Profil Masyarakat dan Komunitas Indonesia

I.    Latar Belakang


Sejarah perantauan masyarakat Indonesia di Australia telah melewati masa yang cukup panjang. Berdasarkan data dari Department of Immigration and Border Protection Australia, disebutkan bahwa penduduk kelahiran Indonesia (Indonesia-born) telah bermukim di daerah pesisir bagian utara Australia sejak tahun 1700-an, bahkan sebelum didirikannya pemukiman Eropa pertama di Australia pada tahun 1788.

Menjelang terbentuknya Federasi Australia, sekitar 1,000 orang Indonesia telah menetap di Australia, yang hampir kesemuanya bermukim di Negara Bagian Western Australia dan Queensland. Para pendatang tersebut sebagian besar bekerja sebagai pelaut, penyelam serta pemotong tebu. Dengan diterapkannya kebijakan Australia Putih (White Australia Policy) pada tahun 1901, sebagian besar pekerja kebun tebu kembali ke Indonesia meskipun beberapa penyelam mutiara tetap tinggal di Australia.

Sejak masa penjajahan Jepang pada Perang Dunia II, masyarakat Indonesia yang mendatangi Australia telah semakin bertambah, baik sebagai pengungsi, pengasingan politik maupun pendatang yang menetap lainnya seperti pelajar Indonesia dibawah Colombo Plan pada awal tahun 1950-an.

 

II. Perkembangan Masyarakat Indonesia di Negara Bagian Akreditasi

1.     Organisasi Masyarakat Indonesia

Saat ini, masyarakat Indonesia di Australia telah sangat berkembang dan terdiri dari berbagai ragam komunitas, yang terbagi dalam 5 kelompok utama, yaitu komunitas yang bersifat umum, berdasarkan etnis/asal daerah di Indonesia, keagamaan, “gabungan Indonesia-Australia”, pendidikan serta kebudayaan. Sampai dengan 2014, jumlah organisasi di wilayah akreditasi KJRI Sydney terdiri dari:

1.     New South Wales          : 87 organisasi

2.     Queensland                   : 21 organisasi

3.     South Australia               : 4 organisasi

Berikut pembagian kelompok-kelompok tersebut:

1.  Kelompok umum, antara lain: Indonesian Community Council NSW (ICC – NSW); Perhimpunan Indonesia (PI); Perhimpunan Masyarakat Indonesia (PMI); Indonesian Diaspora Network;  Indonesian Welfare Association (IWA); dan sebagainya.

2.  Kelompok etnik/daerah, antara lain: Minang Saiyo (minang), yang juga membawahi organisasi masyarakat minang lainnya, yaitu Sulit Air Sepakat (SAS), Ikatan Payakumbuh dan Sepuluh Kota (IKAPABAKSO); Bona Pasogit (Sumatera Utara); Balinese Community (Bali); Jawa Timuran (Jatim);  Kerukunan Masyarakat Mapalus Kawanua/KMMK; Kawanua SeDunia/KSD (Sulut); Flobamora (NTT dan NTB); Ikabema (Maluku); Ikatan Keluarga Sriwijaya (Sumatera Selatan); Keluarga Kerukunan Kalimantan; Islamic Sundanese Association (ISA) of NSW; dan sebagainya.

3.   Kelompok keagamaan, antara lain: Centre for Islamic Development and Education (CIDE); IQRO Foundation; Islamic Society Manly; Al Ikhlas; Fajar Islam; Kerukunan Pelajar Islam Indonesia (KPII) NSW; Ashabul Kahfi Language School; Foundation of Islamic Studies and Information (FISI); Al-Taqwa; Catholic Indonesian Community (CIC); Gereja Kristen Indonesia di Australia (GKIA); Gereja Kristen Indonesia (GKI); Filadelfia Community Church; Gereja Tabernakel Indonesia Bukit Sion; Jemaat Kristen Indonesia (JKI) AGAPE; Gereja Bethel Indonesia; Gereja Presbyterian Indonesia; Indonesian Scriptural Fellowship; Forum Kerjasama antar Gereja Indonesia di Sydney; Mimbar Reformed Injili Indonesia; dan Indonesian Buddhist Society (Bodhi Kusuma); Sydney Christian Worship Community (SCWC); dan sebagainya.

4.  Kelompok kebudayaan, antara lain: Langen Suka, kelompok gamelan Jawa dari Sydney University yang dipimpin oleh Vi King dan Sekar Gong Tirta Sinar; Sanggar Srikandi Indonesia, kelompok gamelan Bali dari Sydney Unversity dipimpin oleh Gary Watson; Australia Indonesia Art Alliance – AIAA; WOT Cross-Cultural Synergy (Sawung Jabo-Suzan Piper); Kelompok musik kontemporer Garis - Gabungan Artis Australia Indonesia dan Orkes dangdut “Seorkes Nyah” (Deva Permana dkk);  Arimba Culture Exchange (Arif Hidayat & Margaret Bradley); dan sebagainya.

