Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia R.M. Marty M. Natalegawa Tahun 2013 Jakarta, 4 Januari 2013

2/21/2013

 

?PIDATO PERNYATAAN TAHUNAN

MENTERI LUAR NEGERI
REPUBLIK INDONESIA
R.M. MARTY M. NATALEGAWA
TAHUN 2013

JAKARTA, 4 JANUARI 2013
 

Yang terhormat Duta Besar negara sahabat dan pimpinan organisasi internasional,

Yang kami hormati sesepuh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia,

Yang kami hormati pimpinan media massa serta seluruh undangan dan Pejabat Kementerian Luar Negeri,

Yang kami hormati jajaran staff Perwakilan RI di luar negeri yang juga saat ini mengikutiacara pernyataan tahunan ini,

Hadirin yang terhormat,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Atas karunia-Nya, kita masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan pengabdian dan darma bakti kita bagi nusa dan bangsa.

Selanjutnya, izinkanlah kami, sebagai pribadi dan juga mewakili rekan-rekan di Kementerian Luar Negeri, baik di pusat maupun di seluruh perwakilan RI di berbagai penjuru dunia, menyampaikan selamat tahun baru 2013 kepada hadirin.

Hadirin yang kami hormati,

Dalam pernyataan tahunan serupa tahun lalu, kami menegaskan bahwa di tengah kondisi dan tantangan global dan kawasan yang dipenuhi ketidakpastian dan semakin kompleks, Indonesia secara gigih akan berjuang demi perdamaian dan kemakmuran.

Waging peace and prosperity.

Inilah yang dilakukan diplomasi dan politik luar negeri Indonesia sepanjang tahun 2012.

Diplomasi bekerja untuk menciptakan dan memelihara stabilitas, keamanan dan perdamaian di tingkat kawasan maupun di tingkat global.

Mesin diplomasi bekerja bagi terciptanya keadilan dan kemakmuran baik di tingkat kawasan maupun di tingkat global.

Kesemuanya dilakukan demi kepentingan nasional Indonesia.

Kesemuanya dilakukan untuk menjalankan amanat Konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Hadirin yang kami hormati,

Politik luar negeri Indonesia sepanjang tahun 2012 mengarungi situasi global dan kawasan yang penuh dengan tantangan dan ketidakpastian.

Suatu kondisi global, yang di satu sisi dan secara umum ditandai oleh situasi damai antar negara, namun di sisi lain, ditandai oleh situasi konflik di berbagai belahan dunia yang hari demi hari telah mengakibatkan korban jiwa yang tidak kecil.

Suatu kondisi global, yang di satu sisi ditandai oleh kekhawatiran tentang resesi perekonomian yang berkepanjangan di kawasan tertentu, sementara di sisi lain, terbentang tantangan yang lebih mendasar yaitu kebanyakan umat manusia masih terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang paling mendasar.

Suatu kondisi global, yang di satu sisi ditandai oleh kepahaman mengenai saling ketergantungan masyarakat internasional dalam menghadapi berbagai tantangan bersama, namun di sisi lain, belum senantiasa ditandai oleh kemampuan masyarakat internasional untuk mengambil langkah bersama.

Kondisi yang penuh tantangan termaksud, semakin kompleks sifatnya mengingat terdapatnya keterkaitan yang erat antar berbagai masalah yang dihadapi masyarakat internasional. Keterkaitan antara masalah global, regional dan nasional. Keterkaitan antara masalah politik keamanan, ekonomi, lingkungan dan sosial.

Hadirin yang saya hormati,

Keterkaitan permasalahan seperti termaksud diatas, tercerminkan di kawasan Asia dan Pasifik. Sesungguhnya, kawasan Asia Pasifik selama ini merupakan bukti nyata bahwa stabilitas dan keamanan adalah suatu prasyarat bagi pembangunan ekonomi. Oleh karena itulah sepanjang tahun 2012 yang lalu, politik luar negeri Indonesia, tanpa henti telah bekerja keras untuk memelihara stabilitas dan keamanan di kawasan dari berbagai ancaman.

Sebagaimana diketahui, apapun sumber ancaman termaksud, misalnya potensi konflik di Laut China Selatan, sengketa wilayah antar negara lainnya, proliferasi senjata pemusnah massal, dan bentuk-bentuk ancaman lainnya, Indonesia telah memproyeksikan peranan sebagai bagian dari solusi.

