Implementasi Kerjasama Pertanian Indonesia – Jepang, Kegiatan Pemagang Bidang Pertanian di Gunma

KBRI Tokyo pada tanggal 19 November 2009 telah melakukan kunjungan kepada para petani pemagang Indonesia yang saat ini berada di prefektur Gunma. Rombongan terdiri atas Sdr. Mohamad Abas  Ridwan, Minister Counselor/Acting Atase Pertanian; Sdr. Dwatmaji Hanomanresi, Counselor Penerangan; Sdr Hardiyono Kurniawan, Sek III Protkons serta Sdri. Ikue Ohkawa, Staf Atase Pertanian.

 

Rombongan tiba di Gunma dan diterima oleh salah satu host farmer yaitu Mr. Saida Kazunori dan 2 orang petani pemagang yaitu Sdr. I Kadek Rahmat Setiawan dan Sdr. I Nyoman Partha. Selanjutnya rombongan diantar Mr. Saida ke peternakan milik Mr. Morita Shigeru. Di peternakan tersebut, rombongan diterima oleh Mr. Morita dan Sdr. Supriadi. Rombongan selanjutnya melakukan peninjauan ke tempat peternakan sapi dan menerima penjelasan tentang berbagai kegiatan di peternakan tersebut.

 

Pada kesempatan tersebut, rombongan melakukan pertemuan dengan Asosiasi Petani Gunma dan didampingi oleh para petani pemagang Indonesia yang sedang magang di pertanian atau peternakan masing-masing. Rombongan juga mengadakan dialog dengan ke 9 orang petani pemagang yang datang ke acara tersebut.

 

Dalam peninjauan ke pertanian buah tomat milik Mr. Kogure Akihiko, rombongan bertemu dengan 2 orang petani pemagang yakni Sdr. Suparno dan Sdr. Siti Dahlia. Lahan pertanian seluas sekitar 13.000 m2 dengan jumlah pohon tomat saat ini sebanyak 35.000 pohon yang diperkirakan akan dapat dipanen pada bulan Desember mendatang.
Dari dialog yang dilakukan dengan para pemilik pertanian/peternakan Jepang, mereka menilai positif keberadaan para pemagang tersebut. Mereka menyatakan bahwa para pemagang tani/ternak tersebut rajin, adaptif dan mudah menerima arahan atau petunjuk dari mereka. Mereka mengharapkan agar para pemagang yang selanjutnya juga memiliki kualitas yang sama dengan pemagang yang sudah ada saat ini.

 

Sedangkan para pemagang menyatakan bahwa selama mereka berada di Jepang, mereka diperlakukan sebagaimana layaknya anggota keluarga yang lain. Sebagian dari mereka mengakui bahwa pekerjaan yang dilakukan terutama pada saat panen hasil pertanian cukup berat. Mereka bekerja dari pagi hingga larut malam, namun karena host farmer mereka juga sama-sama bekerja hingga larut malam, mereka memaklumi hal tersebut. Selain itu, para petani pemagang mengaku memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang baru. Mereka berencana untuk menerapkan dan mengembangkan pengetahuan yang mereka peroleh selama magang satu tahun di Jepang sekembalinya mereka ke Indonesia.

 

Menurut pengamatan kami, para pemagang pertanian dan peternakan tersebut telah dapat menyerap pengetahuan di bidang yang mereka tekuni masing-masing walaupun waktu pemagangan satu tahun dirasakan kurang, namun berkat disiplin dan kinerja yang tinggi dapat dijadikan bekal bagi mereka untuk mengaplikasikannya di Indonesia.