2.     Organisasi Masyarakat Indonesia-Australia

Selain berbagai organisasi yang menaungi masyarakat Indonesia, terdapat pula organisasi-organisasi yang melibatkan masyarakat Indonesia dan Australia, seperti Australia-Indonesia Business Council (AIBC), Sydney Indonesia Study Circle (SISC), Indonesian-Australian Women’s Association (IAWA), Indonesian Women’s Association in New South Wales (IWAN), Australia-Indonesia Association (AIA) di NSW dan SA. Disamping itu, terdapat pula Australia Indonesia Institute (AII), sebuah institusi di bawah Department of Foreign Affairs and Trade Australia yang dibentuk untuk pengembangan hubungan antar masyarakat Indonesia dan Australia, khususnya dalam bidang seni budaya dan pendidikan.

Australia Indonesia Association (AIA) merupakan organisasi Australia pertama yang dibentuk pada tahun 1945 oleh warga Australia di Sydney dalam rangka mendukung kemerdekaan Indonesia. AIA terdapat di Sydney dan Adelaide, beranggotakan keluarga campuran Australia-Indonesia, Kegiatannya cukup banyak, terutama yang berkaitan dengan kegiatan sosial dan promosi seni budaya Indonesia.

Mengingat perannya yang cukup strategis di masa lalu, KJRI Sydney meningkatkan hubungan kerjasama dan berusaha untuk mengembangkan keanggotaan AIA dengan kalangan Pemerintah NSW. Diharapkan AIA dapat menarik para mantan Duta Besar Australia di Indonesia, berbagai pejabat Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia yang pernah bertugas di Indonesia dalam keanggotaan AIA. Dengan berkembangnya keanggotaan dan kegiatan ke kalangan yang berpengaruh, AIA berpotensi berkembang menjadi organisasi yang cukup berpengaruh seperti USINDO di Amerika Serikat.

3.     Organisasi Masyarakat Lainnya

Kelompok organisasi masyarakat lainnya mencakup kelompok-kelompok olahraga, yaitu Indonesian Soccer Association (INDOSAS) (sepakbola),  Building Influential Generation (Basket),  Indonesian Golf Association (IGA) dan kelompok tenis dan badminton yang tersebar di wilayah akreditasi. Terdapat pula organisasi pengajaran pencak silat aliran Bangau Putih yang terletak di kota Adelaide, SA. Perguruan PS Bangau Putih SA tersebut mempunyai murid yang berjumlah kurang lebih 60 orang yang sebagian besar adalah anak-anak sekolah dasar dan menengah lokal.


III.        Pembinaan Masyarakat

Dalam rangka pembinaan masyarakat, KJRI Sydney menjalin kerjasama erat dan komunikasi intensif dengan pelajar dan masyarakat Indonesia dalam berbagai kegiatan dalam mendukung dan menyukseskan misi perwakilan. Pertemuan dalam bentuk dialog dengan para tokoh masyarakat, pimpinan organisasi masyarakat, tokoh agama, kalangan dunia usaha, budayawan dan PPIA dilakukan baik di Wisma Indonesia, kantor KJRI, kunjungan ke pelajar/masyarakat dan tempat-tempat pertemuan lainnya. Dari dialog tersebut, disamping diperoleh dukungan, bantuan dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program KJRI juga diperoleh masukan – masukan dan saran terutama dalam upaya peningkatan pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat Indonesia.

KJRI Sydney juga terlibat secara aktif, memberikan dukungan dan bantuan bagi pelaksanaan kegiatan yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi kemasyarakatan. Bekerjasama dengan berbagai organisasi kedaerahan telah dilaksanakan kegiatan promosi budaya, ekonomi dan pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kaitan dengan kegiatan keagamaan, KJRI menjalin kerjasama yang sangat erat dengan CIDE, IQRO Foundation, Minang Saiyo dan lain-lainnya dalam pelaksanaan berbagai peribadatan umat Islam. KJRI juga memberikan dukungan dan bantuan kepada Catholic Indonesian Community (CIC), Forum Gereja Kristen, Indonesian Buddhist Association, komunitas masyarakat Hindu dan sebagainya.

Disamping memberikan dukungan di atas, KJRI juga terlibat secara langsung dalam berbagai kegiatan dan pertemuan masyarakat serta berbagai festival Indonesia dan multi kultural di wilayah kerja. Pertemuan dengan pelajar/masyarakat Indonesia dilaksanakan secara berkala di Cairns, Townsville, Armidale, Wollonggong, Newcastle dan sebagainya disamping di Adelaide, Brisbane dan Sydney.

Guna lebih mengintensifkan citizen engagement serta mempererat silaturahmi, KJRI juga telah mengembangkan saluran komunikasi melalui hotline (+61 467 227 487) maupun media sosial seperti website (www.kemlu.go.id/sydney), facebook, dan twitter .​