SAMBUTAN PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-102 TAHUN 2010

12/4/2010

 

SAMBUTAN

PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-102

Tanggal 20 Mei 2010

 

Assalamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarrakaatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

 

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

 

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayahNya maka pada hari ini kita dapat hadir bersama-sama di lapangan ini, dalam rangka mengikuti upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-102 tahun 2010.

 

Seperti kita ketahui bersama, 102 tahun yang lalu atau tepatnya 20 Mei 1908, generasi muda Indonesia yang dipelopori oleh Dr. Soetomo, dan Dr. Wahidin Soedirohoesodo membentuk suatu organisasi bernama Boedi Oetomo, yang menancapkan tonggak Semangat Kebangkitan Nasional, untuk melawan penguasa kolonial Belanda pada saat itu.  Suatu tekad yang bulat untuk merdeka dan membebaskan bangsa Indonesia dari tangan penjajah.

Api dan semangat kebangkitan inilah yang terus bergelora di hati para anak bangsa khususnya para pemuda kita. Maka pada tanggal 28 Oktober 1928 lahirlah ”Soempah Pemoeda” yang menjadi kebulatan tekad para pemuda–pemudi kita, menyatukan visi dan langkah serta pemahaman akan semakin mendesaknya kita memiliki sebuah eksistensi satu nusa, satu bangsa dan satu tanah air, yakni Indonesia Raya. Perjuanganpun terus berkobar dan semakin merata ke seluruh pelosok tanah air, yang kemudian mencapai puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

 

Setiap tahun kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, dengan berbagai cara dan acara dari pusat sampai ke daerah termasuk di kantor-kantor perwakilan kita di seluruh dunia. Tentu semua itu dimaksudkan untuk terus menggugah dan menggelorakan semangat nasionalisme dan jiwa patriotisme kita agar tetap hidup dan terjaga dalam hati sanubari kita masing-masing.

 

Saudara-saudara sekalian,

 

            Pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-102 tahun ini kita mengambil tema ”Dengan Semangat Kebangkitan Nasional Kita Tingkatkan Ketahanan Masyarakat Dalam Kerangka NKRI”.

 

            Ketahanan masyarakat (social resilience) pada dasarnya merupakan prasyarat utama untuk mewujudkan ketahanan bangsa.

Ketahanan bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan karakter kebangsaan masyarakatnya. Namun dari kondisi yang berkembang saat ini, khususnya dari aspek kehidupoan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kenyataannya perlu disikapi secara bijak oleh seluruh komponen kekuatan bangsa. Ketahanan sosial bangsa kita saat ini tengah diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang kalau tidak dikelola dengan baik bisa jadi pada gilirannya akan berakibat munculnya gejala-gejala yang dapat melemahkan karakter kebangsaan kita.

 

            Fenomena ini tampaknya semakin diarahkan oleh bangsa yang pada waktu yang sama sedang membangun dan mengembangkan nilai-nilai kebangsaan yang hakiki dan selaras dengan norma budaya dan nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari kita saksikan betapa semakin melemahnya komitmen terhadap rasa kebangsaan Indonesia; memudarnya etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; semakin melemahnya kejujuran dan sikap amanah dalam kehidupan sehari-hari; semakin diabaikannya ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku; semakin langkanya tokoh-tokoh yang bisa menjadi panutan dan semakin meluasnya pengaruh budaya asing terhadap budaya lokal sebagai akibat dari mudahnya akses terhadap informasi, serta menguatnya semangat kedaerahan akibat primordialisme dan fanatisme yang sempit dan mengalahkan rasa kebersamaan dan persatuan.

 

Saudara-saudara sekalian,

 

            Memperhatikan dan merenungkan berbagai hal yang dapat melemahkan karakter bangsa tersebut, maka sangat relevan apabila dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional ini kita perlu mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi hal tersebut.

 

            Pembangunan kareakter bangsa memilki urgensi yang sangat luas dan bersifat multi dimensional dan multi aspek. Multi dimensional karena mencakup potensi-potensi keunggulan bangsa. Oleh sebab itu, pembangunan karakter bangsa setidaknya diarahkan kepada 4 (empat) tataran besar yaitu: pertama: untuk menjaga jati diri bangsa; kedua: untuk menjaga keutuhan NKRI; ketiga untuk membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan keempat untuk membentuk bangsa yang maju, mandiri dan bermartabat.

 

            Pembangunan karakter bangsa memiliki beberapa urgensi, yaitu; pertama; karakter yang sangat esensial, artinya hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus; kedua; karakter sebagai kemudi sehingga bangsa ini tidak terombang-ambing; ketiga; karakter tidak datang dengan sendirinya tetapi harus dibangun dan dibentuk agar kita menjadi bangsa yang bermartabat.

