Libya


HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA – LIBYA 

  1. Politik

 

Pembukaan Hubungan Diplomatik

Secara umum hubungan bilateral Indonesia-Libya berjalan dengan baik yang didukung dengan kesamaan sebagai negara berkembang yang bermayoritas penduduk muslim. Selain itu kedua negara juga merupakan anggota OKI dan GNB. Indonesia dan Libya menjalin hubungan baik dengan saling memberikan dukungan pada pencalonan di berbagai organisasi internasional.

Indonesia dan Libya membuka hubungan diplomatik pada 17 Oktober 1991 di New York (PBB), melalui penandatanganan Komunike Bersama RI-Libya oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Dubes Nana S. Sutresna, dan Wakil Tetap Libya untuk PBB, Dubes Dr. Ali A. Treiki. Pada tanggal 12 Oktober 1995, Y.M. Tajuddin Ali Al-Jerbi sebagai Duta Besar Libya yang pertama untuk Indonesia, berkedudukan di Jakarta, menyerahkan Surat-Surat Kepercayaannya kepada Presiden RI.

Pada 22 Agustus 1995, pemerintah RI membuka kantor Kedutaan Besar RI untuk Libya yang masih dengan dirangkap oleh Duta Besar Rl untuk Tunis. Dengan keputusan Presiden No.18 tahun 2001 tanggal 21 November 2001, pada September 2002 Kedutaan Besar RI di Libya dibuka dengan Duta Besarnya yang pertama,  Achmad Nawawi Hasbi.

Presiden Megawati Soekarnoputri melakukan kunjungan resmi pada 26 September 2003 ke Tripoli, Libya dalam rangka meningkatkan kerja sama ekonomi kedua negara dengan memanfaatkan potensi pasar Libya dan investasi RI pada pertambangan migas di Libya.

Hubungan Diplomatik Pasca Revolusi 2011

Pasca Revolusi 2011, pemerintah Indonesia tetap membina hubungan bilateral ini dengan memberikan saling dukung pada organisasi internasional dan kawasan seperti PBB dan OKI.  Menyangkut mengenai adanya dualisme pemerintahan di Libya pemerintah RI sejalan dengan kebijakan PBB mengakui pemerintahan di Beida sebagai pemerintahan yang sah.

Pada 27 Maret 2011, Pemerintah Indonesia menonaktifkan sementara operasional KBRI Tripoli sampai dengan 3 Desember 2011, akibat krisis politik yang menyebabkan ketidakstabilan keamanan di Tripoli. Dengan alasan serupa, terkait dengan semakin meningkatnya kekerasan yang terjadi di Tripoli, KBRI Tripoli juga memindahkan operasional ke wilayah Djerba, Tunisia sejak 3 Agustus 2014.

Dalam penyelenggaran KAA pada 19-24 April 2015, Presiden Negara Libya/Ketua Parlemen Libya, Akila Saleh Eissa telah memenuhi undangan Presiden RI. Selain itu Menter Luar Negeri Libya, Mohamed Al-Hadi Miftah Al-Dairi, juga turut hadir pada KAA memenuhi undangan Menteri Luar Negeri RI.

Mekanisme Bilateral

Indonesia-Libya memiliki mekanisme bilateral tingkat Menteri Luar Negeri yang dilaksanakan dalam bentuk Sidang Komisi Bersama (SKB). MoU Pembentukan Komisi Bersama antara kedua negara tersebut yang ditandatangani pada tanggal 24 Maret 2009 di Yogyakarta.

RI - Libya melaksanakan SKB Pertama di Yogyakarta, pada tanggal 23–25 Maret 2009. Dalam kesempatan tersebut, Delri dipimpin oleh Menlu RI, N Hassan Wirajuda sedangkan Delegasi Libya dipimpin oleh Menteri Sosial, DR. Ibrahim A. M. Al Sharif. Pada SKB Pertama RI–Libya telah ditandatangani 3 buah dokumen yaitu: MoU tentang Pembentukan Komisi Bersama, MoU Konsultasi Politik dan MoU Kesejahteraan Sosial.


