Pentas Sendratari Diponegoro Pukau Penonton di Festival “Muslim Voices Arts and Ideas”

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai salah satu upaya promosi seni budaya Indonesia kepada publik AS, atas dukungan dan fasilitasi KJRI New York, pada hari Sabtu dan Minggu waktu setempat (13-14/6) atau Minggu dan Senin WIB, bertempat di Auditorium Lila Acheson Wallace, Gedung Asia Society, New York,  telah digelar pentas sendratari berjudul  “Diponegoro” karya seniman dan koreografer terkenal Sardono W. Kusumo.
 
Pentas yang telah memukau penonton ini merupakan bagian program Festival “Muslim Voices: Arts and Ideas” yang diselenggarakan atas kerjasama Asia Society, Brooklyn Academy of Music dan New York University. Selama sepuluh hari berturut-turut diadakan pertunjukan dan seminar ragam kesenian dari dunia Islam, baik tradisional maupun kontemporer, oleh kurang lebih 100 artis dan pembicara muslim dari Asia, Afrika, Timur Tengah maupun New York. 
Festival ini bertujuan untuk menunjukkan beragam perspektif seni budaya dari dunia Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia yang  diperkirakan dianut oleh lebih dari satu milyar orang. Namun sangat disayangkan bahwa masyarakat non muslim Amerika memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai agama, peradaban, maupun kenakearagaman budaya dan tradisi Islam. Dengah festival ini diharapkan dapat menumbuhkan pengertian dan rasa saling menghormati dan pada akhirnya mendorong umat manusia untuk hidup berdampingan secara damai.
 
Sendratari Diponegoro bercerita mengenai perjuangan seorang Pangeran muslim Jawa melawan kolonialisme Belanda dan ditampilkan dengan memukau oleh para penari dan musisi terkemuka asal Indonesia, diantaranya Mugiyanto, Rambat Yulianingsih, Prof. Sumarsam (Wesleyan University, Connecticut) dan I.B Hardjito (pelatih Gamelan Jawa KJRI New York). 
  
Baik pertunjukan hari pertama dan kedua, gedung pertunjukan berkapasitas 500 penonton tersebut dipenuhi penonton, termasuk Konjen RI dan staf KJRI New York.  Hampir keseluruhan penonton adalah warga asing setempat yang terlihat sangat antusias dalam menyaksikan dan mengapresiasi pertunjukan yang ditampilkan. Apalagi, bagi sebagian penonton, nama Sardono W. Kusumo tampaknya tidak asing lagi. Kostum tari yang dirancang khusus oleh desainer kenamaan Biyan Wanaatmadja semakin memperkuat estetika pertunjukan malam itu.
KJRI New York selalu berupaya mendukung dan memfasilitasi segala bentuk kegiatan kesenian yang inovatif dan variatif sebagai upaya menumbuhkan dan meningkatkan apresiasi warga AS di New York dan sekitarnya terhadap kesenian-kesenian tradisional Indonesia. (sumber: KJRI New York)