HUBUNGAN BILATERAL

PROFIL NEGARA​

Nama Resmi
:

Taehan-min'guk
Republik Korea

Bentuk Negara
:
Republik
Ibu Kota
:
Seoul
Luas Wilayah
:
100.460 Km2
Lagu Kebangsaan
:
A e g u k g a
Populasi
:
51,3 juta (Des 2015 est.)
Agama
:
Kristen 26,3% (Protestan 19,7%, Katolik 6,6%), Budha 23.2%, dan lainnya 1.3%, Tidak beragama 49.3%
Bahasa Nasional
:
Korea [Hangeul]
Bendera Nasional
:
T a e g e u k g i
Mata Uang
:
Won
Hari Nasional
:
Liberation Day, 15 Agustus 1945
Kepala Negara
:
Presiden Park Geun Hye (sejak 25 Februari 2013)
Kepala Pemerintahan
:
PM Hwang Kyo-ahn ( Tahun 2015 )
Menteri Luar Negeri
:
Yoon Byung-se
Sistem Politik
:
Demokrasi, Presiden dipilih langsung untuk satu kali masa jabatan 5 tahun.  Kekuasaan dibagi menjadi kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Partai yang Memerintah
:
Saenuri Party
GDP
:
US$ 1.45 trilyun
GDP Perkapita
:
US$ 28.700 (2015 est.)
Komoditas Ekspor Utama
:
Semikonduktor, peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer, besi, kapal, petrokimia, kapal laut, tekstil, pakaian jadi, dan hasil laut.
Komoditas Impor Utama
:
Minyak dan gas bumi, barang dan perlengkapan elektronik, minyak, baja, perlengkapan transportasi.
Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional
:
ADB, AfDB (nonregional member), APEC, APT, ARF, ASEAN (dialogue partner), Australia Group, BIS, CP, EAS, EBRD, FAO, G-20, IADB, IAEA, IBRD, ICAO, ICC, ICCt, ICRM, IDA, IEA, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, ITUC, LAIA, MIGA, NEA, NSG, OAS (observer), OECD, OPCW, OSCE (partner), PCA, PIF (partner), SAARC (observer), UN, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNIFIL, UNMIL, UNMIS, UNMOGIP, UNOMIG, UNWTO, UPU, WCL, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO, ZC
Links
:

http://www.kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/​
www.mofat.go.kr
http://english.president.go.kr
 
 

POLITIK 

Tahun 2014 hubungan diplomatik Republik Indonesia-Republik Korea menginjak usia yang ke-41. Hubungan diplomatik kedua negara dibuka pada tahun 1973, sementara hubungan konsuler dibuka 7 tahun sebelumnya yakni pada 1966. Kedua negara terus berupaya meningkatkan hubungan dan kerja sama baik bilateral, regional maupun multilateral. Hubungan dan kerja sama bilateral memasuki babak baru-kemitraan strategis pada 2006 dengan ditandatanganinya  "Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation between Republic of Indonesia and the Republic of Korea".

Meningkatnya hubungan dan kerja sama bilateral tersebut antara lain didukung oleh sifat komplementaritas sumber daya dan keunggulan yang dimiliki masing-masing disamping proses kemajuan ekonomi dan politik kedua negara yang sangat baik yang membuka peluang kerja sama di berbagai sektor semakin terbuka lebar.  Bagi Indonesia, Republik Korea menawarkan peluang yang baik sebagai sumber modal/investasi, teknologi dan produk-produk teknologi. ROK menjadi alternatif sumber teknologi khususnya di bidang heavy industry, IT dan telekomunikasi. Di lain pihak, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup "robust" dalam dekade terakhir menawarkan peluang pasar yang sangat besar, sumber alam/mineral, dan tenaga kerja. Menlu Yun Byung-se saat kunjungannya ke Jakarta, 9 Oktober 2014, memandang Indonesia sebagai  mitra yang sangat penting bagi ROK seperti halnya  RRT dan Jepang. Disampaikan bahwa ROK-RI akan berupaya keras untuk meningkatkan kerjasama multilateral, bilateral, dan regional.

