SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA SESI KHUSUS KE-11 GOVERNING COUNCIL, GLOBAL MINISTERIAL ENVIRONMENT FORUM UNITED NATIONS ENVIRONMENT PROGRAMME (UNEP) Nusa Dua Bali, 24 Februari 2010

3/10/2010

 

SAMBUTAN  
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
SESI KHUSUS KE-11 GOVERNING COUNCIL,
GLOBAL MINISTERIAL ENVIRONMENT FORUM UNITED NATIONS ENVIRONMENT PROGRAMME (UNEP)


Nusa Dua Bali, 24 Februari 2010



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Oom Swasti-astu

 

Yang saya hormati Mr. Oliver Dulic, President of the Governing Council of the United Nations Environment Programme (UNEP),

Yang saya hormati, Mr. Achim Steiner, Executive Director of UNEP,

Yang saya hormati Para Menteri dan para Pimpinan Delegasi,

Yang mulia Duta Besar Negara-negara sahabat,

Yang saya hormati saudara Gubernur Bali,

Para anggota Delegasi dan hadirin sekalian yang saya hormati,

 

Sungguh merupakan kebahagiaan bagi saya, pada hari ini dapat menghadiri Sesi Khusus ke-11 Governing Council, Global Ministerial Environment Forum United Nations Environment Programme (UNEP), di Nusa Dua Bali. Kita bersyukur dapat berkumpul kembali di gedung yang bersejarah ini, setelah Konferensi Bali mengenai Perubahan Iklim di tahun 2007, yang menghasilkan Bali Road Map.

 

Pada kesempatan yang baik ini, atas nama Pemerintah dan rakyat Indonesia, saya ingin menyampaikan ucapan selamat datang kepada para menteri dan seluruh delegasi dari berbagai negara di Pulau Bali, Pulau Dewata. Saya berharap, suasana Pulau Dewata yang indah dan mempesona ini, mampu menginspirasi kita semua untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, dan bermanfaat, bagi umat manusia di muka bumi.

 

Pertemuan ini memiliki nilai penting dan strategis, dan diharapkan dapat menjawab berbagai persoalan atas kerusakan lingkungan yang makin mencemaskan. Pertemuan ini juga sangat penting, untuk memperbarui komitmen kita menyelamatkan bumi yang kita tempati bersama. Slogan pertemuan kita kali ini yang berbunyi: ”Satu Planet: Tanggung Jawab Kita Bersama” menegaskan kembali pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan planet bumi tempat kita dan anak cucu kita, menjalani kehidupan saat ini dan masa depan.

 

Saudara-saudara,

 

Tema yang diangkat pada pertemuan kita kali ini adalah; ”Lingkungan dalam Sistem Multilateral”. Tema ini mengajak kita semua, negara-negara di dunia, untuk meningkatkan kerja sama dan kemitraan global yang lebih tulus; “more genuine global cooperation and partnership”. Kita harus mencari solusi yang paling tepat, untuk mewujudkan pencapaian pembangunan yang berkelanjutan. Kita harus menjaga, agar pembangunan yang kita lakukan dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tanpa mengorbankan kehidupan generasi mendatang.

 

Kita menyadari, bahwa kondisi planet bumi yang kita tempati ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Dalam 12 tahun terakhir, dunia mengalami kenaikan suhu tertinggi sejak tahun 1850. Kenaikan suhu sebesar itu akan meng-akibatkan peningkatan permukaan air laut. Kita tidak dapat mengabaikan fakta ini. Kenaikan satu meter permukaan air laut, berdampak negatif terhadap jutaan orang yang hidup di bumi kita.

 

Keanekaragaman hayati yang kita miliki, juga menghadapi ancaman yang sangat mencemaskan. Lebih dari 50.000 jenis tumbuhan mengalami kepunahan. Hampir 4.000 spesies vertebrata endemic, berpotensi hilang tak berbekas pada akhir abad ini. Sekitar 60% ekosistem dunia dari hutan dan lahan sampai karang laut dan sabana akan mengalami kerusakan serius.