 

Saudara-saudara sekalian,

            Pembangunan karakter bangsa setidaknya harus mencakup 4 (empat) lingkup besar yaitu kehidupan keluarga, lingkup pendidikan, lingkup masyarakat dan lingkup pemerintah.

Pada lingkup keluarga, wahana pembelajaran dan pembiasaan harus dilakukan oleh orang tua terhadap anak sebagai anggota keluarga. Pada lingkup pendidikan adalah wahana pendidikan dan pengembangan karakter yang dilakukan secara terintegrasi oleh para guru. Pada lingkup masyarakat, wahana pembinaan dan pengembangan karakter melalui keteladanan para tokoh masyarakat, dan pada lingkup pemerintahan wahana pembangunan karakter bangsa melalui keteladanan aparat penyelenggara negara dan tokoh-tokoh elit bangsa. Apabila keempat lingkup tersebut dapat berjalan sesuai fungsi masing-masing, maka secara bertahap kita akan dapat menemukan keberhasilan dalam pembangunan karakter bangsa kita.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

 

            Kita menyadari bersama bahwa pembangunan karakter bangsa yang dapat menguatkan ketahanan sosial masyarakat kita, senantiasa dihadapkan kepada berbagai masalah yang sangat komplek. Perkembangan masyarakat yanga sangat dinamis sebagai akibat dari globalisasi san pesatnya kemajuan teknologi informasi merupakan masalah tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Pada aspek sosial dan budaya, globalisasi  mempengaruhi nilai-nilai solidaritas sosial seperti sikap individualistik, materialistik yang akan berimplikasi terhadap tatanan budaya masyarakt Indonesia, seperti memudarnya semangat gotong-royong, melemahnya toleransi beragama yang secara perlahan-lahan dapat mempengaruhi rasa nasionalisme sebagai warga Negara Indonesia.

 

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

 

            Sengaja masalah pembangunan karakter bangsa ini kita tekankan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional dari tahun ke tahun karena hanya warga bangsa yang memiliki karakter yang kuat dan mampu melanjutkan serta meneruskan cita-cita para tokoh pencetus Kebangkitan Nasional adalah bangsa yang berkarakter, memiliki identitas, dan jati diri. Oleh karena itu, di tengah kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-102 ini, saya ingin mengajak, mari kita tanamkan dan terapkan nilai-nilai Kebangkitan Nasional dengan sungguh-sungguh dengan hati yang ikhlas, sehingga dapat kita jadikan pondasi yang kuat dalam membangun bangsa ini serta menjadikan landasan kita dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa  yang akan dihadapi.

 

            Membangun Indonesia kedepan, mutlak harus dilakukan oleh warga bangsa yang memilki semangat dan jiwa kebangsaan yang kuat. Sebab semangat dan jiwa kebangsaan adalah antitesis dari cara berpikir, bersikap dan bertindak dan berperilaku individual, kedaerahan, kepartaian, golongan, aliran dan antitesis dari cara berpikir kolonial. Oleh sebab itu, dalam memaknai Kebangkitan Nasional untuk mewujudkan Indonesia yang memiliki ketahanan masyarakat yang kuat dalam kerangka NKRI sikap perilaku sektarian harus dibuang jauh-jauh dan digantikan dengan sikap dan perilaku yang senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.

 

            Apabila nilai-nilai Kebangkitan Nasional, secara sungguh-sungguh kita terapkan dalam tatanan kehidupan kita, maka hal itu akan menjadi landasan yang kuat dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi. Jika zaman penjajahan kita menghadapi musuh  bersama yang bernama kolonialisme, maka musuh yang kita hadapi saat ini adalah kemiskinan, pengangguran, korupsi, melemahnya penegakan hukum, dan lain sebagainya. Kalau dulu dengan kekuatan yang seadanya kita dapat mengusir penjajah karena ktia memiliki semangat kebangsaan yang sangat kuat. Saat ini, keyakinan itu harus kita bangkitkan kembali melalui peringatan Hari Kebangkitan Nasional bahwa dengan sumber daya yang tersedia melalui kerja keras, kita akan mampu melawan dan menyelesaikan persoalan bangsa yang kita hadapi.

 

            Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan bimbingan dan petunjuk serta hidayah-Nya, memberikan kekuatan lahir dan batin kepada seluruh rakyat Indonesia, sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin kokoh dan dapat membuat seluruh rakyat Indonesia merasakan kehidupan yang lebih baik, Amin.

 

Sekian dan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

 

Menteri Komunikasi dan Informatika

Ir. H. Tifatul Sembiring