Kedua negara berkepentingan terhadap perdamaian, stabilitas, keamanan kawasan Asia sebagai prasyarat keberlanjutan proses pembangunan nasional masing-masing. Selain itu juga saling dukung di berbagai forum-forum baik regional maupun internasional seperti pencalonan-pencalonan pada organisasi internasional.

Kedekatan hubungan dan kerjasama kedua negara dapat dilihat misalnya dari intensitas saling kunjung "high dignitaries". Sejumlah kunjungan penting dari Indonesia ke Korea Selatan misalnya kunjungan Presiden RI ke Busan dalam rangka Commemorative Summit ASEAN-ROK ke-25 dan Pertemuan Bilateral, 10-12 Desember 2014, kunjungan Presiden RI ke-6 Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan menerima penghargaan The "The Grand Order of Mugunghwa" yang merupakan penghargaan tertinggi ROK dari Presiden Park Geun-hye pada 19 November 2014, kunjungan Bapak Jusuf Kalla Wakil Presiden RI pada 26 s/d 30 Agustus 2015, kunjungan Ibu Megawati Sukarnoputri Presiden RI ke-5 pada 14-18 October 2015, kunjungan Ketua MPR RI Dr. Zulkifli Hasan pada 22-24 October 2015 dan kunjungan Wakil Ketua Sementara KPK Bapak Johan Budi pada 8-11 November 2015.

Sebaliknya, dari Korea Selatan ke Indonesia diantaranya adalah kunjungan Speaker Chung Ui-hwa ke Jakarta pada 22 Desember 2014, kunjungan Deputy Prime Minister H.E. Hwang Woo-yea during the Commemoration of the 60th Anniversary of the Asian African Conference and the 10th Anniversary of the New Asian-African Strategic Partnership (NAASP),  AA Summit and Ministerial Meeting,  April 2015, dan Kunjungan Kerja Vice Chairperson Presidential Committee for Unification Preparation H.E. Chung, Chong-Wook ke Jakarta pada  12 -14 Oktober 2015.

Pada pertemuan bilateral antara Presiden Jokowi dan Presiden Park Geun-hye pada 11 Desember 2014, kedua Pemimpin sepakat antara lain:

  • Untuk menghidupkan kembali Joint Commission Meeting (JCM) pada tingkat Menlu kedua negara dan pertemuan akan dilaksanakan pada tahun 2015. Dengan adanya mekanisme JCM ini maka lebih mudah bagi kedua negara untuk memantau perkembangan kerjasama kedua negara dan menindaklanjuti kesepakatan yang disetujui pada tingkat Leader.

 

  • Untuk meningkatkan kerjasama industri pertahanan, transfer pengetahuan dan teknologi terkait dengan pembangunan bersama kapal selam dan pesawat tempur yang telah berjalan saat ini.
  • ROK menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam pembangunan Kesatuan Penjaga Pantai dan galangan kapal di Indonesia.
  • Kedua Pemimpin menyambut baik penandatanganan Persetujuan Pembentukan Komite Bersama di bidang e-Government dan reformasi birokrasi.

  • Presiden RI mendukung penuh upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas pada tingkat kawasan dan global, termasuk di Semenanjung Korea.

Sebagai tindak lanjut kesepakat Pemimpin kedua negara, kedua negara selanjutnya telah menyepakati untuk melaksanakan Joint Commission Meeting (JCM) ke-2 di Seoul pada 18 Desember 2015

Hubungan dan kerjasama yang erat juga terlihat di berbagai forum global, regional yang menjadi kepentingan bersama.

EKONOMI

Presiden Republik Indonesia dan Presiden Republik Korea telah menandatangani the Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century di Jakarta pada tanggal 4-5 Desember 2006. Joint declaration tersebut meliputi 3 pilar kerjasama, yaitu: kerjasama politik dan keamanan; kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi; serta kerjasama sosial budaya. Joint declaration tersebut mendorong kedua negara untuk lebih mempererat persahabatan dan menciptakan kerjasama yang lebih kongkrit. Sejak saat itu, tren investasi dan perdagangan antara kedua negara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Untuk mewujudkan pilar kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi, kedua negara setuju untuk membentuk Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation (JTF-EC) yang telah menyelenggarakan pertemuan tahunan sejak tahun 2007. Pada tahun 2011, Indonesia-Korea JTF-EC direvitalisasi menjadi Working Level Task Force Meeting (WLTFM) yang melakukan pertemuan dua kali setahun untuk mengakomodasi perkembangan yang signifikan dalam kerjasama ekonomi kedua negara. Pertemuan pertama WLTFM telah dilaksanakan di Bali pada tanggal 18-19 Mei 2011.