Tidak kalah penting, politik luar negeri Indonesia sepanjang tahun 2012, telah bekerja untuk menciptakan suatu tatanan di kawasan, baik dalam bentuk penguatan kapasitas kelembagaan di kawasan maupun dalam penguatan norma-norma dan prinsip hubungan baik antar negara, yang kesemuanya ditujukan bagi pemeliharaan perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Pasifik.

Ketika timbul keraguan mengenai kesamaan pandangan ASEAN mengenai Laut China Selatan misalnya, Indonesia bergerak melalui shuttle diplomacy selama 36 jam untuk mengkonsolidasikan posisi ASEAN sesuai six-point principles. Selanjutnya, diplomasi Indonesia mendorong momentum pelaksanaan secara menyeluruh DoC termasuk di dalamnya suatu regional code of conduct melalui disepakatinya elemen-elemen dasar CoC termaksud serta pengajuan suatu draft awal CoC.

Ketika sengketa wilayah di kawasan mencuat, secara terukur dan tepat bentuk Indonesia mendorong terjalinnya suatu komunikasi diplomatik yang mengedepankan pilihan diplomasi bagi penyelesaian sengketa dimaksud.

Ketika timbul kekhawatiran dan anggapan bahwa kawasan Asia Pasifik dihadapi suatu era persaingan yang dapat mengancam perdamaian dan stabilitas, Indonesia mengedepankan perlunya suatu cara pandang dan paradigma baru yang menepis hal termaksud.

Yaitu, suatu pendekatan yang mengedepankan prinsip keamanan, kepentingan dan kemitraan bersama. Suatu tatanan di kawasan yang tidak saja mampu mengelola (“manage”) dinamika perubahan di kawasan, melainkan justru menyambutnya sebagai suatu faktor yang dapat dikembangkan demi kepentingan bersama. Suatu pandangan yang kita sebut dynamic equilibrium.  

Memperhatikan keterkaitan masalah politik, keamanan, ekonomi dan sosial, maka upaya diplomasi Indonesia di kawasan Asia Pasifik bersifat komprehensif menyentuh seluruh bidang termaksud. Hal ini terutama tercerminkan dalam upaya Indonesia sepanjang tahun 2012 untuk memastikan kemajuan yang signifikan dalam pencapaian komunitas ASEAN dalam ketiga pilarnya.

Hadirin yang kami hormati,

Sepanjang tahun 2012 pula, meskipun secara umum kemakmuran masyarakat dunia terus meningkat, namun kita masih menyaksikan bukan saja dampak krisis perekonomian global, melainkan juga sebagian besar umat manusia masih dilanda kondisi kemiskinan yang mendasar.

Tentunya kondisi perekonomian di beberapa negara di kawasan Euro telah berdampak terhadap berbagai dimensi kehidupan di negara tersebut.

Dan tentunya pula, perkembangan perekonomian di kawasan Euro berdampak bagi perekonomian global secara keseluruhan.

Bagi politik luar negeri Indonesia, khususnya apa yang dinamakan diplomasi ekonomi, sepanjang tahun 2012, kita telah bekerja keras untuk meminimalisir dampak negatif perkembangan dimaksud terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini antara lain berarti pertajaman prioritas hubungan bilateral dengan mitra strategis; dan hal ini berarti pula peningkatan hubungan ekonomi dengan negara yang merupakan pasar non tradisional Indonesia.

Namun, lebih dari upaya meningkatkan ketahanan perekonomian Indonesia dan kawasan Asia Timur umumnya, sepanjang tahun 2012, diplomasi Indonesia senantiasa mengedepankan kepedulian mengenai kepentingan negara-negara berkembang.

Dalam berbagai forum seperti ASEAN, APEC, G-20, WTO dan PBB, termasuk dalam kerangka pertemuan KTT Rio+20 dan pembahasan mengenai post 2015 development agenda, Indonesia senantiasa menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif untuk memastikan keadilan dan pemerataan pertumbuhan ekonomi global. Suatu pendekatan yang kita dinamakan “sustainable growth with equity”

Dalam berbagai forum tingkat tinggi dimaksud, Indonesia juga terus menyuarakan isu pembangunan global yang berkeadilan untuk memastikan hasil-hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat internasional.