 

Di sisi lain, kekayaan laut yang melingkupi dua per tiga permukaan bumi, terus mengalami penyusutan. Eksploitasi laut yang berlebihan, selain mengganggu ekosistem, juga mengurangi nilai ekonomi. Stok ikan di berbagai wilayah menipis dengan cepat. Padahal, tanpa suplai dari sumberdaya laut, separuh umat manusia akan hidup dalam kelaparan. Pada tahun 2008, nilai ekonomi yang hilang diperkirakan mencapai US $50 miliar dollar. Akibatnya sangat jelas, kita tidak dapat mengurangi tingkat kemiskinan secara efektif. Kita juga tidak mungkin dapat mencapai tujuan pembangunan millennium.

 

Mengingat pentingnya sumberdaya laut, Indonesia telah menggelar Konferensi Kelautan Dunia pada bulan Mei 2009. Konferensi Kelautan Dunia itu telah menghasilkan “Manado Ocean Declaration”. Deklarasi Manado--- yang disuarakan dengan sangat nyaring ke seluruh penjuru dunia--- memberikan pesan yang tegas dan jelas: Kita semua, harus dapat mengarusutamakan dimensi kelautan ke dalam rejim perubahan iklim mendatang.

 

Sejalan dengan itu, Indonesia bersama lima negara tetangga —Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Timor Leste dan Solomon Islands—telah berkomitmen untuk melindungi kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya kelautan yang luar biasa. Komitmen ini kita sebut dengan “Coral Triangle Initiative”. Komitmen pada tingkat Kepala Negara itu dimaksudkan untuk memastikan agar pengelolaan sumber daya kelautan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat. Pengelolaan sumber daya kelautan, harus dilakukan tanpa merusak sumber daya laut sebagai “The Amazon of the Oceans”.

 

Hadirin sekalian yang saya hormati,

 

Terkait dengan sektor kehutanan, hutan hujan tropis yang kita miliki---yang berfungsi sebagai paru-paru dunia---harus terus kita lestarikan. Hutan hujan tropis, memproduksi banyak oksigen sekaligus menyerap karbondioksida. Ini sangat bermanfaat untuk menjaga planet bumi dari laju kerusakan lingkungan.

 

Menyadari ancaman seperti itu, Indonesia bersama-sama dengan sepuluh negara pemilik hutan hujan tropis lainnya, telah membentuk the Forest Eleven pada bulan September 2007. Kerja sama itu dibangun untuk memastikan pengelolaan hutan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. The Forest Eleven, juga menyepakati pentingnya pengelolaan hutan sebagai upaya untuk mencapai tujuan pembangunan milenium. Kita terus mengajak dan mendorong negara lainnya, untuk secara positif mendukung aksi bersama yang sangat penting ini.

 

Saudara-saudara,

 

Pada kesempatan yang penting ini, saya ingin berbagi pengalaman atas upaya rakyat indonesia dalam mengatasi perubahan iklim. Kami, saat ini, tengah melakukan Gerakan Penanaman Pohon di seluruh penjuru tanah air. Kami memulai program ini dengan mencanangkan gerakan menanam pohon, “satu orang, satu pohon”, “one person, one tree”. Mulai awal tahun ini, kami mencanangkan penanaman satu milyar pohon. Ini merupakan tekad kami, tekad rakyat Indonesia, untuk “mempersembahkan miliaran pohon baru pada dunia”. Kita persembahkan miliaran pohon untuk kehidupan di planet bumi, untuk kehidupan umat manusia”. Jika program ini terus kita galakkan, secara kolektif gerakan ini, akan menyerap puluhan juta ton setara C02 dari atmosfir.