  • Ekonomi
  •  

    Hubungan Perdagangan Indonesia – Libya Periode 2010 – 2014

    KETERANGAN

    2010

    2011

    2012

    2013

    2014

    TOTAL PERDAGANGAN

    US$ 48,73 Juta

    US$ 19,6 Juta

    US$ 576, 5 Juta

    US$ 437,8 Juta

    US$ 94, 4 Juta

    EKSPOR

    US$ 48,46 Juta

    US$ 19,6 Juta

    US$ 65, 2 Juta

    US$ 62,2 Juta

    US$ 36,1 Juta

    IMPOR

    US$ 0,272 Juta

    0,0

    US$ 511,2 Juta

    US$ 375, 6 Juta

    US$ 58,3 Juta

    NERACA PERDAGANGAN

    US$ 48,19 Juta

    US$ 19,6 Juta

    US$ -446 Juta

    US$ -313,4 Juta

    US$ -22,1 Juta

    SumberBPS, Processed by Trade Data and Information Center, Ministry of Trade of the Republic of Indonesia

    Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia merupakan negara urutan ke-2 yang mengekspor produk ke Libya, sementara Thailand menempati posisi ke-1 dan Malaysia menempati posisi ke-3. Di sisi lain, Indonesia merupakan negara ke-2 yang mengimpor produk dari Libya, dengan Malaysia di posisi ke-1. Hubungan ekonomi Indonesia – Libya berpotensi untuk lebih dikembangkan, utamanya untuk bidang-bidang antara lain: minyak dan gas bumi, jasa konstruksi, pengadaan dana investasi, ekspor non migas dan pengiriman tenaga profesional.
    Komoditas ekspor utama Libya adalah minyak mentah (88%), gas bumi (6.6%),  refined petroleum (4.6%), biji besi (0.15%), dan emas (0.11%). Produk utama ekspor Indonesia ke Libya mencakup kayu, tekstil dan produknya, peralatan elektronik dan listrik, pecah belah dan perabotan rumah tangga, komponen kendaraan bermotor (termasuk accu dan ban mobil), bahan kimia, mie instan, rempah-rempah, teh, kopi, tas kulit dan sepatu, bahan obat-obatan, kain tenun, pakaian wanita dan pria, kertas, karton, kain tenun kapas, dan teh. Sedangkan produk impor utama dari Libya ke Indonesia adalah produk minyak dan gas bumi (petroleum oils, crude, natural gas, acydlic, hydrocarbons), biji besi, mentega asli, bahan sulaman atau rajutan.

    Peluang Investasi Migas dan Jasa Konstruksi
    Peluang Indonesia untuk melakukan investasi di sektor minyak dan gas bumi di Libya sangat besar. Libya diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 29,5 milyar barrels dan merupakan negara ke-9 terbesar di dunia dalam hal cadangan minyak (beberapa sumber bahkan menyatakan sebagai terbesar ke-8). Pemerintah Libya telah mengundang perusahaan-perusahaan migas Indonesia untuk ikut mengeksplorasi ladang-ladang migas Libya. Perusahaan migas Indonesia yang memiliki izin operasi di Libya adalah PT. Pertamina dan PT. Medco Energy di blok-blok minyak yang prospektif dan memiliki cadangan minyak yang cukup besar.
    Libya memiliki potensi sangat besar bagi pasar ekspor produk dan jasa konstruksi Indonesia karena sedang giat-giatnya membangun infrastruktur. Terkait dengan itu, Pemerintah Libya mengundang perusahaan-perusahaan konstruksi Indonesia untuk berpartisipasi pada pembangunan infrastruktur di Libya. Perusahaan konstruksi Indonesia yang saat ini telah beroperasi ke Libya adalah PT. Wijaya Karya (WIKA) dan PT. Citramegah Karya Gemilang (CKG). Perlu didorong kehadiran perusahaan-perusahaan konstruksi Indonesia lainya di Libya.
    Libya berpotensi menjadi salah satu sumber dana investasi langsung (FDI) di Indonesia. National Oil Corporation (NOC) Libya telah menyampaikan minat untuk berinvestasi pada pembangunan kilang minyak di Banten dan di Balongan

