Kunjungan Menteri Luar Negeri RI ke Tehran

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dalam rangka memimpin Delegasi RI dalam International Conference on Disarmament and Non-Proliferation:World Security without Weapon of Mass Destruction yang diselenggarakan pada 17-18 April 2010 di Tehran, Menteri Luar Negeri RI, Dr. R. M. Marty M. Natalegawa, telah melakukan kunjungan ke Tehran.

 

Konferensi dibuka oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan dihadiri perwakilan dari 56 negara antara lain China, India, Indonesia, Lebanon, Pakistan Russia, Turki, dan Uganda. Dalam konferensi yang dihadiri pejabat pemerintah dan expert dari lembaga think tank maupun LSM Internasional.

 

Menlu RI didampingi Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Rezlan Ishar Jenie, Duta Besar RI untuk Republik Islam Iran, Iwan Wiranataatmadja, dan anggota Deri RI lainnya. Turut hadir dalam konferensi tersebut Duta Besar Makarim Wibisono yang diundang Pemerintah Iran atas kapasitasnya sebagai ahli perlucutan senjata.

 

Dalam konferensi dibahas tiga topik utama, yaitu: Disarmament challenges, International obligations of states for disarmament and non-proliferation and consequences of the continued existence of weapons of mass destructions, dan Practical steps for the materialization of disarmament.

 

Dalam pernyataannya, Menlu RI menyampaikan antara lain:

 

-     Indonesia mendorong seluruh pihak untuk terus mengupayakan general and complete disarmament terkait seluruh jenis senjata pemusnah masal, yaitu senjata nuklir, biologi dan kimia. Keharusan untuk berupaya memajukan perdamaian dunia merupakan amanat konstitusi Indonesia. Dalam kaitan ini, Indonesia menekankan pentingnya tiga instrumen internasional yang saat ini telah ada di bidang perlucutan senjata masal (weapons of mass destruction/WMD), yaitu Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT, Chemical Weapons Convention dan Biological and Toxic Weapons Convention.

 

-     Indonesia menekankan pentingnya NPT sebagai corner stone dari rejim non-proliferasi global. Dalam kaitan ini, seluruh negara pihak perlu menekankan pentingnya keseimbangan di antara tiga pilar NPT, yaitu perlucutan senjata, non-proliferasi dan penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai. Indonesia berharap agar Sidang NPT Review Conference mendatang, yang akan berlangsung bulan Mei 2010, akan berhasil menetapkan suatu time table and targets dalam menghapuskan senjata nuklir.

 

-     Saat ini, masyarakat internasional telah memasuki situasi serta era baru yang cukup menjanjikan kemajuan positif dalam rangka penghapusan senjata nuklir dan senjata pemusnah masal lainnya. Dalam kaitan ini, masyarakat internasional perlu memanfaatkan berbagai sinyal positif yang saat ini muncul. Bagi Indonesia, global nuclear disarmament bukan hanya merupakan tujuan “moral dan legal”, tetapi juga merupakan “proses” di mana seluruh pihak perlu melakukan engagement dalam rangka menghapuskan senjata pemusnah masal.

 

-     Berkaitan dengan itu, Indonesia mendukung visi untuk merealisasikan a world free of nuclear weapons. Kerjasama antara negara-negara yang tidak memiliki senjata nuklir dengan negara-negara pemilik nuklir perlu terus dilakukan, terutama dalam rangka mendorong negara pemilik nuklir memenuhi janjinya untuk menghancurkan senjata nuklirnya. Selain itu, Indonesia yakin bahwa upaya untuk mencapai perlucutan senjata dan non-proliferasi WMD harus dilakukan di dalam forum dan institusi multilateral.

 

-     Seluruh negara perlu mengambil langkah yang diperlukan untuk menghindari terjadinya proliferasi senjata nuklir, terutama mengingat kekhawatiran mengenai kemungkinan kelompok teroris dapat memperoleh senjata nuklir. Namun demikian, ditekankan bahwa langkah-langkah non-proliferasi tersebut jangan sampai menghambat hak setiap negara untuk mengembangkan senjata nuklir untuk keperluan damai, sebagaimana yang telah dijamin di dalam NPT.

 

Di sela-sela pelaksanaan konferensi, Menlu RI juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Mahmoud Ahmadinejad dan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri, Mannouchehr Mottaki, serta Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional merangkap Ketua Juru Runding Nuklir Iran, Saeed Jalili.

 

Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, selain isu perlucutan senjata dan keamanan kawasan, juga dibicarakan bagaimana meningkatkan upaya untuk membawa hubungan kedua negara ke tingkatan yang lebih tinggi melalui antara lain pemanfaatan forum-forum bilateral kedua negara yaitu Komisi Ekonomi Bersama dan Konsultasi Bilateral.