 

Untuk menurunkan emisi, Indonesia telah mengumumkan target penurunan emisi sebesar 26% dari tingkat “business as usual” pada tahun 2020. Target ini dapat kami tingkatkan sampai 41% dengan bantuan internasional. Negeri kami, terus melakukan upaya maksimal untuk mencapai target itu. Kami turunkan tingkat deforestasi dan tingkat perusakan lahan. Kami kembangkan energi terbaru-kan. Kami lakukan pula transformasi menuju moda transportasi publik yang rendah karbon.

 

Terkait dengan tata kelola lingkungan global, saya secara pribadi sangat prihatin terhadap proliferasi dan fragmentasi kesepakatan lingkungan multilateral (Multilateral Environmental Agreements). Hal ini menyebabkan fungsi dari masing-masing kesepakatan itu tidak dapat berjalan optimal. Karena itulah, kita harus menguatkan koordinasi, koherensi, dan efektivitas tata-kelola lingkungan global dalam sistem PBB. Kita juga harus memastikan efektivitas dan koherensi aksi global dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Bagi kita tidak ada pilihan lain, kecuali meningkatkan kapasitas UNEP sebagai badan PBB yang bertanggung jawab langsung terhadap permasalahan lingkungan. Berikan mandat yang kuat. Berikan pula kewenangan dan tanggung-jawab yang besar. Dan, berikan pula pendanaan yang cukup untuk menjalankan mandat dan tanggung jawabnya.

 

Hadirin sekalian yang saya hormati,

 

Krisis keuangan dan resesi ekonomi global yang kita alami baru-baru ini, tidak hanya berdampak negatif terhadap pembangunan, tetapi juga terhadap kemampuan kita untuk mengatasi permasalahan lingkungan. Dalamnya krisis yang kita rasakan, menyisakan pertanyaan bagi kita, apakah model pembangunan yang kita lakukan selama ini sudah sesuai dengan situasi dan kebutuhan global? Ternyata, krisis ini menjawabnya dengan sangat jelas. Kita harus mendesain ulang model dan strategi pembangunan ekonomi global. Kita harus mengarahkan, agar pembangunan dapat mendorong terjadinya pertumbuhan yang riil. Pembangunan yang menghasilkan struktur ekonomi yang tidak rapuh.

 

Pada saat yang bersamaan, kita harus selalu mempertimbangkan tingkat kerusakan lingkungan dan keberlangsungan kehidupan di planet ini. Kita tidak boleh mewariskan planet bumi yang rusak kepada anak cucu kita. Adalah tanggung jawab kita semua untuk mengatasi tantangan besar ini secara tepat, efektif, dan koheren.

 

Untuk menjawab tantangan itu, setidaknya kita harus melakukan lima langkah penting dalam waktu yang tidak terlalu lama:

 

Pertama, kita harus mengubah pola produksi dan konsumsi dunia yang tidak didasarkan pada asas pembangunan berkelanjutan. Planet bumi kita sedang dirundung kerusakan lingkungan yang serius. Jika kita biarkan kerusakan lingkungan itu terus berlangsung, masa depan anak cucu kita dan umat manusia akan terancam.

 

Kedua, kita harus menghentikan tingkat kepunahan keanekaragaman dan kekayaan hayati yang kita miliki. Komitmen ini harus lebih besar dari yang telah disepakati pada KTT Dunia mengenai Pembangunan Berkelanjutan delapan tahun yang lalu. Kita harus mampu menurunkan secara signifikan tingkat hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2010. Mari kita rayakan Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati tahun ini, dengan aksi nyata. Aksi untuk menyelamatkan dan melestarikan keanekaragaman hayati di dunia.

 

Ketiga, mari kita laksanakan orientasi baru dalam pembangunan, melalui paradigma ”Green Economy”. Paradigma “Green Economy” harus dilakukan oleh masyarakat internasional, untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Pembangunan ekonomi harus kita lakukan dalam konteks pendekatan pembangunan yang ”pro-poor, pro-job, dan pro-growth. Semuanya itu, dengan Paradigma Green Economy.

