Indonesia: Musnahkan senjata nuklir secara menyeluruh

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

?Indonesia menegaskan kembali bahwa keberadaan senjata nuklir membahayakan hidup umat manusia. Ledakan senjata nuklir akan menimbulkan kematian dan penderitaan manusia maupun kerusakan lingkungan yang parah, dan tidak ada satu negara pun yang akan sanggup mengatasinya. Senjata nuklir harus dimusnahkan secara menyeluruh.  Pernyataan tersebut disampaikan oleh Duta Besar Rachmat Budiman sebagai Ketua Delegasi RI pada Konperensi Ketiga Humanitarian Impact of Nuclear Weapons yang diselenggarakan di Istana Hofburg, Wina, Austria, tanggal 8-9 Desember 2014.

Pada sesi debat umum, Dubes Rachmat Budiman menegaskan pula bahwa kepemilikan senjata nuklir hanya akan memberikan jaminan keamanan yang semu, baik bagi negara-negara pemilik senjata nuklir maupun negara-negara sekutunya. Realita yang terjadi, kepemilikan senjata nuklir justru meningkatkan ancaman. Kepemilikan senjata nuklir, atau ambisi untuk memiliki senjata nuklir, juga telah menjadi penyebab kebijakan yang menyimpang dari norma-norma internasional para pemimpin negara. Mempertimbangkan berbagai akibat negatif dari senjata nuklir, Indonesia mendorong pemusnahan senjata nuklir tersebut.
Ditegaskannya pula mengenai harapan Indonesia bahwa Konperensi ini dapat menjadi katalis penting  bagi proses politik global  yang saat ini mengalami kemandegan, yaitu Conference on Disarmament, pemberlakuan Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty (CTBT), dan Nuclear Non Proliferation Treaty (NPT) Review Conference.
Terkait Conference on Disarmament, Indonesia menegaskan pentingnya segera dimulai pembahasan substantif tentang suatu konvensi internasional yang secara komprehensif melarang kepemilikan, pembuatan, uji coba, pengalihan, penggunaan maupun ancaman untuk menggunakan senjata nuklir. Sementara mengenai CTBT, selaku Co-President of the Article XIV Conference,  Indonesia mendesak agar 8 (delapan) negara yang termasuk dalam Lampiran 2 Traktat (Annex 2 states), yaitu Amerika Serikat, Israel, Mesir, Iran, China, India, Pakistan dan Korea Utara  segera meratifikasi Traktat tersebut.
Selanjutnya Indonesia juga mendorong agar Konperensi tidak hanya berhenti pada pembahasan akademis mengenai dampak senjata nuklir, namun mendorong aksi nyata sebagai tindak lanjut Konperensi. Masyarakat internasional perlu mempertahankan momentum kesadaran global mengenai dampak negatif senjata nuklir ini untuk melakukan konsolidasi guna memusnahkan senjata nuklir melalui proses internasional yang ada.
Konperensi yang membahas mengenai dampak kemanusiaan dari senjata nuklir ini merupakan kelanjutan dari konferensi pertama dan kedua yang diselenggarakan di Oslo, Norwegia bulan Maret 2013 dan Nayarit, Meksiko bulan Februari 2014. Konperensi dimaksudkan untuk menyampaikan pemahaman mengenai dampak kemanusiaan dari senjata pemusnah massal, khususnya senjata nuklir, dan sebagai forum untuk memfasilitasi diskusi dan dialog mengenai dampak tersebut antara pemangku kepentingan dari perwakilan negara, PBB, organisasi internasional, lembaga swadaya masyarakat dan akademisi. 
Konperensi dibuka secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Austria, Sebastian Kurz, dan dihadiri oleh 156 delegasi dari seluruh dunia. Delegasi Indonesia dalam Konperensi tersebut diwakili oleh unsur-unsur KBRI/PTRI Wina, PTRI Jenewa, PTRI New York, Kementerian Luar Negeri dan akademisi/lembaga swadaya masyarakat.
Pada kesempatan Konperensi dimaksud, beberapa korban dan saksi hidup, baik korban pemboman di kota Hiroshima dan Nagasaki maupun korban dari uji coba peledakan senjata nuklir juga hadir dan memberikan testimoni mereka.