Pertemuan Ketua Kadin Untuk Myanmar Dengan Beberapa Asosiasi Myanmar

Ketua Kadin untuk Myanmar didampingi Staf KBRI dalam kesempatan pertemuan dengan Dr. Khin Shwe, Ketua Asosiasi Pengusaha Konstruksi Myanmar tgl. 16 Februari 2009 diperoleh informasi mengenai minat Myanmar untuk mengimpor ubin (tile), genteng dan bahan baku material lainnya dari Indonesia. Dikemukakannya bahwa saat ini 90% bahan baku konstruksi di Myanmar didatangkan dari Cina karena kemudahan akses. Namun beberapa produk buatan Cina menurutnya masih kalah dibanding produk Indonesia.  

Dr. Khin Shwe juga tertarik untuk bekerjasama dengan investor dari Indonesia untuk membangun pabrik semen di lahan sekitar 1.500 ha miliknya di Mingalardon City, Yangon.

Pada pertemuan dengan U Aik Htun, Ketua International Business Promotion  Center (IBPC), tgl. 16 Februari 2009 mengungkapkan rencana impor kertas fotocopy dari Indonesia sebanyak 1 kontainer berukuran 20 kaki. Terkait dengan penawaran impor semen, glass, flooring dan bahan baku material lainnya, yang bersangkutan akan menghubungi Ketua Kadin Kompartemen untuk Wilayah Myanmar pada kesempatan pertama. Dijelaskannya bahwa kebutuhan akan semen sangat besar mengingat IBPC tengah membangun proyek ”Yeywa Dam” di Mandalay Division. Kebutuhan bahan baku proyek tersebut didatangkan dari Thailand, misalnya 3.000-4.000 ton semen. Harga semen impor dari Thailand relatif mahal berkisar US$ 73–74 CIF Myanmar Port. Namun pihaknya akan menjajaki kemungkinan mendatangkan dari Indonesia sekiranya kualitas dan harga cukup kompetitif.

Mengenai semen, Sdr. Thomas Hartono mengusulkan 3 (tiga) penawaran yaitu semen Indonesia langsung dikirim ke Myanmar dengan harga (CIF) kl. US$ 67 per ton atau kl. US$ 3,35 per sak (ukuran 50 kg); bahan baku semen didatangkan dari Indonesia, namun pengemasan dilakukan di Myanmar dengan investasi misalnya, 50% : 50%; dan membangun pabrik semen di Myanmar dengan investasi 100% dari Indonesia atau joint venture.
Terkait dengan rencana impor kertas fotocopy jenis A4 (80 gr) dari Indonesia diusulkan harga sebesar US$ 1.180 per tonnya (CIF). 
 
Pada pertemuan dengan Dr. Kyaw Nandar, Chief Operating Officer (IT & Telecom) dari HTOO Trading Co. Ltd. Tgl. 17 Februari 2009, ybs menaruh  minat untuk bekerjasama di sektor IT dan telekomunikasi dengan Indonesia. Selama ini Myanmar menggunakan jasa satelit dari Thaicom (Thailand) dan Malaysia. Diinformasikan bahwa perusahaannya telah memperoleh lisensi dari Pemerintah Myanmar untuk pengembangan sektor telekomunikasi. Pihaknya juga akan menjajaki kerjasama di bidang IT dan telekomunikasi ini dengan mitranya dari Indonesia, INDOSAT.

Terkait dengan industri semen, HTOO Trading Co. tertarik untuk melakukan joint  venture dengan Indonesia dan dikemukakan bahwa perusahaan tersebut telah  memperoleh lisensi mendirikan pabrik semen di wilayah Shan State, Myanmar. 
 
KBRI dalam kesempatan tersebut mengusulkan kepada perusahaan maskapai “Air Bagan”, anak perusahaan HTOO Trading Co. Ltd., mengembangkan rutenya hingga ke Bali atau Jakarta.  Menanggapi usulan ini, U Aung Thet Mann, Vice Chairman HTOO akan membahasnya dengan board of management dan menginformasikan sekiranya disepakati menambah rute hingga ke Indonesia.
 
Pada pertemuan dengan  U Tun Lwin, Managing Director Shwe Co. tgl. 17 Februari menyampaikan minatnya membeli semen dari Indonesia dan meminta Kadin Indonesia wilayah  Myanmar mengirim sampel produk. Pihaknya selama ini mengimpor sekitar 30.000 ton semen merk ”elephant” dari Thailand. Untuk kebutuhan domestik, perusahaannya menjual dengan harga US$ 50–US$ 60 per tonnya, namun dirasakan belum mencukupi dan mengharapkan semen Indonesia mengisi  kekurangan tersebut. 
 
Dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal Kadin Federasi Uni Myanmar, U Sein  Win Hlaing tgl. 18 Februari 2009 dibahas mengenai kemungkinan penyelenggaraan pameran bersama  kedua negara guna menambah bobot peringatan 60 tahun hubungan diplomatik  kedua negara.
 
Yangon, 19 Februari 2009