Untuk memonitor implementasi dari berbagai kesepakatan yang dicapai oleh setiap working group, kedua negara sepakat untuk mendirikan sekretariat bersama WLTFM di Jakarta. Upacara peresmian sekretariat bersama dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2012 pada saat pertemuan ke-3 WLTFM di Jakarta. Anggota dari sekretariat bersama adalah pejabat dari Kementerian Koordinator bidang Perekonomian RI dan Kementerian Knowledge Economy Republik Korea sebagai focal point WLTFM untuk masing-masing negara.

Dengan terbinanya hubungan ekonomi yang erat selama bertahun-tahun di antara kedua negara, masyarakat Korea Selatan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Data menunjukkan bahwa nilai realisasi investasi Korea Selatan di Indonesia terus meningkat pada tahun 2013. Pada tahun tersebut, nilai investasi dari Korsel mencapai USD 2,2 miliar. Nilai tersebut telah melebihi nilai investasi Korsel pada tahun 2012 dan menempatkan Korsel sebagai investor terbesar ke-4 setelah Jepang, Singapura dan Amerika Serikat.

Investasi Korsel di Indonesia terutama pada sektor industri elektronik, telekomunikasi, konstruksi, otomotif, pertambangan, migas, air bersih, perbankkan dan perhotelan. Baru-baru ini, terdapat investasi yang bernilai miliaran US dolar dari perusahaan-perusahaan besar Korsel seperti POSCO, Hankook Tire, Lotte Group dan Cheil Jedang Group di Indonesia. Hal tersebut membuktikan adanya kepercayaan yang tinggi dari para investor Korsel kepada Indonesia. Keputusan investasi tersebut diikuti bukan hanya oleh perusahaan afiliasi dan perusahaan vendor dari perusahaan besar Korsel, tetapi juga oleh perusahaan Korsel lainnya.

Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2011, volume perdagangan antara kedua negara mengalami penurunan akibat melemahnya perekonomian global yang dirasakan dampaknya oleh banyak negara di dunia. Total volume perdagangan antara Indonesia – Korea   tahun 2013 sebesar US$ 23 milyar, turun dari tahun 2012 dimana nilai perdagangan mencapai US$ 27,02 milyar. Walaupun tampak ada gejala penurunan pada angka perdagangan bilateral, kedua pemerintahan tetap melakukan upaya untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral dan telah menargetkan bahwa nilai perdagangan kedua negara akan mencapai US$50 milyar pada tahun 2015 dan US$100 milyar pada tahun 2020.

Pencapaian target ini didukung oleh rencana kedua negara untuk membentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk melengkapi perjanjian ASEAN-ROK Free Trade Area (FTA) yang telah ada sebelumnya. Sebuah kelompok studi untuk menilai kelayakan CEPA telah dibentuk pada saat kunjungan Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI ke Seoul pada bulan Februari 2011. Setelah beberapa kali pertemuan kelompok studi, laporan akhir kelompok studi tersebut disahkan pada pertemuan pertama WLTFM di Seoul bulan Oktober 2011. Rangkaian seminar telah dilaksanakan di masing-masing negara pada akhir tahun 2011 sampai dengan awal tahun 2012 untuk mensosialisasikan hasil studi kelayakan kelompok studi kepada masing-masing pemangku kepentingan nasional.

Di sela-sela Nuclear Security Summit di Seoul pada bulan Maret 2012, kedua Pemimpin negara melakukan pertemuan bilateral dan sepakat untuk memulai perundingan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA). Perundingan pertama IK-CEPA dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2012 di Jakarta untuk membahas Term of Reference negosiasi IK-CEPA dan cakupan IK-CEPA, yaitu: Trade in Goods, Rules of Origin, Custom, Trade Facilitation, Investment, Intellectual Property Rights, Sustainable Development and Competition. Isu Trade Remedies and Cooperation masih merupakan isu pending yang akan didiskusikan pada negosiasi berikutnya. Sebagai tindaklajut, negosiasi kedua IK-CEPA telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012.

