UPAYA KBRI TOKYO DALAM PENANGANAN DAN PERLINDUNGAN WNI DAN PELAJAR DI WILAYAH GEMPA KUMAMOTO DAN BEPPU

Terkait kesimpangsiuran berita-berita di berbagai media sosial tentang penanganan Gempa Kumamoto dan Beppu oleh KBRI Tokyo, dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut:

1.    Pelajar Indonesia di Kumamoto berjumlah 60 orang dan jumlah pelajar Indonesia di Beppu berjumlah 327 orang. Dengan demikian, info yang menyatakan jumlah sebesar 320 orang, tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

2.    Tim Relief KBRI Tokyo merupakan tim bantuan Kedutaan dari negara ASEAN yang pertama kali berhasil tiba di Kumamoto, pada hari Sabtu siang (16/4/16). Tim Bantuan KBRI Tokyo diberangkatkan dengan membawa bahan makanan, minuman, obat-obatan serta keperluan-keperluan darurat lainnya. Saat itu, Bandara Kumamoto masih ditutup akibat gempa dan jalur kereta api cepat masih ditutup. Namun, melalui Bandara Fukuoka, Tim KBRI Tokyo berhasil menembus rintangan dan dapat mencapai Kumamoto untuk membantu WNI dan warga lainnya yang menjadi korban.

3.    Berdasarkan fakta di lapangan, kondisi di wilayah Kumamoto jauh lebih parah karena bandara, akses transportasi, sumber logistik sangat terbatas. Hal ini berbeda dengan kondisi di wilayah Beppu karena sarana publik seperti air dan listrik tetap menyala, toko-toko tetap buka secara normal dan sejak Senin, 18 April 2016 Pemerintah setempat sudah membuka kembali sekolah untuk belajar mengajar.

4.    KBRI Tokyo sampai saat ini masih terus menjalin komunikasi dan koordinasi erat dengan para korban di Kumamoto serta di Beppu sejak hari pertama terjadinya gempa, antara lain melalui jaringan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Kumamoto serta Kyushu dan Ketua Fumiku (Persaudaraan Muslim Kumamoto)  serta para pengajar di Universitas Kumamoto dan Beppu.

5.    Memperhatikan situasi di wilayah Kumamoto yang masih diguncang gempa dan belum kondusif, KBRI Tokyo tetap menempatkan tim relief untuk membantu para WNI. Pada hari Selasa malam (19/4/16) tim relief KBRI Tokyo telah melakukan evakuasi terhadap 19 mahasiswa ke Fukuoka. Langkah inipun dilanjutkan pada hari Rabu (20/4/16) dengan melakukan evakuasi terhadap para WNI yang ke berbagai wilayah antara lain Hiroshima, Osaka, serta Tokyo. Selain itu, terdapat WNI yang masih memilih bertahan di Kumamoto atas keinginan pribadi. Tindakan ini dipimpin langsung oleh Koordinasi Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Tokyo yang berada di Kumamoto bekerjasama dengan pihak Konsulat Jendera RI di Osaka.

6.    Jepang sebagai negara yang rentan akan bencana alam seperti gempa bumi, telah memiliki sistem manajemen penanganan bencana yang sangat baik. Penanganan seluruh warga, baik warga Jepang maupun warga negara asing diperlakukan sama sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) pemerintah setempat.

7.    Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas, adalah tidak benar bahwa KBRI Tokyo tidak melakukan upaya perlindungan WNI dan pelajar selama terjadinya bencana gempa khususnya di wilayah Kumamoto dan Beppu.

8.    KBRI Tokyo memiliki hotline 24 jam yang secara aktif merespon berbagai permintaan bantuan dan laporan terkait kondisi lapangan pada saat gempa. Selain itu, informasi perkembangan terbaru mengenai penanganan WNI di kedua tempat dimaksud selalu diperbaharui melalui media sosial antara lain twitter @KBRITokyo, facebook: Kbri tokyo, serta website www.kbritokyo.jp dan www.kemlu.go.id/tokyo.​