Dubes RI Tehran: Mari Singkirkan Kekhawatiran Berlebihan Tentang Sanksi

10/14/2014

 

?

Tehran, 13 Oktober 2014: "Mispersepsi tentang sanksi hingga saat ini masih terus menjadi tantangan khusus dalam pengembangan hubungan ekonomi Indonesia-Iran", ungkap Dubes Dian di hadapan 20 pengusaha Indonesia yang sedang bertandang ke Tehran.


Jamuan makan malam yang dihelat KBRI dalam rangka menyambut kedatangan delegasi KADIN tersebut dihadiri oleh sekitar 60 orang yang merupakan perwakilan pengusaha dan birokrat serta keluarga besar KBRI dan masyarakat Indonesia yang berdomisili di Tehran dan sekitarnya.


Sejak era Rouhani yang menggariskan kebijakan politik luar negeri yang moderat, dialogis dan non-konfrontatif, KBRI mencatat perkembangan positif banyaknya kedatangan para pejabat negara-negara dan dunia usaha barat ke Iran untuk mulai membuka lembaran baru hubungan yang lebih konstruktif.


"Masih banyak pemangku kepentingan dan pengusaha di Indonesia yang menilai bahwa sanksi adalah kartu mati, pada saat negara-negara lain khususnya tetangga kita memandang sanksi adalah peluang untuk dapat mengisi pasar yang banyak ditinggalkan mitra-mitra dagang barat Iran", ungkap sang Dubes dengan gemas.

 

Dubes Dian juga menghimbau agar para pengusaha segera mengubah cara pandang terhadap potensi dan peluang pasar yang begitu besar di Iran, "Persepsi yang salah mendorong pembentukan mindset yang salah, dan mindset yang salah mendorong pembuatan kebijakan yang salah pula", cetusnya. "Mari kita diseminasikan informasi yang akurat dan proporsional tentang potensi Indonesia-Iran kepada rekan-rekan kita semua dan mengeliminir kekhawatiran yang berlebihan terkait sanksi", pungkasnya.


Selain isu perdagangan, Dubes Dian juga tak lupa memaparkan potensi besar di bidang pariwisata yang dapat dikerjasamakan antara kedua negara. "Iran saat ini sedang mengalami tsunami wisatawan mancanegara. Tercatat musim liburan Tahun Baru Nouruz yang lalu menorehkan peningkatan signifikan kunjungan wisman khususnya dari negara-negara barat sebesar 341% dibanding tahun sebelumnya".