Hadirin yang kami hormati,

Sesuai amanat Konstitusi, disamping upaya-upaya di atas, diplomasi Indonesia secara aktif berkontribusi pada upaya menciptakan dunia yang lebih aman, lebih stabil, lebih damai, lebih adil dan lebih makmur.

Oleh karena itu, jejak diplomasi Indonesia secara terukur dan tepat bentuk terekam di berbagai belahan dunia dari Timur Tengah dan Afrika Utara, misalnya dalam menyikapi perkembangan di Suriah dan Palestina, ke Afrika dan Haiti, misalnya dalam kontribusi Indonesia pada pasukan pemeliharaan PBB, hingga di kawasan kita sendiri melalui partisipasi peninjau Indonesia dalam melanggengkan perdamaian di Filipina Selatan.

Oleh karena itu pula, dari forum kerja sama regional seperti Pacific Island Forum (PIF) dan Melanesian Spearhead Group (MSG) di Pasifik Barat Daya hingga Organisasi Kerja Sama Islam, Gerakan Non Blok maupun PBB, diplomasi multilateral Indonesia aktif bekerja. Aktif berkontribusi.

Oleh karena itu pulalah, apapun permasalahan trans-nasional dan global yang dihadapi, - dari ancaman bencana alam, tantangan ketahanan pangan dan energi hingga kejahatan lintas batas seperti terorisme, trafficking dan berbagai ancaman lainnya -, kontribusi politik luar negeri Indonesia jelas dan nyata.

Hadirin yang kami hormati,

Tentunya, sebagai wujud keterkaitan erat antara masalah internasional dan masalah domestik terdapat pula sejumlah upaya yang terus diperjuangkan. Utamanya dalam hal ini adalah upaya peningkatan perlindungan bagi WNI sebagaimana akan kami sampaikan.

Hadirin yang kami hormati,

Dalam menghadapi tantangan di tingkat kawasan dan global tersebut, sepanjang tahun 2012, diplomasi Indonesia senantiasa memperjuangkan kepentingan nasional kita yang bertujuan untuk berkontribusi bagi;

pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan rakyat;

konsolidasi demokrasi di tanah air; dan tercapainya keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Sepanjang tahun mendatang, terdapat 9 pokok perhatian:

Pertama, mempertajam prioritas kerja sama bilateral dengan mitra strategis dan negara sahabat lainnya.

Hal ini berarti penajaman prioritas kerja sama Indonesia dengan negara mitra sesuai dengan potensi dan peluang yang terbentang dengan masing-masing negara.

Disamping peningkatan di bidang perdagangan, investasi, dan pariwisata, hal ini dapat mencakup kerja sama di bidang seperti ketahanan pangan dan energi, pertahanan, kesehatan, dan lingkungan hidup.

Dalam kaitan upaya termaksud, kerangka kerja sama bilateral dengan negara-negara sahabat akan semakin dimatangkan dan dioptimalkan.

Kedua, disamping konsolidasi pasar tradisional, diplomasi ekonomi diarahkan pada perluasan pasar non tradisional.

Sebagai wujud hasil yang mulai diraih berkat upaya termaksud, sesuai data hingga pertengahan tahun 2012 misalnya, pasar ekspor non tradisional Indonesia di kawasan Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur naik masing-masing 46 %, 43% dan 87% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan yang substansial ini diraih di saat pasar ekspor tradisional Indonesia di kawasan Amerika Utara dan Eropa Barat mengalami pertumbuhan negatif.

Dengan berbagai upaya khusus, meskipun pasar di Eropa Barat dan Amerika Utara sedang lesu seiring dengan kondisi ekonomi Negara di kawasan tersebut, namun kita masih mencatatkan pertumbuhan positif ekspor Indonesia di beberapa negara seperti Norwegia, Jerman dan Inggris.

Seiring dengan mulai pulihnya perekonomian di Eropa dan beberapa pasar tradisional Indonesia, tahun 2013, selain diplomasi ekonomi akan terus dilanjutkan untuk mencari peluang dan penetrasi pasar non tradisional, juga akan dipertajam peluang pasar tradisional Indonesia khususnya pada mitra strategis Indonesia.

