Santi: Menjalin Hubungan Erat, Harga Mati

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 “Kami dalam keadaan baik dan sehat bu, bahkan teman-teman pada gemuk-gemuk”, demikian tutur Mujni, WNI Anak Buah Kapal (ABK) Suso yang sempat menghubungi KBRI saat kapalnya berlabuh di Walvis Bay, Namibia, beberapa waktu lalu. Sungguh merupakan suatu kelegaan dan kebahagiaan tersendiri mendengar kabar dari Mujni, bahwa seluruh ABK/WNI dalam keadaan sehat, demikian ujar Made Santi Ratnasari, Sekretaris Ketiga pelaksana fungsi Protokol dan Konsuler merangkap Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Windhoek.

 

Suso adalah kapal penangkap ikan milik Spanyol yang saat ini mempekerjakan 9 orang ABK/WNI, termasuk Mujni.

 

Apa yang dilakukan Mujni mencerminkan, bahwa tidak selamanya ABK/WNI menghubungi KBRI hanya bila mereka menemui masalah. Bahkan boleh dibilang, apa yang disampaikan Mujni merupakan wujud kepedulian mereka akan tugas dan fungsi KBRI, imbuhnya.

 

Walvis Bay merupakan pelabuhan internasional di Namibia yang cukup sibuk. Berbagai jenis kapal singgah dan berlabuh di pelabuhan ini. Menurut catatan KBRI, sebagian besar WNI bekerja pada kapal penangkap ikan milik  Spanyol, Portugal, Taiwan, Jepang dan Korea Selatan.

 

Ms. Gael Wearne dari Mission to Seafarers, Organisasi Pengayom ABK yang berada pada sekitar 100 pelabuhan di dunia, mengatakan setiap minggu terdapat kapal pencari ikan yang singgah di Walvis Bay. Biasanya, mereka berlabuh untuk jangka waktu seminggu sampai tiga bulan.

 

Setiap kali ABK/WNI singgah di pelabuhan Walvis, yang terletak 350 km dari kota Windhoek, kami minta mereka menghubungi KBRI Windhoek, kapan saja, melalui nomor telpon yang kami tinggalkan. Nomor itu, kami katakan, silahkan disebarluaskan kepada ABK/WNI  lain, kata Santi.

 

Keberadaan ABK/WNI di Walvis Bay selalu berubah dari waktu ke waktu. Info keberadaan mereka, juga dilakukan  melalui pendekatan dengan para agen kapal di Walvis Bay yang merekrut. Mr. Ramon Eraso, salah satu pemilik kapal dan agen Manship Trading mengatakan lebih senang mempekerjakan ABK/WNI karena mereka jujur dan pekerja keras.

 

Menurut Santi, menjalin hubungan erat dengan para ABK, Mission to Seafarers, agen dan pemilik kapal, untuk memastikan keselamatan dan keberadaan mereka merupakan harga mati. Lebih lanjut dikatakan, hubungan baik dengan pihak Port Control di Walvis Bay juga perlu untuk mengetahui jadwal dan memonitor kapal yang keluar masuk pelabuhan.

 

Saat kunjungan ke Walvis Bay belum lama ini, Ms. Gael Wearne dan Ms. Dawn Martin dari Mission to Seafarers menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada KBRI Windhoek. Menurut mereka KBRI merupakan satu-satunya kedutaan asing di Namibia yang sangat memperhatikan dan kerap kali datang membantu ABK/WNI yang mengalami masalah di Walvis Bay.

 

Sejauh ini, kerja sama dengan berbagai pihak tersebut dirasa sangat membantu dalam memberikan pelayanan dan penanganan kasus-kasus yang dihadapi ABK/WNI. Umumnya menyangkut kecilnya gaji yang diterima, sistem pembayaran yang tertunda dan kurang jelas, kontrak kerja yang tidak sesuai, sarana dan fasilitas keselamatan kerja yang tidak memadai, pemukulan, agen kapal di Indonesia tutup, konflik ABK dengan kapten dan mandor kapal serta masalah antar sesama ABK.

 

Berkat kerja sama yang baik dengan pihak terkait di Walvis Bay dan Direktorat Perlindungan WNI/BHI, Kemlu, sejauh ini sebagian besar kasus yang dihadapi ABK/WNI di Walvis Bay dapat diselesaikan dengan baik, demikian ujar Santi (Sumber: KBRI Windhoek).