Kemungkinan penetrasi pasar Myanmar bagi produk-produk Indonesia

Pada kesempatan pertemuan dengan Presiden Direktur PISMA Group, Jamal Ghozi di Surabaya tanggal 6 Juni 2009, Dubes RI mengundang perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam PISMA Group guna berpartisipasi pada Indonesia – Myanmar Trade Show di Yangon mendatang. Perusahaan yang bergerak di bidang usaha industri tekstil terutama”Sarung Gajah Duduk” juga menyatakan keinginannya melakukan pertemuan dengan beberapa importir sarung Myanmar sebelum penyelenggaraan pameran sebagai langkah awal memasuki pasar Myanmar.
 
Dubes RI menginformasikan bahwa produk tekstil maupun garmen Indonesia saat ini juga cukup banyak ditemukan di pasar-pasar di Myanmar dengan prakiraan nilai ekspor sekitar US$ 18 juta dólar per tahunnya. Longyi atau disebut sarung merupakan produk potensial yang menjanjikan mengingat sebagian besar masyarakat Myanmar memakainya dalam kegiatan sehari-hari dan tidak tertutup kemungkinan Indonesia dapat mengambil peluang pasar dengan mengirimkan produk berbahan katun maupun sutra yang memiliki harga bersaing.
 
Dalam kesempatan pertemuan dengan Ketua Umum Kadin Indonesia, MS Hidayat tanggal 9 Juni 2009, Dubes RI mengutarakan bahwa perlunya ditingkatkan kinerja ekspor Indonesia ke Myanmar dengan melibatkan para pemangku kepentingan khususnya Kadin Indonesia. Menanggapi hal ini, Ketua Umum Kadin Indonesia menyatakan siap memfasilitasi para pengusaha Indonesia mengembangkan pasarnya ke Myanmar.
 
Pada pertemuan dengan Ketua Kadin untuk negara-negara Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam (CLMV), Juan Gondokusumo, juga disampaikan bahwa peringatan 60 tahun hubungan diplomatik RI – Myanmar pada tanggal 27 Desember 2009 merupakan momentum yang sangat tepat guna merangkul Myanmar melalui berbagai kerjasama ekonomi dan perdagangan. Pemerintah Myanmar saat ini tengah mempersiapkan infra-struktur maupun supra-struktur di dalam negerinya dan Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini misalnya menanamkan modal pada industri semen dan  kemungkinan kerjasama direct transportation kedua negara.
 
Namun Ketua Kadin CLMV menyatakan rasa pesimismenya bahwa tidak mungkin membangun transportasi langsung Indonesia-Myanmar maupun berinvestasi untuk membangun pabrik semen di Myanmar. Dia berpendapat agar keinginan itu dilupakan saja, karena akan percuma.
 
Menanggapi pernyataan tersebut, Dubes RI menjelaskan bahwa landasan awal harus dimulai terlebih dahulu dan suatu saat cita-cita atau target sasaran ke depan dapat terealisasi dengan dukungan semua pihak baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam kaitan ini, yang penting bagaimana Kadin dapat ikut serta mendukung agar keinginan itu dapat terwujud, meskipun harus menunggu sampai masa Duta Besar berikutnya.
 
Mengenai informasi pasar akan produk-produk Indonesia, disarankan agar Kadin Indonesia dapat meresponnya dengan cepat sekaligus memperluas network dan mitra dagangnya di Myanmar.
 
Yangon,   Juni 2009