    1. Penerangan dan Sosial Budaya

    Kerja sama Pendidikan Agama dan Kesehatan
    Dengan kesamaan sebagai negara berkembang yang berpenduduk mayoritas muslim, hubungan antar tokoh dan lembaga Islam kedua negara terjalin erat. Hal ini terlihat dari ditandatanganinya MoU Kerjasama Cendekiawan dan Mahasiswa Islam antara Lembaga Solidaritas Islam Indonesia yang diwakili oleh Lukman Harun dan Dakwah Islamiyah Libya yang diwakili oleh Dr. Mohamed Sharief pada 27 Desember 1995.
    Selain itu, pada 20 Oktober 1998, Delegasi PP Muhammadiyah Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Ahmad Syafii Maarif berkunjung ke Libya. Dalam kunjungan tersebut telah dicapai Persetujuan Bidang Pendidikan antara Muhammadiyah dengan Jamiah Dakwah Islamiyah berupa pertukaran mahasiswa kedua belah pihak dan Persetujuan Kerjasama Bidang Kesehatan antara Muhammadiyah dengan Rumah Sakit Pusat Tripoli.
    Hubungan baik dengan mitra kerja yang terkait dengan aktivitas diplomasi di bidang sosial budaya terus dijaga. Dalam hubungannya dengan World Islamic Call Society (WICS), yayasan pemerintah Libya yang salah satu tugasnya adalah mengembangkan kerja sama di bidang pendidikan, Indonesia berupaya agar yayasan ini tetap memberikan beasiswa kepada warga Indonesia yang ingin menimba ilmu keagamaan di Libya.
    Selain itu, dalam catatan KBRI Tripoli, jumlah warga Libya yang melanjutkan belajar di berbagai universitas di Indonesia untuk jenjang S1, S2 maupun S3 semakin banyak. Tahun 2012 sebanyak 118 warga Libya, tahun 2013 sebanyak 74 warga Libya dan yang terkini pada tahun 2014 sebanyak 29 orang, dibiayai oleh yayasan WICS di Libya. Universitas-universitas yang menjadi tempat warga Libya menuntut ilmu antara lain adalah Universitas Sebelas Maret, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Gajah Mada, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Solo, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor dan Unika Soegijapranata Semarang.
    Kegiatan Saling Kunjung
    Adapun upaya konkrit lainnya yang telah dilakukan pemerintah Indonesia adalah mengundang wakil pemerintah dan parlemen Libya untuk berkunjung ke Indonesia Pemerintah RI mengundang pemerintah Libya untuk menghadiri Bali Democracy Forum V pada 8-9 November 2012 di Bali dan Libya mengirimkan delegasinya yang dipimpin oleh Deputi Menlu.
    Setiap tahunnya Delegasi Libya selalu berpartisipasi pada acara BDF.  Selain itu, 2 (dua) orang anggota Kongres Nasional Libya telah berkunjung ke Indonesia, dengan memanfaatkan kegiatan Indonesian Trade Expo 2012 untuk bertemu dengan mitranya di DPR RI untuk mempelajari dan berkonsultasi mengenai demokrasi di Indonesia.
    Jumlah WNI di Libya

    Berdasarkan catatan KBRI Tripoli hingga Juli 2015, jumlah WNI di Libya sebanyak 119 orang. Jumlah tersebut meliputi staf KBRI Tripoli 12 orang, Mahasiswa 29 orang, Profesional 2 orang, TKI formal 15 orang, TKI informal 38 orang, TKI Sektor Jasa 15 orang, 1 orang ibu Rumah Tangga yang menikah dengan WN Libya dengan 2 orang anak, serta 5 (lima) orang WNI yang belum melapor ke KBRI Tripoli.