Peresmian Rumah Tradisonal Indonesia di Cheongtae-San Recreation Forest, 4 Juni 2009

6/4/2009

 
SIARAN PERS
No : 390  /Sosbud/VI/2009
PERESMIAN RUMAH TRADISIONAL INDONESIA
DI CHEONGTAE-SAN RECREATION FOREST, 4 JUNI 2009


 
Pada tanggal 4 Juni 2009, Menteri Kehutanan RI, Malam Sambat Kaban dan Menteri Kehutanan Korea Selatan, Chung Kwang-soo, telah meresmikan pembangunan rumah tradisional Indonesia di Cheongtae-san Recreation Forest, Provinsi Gangwon-do, Korea Selatan. Acara peresmian tersebut juga dihadiri oleh Duta Besar RI di Seoul, Nicholas T. Dammen, sejumlah staf KBRI Seoul beserta keluarga, pelajar dan masyarakat Indonesia serta delegasi Departemen Kehutanan dan peserta Pertemuan Ketiga Forum Kehutanan Indonesia-Korea yang berlangsung sehari sebelumnya di Seoul.
 
Pembangunan empat rumah tradisional Indonesia yang masing-masing menggunakan arsitektur Minangkabau (Rumah Gadang), Jawa (Joglo), Tana Toraja (Tongkonan) dan Kalimantan (Rumah Betang) ini merupakan realisasi dari salah satu butir kesepakatan Sister National Park antara Taman Nasional Gunung Pangrango di Indonesia dan Yumyeong National Park di Korea Selatan. Kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan Komisi Kehutanan Bilateral RI-ROK ini memutuskan pembangunan rumah tradisional Indonesia di Korea Selatan dan sebaliknya pembangunan rumah tradisional Korea di Indonesia. Pembangunan rumah tradisional masing-masing negara  ini diharapkan dapat menjadi salah satu bukti eratnya kerjasama bilateral kedua negara dalam sektor kehutanan serta juga sebagai salah satu bentuk jembatan budaya melalui arsitektur tradisional kedua negara.
 
Rumah-rumah tradisional Indonesia yang dibangun dalam waktu 3 bulan dan memakan biaya sebesar 700 juta Won (sekitar 7 milyar Rupiah) ini mempunyai fasilitas lengkap yang ideal bagi keluarga untuk menginap dan berekreasi selama liburan musim panas maupun musim dingin. Indonesia merupakan satu-satunya negara yang mempunyai rumah tradisionalnya di taman nasional tersebut. Dengan demikian, sesuai dengan pesan Menteri Kehutanan RI bahwa rumah-rumah adat Indonesia ini seyogyanya dapat mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Korea dan menjadi obat penawar rindu bagi masyarakat Indonesia yang berada di Korea Selatan. 

***
Seoul, 6 Juni 2009