Negosiasi IK-CEPA merupakan awal babak baru dari hubungan bilateral Indonesia dan Korea. Menurut laporan kelompok studi, kedua negara akan menikmati keuntungan dari IK-CEPA, dimana Indonesia akan menikmati manfaat ekonomi sebesar USD 10,6 miliar dan peningkatan PDB sebesar 4,37%. Sementara itu, Korsel akan mendapatkan manfaat ekonomi sebesar USD 1,5 miliar dan peningkatan PDB sebesar 0,13%.

Perundingan Indonesia Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA) putaran Ketujuh telah terlaksana di Seoul, Korea, pada tanggal 21-28 Februari 2014. Putaran ini sebagai lanjutan dari putaran keenam IKCEPA yang diadakan di Bali pada tanggal 4-8 Nopember 2013.

Pada tanggal 29-30 September 2014 di Seoul, telah diadakan pertemuan ke-5 Indonesia-Korea Working Level Task Force (WLTF) on Economic Cooperation yang dipimpin bersama oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dan Deputy Minister for Trade, Ministry of Trade, Industry and Energy Korea. Pertemuan ke-5 WLTF didahului oleh pertemuan enam Working Group terdiri dari WG on Trade and Investment; WG on Industrial Cooperation, WG on Construction and Infrastructure, WG on Environment Cooperation, WG on Agriculture, Forestry and Fisheries dan WG on Policy Support and Financing dan 3 Working Group yang telah bertemu pada bulan Juni dan awal September 2014 yaitu WG on Energy and Mineral Resorces, WG on Defense Industry, dan WG on Green Car.

Dalam pertemuan ke-5 WLTF tersebut, kedua pihak telah membahas berbagai proyek yang sedang berlangsung maupun proyek-proyek baru yang akan dikerjasamakan. Kedua pihak sepakat untuk mengakselerasi kerjasama bilateral dengan memprioritaskan 10 proyek utama yaitu Kerjasama Kawasan Ekonomi Khusus, Kerjasama Industri Perkapalan, Agro-based Multi-Industry Cluster (MIC), kerjasama mesin-mesin pertanian, Jakarta Giant Sea Wall, Pekanbaru City Water Suppy, Restorasi Kali Ciliwung di Jakarta, Restorasi Sungai Citarum, Karian Water Conveyance dan Coal-fired Steam Power Plant.

Pertemuan ke-5 Plenary WLTF juga sepakat untuk memperpanjang TOR pembentukan Joint Secretariat yang akan segera berakhir sehingga Joint Sekretariat yang telah berjalan sejak bulan Februari tahun 2012 tersebut dapat terus berjalan untuk menjembatani berbagai kerjasama antara kedua negara. Pertemuan sepakat untuk melaporkan hasil pertemuan WLTF ini pada pertemuan tingkat Menteri antara kedua negara yang akan diadakan di Indonesia pada tahun 2015.

 SOSIAL BUDAYA

Di sektor sosial budaya terdapat sejumlah program saling kunjung antara kelompok seni budaya kedua negara. Korsel sangat aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan promosi budaya internasional di berbagai kota di Korea dan kesempatan ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah kelompok seni tari dan budayawan Indonesia untuk berpromosi di negeri ginseng ini. Beberapa ajang promosi budaya yang cukup besar di Korsel adalah Korea Travel Fair, Hi Seoul, Busan Travel Fair, Busan Film Festival dan lainnya.

Indonesia telah meratifikasi perjanjian kerjasama kedua negara di bidang budaya yang ditandatangani tahun 2000. MOU di bidang pariwisata juga telah disepakati oleh kedua negara tahun 2006. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, bulan Mei 2008 telah diadakan Pertemuan Komite Budaya Indonesia Korsel di Yogyakarta.