Ketiga, mengintensifkan perundingan perbatasan dengan negara tetangga sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia dan  ketentuan dan norma hukum internasional.

Selama tahun 2012, momentum perundingan perbatasan terus dipelihara. Tidak kurang dari 32 kali perundingan perbatasan dengan 7 negara telah dilaksanakan. 15 kali telah dilakukan perundingan batas maritim dan 17 kali merupakan perundingan batas darat.

Secara umum perundingan-perundingan batas maritim mengalami kemajuan signifikan di tingkat teknis dan telah mendapat dorongan pada tingkat tinggi agar dicapai kemajuan lebih lanjut.

Keempat, meningkatkan perlindungan WNI/TKI di luar negeri dengan memprioritaskan pada 3 aspek yaitu pencegahan, deteksi dini dan perlindungan.

Sepanjang tahun 2012, upaya pencegahan telah mulai membuahkan hasil: telah terjadi penurunan pelaporan kasus yang dihadapi WNI di luar negeri sebanyak hampir 50%. Dari 38.880 kasus tahun 2011 menjadi 19.218 kasus pada tahun 2012. 0.43 % dari keseluruhan warga negara Indonesia yang tercatat di luar negeri.

Tentunya setiap permasalahan yang dihadapi WNI di luar negeri diperlakukan sebagai prioritas. Tanpa terkecuali, apapun sifat dan permasalahannya. Dari kasus hukum yang menyangkut tenaga kerja Indonesia di luar negeri hingga penyelamatasn dan perlindungan WNI dari bencana alam serta instabilitas politik.

Sebagai contoh pula, upaya fasilitasi Pemerintah RI untuk pemulangan WNI dari Suriah sejak konflik di negara tersebut terjadi hampir mencapai 5.000 WNI.

Upaya Pemerintah untuk membebaskan WNI dari ancaman hukuman mati sejak pertengahan tahun 2011 hingga akhir 2012 terlihat nyata.

Sebanyak 110 WNI telah dibebaskan dari ancaman hukuman mati. Dimana sebanyak 33 orang dibebaskan murni dan telah dipulangkan ke tanah air.

Aspek pencegahan merupakan elemen penting bagi kita semua untuk dapat mencegah sejak dini kemungkinan WNI kita diancam pidana hukuman mati.

Pada tahun 2013, perlindungan WNI akan tetap menempati agenda prioritas diplomasi dan politik luar negeri.

Sesuai komitmennya, Kemlu telah membuat grand design perlindungan WNI di luar negeri.

Penajaman aspek pencegahan, deteksi dini dan perlindungan menjadi agenda utama.

Telah dibuat standar baku penanganan WNI/TKI di luar negeri sebagai rujukan Perwakilan RI di luar negeri dalam memberikan pelayanan dan perlindungan.

Seluruh staff, baik di pusat maupun di perwakilan telah menjadikan agenda perlindungan menjadi salah satu prioritas kerja utama.

Hadirin yang kami hormati,

Kelima, pemeliharaan perdamaian dan stabilitas di tingkat kawasan.
Waging peace and stability.

Hampir tidak ada satu masalahpun di kawasan yang luput dari kontribusi Indonesia.

Di kawasan Asia Tenggara misalnya, Indonesia bersama negara ASEAN lainnya secara gigih menampilkan penyelesaian jalan damai sebagai pilihan.

Di antara negara ASEAN, kita telah memiliki instrumen yang lebih dari cukup untuk memastikan diplomasi senantiasa dikedepankan.

Pilihannya adalah komitmen kita untuk bersama-sama menghormatinya dan mengimplementasikannya.

Ini juga yang menjadi landasan Indonesia dalam mendorong penyelesaian isu kepemilikan wilayah di Laut China Selatan.

Indonesia memiliki prinsip dimana diplomasi harus bisa bekerja dan memiliki ruang untuk bergerak.

Secara khusus, politik luar negeri pada tahun 2013, akan berupaya meningkatkan momentum pelaksanaan secara menyeluruh pelaksanaan DoC Laut China Selatan. “Menyeluruh” berarti termasuk kemajuan dalam upaya pencapaian suatu regional code of conduct.

