PT Wika Bentuk Perusahaan Patungan Untuk Garap Pasar Luar Negeri

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) berencana membentuk perusahaan patungan (joint venture) untuk menggarap pasar konstruksi di luar negeri terutama di negara Afrika Utara seperti Aljazair.

"Seperti di Aljazair kami akan membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan setempat untuk menggarap peluang pasar konstruksi di negara kaya minyak tersebut," kata GM Keuangan WIKA Entus Asnawi di Jakarta, Senin.

Entus dalam pertemuan dengan wartawan mengatakan, dalam kerjasama itu WIKA akan menyetor modal sampai dengan 49 persen, sedangkan 51 persen merupakan perusahaan setempat.

"Kami sengaja menempatkan posisi minoritas karena memang peraturan di negara tersebut demikian, tidak membolehkan pemilikan asing dalam perusahaan melebihi 49 persen," kata Entus.

Perusahaan itu sengaja kami bentuk untuk memenangkan sejumlah proyek konstruksi di negara tersebut yang jumlahnya sangat besar diantaranya gedung, perumahan, dan jembatan, jelasnya.

"Nanti setelah perusahaan itu menang, barulah WIKA akan masuk untuk membangun proyek yang sudah dimenangkan itu. Kami optimis bisa menjalankan proyek itu karena di negara tersebut sangat jarang perusahaan konstruksi," ujarnya.

Menurut Entus, rencana itu akan segera diwujudkan paling lambat pertengah tahun 2010 serta sudah ada perusahaan setempat yang dipilih untuk segera membentuk joint venture setelah semua aspek legal dipelajari dan disiapkan.

Entus mengatakan, selama ini WIKA sebenarnya sudah banyak mengantongi tawaran untuk menggarap proyek di luar negeri, seperti tawaran dari Rusia dan Brazil, namun "Semua itu harus dipelajari aspek legalnya jangan sampai mengalami kerugian," ujarnya.

Entus mengatakan, WIKA memang sudah menjalin kerjasama dengan Bank Exim Indonesia sebagai penjamin proyek di luar negeri, tetapi mereka juga harus melihat negara yang menjadi tujuannya.

Terkait dengan Aljazair, Entus mengatakan, sebelumnya WIKA tengah menjalankan paket pekerjaan jalan dan jembatan sepanjang 500 kilometer bersama dengan konsorsium Jepang senilai Rp800 miliar.

"Kami mendapat kepercayaan karena hasilnya memuaskan pihak konsorsium, meski posisi di sini sebagai sub kontraktor kami dipercaya untuk mengerjakan paket selanjutnya. Dengan demikian sudah dua kali kami mendapat paket tambahan tersebut," ujarnya.

Entus mengatakan, WIKA dalam rangka menghadapi China Asean Free Trade Area (CAFTA) akan mengubah strategi untuk tidak sekedar menjadi sub kontraktor akan tetapi juga menjadi kontraktor utama.

 

(Source: antaranews.com)