 

Keempat, mari kita selesaikan debat berkepanjangan atas isu tata kelola lingkungan global, dalam kerangka “International Framework of Sustainable Development”. Mari kita raih kesepakatan nyata pada Konferensi PBB mengenai Pembangunan Berkelanjutan di Brazil, tahun 2012 mendatang. Mari kita ciptakan sistem PBB yang lebih efisien dan efektif, untuk mencapai tujuan pembangunan dan lingkungan global kita. Dalam kaitan ini, saya menyambut baik disepakatinya keputusan hasil Pertemuan Simultan Luar Biasa Konferensi Para Pihak Konvensi Basel, Rotterdam, dan Stockholm kemarin. Keputusan itu menjadi dasar yang kokoh, bagi upaya mensinergikan Perjanjian Lingkungan Internasional lainnya di masa datang. Hal ini sejalan dengan semangat the World Summit Outcome 2005. Semangat yang menekankan pentingnya meningkatkan koordinasi, sinergi, dan koherensi dalam sistem PBB.

 

Kelima, kita harus menyelesaikan negosiasi perubahan iklim pada Konferensi Meksiko akhir tahun ini. Kita tidak dapat menunggu lebih lama lagi, mengingat akhir periode komitmen pertama telah sangat dekat. Di ruangan ini, pada tahun 2007 lalu, kita telah sepakat untuk menyelesaikan kerja sama jangka panjang dan komitmen lebih lanjut dari negara-negara Annex-1 di Kopenhagen. Kenyataannya sampai dengan saat ini, kita belum mampu memenuhi komitmen tersebut.

 

Namun saya yakin, kita belum terlambat. Mari kita lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan bumi kita. Saya mendengar adanya rencana pertemuan informal tingkat menteri mengenai perubahan iklim, di Bali. Saya mendorong Saudara semua---para Menteri dan Ketua Delegasi--- untuk memanfaatkan forum ini guna mencari solusi terbaik. Kita ingin menghasilkan konsensus yang lebih mengikat. Kita ingin mewujudkannya pada Konferensi perubahan Iklim di Meksiko mendatang.

 

Hadirin sekalian yang saya hormati.

 

Sebelum menutup pidato ini, saya ingin sedikit berbagi mengenai filosofi kehidupan masyarakat di Pulau Bali ini.

 

Dalam tradisi Bali, dikenal filosofi Tri Hita Karana. Tri Hita Karana, mengandung makna menjaga harmoni dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan sesama manusia, dan antara manusia dengan alam. Masyarakat Bali memperlakukan lingkungan dengan baik. Mereka yakin dan percaya, lingkungan yang baik akan membawa pada kehidupan yang lebih baik pula. Inilah konsep kearifan lokal dalam menghargai alam. Sebuah konsep penting yang dapat kita pelajari dari masyarakat Bali. Mari kita jadikan filosofi itu sebagai inspirasi dan kekuatan, agar diskusi dan pertemuan ini benar-benar bermanfaat bagi masa depan kita.

 

Pada forum yang terhormat ini, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, saya ucapkan terima kasih atas kehormatan dan penghargaan kepada saya. Dengan tulus saya menerima anugerah “UNEP Award Leadership in Marine and Ocean Management”. Penghargaan ini, tentunya juga merupakan penghargaan dunia bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga, penghargaan ini dapat mendorong saya beserta seluruh rakyat Indonesia, untuk mengelola dan memberdayakan laut yang terbentang luas di penjuru Nusantara ini dengan lebih baik lagi.

 

Saudara-saudara,

 

Demikianlah pandangan, himbauan dan ajakan saya pada forum yang bersejarah ini. Selanjutnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, serta dengan ucapan “Bismillahirrahmanirrahim”, Sesi Khusus ke-11 Governing Council, Global Ministerial Environment Forum UNEP, di Nusa Dua Bali, saya nyatakan dengan resmi dibuka.

 

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Oom...Shanti, Shanti, Shanti...Oom.

 



Nusa Dua Bali, 24 Februari 2010

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO