Sebagai Teman yang Dipercaya

HUBUNGAN Indonesia- Myanmar sudah terjalin sejak lama.Maklum,kedua negara memiliki kedekatan geografis sebagai negara di kawasan Asia Tenggara. Sayangnya, hubungan kedua negara selama ini tidak berjalan pada tingkat tinggi. Misalnya,hubungan perdagangan ”dua saudara” ini dalam tiga tahun terakhir hanya mencapai bilangan USD100 juta. Tidak bisa dimungkiri, hubungan kerja sama kedua negara yang sudah berjalan 50 tahun lebih mengalami pasang surut. Meski begitu, Direktur Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri RI Yuri O Thamrin optimistis, masih banyak potensi yang bisa digali dalam kerja sama kedua negara. Baik dari sisi ekonomi, politik, pertahanan maupun sosial budaya. Berikut ini petikan wawancaranya.
 
Bagaimana sejarah dan kondisi hubungan Indonesia-Myanmar hingga sekarang?
Kerja sama Indonesia dan Myanmar mengalami pasang surut. Pada 1962, Pemerintah Myanmar diambil alih oleh junta militer. Sebelumnya pemerintahan sipil.Perlu diingat, Myanmar adalah salah satu penggagas Konferensi Asia Afrika 1955.Jadi,dari sisi antikolonialisme, mereka sangat erat dengan Indonesia. Juga waktu perjuangan kemerdekaan RI, Myanmar termasuk salah satu negara yang banyak memberikan kontribusi.
 
Setelah 1962, mereka menjadi negara otoriter dan mengambil orientasi politik luar negeri isolasi.Tapi, di era 1990-an, ada keinginan mewujudkan ASEAN-10.Indonesia dan Myanmar itu terikat kedekatan geografis. Kerja sama dengan Myanmar sudah lama terjalin, sejak 1949. Hubungan itu memang tidak pada tingkat yang tinggi. Dalam semangat ASEAN, tentunya bukan intervensi, tapi berbagi pengalaman. Kita bukan teman yang menggurui, tapi teman yang bisa dipercaya.
Mekanisme untuk mendorong hubungan bilateral itu cukup banyak. Misalnya, antarpemimpin yang relatif dekat dan baik,kita juga punya komisi bersama (joint commission) yang nanti pada Februari akan bertemu untuk mengidentifikasi bidang-bidang kerja sama politik keamanan, ekonomi perdagangan, sosial budaya antarkedua negara.
 
Kalau dari sektor perdagangan?
Perdagangan kedua negara selama tiga tahun terakhir kira-kira USD 100 juta. Paling tinggi USD 160 juta.Kita impor sekitar USD 50 juta dan mereka impor dari kita USD 50 juta. Tapi, surplus perdagangannya lebih banyak ke Indonesia.Pada 2002,total perdagangan kedua negara mencapai USD 136,5 juta. Pada 2003 USD 119,5 juta dan 2004 USD 98,8 juta.
 
Sementara 2005 USD 106,01 juta. Umumnya kita surplus. Jadi, masih banyak yang bisa digali dari sana.Tapi, Myanmar itu bukan negara yang terlalu maju di Asia. Pendapatan per kapita mereka hanya USD 225. Sekarang ini, barang-barang kita mulai banyak di sana, tapi umumnya masuk melalui negara ketiga. Jadi, kita mau mengusahakan perdagangan langsung. Saat ini kita punya 12 proyek di sana yang bernilai sekitar USD 241 juta.
 
Dari data perdagangan tiga tahun terakhir yang Anda sampaikan tadi kan ada tren penurunan dari tahun ke tahun. Faktor apa yang menyebabkan itu?
Banyak.Mungkin karena terjadi penurunan nilai tukar kurs mata uang dan memang hubungan dagang yang belum signifikan antara kedua negara.Tapi, jangan dibandingkan hubungan dagang Myanmar dengan China dan India. Karena, mereka itu berbatasan langsung. Dengan China,perdagangan mereka luar biasa cepat. Junta militer didukung perdagangan dengan China. Di sebuah kota di perbatasan kedua negara, nilai perdagangannya bisa mencapai USD400 juta tahun lalu.Kabarnya,mereka akan meningkatkannya hingga USD2 miliar dalam lima tahun.
Hubungan dagang dari sektor pertanian apakah cukup signifikan,karena di sana cukup subur yang merupakan penghasil produk pertanian?
Komoditas kita di sana itu pertanian. Dari USD 160 juta itu salah satunya komoditas pertanian, (yang lainnya) barang-barang elektronik, makanan ternak, dan sebagainya.
 
Kesepakatan joint commission ke depan tindak lanjutnya seperti apa?
Joint commission ini sebenarnya alat untuk mengidentifikasi kerja sama saling menguntungkan yang konkret dan visible. Apa yang bisa kita gali dari Myanmar, misalnya kerja sama di bidang energi. Indonesia kaya energi dan Myanmar juga. Bagaimana kita bisa kawinkan ini. Lalu, jangan dilupakan juga, bagaimana kita ingin mendorong terjadinya perubahan di sana, tentu kita harus mempunyai leverage (pengaruh). Sekarang ini kan yang mempunyai pengaruh cukup besar di Myanmar adalah India dan China.Tidak masuk akal kalau kita yang tidak mempunyai pengaruh berupaya mendorong perubahan di sana.
 
(sunu h)