Selandia Baru Tingkatkan Bantuan Kerjasama Ke Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Selandia Baru (Selbar) merencanakan untuk menambah nilai bantuan ke Indonesia dari NZD 14 juta/tahun untuk periode 2008-2009 menjadi NZD 20 juta atau sekitar Rp. 132 milyar (1 NZ$=Rp.6.635)/tahun untuk periode 2011-2012 melalui Program NZAID (New Zealand Aid).
 
Peningkatan bantuan tersebut merupakan bagian dari pengkajian nilai bantuan Program NZAID di wilayah Asia Tenggara. Saat ini, Indonesia merupakan penerima bantuan terbesar di Asia Tenggara dalam Program NZAID.
 
 Rencana tersebut dinyatakan pada saat pertemuan Joint Ministerial Commission (JMC) antara RI - Selbar kedua, 10 Agustus 2009 di Wellington. Sebelumnya pertemuan JMC pertama diselenggarakan di Jakarta pada Mei 2007.
 
Bantuan tersebut merupakan pencerminan dari hubungan baik kedua negara yang terjalin sejak tahun 1958.
 
Pada pertemuan tersebut, Delegasi Indonesia diketuai oleh Menteri Luar Negeri RI, N Hassan Wirajuda sedangkan Delegasi Selandia Baru diketuai oleh Menteri Luar Negeri Selbar, Murray McCully.
 
Delegasi Indonesia terdiri dari Dirjen Aspasaf selaku Ketua SOM, Duta Besar RI untuk Selandia Baru Amris Hassan, Dir. Astimpas serta sembilan anggota lainnya dari Deplu (termasuk staf KBRI), Depdag dan Mabes Polri hadir pada JMC ini. Sedangkan delegasi Selbar terdiri dari pejabat-pejabat dari Kemludag, Depdagri, Kepolisian Selbar, Kementrian Pertahanan, Kementerian Pertanian dan Kehutanan dan Kementerian Ketenagakerjaan.
 
Kesepakatan-kesepatan yang menjadi kepentingan kedua belah pihak yang dihasilkan dalam pertemuan ini dipatrikan dalam Agreed Minutes yang ditandatangani oleh kedua ketua delegasi.
 
Isu-isu yang dibahas dalam JMC meliputi kerjasama bidang perdagangan, investasi, ekonomi, pertahanan, kepolisian, dan kerjasama teknis di bidang mitigasi bahaya bencana. Dalam pertemuan ini, kedua delegasi sepakat untuk memelihara dan memperluas area kerjasama pertahanan dan kepolisian.
 
Kerjasama pertahanan dan kepolisian kedua negara diimplementasikan melalui pertukaran personel serta latihan gabungan yang telah dilakukan setelah dipulihkannya kembali kerjasama pertahanan pada akhir Desember 2006, yang diumumkan oleh Menlu Selbar saat itu, Winston Peters.
 
Isu delisting badan sertifikasi halal Selandia Baru oleh LPPOM-MUI terhadap dairy product dan produk daging yang diekspor ke Indonesia adalah salah satu isu yang menjadi perhatian  Selandia Baru.  Indonesia adalah salah satu pasar terbesar produk daging dan dairy product Selbar dengan nilai ekspor lebih dari NZD 600 juta per tahun.
 
Menutup pertemuan tersebut, kedua Menlu sepakat agar JMC kedua nagara dijadikan program tahunan. Pertemuan JMC ketiga direncanakan akan dilaksanakan di Indonesia pada tahun 2010.
 
Saat ini, Selandia Baru saat ini giat menjalin dan memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia termasuk Indonesia. Dalam buku panduan kebijakan luar negerinya yang berjudul “Our Future with Asia”, Selandia Baru menyadari pentingnya Asia bagi masa depan perekonomiannya, dan memutuskan untuk mengalihkan perhatian terbesarnya dari wilayah tradisional (Amerika dan Eropa) ke  wilayah Asia.
 
Kebijakan tersebut tercermin dari peran aktif Selandia Baru dalam forum ASEAN dan East Asia Summit serta ikut berpartisipasi dalam pembentukan CEPEA (Comprehensive Economic Partnership in East Asia).