Prospek Perdagangan dan Pariwisata Indonesia-Myanmar

Pada tgl. 23 Juni 2009, KBRI Yangon telah menyelenggarakan Seminar Ekonomi dan Perdagangan bertemakan “Prospek Perdagangan dan Pariwisata Indonesia – Myanmar”  di Hotel Traders, Yangon, Myanmar. Seminar dihadiri sekitar 130 peserta dari kalangan pemerintah, pengusaha kedua negara dan masyarakat Indonesia. Selain sebagai rangkaian kegiatan memperingati 60 hubungan diplomatik RI–Myanmar, penyelenggaraan seminar juga merupakan tindak lanjut hasil pertemuan pemimpin kedua negara di sela-sela kunjungan PM Myanmar, Jend. Thein Sein ke Indonesia bulan Maret 2009 dalam rangka peningkatan sektor perdagangan dan pariwisata.
 
Seminar diawali dengan sambutan Dubes RI Yangon, Sebastianus Sumarsono yang menggarisbawahi pentingnya peningkatan volume perdagangan dan jumlah kunjungan turis di masing-masing negara yang dianggap masih belum mencerminkan potensi yang dimiliki. Tidak adanya transportasi langsung Indonesia–Myanmar merupakan salah satu hambatan pengembangan ekonomi dan pariwisata kedua negara. Dengan jumlah penduduk yang relatif banyak, Indonesia kl. 240 juta dan Myanmar 56 juta, terdapat peluang besar untuk meningkatkan ekonomi dan pariwisata yang membutuhkan upaya keras.
 
Pada sesi pertama, Dirjen Pariwisata RI, Dr. Sapta Nirwandar dan Dirjen Perhotelan dan Pariwisata Myanmar, U Htay Aung menyepakati perlunya ditingkatkan kerjasama promosi dan pemasaran pariwisata kedua negara melalui berbagai kegiatan seperti pertukaran budaya, festival film, pameran foto, penyelenggaraan diklat dan seminar dalam rangka peningkatan kemampuan dan kualitas SDM pariwisata. Deklarasi Borobudur 29 Agustus 2006 untuk pelestarian warisan budaya, peningkatan jumlah turis internasional, kesejahteraan masyarakat, dan peningkatan tali persaudaraan antara negara-negara di  kawasan perlu kiranya dilaksanakan secara berkesinambungan. 
 
Pada sesi kedua, Asisten Direktur pada Kementerian Perdagangan Myanmar, U Thein Myint Wai dan Sekjen Kadin Federasi Myanmar, Dr. Maung Maung Lay menekankan pentingnya peningkatan kuantitas ekspor, penciptaan produk bernilai tambah, impor bahan baku pertanian dengan harga bersaing, mendorong kegiatan industri lokal, penyediaan fasilitas perdagangan dalam rangka meminimalisasi dampak krisis ekonomi global. Karena krisis ekonomi global dan sanksi AS terhadap Myanmar, perdagangan barter antara Indonesia dan Myanmar perlu dijajaki kembali.
 
Dengan struktur ekonomi saat ini, Myanmar dapat mengekspor produk pertanian, sedangkan Indonesia dapat mengekspor produk industri terutama jasa pariwisata, kesehatan dan industri. Kedua negara dapat mendorong partisipasi sektor swasta di masing-masing negara untuk meningkatkan perdagangannya. Indonesia dapat menawarkan bahan baku barang modal seperti semen, pupuk dan sebagainya, sedangkan Myanmar dapat menjual batu perhiasan, karet dan gas alam. Dari hasil paparan dan diskusi selama seminar berhasil dirumuskan pandangan umum dan rekomendasi kebijakan sebagai bahan masukan.

Yangon, 25 Juni 2009