Kemajuan dalam pelaksanaan menyeluruh DoC kiranya akan mampu meredam potensi konflik di Laut China Selatan. Namun hal ini memerlukan kerja keras kita bersama. Memerlukan suatu kesediaan untuk senantiasa mengedepankan kepentingan bersama kawasan dan komitmen untuk senantiasa menghormati hukum internasional dan hukum laut internasional.

Hadirin yang kami hormati,

Juga dalam rangka memelihara stabilitas dan perdamaian di kawasan, pada tahun 2013 Indonesia akan senantiasa konsisten mengingatkan betapa pentingnya seluruh negara mengikatkan diri pada “Bali Principles” yang disepakati pada saat East Asia Summit di Bali tahun 2011.

Sebuah prinsip yang mengatur norma dasar perilaku dan hubungan antar negara di kawasan Asia dan Pasifik yang senantiasa mengedepankan cara-cara damai dan menghindari penggunaan kekerasan dan ancaman penggunaan kekerasan.

Hadirin yang kami hormati,

Upaya untuk memelihara perdamaian dan stabilitas di kawasan tiada henti dan tidak semata bersifat reaktif terhadap suatu potensi konflik.

Indonesia berpandangan bahwa upaya-upaya memperkuat kapasitas kawasan untuk mencegah, mengelola dan menyelesaikan konflik merupakan sebuah keharusan.

Untuk itulah sejak keketuaan Indonesia tahun 2011 di ASEAN, Indonesia menggagas Pendirian ASEAN Institute for Peace and Reconciliation yang telah diluncurkan di Phnom Penh Nopember yang lalu.

Insya Allah, tahun-tahun mendatang, institute ini dapat berkontribusi memberikan penguatan terhadap kapasitas ASEAN dalam mencegah dan menyelesaikan konflik secara damai.

Hadirin yang kami hormati,

Keenam konsolidasi demokrasi dan nilai-nilai HAM di kawasan dan di tingkat global.

Dalam dua tahun terakhir, dengan berbagai tantangan yang masih dihadapi negara-negara di kawasan ASEAN, kita menyaksikan perkembangan positif demokrasi dan pemajuan nilai-nilai HAM di kawasan.

Hal ini tidak terjadi dengan sendirinya.

Secara tertata dan terukur, Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya, sejak tahun 2003 terus mendorong agar agenda demokrasi dan HAM menjadi prioritas Komunitas ASEAN.

Berbeda dengan kawasan lainnya, meskipun masih terdapat tantangan yang tidak kecil, tahun 2012 menjadi catatan positif bagi perkembangan isu demokrasi dan transformasi politik di kawasan.

Perkembangan di Myanmar adalah contoh konkrit. Tentunya proses demokratisasi tidak tanpa tantangan. Dan ketika tantangan tersebut terjadi, sebagai suatu keluarga besar, ASEAN bahu membahu dalam memberikan dorongan untuk tetap konsisten menjalankan demokrasi.

Hadirin yang kami hormati,

Dalam memajukan dan melindungi nilai-nilai HAM di kawasan, tentu kita mencatat perkembangan positif dengan disahkannya Deklarasi HAM ASEAN di Phnom Penh Nopember yang lalu. Deklarasi HAM tersebut merupakan hasil perjuangan yang telah dilakukan sejak tahun 2003.

Indonesia menyadari bahwa pengesahan Deklarasi tersebut merupakan bagian dari proses yang berkelanjutan dari upaya bersama negara ASEAN untuk menciptakan kawasan ASEAN yang senantiasa menghormati dan menghargai nilai-nilai HAM universal.

Tentu menjadi kewajiban kita semua untuk mengawal implementasi Deklarasi tersebut termasuk membentuk instrumen HAM lainnya di kawasan sehingga kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan yang senantiasa menjunjung nilai-nilai HAM universal.

Di kawasan yang lebih luas, melalui Bali Democracy Forum, Indonesia secara konsisten mendorong agenda demokrasi di kawasan Asia melalui proses dialog dan saling berbagi pemajuan demokrasi yang universal tanpa menghilangkan nilai dan aspek kekhususan masing-masing negara.

