KBRI Tokyo Mendukung Wirausahawan Indonesia Melakukan Ekspansi Produk ke Jepang

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada tanggal 22 Nopember 2009, Working Group for Technology Transfer (WGTT) bekerjasama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Korda Kanto dan Ikatan Persaudaraan Trainee Indonesia Jepang (IPTIJ) mengadakan Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) yang ke-17 (2008-2009) yang bertempat di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, Jepang.
 
Tidak kurang dari 120 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, trainee (kenshusei), maupun professional, serta undangan dan tamu dari KBRI Tokyo, BI Tokyo, BNI Tokyo, Garuda Indonesia, KDDI, IMM Japan, dll memadati ruangan pelatihan yang ditata dengan nuansa Pulau Bali ini. Acara dimulai tepat pada pukul 09:30 JST (Japan Standard Time) dengan sambutan yang dibawakan oleh Bpk. Amir R. Harahap, Minister Counsellor KBRI Tokyo yang menekankan pentingnya merancang masa depan di Indonesia dengan modal, skill, dan jaringan kebersamaan yang telah terbentuk selama berada di Jepang.
 
Materi inti yang dibagi dalam 2 sesi ini, dimulai dengan "Wirausaha: Mimpi, Strategi, dan Aksi" yang dipresentasikan oleh Nelfa Desmira, Treasury WGTT. Penekanan ditujukan pada pentingnya berwirausaha dan persiapan modal yang bisa dimulai dari apa yang dimiliki saat ini. Pada umumnya, strategi pemasaran adalah bagian tersulit dalam pengembangan usaha, imbuhnya dalam seminar tersebut.
 
Selanjutnya, Bpk. Arief Hartawan, Economist BI Tokyo menjelaskan “Peran pemerintah dalam menunjang pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM)” dengan berbagai fasilitas kemudahan yang tertuang dalam undang-undang dan regulasi perbankan yang seharusnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia, terutama mereka yang mempunyai skill dan pengalaman dari luar negeri.
 
Lain halnya dengan Bpk. Rahmad Hidayat, Deputy General Manager BNI Tokyo yang menyampaikan materi tentang “Strategi memperoleh kredit modal dan pengembangan usaha dari bank”. Dalam sesi ini, pembicara menjelaskan bahwa sebenarnya pengajuan kredit ke bank relatif mudah. Di samping itu, yang perlu diperhatikan adalah bank akan mengadakan observasi sebelum dana pinjaman dikucurkan untuk memastikan kebenaran dari proposal tersebut, serta manajemen keuangan juga merupakan hal pokok yang harus diketahui oleh para wirausahawan, yang mencakup positif cashflow, investasi, pengelolaan modal, dan proposal usaha. BNI sebagai salah satu bank terbesar di Indonesia berkomitmen untuk membantu para kenshusei untuk berwirausaha sepulangnya ke tanah air.
 
Pada sesi ke-2, WGTT mendemonstrasikan penggunaan web seminar (Webinar http://webinar2010.com) yang direncanakan untuk di-launching pada awal 2010 dengan materi pelatihan yang bersifat aplikatif dan teknis. Webinar adalah teknologi terbaru dalam teknik presentasi jarak jauh yang dilengkapi dengan fasilitas screen yang berfungsi sebagaimana papan tulis yang biasa dipakai di ruang kelas. Demo webinar pada PWEP Tokyo ini, dibawakan oleh Dr. Fauzy Ammari (Director WGTT), melalui koneksi jarak jauh dari Colombo, Srilangka dengan menjelaskan kegiatan WGTT 2008-2009 dan rencana program kerja 2010, diantaranya dengan penyelenggaraan PWEP di Jepang dan Indonesia, perluasan cabang WGTT di Kanto, Chubu, dan Kansai di Jepang, serta pembukaan Pusat Informasi Program Pendampingan di Jakarta dan Surabaya.
 
Berbeda dengan PWEP-PWEP sebelumnya, pada kesempatan ini dibuka sesi khusus talk show yang membahas tentang wirausaha sebagai salah satu pilihan dalam berkarir. Duduk sebagai narasumber adalah Bpk Firman Wibowo (General Manager BNI Tokyo), Bpk Ridwan Abas (Minister Counsellor KBRI Tokyo), Bpk Tulus Budhianto (Atase Perdagangan KBRI Tokyo), Bpk. Arief Hartawan, dan Dodik Kurniawan (General Manager WGTT). Dengan latar belakang gapura bercorak Bali, suasana talk show terasa sangat elegan ditambah lagi dengan piawainya Denyl Setiawan, moderator dari PPI Kanto mengarahkan jalannya diskusi, sehingga berhasil menggiring peserta hanyut dalam pemantapan dan pengembagan wirausaha yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasar. Dalam kesempatan ini, KBRI Tokyo menyampaikan komitmennya untuk membuka pintu selebar-lebarnya dalam mendukung wirausahawan Indonesia untuk melakukan ekspansi produknya melalui perdagangan ekspor dan impor, khususnya ke dan dari Jepang.
 
Materi selanjutnya disampaikan oleh Bpk Benny M. Wijaya, dari Bea dan Cukai Jakarta yang memaparkan secara detail seluk-beluk regulasi ekspor dan impor. Tidak ketinggalan, Amin Rohmatullah, Corporate Relation Manager WGTT menyampaikan hasil studi tentang UKM di Indonesia dan Jepang dengan harapan peserta dapat memetik pelajaran dari apa yang dilihatnya selama ini di Jepang. Sebagai materi puncak, praktisi-praktisi yang sudah kenyang dengan makan garam di dunia wirausaha didatangkan untuk berbagi kiat-kiat suksesnya. Bpk Kresna Hadi, founder dan sekaligus direktur utama Nusantara Co., Ltd. dan Bpk Usman Choiruddin, pengusaha furniture di Jepara, tidak hanya menceritakan kisah sukses namun lebih menekankan hambatan dan tantangan dalam berwirausaha, dengan harapan dapat memicu minat dan sekaligus mengantisipasi langkah-langkah yang harus diambil pada saat yang tidak diinginkan.
 
Acara ditutup dengan pesan dan kesan dari peserta serta pemberian doorprize dan sertifikat pelatihan kepada peserta yang tetap semangat mengikuti acara sampai akhir. Pada kesempatan ini, MC kembali mengajak seluruh komponen masyarakat untuk seiya sekata bersama-sama WGTT dalam mengakselerasi proses transfer teknologi dari Jepang ke tanah air tercinta.
 
Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan peserta dapat mampu melihat gambaran ke depan dan apa yang harus dilakukan sekembalinya ke tanah air. Pada akhirnya, dengan berwirausaha dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat hubungan ekonomi dengan berbagai negara sahabat terutama Jepang.