Penghormatan Terakhir Warga Selandia Baru Untuk Gus Dur

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Penghormatan Terakhir Warga Selandia Baru Untuk Gus Dur
Wellington, 8 Januari 2009
 
Bendera merah putih di halaman KBRI Wellington dikibarkan setengah tiang menyusul berita wafatnya mantan Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid, yang lebih akrab disapa Gus Dur, pada tanggal 30 Desember 2009. Berita tersebut tidak hanya menimbulkan kesedihan di kalangan masyarakat Indonesia yang menilai Gus Dur sebagai negarawan yang berpandangan pluralis dengan usaha-usahanya dalam meningkatkan toleransi beragama, namun juga bagi warga Selandia Baru yang sangat ingin memberikan penghormatan terakhir mereka kepada Gus Dur di Buku Duka yang disediakan pihak KBRI.
 
Pada awalnya, KBRI berencana untuk membuka Buku Duka hanya untuk dua hari semenjak tanggal wafat Gus Dur. Meskipun saat itu adalah musim liburan panjang Natal dan Tahun Baru, namun beberapa warga Selandia Baru berkesempatan untuk berkunjung ke KBRI dan menuliskan kesan-kesannya terhadap Gus Dur. Beberapa warga Selandia Baru lainnya menelepon KBRI untuk meminta agar Buku Duka dapat tetap tersedia sampai mereka kembali dari liburan. KBRI menghargai antusiasme tersebut dan berkeputusan untuk menyediakan buku tersebut sampai hari Jumat minggu berikutnya.
 
Berbagai elemen masyarakat, termasuk masyarakat madani, pejabat tinggi pemerintahan, Duta Besar, dan Menteri Kabinet tercatat telah menuliskan penghormatan dan kesannya terhadap Gus Dur di buku tersebut. Diantara mereka, hadir Tim Groser, Menteri Perdagangan dan mantan Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia.
 
Bagi warga Selandia Baru, Gus Dur akan terus dikenang sebagai pejuang demokrasi dan hak-hak kaum minoritas.