Renungan Setahun Great East Japan Earthquake dan Bedah Buku Japan Aftershock

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tak terasa setahun berlalu semenjak terjadinya Great East Japan Earthquake pada 11 Maret 2011. Sebagai renungan setahun bencana gempa dan tsunami tersebut KBRI Tokyo telah menyelenggarakan silaturrahim dan temu masyarakat pada tanggal 9 Maret 2012 di Tokyo. Acara tersebut dihadiri oleh pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang, mahasiswa dan tokoh masyarakat Indonesia di Jepang, masyarakat Jepang pecinta Indonesia serta berbagai pihak yang berperan dalam membantu KBRI melindungi dan menyelamatkan WNI dari tempat bencana.
Dalam sambutan tertulisnya Duta Besar RI, Muhammad Lutfi, mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh tim penyelamat KBRI, perwakilan perusahaan dan lembaga RI di Jepang, mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam PPI Jepang serta seluruh masyarakat Indonesia di Jepang yang telah secara sukarela membantu meringankan tugas KBRI Tokyo untuk melindungi WNI di daerah bencana. Ia juga menegaskan bahwa dari bencana tersebut, Indonesia dapat belajar semangat Gambaru dari masyarakat Jepang yaitu semangat tabah untuk berdiri kembali setelah bencana. Dapat dikatakan bahwa kalau ada negara di dunia ini yang mampu bangkit dan tumbuh lebih kuat setelah hancur dilanda becana, itulah Jepang.
Sementara Yoshiharu Kato, Senior Regional Coordinator, Second Southeast Asia Division, Kementerian Luar Negeri Jepang yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi kepada Indonesia atas solidaritas dan dukungan yang diberikan di masa-masa sulit Jepang. “Di saat perwakilan asing pindah keluar Tokyo pasca bencana 11 Maret 2011, Indonesia tidak melakukannya dan tetap berada di Tokyo. Hal itu adalah bentuk solidaritas dan dukungan Indonesia yang tidak akan pernah dilupakan oleh kami bangsa Jepang”, ujar Kato.
Pada kesempatan yang sama, Kato juga membacakan pesan dari Walikota Kesennuma, Shigeru Sugawara, yang sangat terkesan oleh perhatian dan bantuan Indonesia saat bencana gempa dan tsunami, terutama yang ditunjukkan oleh Presiden RI dan Ibu Ani pada kunjungannya ke Kesennuma, Prefektur Miyagi, bulan Juni 2011 yang lalu. “Kata-kata hiburan dan dukungan dari Presiden RI dan Ibu Ani pada saat kunjungannya memberikan harapan bagi kami untuk bangkit kembali. Angklung yang disumbangkan oleh Indonesia juga telah dimainkan oleh para murid-murid di Kesennuma dan menjadi penyemangat bagi kami,” tulis Sugawara dalam pesannya. “Saya ingin sekali memberikan cinderamata kepada Bapak Presiden RI sewaktu beliau berkunjung kesini, tapi perekonomian dan pabrik-pabrik masih lumpuh saat itu. Setelah proses rekontruksi selesai dan ekonomi telah membaik, saya ingin sekali berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dan memberikan cinderamata khas Kesennuma kepada Bapak Presiden, sekaligus berkunjung ke Aceh yang dulu juga pernah tertimpa tsunami” tulis Sugawara.
Kota Kesennuma yang terletak di Prefektur Miyagi, Timur Laut Jepang, memiliki luas 333,37 Km2 dan dihuni oleh sekitar 75.700 penduduk. Kesennuma terletak cukup dekat dengan pusat gempa yang mengakibatkan tsunami pada 11 Maret 2011.
KISAH-KISAH BERANI MENGHADAPI TSUNAMI
Melengkapi renungan setahun Great East Japan Earthquake pada malam itu (9/3), diselenggarakan pula peluncuran dan bedah buku “Japan Aftershock: Kisah-Kisah Berani menghadapi Tsunami” karya dua penulis muda Indonesia, Hani Yamashita dan Junanto Herdiawan. Buku tersebut menceritakan kisah-kisah mengharukan dan penyemangat serta berbagai upaya dan sikap masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana. “Melalui buku ini kami berharap Indonesia dapat belajar upaya-upaya penanggulangan bencana dari Jepang untuk meminimalisir korban bencana,” ujar Hani Yamashita, salah satu penulis Japan Aftershock yang telah lama menetap di Jepang, pada saat bedah buku. Ibu dua orang anak ini juga pada waktu bencana menjadi relawan di lokasi pengungsian di Prefektur Saitama yang bertugas menerima pasokan bantuan dan mendistribusikannya.
Sementara Junanto Herdiawan, salah satu penulis buku yang juga seorang analis ekonomi yang kini bertugas di Bank Indonesia di Tokyo menuturkan alasannya menulis Japan Aftershock. “Beberapa kisah heroik dan mengharukan yang saya alami dan amati pasca bencana sangat sayang bila tidak dicatat dan di-share dengan semua, cerita tersebut akan berlalu begitu saja nanti,” ujarnya. “Begitu banyak pelajaran yang dapat diambil dari bencana yang lalu, terutama semangat luar biasa masyarakat Jepang untuk bangkit kembali setelah bencana,” ujar Junanto.
Ditulis oleh dua penulis dengan latar belakang yang berbeda, buku ini memberikan kekayaan pemikiran serta pelajaran moral dari masyarakat Jepang yang dapat dipetik. Buku yang kata pengantarnya diberikan oleh Dubes RI ini juga menggambarkan peranan KBRI Tokyo dalam penyelamatan dan evakuasi WNI di daerah bencana.