harapannya agar melalui seminar  ini dapat diperoleh informasi mengenai tantangan dan hambatan yang akan dihadapi pengusaha Indonesia dalam upaya memasuki pasar Myanmar berdasarkan pengalaman dan hasil kajian di lapangan JAPFA selama beroperasi di Myanmar.
 
JAPFA, memasuki pasar Myanmar 11 tahun lalu, akan tetapi hingga saat ini investasi JAPFA belum mencapai breakeven point karena berbagai hambatan yang ditemui dalam melakukan operasional perusahaan. Oleh karena itu, narasumber berharap dari hasil diskusi diperoleh pemahaman tentang strategi memasuki pasar Myanmar.
 
Keterbatasan jumlah sektor perdagangan, menyebabkan terbatasnya lapangan kerja di Myanmar. Hal ini menjadikan kemampuan konsumsi masyarakatnya rendah, sehingga mereka tidak membutuhkan produk impor. Di sinilah terdapat peluang bagi Indonesia dan Myanmar untuk bekerja sama meningkatkan perekonomian masing-masing; Myanmar dapat mengekspor hasil-hasil buminya ke Indonesia, dan Indonesia dapat memanfaatkannya sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi komoditi ekspor.              
 
Perlu diwaspadai pula tingginya persaingan pasar di Myanmar bagi pebisnis asing. Hal ini disebabkan  negara-negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar seperti Thailand, China, India, dan Bangladesh yang  memiliki kemudahan akses dapat melakukan pertukaran barang dan jasa secara langsung, serta menekan harga produksi hingga menjadi lebih murah dibanding negara-negara lain. Dengan demikian, kunci utama untuk memasuki pasar Myanmar adalah produk Indonesia diharapkan memiliki keunikan dan harga yang murah karena tingginya persaingan  dengan negara-negara yang berbatasan langsung  tersebut.                                                                                                                             
 
Menanggapi paparan narasumber, beberapa peserta pada sesi diskusi interaktif menyampaikan bahwa beberapa produk Indonesia yang memiliki potensi memasuki pasar Myanmar a.l. batik, obat-obatan herbal/jamu dan berbagai kerajinan tangan. Selain peserta diskusi seopakat, para pengusaha Indonesia dapat memanfaatkan perbankan di Singapura, Malaysia dan Thailand (yang memiliki kerja sama perbankan dengan Myanmar) untuk kegiatan ekspor-impor, dan Indonesia dapat memanfaatkan kayu jati Myanmar yang lebih murah dan berkualitas untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
(Sumber: KBRI Yangon)