Kedepan, Melalui Bali Democracy Forum dan forum pemajuan demokrasi lainnya di tingkat kawasan dan global, Indonesia akan memfokuskan pada upaya untuk membantu negara yang sedang mengalami transisi demokrasi. Ini untuk mendorong agar proses tranformasi demokrasi dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan agenda yang telah ditetapkan negara dimaksud. Hal ini kiranya semakin relevan berkaitan dengan trasnformasi yang sedang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Hadirin yang kami hormati,

Ketujuh, bersama negara di kawasan, memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Diplomasi Indonesia berjuang untuk mendorong dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara yang kuat, berkelanjutan dan inklusif.

Penyelesaian scorecard pencapaian Komunitas Ekonomi ASEAN serta kesiapan Indonesia dalam menyongsong Komunitas tersebut terus menjadi perhatian Pemerintah.

Selain itu, sebagai wujud nyata prinsip ASEAN-led regional architecture building, dalam hal ini di bidang ekonomi, tahun 2013 akan ditandai oleh dimulainya proses negosiasi Regional Comprehensive Economic Partnership. Suatu upaya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan yang berlandaskan semangat kemitraan dan saling menguntungkan antara negara ASEAN dan negara mitranya.

Tahun 2013, melalui Keketuaan Indonesia pada APEC, kita berpeluang berkontribusi nyata bagi pembentukan tatanan ekonomi mendatang.

Suatu peluang untuk kembali menunjukkan kepemimpinan di kawasan.

Berpijak pada berbagai capaian APEC selama ini, Bapak Presiden telah menetapkan tema APEC 2013, yaitu “Resilient Asia Pacific, Engine of Global Growth”.

Dengan tema ini, Indonesia akan terus mendorong agar kawasan Asia Pasifik dapat terus tumbuh kuat, kokoh dan berketahanan, sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi dunia.

Dalam keketuaan Indonesia pada APEC di tahun 2013, Indonesia memiliki 3 prioritas utama yaitu:

Attaining the Bogor Goals, dengan fokus kepada pencapaian Bogor Goals - perluasan perdagangan dan investasi, dan reformasi struktural;

Achieving Sustainable Growth with Equity dengan fokus kepada daya saing global UKM, financial inclusion, ketahanan pangan, dan kesehatan; dan

Promoting Connectivity dengan fokus kepada konektivitas fisik, termasuk pengembangan dan investasi infrastruktur dan konektivitas kelautan (Blue Economy), konektivitas institusional, dan konektivitas people-to-people.

Dengan perkembangan arsitektur kawasan yang semakin kompleks dari sejak APEC didirikan tahun 1989 dan sejak kepemimpinan Indonesia di APEC tahun 1994, Indonesia berkeyakinan di bawah kepemimpinan Indonesia pada APEC tahun 2013 ini, APEC dapat memberikan kontribusi dan nilai tambah bagi ketahanan ekonomi kawasan Asia Pasifik yang pada gilirannya dapat berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi global dan kesejahteraan masyarakat dunia.

Pada tahun 2013 pula, bersama dengan Kolombia, Indonesia menjadi ketua Forum for East Asia and Latin America Cooperation (FEALAC) tahun 2013.

Pertemuan tingkat Menteri FEALAC tahun 2013 di Bali akan difokuskan pada upaya untuk meningkatkan kerja sama antara kawasan Asia dan Amerika Latin untuk mengatasi tantangan global dewasa ini khususnya kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih.

Kedelapan, kontribusi untuk memelihara perdamaian, keamanan dan keadilan pada tataran global.

Sesuai amanat Konstitusi, Indonesia akan terus berkontribusi bagi upaya untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas serta keamanan internasional.

Sepanjang tahun 2012, misalnya, diplomasi Indonesia bekerja di kawasan Timur Tengah, baik yang menyangkut konflik di Suriah maupun di Palestina.

Kebuntuan upaya diplomasi sepanjang tahun 2012 mengenai masalah Suriah harus segera diatasi. Korban jiwa yang berjatuhan hari demi hari menunutut masyarakat internasional untuk bersatu untuk mendorong diakhirinya kekerasan; dalam memungkinkan bantuan kemanusiaan dan dalam mendorong suatu proses politik yang menghormati pilihan rakyat Suriah.

Sementara itu, isu Palestina telah dan akan terus menjadi agenda prioritas diplomasi dan politik luar negeri Indonesia.

