PROF. DR. AZYUMARDI AZRA SAMPAIKAN KULIAH UMUM TENTANG ISLAM INDONESIA KONTEMPORER DI LEIDEN

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 azra leiden Acara ini merupakan salah satu agenda kegiatan Guru Besar dan mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama kunjungannya di Belanda. Prof. Dr. Azyumardi Azra diundang oleh Universitas Leiden LUCIS bersama KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies)  dan   IIAS (International Institute for Asian Studies) untuk menyampaikan kuliah umum mengenai Contemporary Indonesian Islam: Socio-Cultural and Political Dynamics. Pada kesempatan tersebut, KUAI KBRI Den Haag, Bapak Umar Hadi, turut hadir sebagai salah satu narasumber. Kuliah umum ini diikuti antara lain oleh sejumlah guru besar, pakar Islam, pemerhati Indonesia, para mahasiswa Universitas Leiden dan staf KBRI Den Haag.

Adapun pokok-pokok bahasan yang disampaikan pada kuliah umum tersebut sebagai berikut:
  1. Islam Indonesia dapat menjadi alternatif lain dalam pencitraan Islam khususnya di kalangan negara-negara Barat karena dalam penerapannya sejauh ini cukup mampu berjalan seiring dengan kaidah-kaidah yang selama ini diusung Barat, misalnya Demokrasi dan kesetaraan gender. Sebagai contoh pengenaan jilbab di Indonesia bukanlah suatu bentuk tekanan terhadap kaum perempuan namun merupakan suatu pilihan, dan saat ini lebih dari 50 persen mahasiswi di universitas ”sekuler” mengenakan jilbab atas kesadaran sendiri. Hal itu menunjukkan bahwa jilbab tidak identik dengan fundamentalisme dan lembaga Islam seperti madrasah atau universitas Islam. Selain itu, kebebasan   berbicara dan mengemukakan pendapat, bahkan tentang hal-hal sensitif seperti agama, tidak menjadi masalah di Indonesia karena Muslim Indonesia cukup dewasa dan toleran terhadap hal tersebut.azra leiden
  2. Penggolongan Muslim Indonesia (khususnya Jawa) menjadi Santri dan Abangan yang dikemukakan Clifford Geertz tampaknya sudah tidak relevan saat ini karena golongan-golongan tersebut sudah membaur sehingga penggolongan menjadi kabur.
  3. Meskipun pemahaman dan attachment terhadap Islam meningkat di Indonesia, namun hal itu tidak berpengaruh secara signifikan di gelanggang politik. Sebagai bukti, dalam tiga kali pemilu yang diadakan pasca Orde Baru, pemenangnya selalu partai non Islam.
  4. Kekuatan utama Islam Indonesia yang moderat terletak pada kokohnya Islamic based civil society, terutama diwakili oleh Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang mampu mendorong pengembangan masyarakat madani dengan mengedepankan nilai-nilai Islam yang moderat.
  5. Beberapa pokok diskusi antara lain:
  • Keberadaan agama dalam ranah kebijakan luar negeri Indonesia merupakan konsekuensi logis dari upaya Indonesia dalam menyikapi tantangan azra leidendari luar (globalisasi) dan dari dalam (reformasi) yang muncul saat memasuki abad ke-21. Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk identitas yang kuat dalam dunia internasional, dan Islam Indonesia yang sejalan dengan demokrasi dapat dianggap sebagai aset yang baik untuk kepentingan dimaksud. Untuk itu, pemerintah memberdayakan kaum Islam moderat serta bekerjasama dengan masyarakat madani guna menyokong pembentukan jati diri Islam Indonesia yang sejuk dan rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh manusia).
  • Radikalisme Islam selalu menjadi tantangan. Namun demikian, tendensi radikalisme di Indonesia sudah kehilangan momentum dalam 5 tahun terakhir dan terlebih lagi, saat ini NU dan Muhammadiyah sudah semakin waspada akan penyusupan elemen radikal dalam tubuh kedua organisasi tersebut sehingga kemungkinan terjadinya radikalisme Islam secara meluas dapat diredam.