Tabligh Akbar Chuseok 2009

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada tanggal 3 dan 4 Oktober 2009, KBRI Seoul bekerjasama dengan Panitia dari 12 (dua belas) Paguyuban dan Ormas Islam di Korsel menyelenggarakan “Tabligh Akbar Chuseok 2009” dengan mengundang Ustadz Yusuf Mansur. Tabligh Akbar telah berhasil dan sukses diselenggarakan di 2 (dua) kota, yaitu di Changwon dan di Seoul dan telah dihadiri oleh ribuan jamaah, umumnya TKI. Jumlah jamaah hadir pada acara di Changwon (di Gedung Olah Raga) sebesar 1500 orang dan di Seoul (halaman KBRI Seoul) berjumlah 1000 orang.  Ke 12 (dua belas) Paguyuban dan Ormas Islam yang menjadi Panitia dari Tabligh Akbar adalah IKMI Seoul, Sirothol Mustaqim Ansan, ALAMIN Daegu, PERMATA Daegu, PUMITA AL FATAH Busan, AL HIDAYAH Kimhae, IMNIDA Daejon, IKMIK Kwangju, KMC Changwon, AL BAROKAH Gimhae, IMOCOM Mokpo dan IMUSKA Seoul.

 

Tabligh Akbar ini adalah acara tahunan yang diselenggarakan dengan mengambil waktu pada liburan Chuseok (Thanks Giving Day di Korea) dan dimaksudkan untuk memberikan pembinaan, siraman rohani dan meningkatkan tali silaturahmi bagi Masyarakat Indonesia di Korsel. Secara berganti-ganti KBRI Seoul dan Panitia telah menyelenggarakan acara ini berbagai kota tempat konsentrasi Masyarakat Indonesia di Korsel dengan mengundang para Ustadz kondang dari Indonesia. Beberapa Ustadz kondang yang pernah dihadirkan diantaranya adalah Ustadz AA Gymnastiar, Ustadz Mubarok dan Ustadz Hengky Tornando, Ustadz Kang Ibing, Cak Ainun Najib dan Ustadz Zainuddin MZ.

 

Acara tahunan ini selalu ditunggu-tunggu oleh Masyarakat, khususnya oleh TKI yang rutin bekerja sepanjang tahun dan tidak sedikit telah mengalami kejenuhan. KBRI Seoul telah mengadakan penelitian yang hasilnya adalah bahwa kejenuhan yang dialami TKI ini, cukup banyak yang kemudian membuat para TKI melakukan kegiatan negatif. Oleh karenanya KBRI sangat mendukung kegiatan ini sebagai salah satu kegiatan pembinaan bagi para TKI agar tetap menjadi WNI/TKI yang produktif dan agamis yang dapat menjaga citra dan nama baik Indonesia di Korsel.

 

Pada acara Tabligh Akbar Chuseok 2009, di Changwon dan di Seoul, Ustadz Yusuf Mansur memberikan siraman rohani yang pada pokoknya berisi mengenai keutamaan sedekah bagi umat muslimin. Sedekah adalah bentuk dari kepedulian sosial yang dilandasi keagamaan dalam rangka membantu kaum fakir dan miskin, anak yatim piatu dan untuk syiar Islam dalam bentuk pembangunan rumah ibadah.

 

Pada kesempatan Tabligh Akbar 2009 ini, Panitia telah mengadakan penggalangan dana yang diperuntukkan bagi pembangunan Masjid di Changwon dan di Ansan; dan selain itu juga telah mengadakan penggalangan dana sumbangan bagi korban bencana gempa bumi di Sumatera Barat.

 

Penggalangan dana buat pembangunan masjid telah berhasil mengumpulkan dana cash/kontan sebesar Won 26.377.540; US $ 2.236; Euro 50; Rupiah 1.397.000; dan sumbangan berbentuk barang berupa sebuah jam tangan berlapis emas, sebentuk cicin emas seberat 3 don (10,5 gram) dan sebuah gelang emas putih bermata. Selain dana cash/kontan, juga telah berhasil mengumpulkan komitmen sumbangan pembangunan masjid dimaksud sebesar Won 221.572.499,-. Khusus untuk sumbangan bagi korban bencana gempa bumi di Sumatera barat telah berhasil dikumpulkan sebesar Won 4.378.910; US $ 150; dan Rupiah 150.100. Keseluruhan dana yang terkumpul saat ini berada di Panitia gabungan dari 12 (dua belas) Paguyuban dan Ormas Islam di Korsel tersebut di atas.

 

Masyarakat Indonesia di Changwon saat ini telah berhasil secara swadaya membeli sebidang tanah seluas hampir 300m2 seharga Won 240.000.000 (k.l. Rp. 1,9 milyar = kurs 1 Won sama dengan Rp 8). Untuk membangun masjid, dana yang diperlukan sebesar Won 150.000.000, dan saat ini Panitia Pembangunan Masjid di Changwon baru memiliki dana sebesar Won 60.000.000.  Sedangkan Masyarakat di Ansan baru berhasil mengumpulkan dana sebesar Won 42.700.000 dan menurut Panitia Pembangunan Masjid Ansan, dana yang diperlukan untuk membeli tanah dan membangun masjid diperlukan dana sebesar Won 400.000.000,-

 

Calon masjid di Changwon dan Ansan ini adalah sebagian dari banyak rumah ibadah yang dibangun secara swadaya oleh Masyarakat Indonesia di Korsel. Pada umumnya di kota dimana jumlah TKInya cukup besar, berdiri sebuah rumah ibadah yang didirikan secara swadaya. Sebagai contoh : Bapak Nicholas T. Dammen, Duta Besar RI, pada tanggal 27 September 2009 telah meresmikan sebuah Mushola yang baru, yang didirikan oleh secara swadaya oleh Masyarakat Indonesia di Kota Daejon. Mushola ini menyewa sebuah lantai dari bangunan gedung pertokoan dengan dana kumpulan dari jamaah sedangkan operasional mushola (biaya listrik, air dan gas) dibiayai dari untung usaha jual pulsa HP oleh pengurusnya. Untuk Mushola baru ini (dan juga rumah ibadah lainnya), KBRI Seoul membantu pengisian perpustakaannya dengan sejumlah judul buku yang diperlukan dan bekerjasama melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi WNI/TKI a.l. pelatihan dan seminar mengenai berbagai hal.