Di bidang pendidikan, Indonesia dan Korsel telah menandatangani MOU di bidang pendidikan dalam kunjungan Presiden Lee Myung Bak ke Jakarta tahun 2009. Bentuk kerjasama dalam MOU tersebut adalah proyek penelitian bersama, pertukaran pengajar, pelajar, peneliti dan ahli lainnya, pertukaran informasi, pertemuan berkala, konperensi, seminar, pameran, pertukaran bahan-bahan yang diperlukan, pendirian pusat riset bersama, pendidikan, pelatihan dan bentuk kerjasama pendidikan lainnya.

Terakhir Indonesia dan Korsel juga telah menandatangani MOU kerjasama di bidang industri kreatif pada kunjungan presiden Park Geun Hye ke Jakarta tahun 2013. MOU tersebut adalah untuk meningkatkan kerjasama di bidang industri kreatif. Setelah MOU tersebut di tandatangani diharapkan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan dapat lebih meningkat lagi terutama di bidang seni, kerajinan, musik, film, dan video games.

Jumlah mahasiswa dan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Korsel terus meningkat setiap tahun. Tahun 2004 jumlah mahasiswa Indonesia di Korsel hanya sekitar 70 orang meningkat menjadi 1200 siswa sampai bulan November 2014.

Jumlah mahasiswa Korsel yang belajar di Indonesia juga terus bertambah setiap tahun, tersebar di berbagai perguruan tinggi diseluruh Indonesia. Mahasiswa Korsel yang belajar di Indonesia melalui program Darmasiswa yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga terus meningkat. Selain itu terdapat program pendidikan singkat dari Kementeri Luar Negeri yaitu Beasiswa Budaya Indonesia yang bertujuan lebih mengenalkan seni budaya Indonesia kepada generasi muda Korsel. Minat mahasiswa Korsel untuk mempelajari bahasa Indonesia juga meningkat terlihat dari banyaknya pendaftar untuk mengikuti program pendidikan bahasa Indonesia di BIPA Universitas Indonesia.

Potensi pariwisata Korsel sangat tinggi. Menurut data Korea Tourism Organization jumlah orang Korsel yang berwisata ke luar negeri setiap tahunnya lebih dari 14 juta orang (tahun 2014). Tingginya tingkat kemakmuran dengan pendapatan percapita lebih dari US$ 33.100 berdasarkan purchasing power parity yang di keluarkan oleh IMF, menyebabkan kebutuhan untuk berwisata ke luar negeri tidak lagi kebutuhan sekunder tapi merupakan kegiatan yang dipersiapkan setiap tahun. Jumlah wisatawan Korsel ke Indonesia terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, walaupun sedikit berfluktuasi akibat sejumlah peristiwa di dalam negeri Indonesia antara isu terorisme, bencana alam dan wabah penyakit flu burung. Data terakhir tahun 2014 jumlah wisatawan Korsel yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 328.122 orang, keenam terbesar setelah wisatawan Singapura, Malaysia, Australia, Tiongkok dan Jepang. 

Pada tahun 2013 lalu Indonesia dan Korsel merayakan 40 tahun hubungan diplomatik. Acara puncak dari perayaan itu adalah Gala Dinner yang diadakan di hotel Lotte Seoul pada tanggal 25 September 2013. Gala Dinner ini dihadiri oleh lebih dari 400 undangan dari berbagai kalangan setempat termasuk Menteri Perdagangan dan Industri Korsel. Menko Perekonomian RI Hatta Rajasa hadir dalam Gala Dinner usai mengikuti pertemuan CEPA hari sebelumnya. Menko didampingi oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan serta Agus Yudhoyono menjadi tamu kehormatan dalam Gala Dinner tersebut. Batik fashion show oleh Alleira dengan menampilkan Anissa Pohan sebagai model utama merupakan salah satu acara gala dinner. Artis Indonesia lainnya yang tampil malam itu adalah Angels Percussion dan kelompok angklung Daeng Udjo. Selain itu ada artis Korsel yaitu Eru yang tampil bersama Atiqah Hasiholan dan Taejina yang menyanyikan sejumlah lagu. Acara ini merupakan salah satu bentuk soft power diplomacy yang di selenggarakan KBRI Seoul dalam rangka mempromosikan dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan.