Kedepan, bersama masyarakat internasional lainnya, politik luar negeri Indonesia akan berupaya untuk meraih kemajuan lebih jauh atas apa yang telah dicapai pada tahun 2012. Yaitu status negara peninjau negara Palestina di PBB. Hal ini antara lain berarti peningkatan kapasitas negara Palestina; rekonsiliasi antara elemen di Palestina serta dorongan bagi pemulihan kembali proses perdamaian Timur Tengah kearah pemenuhan hak-hak mendasar bangsa Palestina sesuai resolusi PBB yang relevan serta prinsip “two states solution”.

Hadirin yang kami hormati,

Kesembilan dan yang terakhir, mendorong tatanan ekonomi dan pembangunan dunia yang berkeadilan.

Sebuah tatanan yang memberikan ruang bagi seluruh masyarakat internasional untuk merasakan buah dari pembangunan.

Sebuah tatanan yang memberikan kesempatan bagi seluruh negara untuk maju dan sejahtera, tanpa terkecuali.

Dalam kaitan ini, Indonesia memikul tanggung jawab yang khusus.

Sebagaimana diketahui, terkait isu agenda pembangunan global, Bapak Presiden bersama dengan Presiden Liberia dan PM Inggris telah dipilih untuk menjadi pemimpin bersama High-level Panel of Eminent Persons on the Post-2015 Development Agenda yang akan memberikan masukan kepada Sekjen PBB mengenai agenda pembangunan global pasca 2015.

Beberapa rangkaian pertemuan Panel telah dilakukan baik di New York dan London. Proses ini terus berlangsung.

Pada tahun 2013, pertemuan akan dilakukan di Monrovia, Bali dan berakhir di New York. Pada pertemuan akhir di New York, secara resmi Bapak Presiden bersama dengan PM Inggris dan Presiden Liberia akan menyerahkan proposal agenda pembangunan global pasca 2015 kepada Sekjen PBB untuk dapat dibahas oleh seluruh negara anggota PBB.

Ini merupakan amanah yang besar bagi kita sebagai bangsa untuk memberikan kontribusi secara signifikan dalam menetapkan agenda pembangunan global kedepan. Dengan konsep yang jelas, rasional dan visioner, Indonesia telah menetapkan visi dan platform pembangunan global yang berorientasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan berkeadilan. “Sustainable Growth with Equity”.

Indonesia juga akan menjadi tuan rumah pertemuan tingkat Menteri WTO tahun 2013 ini.

Selaku tuan rumah, Indonesia akan memainkan perannya dalam rangka menjaga keberlangsungan sistem perdagangan multilateral yang adil, terbuka dan transparan.

Indonesia akan berjuang agar sistem perdagangan internasional selaras dan menjadi penopang agenda pembangunan global pasca 2015.

Hadirin yang terhormat,

Sebelum mengakhiri pernyataan tahunan kali ini, perkenankankanlah kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas kontribusi dan kemitraan seluruh elemen bangsa terutama kepada mitra kami di Komisi 1, DPR RI atas pelaksanaan diplomasi dan politik luar negeri sepanjang tahun 2012.

Kami percaya dan memiliki keyakinan, hanya melalui kemitraan dan sinergi seluruh elemen bangsa inilah berbagai peluang diplomasi sepanjang tahun 2012 dapat kita raih dan berbagai tantangan juga dapat kita lampaui bersama.

Kepada rekan-rekan media, tentu kami ingin menyampaikan penghargaan dan apresiasi terhadap kemitraan yang terjalin selama ini. Dengan peran dan partisipasi rekan-rekan media tentunya diplomasi dan kebijakan politik luar negeri dapat terkomunikasikan dengan baik kepada masyarakat luas.

Kepada para pemenang Adam Malik Award tahun ini, kami ucapkan selamat atas prestasinya.

Kami yakin kerja sama yang baik selama ini akan semakin ditingkatkan pada masa yang akan datang.

Menyongsong tahun 2013 ini, Kementerian Luar Negeri berkomitmen untuk memelihara dan semakin meningkatkan profesionalisme dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Kami memiliki keyakinan yang besar bahwa kita akan bekerja lebih keras lagi demi mencapai kepentingan nasional Indonesia.

Kita akan berupaya lebih cerdas lagi demi memberikan kontribusi bagi perdamaian dan kemakmuran bagi semua.

Untuk menciptakan dunia yang lebih aman, damai, stabil dan makmur.

Insya Allah.

Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.