Siswa Open High School Belajar Memasak Nasi Goreng dan Membuat Lumpia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tanggal 10 September 2013, merupakan tanggal yang istimewa bagi siswa sekolah Open High School, Randwick, New South Wales dibawah asuhan Ibu Guru Ida Harsojo, karena diberikan kesempatan oleh KJRI Sydney untuk belajar memasak makanan khas Indonesia yakni Nasi Goreng dan Lumpia Semarang. Adalah Ibu Julia Tanuatmaja, pengelola Paddi’s Restaurant, Surry Hill, Sydney yang piawai menarik perhatian para siswa untuk mempelajari masakan khas Indonesia. Nasi goreng dan Lumpia hasil masakan para siswa kemudian dinikmati bersama oleh para siswa dan guru sekolah. Ternyata hasil masakan para siswa tidak kalah nikmatnya dengan masakan dari restoran-restoran Indonesia yang banyak terdapat di Sydney dan sekitarnya.


Selain belajar memasak makanan khas Indonesia, para siswa Open High School School juga belajar menari tari Bali dan belajar bermain alat musik Angklung yang dilatih oleh Sisca Hunt dari Sanggar Tari Srikandi Dancer, Sydney. Dalam praktek pembuatan masakan dan pelatihan tari ini, sekaligus diajarkan Bahasa Indonesia, yang ternyata cukup fasih diucapkan oleh para siswa dan guru.




Kegiatan belajar memasak masakan khas Indonesia dan pelatihan menari tradisional merupakan bagian dari Program Pelangi KJRI Sydney yang dimaksudkan untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Indonesia dengan melakukan kunjungan atau menerima kunjungan di KJRI kepada masyarakat khususnya para siswa di New South Wales Australia. Sejak diluncurkan tahun 1999, Program Pelangi KJRI Sydney ini telah menarik perhatian yang besar sekolah-sekolah di New South Wales, Queensland dan South Australia yang memiliki program Bahasa Indonesia. Selain belajar memasak khas Indonesia, pelatihan menari tradisional, dan Angklung, dalam Program Pelangi ini juga para siswa diajarkan olah raga bela diri Pencak Silat dan berbagai kebudayaan khas Indonesia lainnya. 


Sejak tahun 2012, minat sekolah-sekolah di New South Wales untuk mengikuti Program Pelangi kian besar, karena mulai semakin banyaknya sekolah yang membuka program Bahasa Indonesia, sehingga membuat KJRI Sydney kewalahan memenuhi permintaan jadwal kunjungan sekolah-sekolah tersebut. (Sumber: KJRI Sydney)


?