Pekan Promosi Budaya Indonesia Di Korea Selatan

10/1/2009

 

Siaran Pers

 

Pekan Promosi Budaya Indonesia Di Korea Selatan

 

No : 801/SOSBUD/X/2009

 

Pada tanggal tanggal 21 September – 1 Oktober 2009, KBRI Seoul bekerja sama dengan MIZY Seoul Youth Center for Cultural Exchanges, lembaga di bawah Korean National Commissions for UNESCO dan dikoordinasikan oleh Seoul Metropolitan Government, telah menyelenggarakan Pekan Promosi Budaya Indonesia bertempat di MIZY Center, Seoul.

 

Selama Pekan Promosi Budaya Indonesia tersebut, telah diselenggarakan serangkaian acara untuk mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korsel, yang terdiri dari Pameran Barang-barang Kerajinan dan kesenian Indonesia (a.l. seperangkat alat musik gamelan, angklung, patung-patung dari berbagai daerah, dan batik), Pameran Foto Indonesia, Ceramah oleh Duta Besar RI Seoul (28 September 2009), Pengenalan Musik Angklung dan Poco-poco (29 September 2009), Diskusi Mahasiswa Indonesia dan Korea, dan demonstrasi membuat Pisang Goreng (30 September 2009) bersama masyarakat dan pelajar Korea.

 

Ceramah Duta Besar RI Seoul oleh sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Seoul dan sekitarnya. Dalam ceramah tersebut, Duta Besar RI Seoul menyampaikan perkembangan-perkembangan terbaru dalam hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan yang mendapat tanggapan antusias dari para peserta. Para mahasiswa tersebut menanyakan berbagai permasalahan seperti isu-isu yang dihadapi oleh TKI di Korsel, ideologi Indonesia dan pengaruh budaya Islam dari Timur Tengah terhadap budaya Islam di Indonesia, pandangan Indonesia terhadap perkembangan nuklir di Korea Utara dan hubungan kedua Korea, serta masalah biofuel dan multibudaya di Indonesia. Semua pertanyaan tersebut ditanggapi langsung oleh Duta Besar RI Seoul dengan memberikan paparan yang membuka wawasan para mahasiswa tersebut tentang hubungan Indonesia dan Korsel.

 

Pengenalan musik Angklung dilakukan secara interaktif yang melibatkan para hadirin dan dipandu oleh salah satu instrukur Angklung dari Saung Angklung Udjo Bandung yang kebetulan sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Korsel. Para peserta tampak sangat antusias memainkan beberapa lagu Indonesia, Eropa, dan juga Korea. Bahkan mereka pun mengutarakan kekagumannya karena angklung juga dapat digunakan untuk memainkan lagu-lagu tradisional Korea. Pada sesi pengenalan tarian Poco-poco, para peserta juga sangat gembira ketika mengetahui bahwa tarian tersebut juga dapat ditarikan dengan diiringi lagu-lagu pop Korea.

 

Forum Diskusi yang sekitar 50 mahasiswa Indonesia dan Korea telah berlangsung dengan sukses. Para mahasiswa yang dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi kelompok membicarakan berbagai topik pembahasan yang berkisar masalah perbedaan sudut pandang masyarakat Indonesia dan Korea terhadap berbagai masalah, misalnya karir, gender, agama, keluarga multibudaya, dan permasalahan kaum muda. Hasil diskusi tersebut  kemudian disampaikan dalam sebuah diskusi pleno.

 

Pisang Goreng sengaja dipilih sebagai makanan khas Indonesia yang diperkenalkan kepada para pelajar dan masyarakat di Korsel mengingat bahan-bahan dasarnya mudah diperoleh dan cara pembuatannya pun mudah sehingga dapat dipraktekkan di rumah mereka masing-masing.  Semua peserta dengan antusias ikut mencoba mempraktekkan cara membuat pisang goreng dengan mengikuti panduan instruktur dari KBRI. Setelah demonstrasi selesai, para peserta diberi kesempatan untuk menikmati bersama hasil praktek mereka tersebut.

 

Secara keseluruhan, program tersebut telah berlangsung dengan sukses dan meriah. Promosi budaya yang ditujukan kepada masyarakat Korsel tersebut telah mencakup segala lapisan, mulai dari pelajar dan mahasiswa, serta orang tua murid yang ikut datang untuk mengantarkan putra-putrinya dan akhirnya ikut terlibat dalam kegiatan promosi itu sendiri.

 

 

Seoul, 1 Oktober 2009