KRI Tawau Selenggarakan ‘Bengkel’ Untuk Guru Ladang

4/21/2017

(Tawau) Konsulat Republik Indonesia (KRI) Tawau bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kerja Kependidikan (GTK), Kemdikbud RI selenggarakan Lokakarya Guru Lokal Sabah bertema "Mengajar Menyenangkan dan Kreatif di Kelas Rangkap", di Hotel Emas, Tawau, Sabah, Malaysia (Selasa - Kamis /18-20 April 2017). Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 70 guru Indonesia yang mengajar anak-anak Buruh Migran Indonesia (BMI) di dalam perkebunan sawit di Sabah atau 'guru lokal' bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian guru lokal yang kebanyakan tidak memiliki latar belakang pendidikan keguruan.

Kegiatan ini diresmikan oleh Konsul RI, Krishna Djelani dengan dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Prof. Ari Purbayanto, wakil dari Direktorat Jenderal GTK, Elvira Dayana, Pelaksana Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya KRI Tawau, KJRI Kota Kinabalu dan Kuching, serta utusan Jabatan Pendidikan Negeri Sabah, Abdul Wahab.

Pada sambutan pembukanya, Konsul RI Tawau sampaikan bahwa pendidikan adalah hak semua anak. Hal ini tercantum dalam Universal Declaration for Human Rights tahun 1948 yang kemudian ditegaskan kembali dalam World Declaration on Education for Alldi Jomtiem, Thailand, tahun1990. Namun, pemerintah Indonesia telah lebih dulu mengutamakan pentingnya pendidikan. Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan dan Pasal 31 UUD 1945. Dalam mengimplementasikan hal ini, KRI Tawau selalu mendukung berbagai kegiatan pendidikan khususnya kegiatan pendidikan untuk anak-anak BMI.

Konsul RI Tawau sampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat sehingga kegiatan ini bisa terselenggara dengan lancar. Konsul RI Tawau berharap agar para peserta dapat memanfaatkan kegiatan dengan baik untuk meningkatkan ketrampilan dan kompetensi mereka sebagai pendidik.

Sementara Prof. Ari Purbayanto menyampaikan pesan agar para peserta guru ladang jangan berkecil hati karena belum mendapatkan gelar sarjana. Karena meski belum bergelar sarjana, dengansemangat, keperdulian dan pengetahuan yang didapat dalam lokakarya ini mereka diharapkan dapat membantu mendidik penerus bangsa yang sukses.

Sedangkan Abdul Wahab menyampaikan bahwa guru Indonesia telah memberikan pengaruh yang sangat positif di Sabah, katanya "Saya kagum dengan guru dari Indonesia, selain berkemampuan baik, juga tidak pernah terlibat masalah".

Dalam kegiatan lokakarya, para peserta mendapatkan materi kecerdasan majemuk yang disampaikan oleh Munif Chatif, DirekturSchool of Human. Munif menekankan pentingnya memandang bahwa setiap anak adalah juara. Setiap anak tidak bisa diukur kecerdasannya dengan ukuran yang sama,karena bakat dan minat setiap anak berbeda. Beliau juga menekankan pentingnya reorientasi pembelajaran kepada student-centered learning, atau pola pengajaran melibatkan partisipasi aktif dari siswa.

Yoki Ariyana, widya iswara Kemdikbud RI, menyampaikan perubahan kebijakan Kemdikbud terkait pengembangan karir guru, dari konsep 'guru pembelajar' kembali kepengembangan profesi berkelanjutan. Meski terdapat beberapa perubahan namun esensinya sama yaitu mencapai guru yang profesional. Guna mencapai kemampuan yang profesional, guru haruslah menguasai kurikulum 2013 yang menekankan siswa pada pentingnya berfikir saintifik: mengamati, menanyakan, mengumpulkan data mengasosiasi dan mengkomunikasikan (5M).

Selain pembicara dari Jakarta, peserta akan mendapatkan pelatihan dari guru utusan Kemdikbud RI yang telah bertugas sejak 2013 di Sabah. Asep Iqbal, guru community learning centre (CLC) Pontian Fico menyampaikantentang "Math is Fun". Guru yang sudah mendapatkan banyak penghargaan sebagai pengajar terbaik bidang matematika ini ingin mengubah persepsi tentang matematika. Dari mapel yang ditakuti guru dan siswa menjadi mapel yang digemari melalui rumus praktis dan metode pembelajaran yang praktis.

Franky Kurniawan, guru berpredikat lulusan terbaik Universitas Negeri Malang ini menyampaikan materi tentang "Digital Storytelling". Penerapan tema tersebut di CLC Jeroco pernah dipresentasikan di Jepang dan mendapatkan penghargaan sebagai pemenang kedua penulisan artikel terbaik. Kali ini Franky akan mendemonstrasikan pembuatan wayang digital dengan bahan yang sederhana dan mudah didapat seperti stik eskrim.

Pada sesi berikutnya, Dewi Agus Damayanti menyajikan contoh dan aplikasi materi-materi tersebut pada pembelajaran kelas rangkap.

Penerapan teknologi informasi juga masih menjadi hambatan bagi guru-guru lokal di Sabah. Oleh karena itu, para peserta diberikan pelatihan tentang dasar-dasar penggunaan Microsoft word yang disampaikan oleh Octaviani Indria Purnamasari.

Sedangkan Mi'raj Dosen Universitas Terbuka pokja Tawau menekankan pentingnya untuk menulis dan berkarya. Dari keterampilan mengetik yang sudah didapat sebelumnya, guru diminta untuk menuliskan pengalaman mengajar di ladang.

Meski harus mengikuti pelatihan selama 3 hari penuh hingga larut malam, para peserta nampak antusias mengikuti pelatihan.

Pemerintah Indonesia telahmengirim guru Indonesia ke Sabah sejaktahun 2006 untuk mengajar materi ke-Indonesiaan. Sejak tahun 2011, Pemerintah Malaysia telah mengijinkan Pemerintah Indonesia untuk mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat atau community learning centre (CLC) di dalam perkebunan sawit di Sabah. Per April 2017, terdapat sebanyak 13000 anak Indonesia yang terdaftar di CLC-CLC yang tersebar di seluruh Sabah.

Red. PPID KRI Tawau  (dw/ad/fa)