Dubes Yusron Paparkan 5 Alasan Mengapa Jepang harus Berinvestasi di Indonesia

2/24/2015

 

?Dubes RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra telah menjadi salah satu pembicara utama pada pertemuan Aichi-Nagoya Forum for International Network and Exchange (ANNIE). Forum tersebut diselenggarakan Pemerintah Prefektur Aichi bekerjasama dengan KADIN Nagoya dan Federasi Bisnis Chubu di Nagoya, tanggal 23 Februari 2015, dan bertujuan memajukan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan antara negara-negara ASEAN dengan sektor swasta Jepang  yang berbasis di wilayah Chubu Jepang. Di samping dihadiri Dubes Yusron, forum ini juga dihadiri pembicara dari negara-negara ASEAN lainnya.

 Wilayah Chubu merupakan salah satu pusat perekonomian dan industri Jepang yang mencakup 9 Prefektur yaitu Aichi, Fukui, Gifu, Ishikawa, Nagano, Niigata, Shizuoka, Toyama dan Yamanashi. Kekuatan ekonomi Chubu sangat substansial sehingga apabila diibaratkan sebagai negara, Chubu akan termasuk sebagai salah satu 20 ekonomi terbesar di dunia dengan GDP regional yang lebih besar dari GDP beberapa negara G-20 seperti Argentina dan Afrika Selatan. Pusat urat nadi perekonomian Chubu adalah di kota Nagoya yang juga merupakan ibukota Prefektur Aichi. Saat ini tercatat lebih dari 750 perusahaan Jepang yang berbasis di Chubu telah menanamkan modal di negara-negara ASEAN.

Dubes Yusron telah menghadiri 3 sesi dari Forum ANNIE, yaitu memberikan paparan pada sesi pertama, mengikuti diskusi panel pada sesi kedua, dan menjadi tamu kehormatan pada networking reception sebagai sesi terakhir. Pada sesi pertama, Dubes Yusron telah mendorong dunia usaha Chubu untuk terus meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia, dengan menyampaikan 5 alasan mengapa Jepang perlu meningkatkan kerjasamanya dengan Indonesia. 

“Alasan pertama adalah karena Indonesia merupakan satu diantara sedikit negara di Asia Pasifik yang mampu memadukan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas dan demokrasi, di mana ketiganya ini – pertumbuhan, stabilitas dan demokrasi – merupakan prasyarat bagi bisnis yang berkesinambungan,” demikian ditandaskan Dubes Yusron. Karenanya, “semua pihak yang ingin mencapai kesinambungan usaha harus masuk ke Indonesia,” Dubes Yusron menegaskan.

 Alasan kedua adalah mengingat jumlah kelas menengah Indonesia yang terus berkembang pesat. “Menurut penelitian Boston Consulting Group, jumlah kelas menengah Indonesia akan terus tumbuh dari 90 juta jiwa saat ini menjadi 141 juta jiwa pada tahun 2020”, demikian dijelaskan Dubes Yusron. “Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa pertumbuhan tersebut terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia, tidak terpusat di wilayah tertentu saja.”. Dunia usaha Jepang perlu memanfaatkan keunggulan demografis ini, mengingat tidak banyak negara lain di dunia yang dapat menawarkan keunggulan serupa.

Faktor berikutnysa adalah karena Indonesia, dengan posisinya yang strategis, kekayaan alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar, dapat memainkan peran ganda sebagai basis produksi bagi konsumsi domestik maupun pasar ekspor. “70 persen dari investor Jepang di Indonesia menggunakan Indonesia tidak hanya sebagai basis konsumsi dalam negeri melainkan juga mengekspor produk yang dihasilkan,” demikian dijelaskan Dubes Yusron. Hal ini merupakan contoh success story yang perlu diikuti perusahaan-perusahaan Jepang lainnya.

Alasan keempat adalah karena Indonesia telah menjadikan pembangunan infrastruktur dan energi sebagai prioritas pembangunan ke depan. “Indonesia tidak menutup mata dan menyadari terdapat tantangan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan energi,” demikian ditandaskan Dubes Yusron. Dengan kata lain, Indonesia tidak mengabaikan masukan investor dan karenanya telah menjadikan pembangunan infrastruktur dan energi sebagai program prioritas. “Penghapusan subsidi BBM merupakan contoh nyata yang telah memungkinkan tidak kurang dari 120 trilyun rupiah setiap tahunnya untuk dialokasikan sebagai dana tambahan bagi pembangunan infrastruktur”, Dubes Yusron menjelaskan.

Terakhir, namun tidak kalah penting, karena bangsa Indonesia memiliki pandangan yang sangat ramah terhadap Jepang. “Berdasarkan survey BBC, 82% responden Indonesia memiliki pandangan positif atas Jepang. Ini merupakan angka tertinggi dari seluruh Negara yang disurvey”. Karenanya, dengan masuk ke Indonesia, dunia usaha Jepang akan beroperasi di negara yang ramah terhadap operasi perusahaan Jepang dan memandang Jepang sebagai sahabat.

Pada sesi diskusi panel yang dimoderatori Wakil Direktur Eksekutif JETRO (Japan External Trade Organization), Mr. Daisuke Hiratsuka, Dubes Yusron dengan menggunakan Bahasa Jepang yang fasih telah menjelaskan mengenai 4 hal yang diharapkan Indonesia dari Jepang bagi penguatan kerjasama mendatang. “Yang pertama, Jepang harus terus menjadi mitra pembangunan yang dapat diandalkan. Kedua, Indonesia ingin meningkatkan kerjasama di sektor maritim, selaras dengan karakter kedua negara sebagai negara kepulauan. Ketiga, Jepang perlu memberi kontribusi pada pembangunan infrastruktur dan energy listrik di Indonesia. Dan keempat, Indonesia mendorong agar investasi Jepang di Indonesia adalah investasi yang ‘berkualitas’, yaitu yang menghasilkan produk berorientasi ekspor dan meningkatkan kapasitas industry Indonesia”, demikian dipaparkan Dubes Yusron. Selaras dengan apa yang telah disampaikan Dubes Yusron, negara-negara ASEAN lainnya juga menyoroti kapasitas infrastruktur dan energi di masing-masing negara sebagai tantangan terbesar dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Pada kesempatan networking reception yang merupakan sesi terakhir, Dubes Yusron juga telah didaulat untuk memberikan sambutan mewakili seluruh negara ASEAN yang hadir. 

Forum ANNIE dihadiri lebih dari 200 peserta dari berbagai perusahaan yang berbasis di wilayah Chubu. Termasuk di antara para peserta adalah Gubenur Prefektur Aichi, Mr. Hideaki Ohmura, Ketua KADIN Nagoya, Mr. Tokuichi Okaya, dan Ketua Federasi Bisnis Chubu, Mr. Toshio Mita.  Kawasan Chubu merupakan salah satu basis industri terpenting di Jepang dengan kekuatan di sektor otomotif, besi baja, permesinan, dan heavy industries. Kawasan ini memiliki jumlah total penduduk 21 juta jiwa dengan total GDP regional senilai US$ 720 milyar.?