Penyuluhan Untuk Anak Buah Kapal di Suva

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Mimik wajah Anak Buah Kapal (ABK) yang memenuhi ruang auditorium KBRI Suva tampak secara serius mengikuti penjelasan demi penjelasan dari Mrs. Jokapeli Tuberi Cati, penderita HIV AIDS positif yang secara detail menjelaskan mengenai penyakit HIV/AIDS. Mereka tampak sangat terharu ketika secara terbuka Mrs. Jokapeli menyampaikan bahwa dirinya adalah penderita positif HIV. Para ABK juga tertawa terpingkal-pingkal ketika salah satu rekan mereka mencoba mendemostrasikan penggunaan kondom di depan seluruh hadirin. Pemandangan tersebut merupakan bagian dari dinamika yang terjadi dalam acara penyuluhan kekonsuleran yang diselenggarakan oleh KBRI Suva bagi para Anak Buah Kapal (ABK) yang sedang berlabuh di wilayah Suva. Penyuluhan kekonsuleran ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Oktober 2010 yang mengangkat tiga tema sekaligus. Tema pertama mengenai penyakit HIV/AIDS yang dibawakan oleh Mrs. Jokapeli Tuberi Cati, sukarelawan sekaligus penderita HIV positif dari organisasi penanggulangan HIV/AIDS Fiji. Tema berikutnya mengangkat masalah keamanan di wilayah kota Suva yang disampaikan oleh Mr. Rusiate Ryland, Deputi Kepala Kepolisian wilayah kota Suva. Tema terakhir mengenai cara mengirimkan uang dari Fiji ke Indonesia yang disampaikan oleh Pelaksana Fungsi Konsuler KBRI Suva, Sekretaris Ketiga Bonifasius Agung Nugroho. Tema-tema yang dipilih dalam sosialisasi kekonsuleran ini merupakan tema yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia di Fiji yang sebagian besar merupakan ABK. Permasalahan HIV/AIDS khususnya dan penularan penyakit kelamin pada umumnya cukup mengena bagi para pelaut yang seringkali rawan dengan gaya hidupnya yang cukup bebas. Ketika tema sensistif ini disampaikan langsung oleh penderita HIV posistif maka dirasakan sangat menyentuh dan nyata bagi para hadirin. Informasi penting tentang keberadaan klinik pemeriksaan penyakit kelamin termasuk HIV yang disediakan gratis oleh pemerintah Fiji juga disampaikan pada para ABK Indonesia. Masalah keamanan di Fiji sengaja diangkat mengingat banyaknya kasus pencopetan oleh anak-anak jalanan Fiji yang dihadapi para ABK ketika pada malam hari berjalan dari pelabuhan menuju night club yang berada di kota Suva. Aksi ini menimbulkan tindakan pembelaan diri dan perlawanan dari para ABK sehingga terjadi pemukulan terhadap para pencopet. Pada akhirnya timbul dendam dari para pencopet dan melakukan aksi penghadangan terhadap ABK Indonesia. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi pihak kepolisian Fiji dan KBRI Suva sehingga dilaksanakan langkah-langkah preventif untuk mencegah terjadinya tindak kriminal. Dianjurkan bagi para ABK apabila akan pergi ke night club untuk menggunakan sarana taksi (bukan berjalan kaki) dan pergi secara berkelompok. Selain itu apabila terjadi tindakan kriminal maka segera menghubungi pihak kepolisian di Fiji yang selalu siaga 24 jam. Tema terakhir mengenai pengiriman uang dari Fiji ke Indonesia juga sangat bermanfaat bagi para ABK mengingat adanya peraturan khusus pemerintah Fiji yang membatasi pengiriman uang dari Fiji ke Indonesia yang maksimal 500 Fiji dollar (eqv 250 USD) saja per tahun. Apabila harus mengirimkan uang lebih dari jumlah tersebut maka harus membuat surat persetujuan khusus ke Reserve Bank Fiji. Proses ini seringkali membingungkan para ABK sehingga menciptakan kesulitan ketika akan mengirimkan uang untuk nafkah keluarganya di Indonesia. Untuk memberikan kejelasan mengenai aturan pengiriman uang di Fiji bagi para ABK, telah dilakukan sosialisasi khusus mengenai hal ini dan dibuat brosur-brosur yang menjelaskan proses pengiriman uang dari Fiji ke Indonesia. Kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan baik dan diikuti secara antusias oleh para peserta. Kegiatan sosialisasi ini sangat membantu para ABK (cara mengirim uang dan keamanan di Suva) dan meningkatkan kesadaran mereka tentang bahaya penularan HIV. Kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan secara rutin sebanyak dua kali dalam setahun untuk membantu para WNI memperoleh berbagai informasi yang bermanfaat dengan tema yang beragam.