Pagelaran Seni dan Budaya Indonesia Meriahkan Hari Libur di Tokyo

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Acara yang berlangsung selama dua hari (sampai dengan hari minggu, tanggal 14 Pebruari) menampilkan pameran kerajinan tangan, batik, pertunjukkan tari, musik sasando, peragaan busana dan demo menyulam. Hal-hal baru yang ditampilkan kepada publik di Jepang dalam acara kali ini adalah penampilan peragaan busana yang dibawakan oleh enam orang model hasil karya desainer Thomas Sigar/Didi Budiardjo menggabungkan antara kain tenun tradisional dari Sulawesi Utara yang disebut PINAWETENGAN HANDWOVEN dengan kreasi kontemporer yang cukup digemari oleh masyarakat modern karena mengutamakan kepraktisan namun tidak menghilangkan kesan keanggunan. Tema yang dibawa dalam peragaan busana adalah Gosu Loli yakni memadukan antara kain batik cetak dengan pola-pola geometris yang bernuansa kelam sebagaimana lazimya dikenakan oleh anak-anak muda di Harajuku distrik, Tokyo. Tema lain adalah Apo Kayan yang terinspirasi dari busana etnis dayak di daerah hutan tropis yang mengambil tema-tema dari alam seperti anggrek hutan hujan tropis, kupu-kupu yang digabungkan dengan mode berpakaian kultur pop. Lebih lanjut, penampilan musik Sasando oleh Jacko H.A Bullan ikut memukau para undangan yang hadir antara lain para Duta Besar negara-negara ASEAN dan beberapa pejabat tinggi setempat. Sebagian elemennya menggunakan daun lontar/palm yang banyak tumbuh di daerah pantai Nusa Tenggara Timur. Alat musik ini sudah mulai langka di Pulau Rote dan hanya dimainkan oleh generasi yang telah lanjut. Namun demikian, alat musik ini banyak dikagumi oleh seniman-seniman dari mancanegara. Menurut Jacko, dirinya juga membuka sanggar pendidikan musik Sasando di Jakarta Timur yang telah menarik minat berbagai seniman untuk belajar mempelajarinya. Seniman-seniman dari Jepang termasuk murid asing yang paling banyak karena rata-rata mereka tertarik akan keunikan desainnya serta keindahan suara yang dihasilkan. Saat berlangsungnya acara disampaikan pula kepada hadirin untuk ikut berpartisipasi dalam memilih Taman Nasional Komodo sebagai keajaiban dunia yang ketujuh melalui pemilihan di website. Pembukaan eksibisi ini ditutup dengan pengundian door prize tiket Tokyo – Denpasar untuk 2 orang pemenang. Acara yang merupakan hasil koordinasi antara KBRI Tokyo, Yayasan Sulam Indonesia dan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI, juga mengetengahkan demo sulaman khas sulawesi dimana pengunjung dapat mencoba sendiri kreasi buatan mereka dengan dipandu oleh instruktur yang didatangkan dari Indonesia. Pada stand-stand pameran ditampilkan berbagai kerajinan sulaman, tenunan, perhiasan, dan tidak ketinggalan batik kebanggaan Indonesia yang pada bulan Oktober 2009 yang lalu telah mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai INTANGIBLE CULTURAL HERITAGE OF INDONESIA. Secara umum antusiasme pengunjung cukup tinggi, tercatat sekitar lebih dari 200 orang pengunjung yang datang semenjak hari pertama dan hari kedua.