Masih dalam rangkaian peringatan 40 tahun hubungan diplomatik RI-Korea, pada tanggal 26 September 2013, Menko Perekonomian meresmikan pembukaan Festival Film Indonesia di bioskop CGV Seoul. Dalam festival film yang pertama kali diadakan di Korsel, sebanyak 9 film Indonesia diputar selama 10 hari di bioskop CGV di kota Seoul dan Ansan. Ini adalah terobosan baru dalam mempromosikan film Indonesia di negerinya K-Pop.

Pada tahun 2013 untuk melakukan branding, positioning dan memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, Duta Besar RI Seoul menyadari bahwa melalui celebriti-celebriti Korea Selatan merupakan media yang paling baik dan efektif karena otomatis akan di siarkan oleh banyak media masa bahkan oleh televisi Korea Selatan. Olah karenanya pada bulan Juni 2013, KBRI Seoul mengangkat seorang artis terkenal Korsel, Lee Beum Soo dan istrinya Lee Yoon Jin menjadi Ambassador of Goodwill Indonesia yang tugasnya antara lain membantu memperkenalkan dan mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korsel. Pada saat acara pengangkatan Lee Beum Soo tersebut diberitakan oleh berbagai media cetak dan televisi Korea Selatan. Peristiwa ini juga dilakukan karena KBRI melihat bahwa Negara ini mempunyai potensi bagus untuk menjadi lahan promosi budaya Indonesia. Pendapatan perkapita yang cukup tinggi dengan predikat sebagai Negara maju membuat masyarakat Korsel mempunyai keingintahuan yang besar terhadap budaya asing.

Selanjutnya pada bulan Januari 2014, untuk lebih mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia dikalangan masyarakat Korsel, KBRI Seoul mengangkat Tae Jin A seorang artis terkenal sebagai Spesial Friend of Indonesia. Pada acara pemberian plakat penghargaan tersebut juga ditayangkan lebih dari 10 media cetak dan televisi di Korsel. Sebagai Spesial Friend of Indonesia, Tae Jin A berkenan menjadi media promosi bersama anaknya Eru yang juga merupakan penyanyi muda cukup terkenal di Korsel dan Indonesia. Salah satunya ialah memasang photo keduanya di depan Kantor KBRI Seoul dengan tanpa biaya.

Lalu pada bulan Agustus 2014, KBRI Seoul juga memberikan penghargaan Special Friend of Indonesia kepada putra Tae Jin A yang merupakan penyanyi Korea Selatan terkenal Eru karena telah banyak berperan dalam mempromosikan dan mempererat hubungan antara Indonesia dan Korea melalui pertukaran kebudayaan.

Selama tahun 2014 -2015 dalam rangka mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, selain kegiatan-kegiatan promosi rutin ada beberapa kegiatan besar yang dilakukan KBRI Seoul antara lain Open House Seoul yang bekerjasama dengan pemda kota Seoul pada bulan Agustus 2014, Indonesia Food Festival yang bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif pada bulan Oktober 2014, Pameran lukisan dari salah satu pelukis ternama Asia Tenggara asal Indonesia, Christine Ay Tjoe pada  April  2015, Mengikuti Bazaar Hi Seoul pada  Mei 2015, Pameran Promosi Pariwisata pada  event Embassy Day in Seoul  2015 pada Juni 2015, Pameran Batik Indonesia di Museum Kyungwoon bekerja sama dengan salah satu pencinta batik Indonesia asal Korea Selatan Mrs. Jung Okji pada 21 Oktober 2015.

Selain pertunjukan seni budaya dalam rangka mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, pada tahun 2014, Duta Besar RI juga memberikan kuliah umum mengenai Indonesia dibeberapa universitas terkemuka di Korea Selatan, yaitu antara lain di Kyung Hee University, Sookmyung Woman's University, Kyungsung University, Seoul National University (SNU) dan Korea Institute of Science and Technology (KIST).

Selanjutnya pada tahun 2015, Bapak Duta Besar juga melakukan ceramah dan presentasi di depan kalangan akademisi  dan mahasiswa yaitu pada Maret 2015, pada kelas eksekutif dari Universitas Yonsei, dimana sebagian besr dari pesertanya adalah para CEO perusahaan-perusahaan di Korea. Pada bulan Juni 2015, Duta Besar RI kembali menyampaikan ceramah di depan kalangan akademisi dari Universitas Yonsei.  Pada setiap kuliah umum yang dilakukan selalu dipadati oleh dosen dan mahasiswa Korea yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Indonesia.

Selain acara diatas, KBRI Seoul juga mengadakan beberapa acara promosi budaya dengan bekerjasama dengan masyarakat Indonesia antara lain seperti acara One Indonesia Day bulan Agustus 2014 yang dihadiri oleh 5000 masyarakat Indonesia di Korea Selatan dan diperkirakan ada sekitar 1000 pengunjung warga Korea datang pada kegiatan tersebut, Indonesian Week di Kyunghee University bulan Juni 2014 yang diperkirakan dikunjungi oleh sekitar 500 pengunjung dan Indonesian Week pada bulan November 2014 di Seoul National University yang dikunjungi oleh lebih dari 1000 pengunjung.  Selanjutnya pada tahun 2015 juga diadakan beberapa acara kebudayaan yang cukup besar seperti  Khamsahamnida Korea bekerja sama dengan Perpika pada  Mei 2015 dan Kegiatan Pentas kebersamaan Satu Negeri  yang dihadiri juga oleh Ka MPR pada Oktober 2015.

KETENAGA-KERJAAN

Korea Selatan sebagai negara industri memerlukan berbagai sumber daya, tidak hanya sumber daya alam yang sebagian diimpor karena sangat sedikitnya sumber daya alam Korsel, negara ini juga mendatangkan tenaga kerja asing untuk menjalankan mesin-mesin industrinya. Disamping kurangnya angkatan kerja yang tersedia, masyarakat Korsel yang sudah mempunyai tingkat kemakmuran yang tinggi umumnya kurang berminat untuk bekerja di sektor industri terutama bagian pekerjaan yang berkategori dangerous, dirty dan difficult (3D). Untuk memenuhi kebutuhan sektor industri yang sebagian besar adalah usaha kecil dan menengah maka dibukalah pintu masuk bagi tenaga kerja asing. Sampai saat ini terdapat 15 negara termasuk Indonesia yang mengirimkan tenaga kerjanya ke negeri ginseng ini.

Indonesia mulai mengirim TKI ke Korsel sejak tahun 1994 melalui mekanisme yang disebut Industrial Trainee Program. Disebut sebagai trainee karena waktu itu undang-undang ketenagakerjaan Korsel belum membolehkan tenaga kerja asing bekerja di Korsel. Baru tahun 2004 Korsel menerima secara resmi kehadiran tenaga kerja asing melalui skema EPS = Employment Permit System. Indonesia menandatangani MOU EPS dengan pihak Korsel 13 Juli 2004 untuk pengiriman TKI dengan format G to G. MOU ini sudah diperpanjang dua kali yaitu tahun 2008 dan 2012. Dibawah MOU ini, pengiriman dan penerimaanTKI dilakukan pemerintah Indonesia (BNP2 TKI) dan pemerintah Korsel (HRDK) sehingga tidak ada keterlibatan Pengerah Jasa TKI dalam pengiriman TKI ke Korsel sejak skema EPS yang G to G dijalankan.

Sampai akhir 2015 terdapat sekitar 40 ribu tenaga kerja Indonesia di Korsel. Kurangnya ketersediaan tenaga kerja lokal untuk jenis pekerjaan industri kecil menjadi peluang yang potensial bagi tenaga kerja asing. Korsel sedikitnya membutuhkan 100 ribua tenaga kerja asing setiap tahun. Setiap negara tidak dapat menyuplai tenaga kerja sebanyak-banyaknya ke Korsel karena adanya kuota bagi setiap negara yang ditetapkan oleh pemerintah Korsel. Indonesia mempunyai kuota sebesar 9000 orang setiap tahun.

Sebaliknya, saat ini terdapat sekitar 50 ribu warga negara Korsel di Indonesia dengan sekitar 2.500 perusahaan untuk segala ukuran. Saat ini warga Korea Selatan merupakan warga asing terbanyak di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, investasi Korsel di Indonesia meningkat pesat sehingga kini Korsel investor ketiga terbesar setelah Singapura dan Jepang.​​