Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Selamat Datang di Situs Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan      |       

Profil Negara dan Kerjasama

Korea Selatan

I.PROFIL NEGARA 
 
Nama Resmi
:

Taehan-min'guk
Republik Korea

Bentuk Negara
:
Republik
Ibu Kota
:
Seoul
Luas Wilayah
:
100.460 Km2
Lagu Kebangsaan
:
A e g u k g a
Populasi
:
50,2 juta (Des 2014 est.)
Agama
:
Kristen 26,3% (Protestan 19,7%, Katolik 6,6%), Budha 23.2%, dan lainnya 1.3%, Tidak beragama 49.3%
Bahasa Nasional
:
Korea [Hangeul]
Bendera Nasional
:
T a e g e u k g i
Mata Uang
:
Won
Hari Nasional
:
Liberation Day, 15 Agustus 1945
Kepala Negara
:
Presiden Park Geun Hye (sejak 25 Februari 2013)
Kepala Pemerintahan
:
PM Lee Wan-koo ( Tahun 2015 )
Menteri Luar Negeri
:
Yoon Byung-se
Sistem Politik
:
Demokrasi, Presiden dipilih langsung untuk satu kali masa jabatan 5 tahun.  Kekuasaan dibagi menjadi kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Partai yang Memerintah
:
Saenuri Party
GDP
:
US$ 1.34 trilyun
GDP Perkapita
:
US$ 26.200 (2014 est.)
Komoditas Ekspor Utama
:
Semikonduktor, peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer, besi, kapal, petrokimia, kapal laut, tekstil, pakaian jadi, dan hasil laut.
Komoditas Impor Utama
:
Minyak dan gas bumi, barang dan perlengkapan elektronik, minyak, baja, perlengkapan transportasi.
Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional
:
ADB, AfDB (nonregional member), APEC, APT, ARF, ASEAN (dialogue partner), Australia Group, BIS, CP, EAS, EBRD, FAO, G-20, IADB, IAEA, IBRD, ICAO, ICC, ICCt, ICRM, IDA, IEA, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, ITUC, LAIA, MIGA, NEA, NSG, OAS (observer), OECD, OPCW, OSCE (partner), PCA, PIF (partner), SAARC (observer), UN, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNIFIL, UNMIL, UNMIS, UNMOGIP, UNOMIG, UNWTO, UPU, WCL, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO, ZC
Links
:
www.indonesiaseoul.org
www.mofat.go.kr
http://english.president.go.kr
 
 

POLITIK 

Dari sisi lingkaran konsentris Politik Luar Negeri RI, Korea Selatan yang terletak di kawasan Asia Timur berada di lingkar kedua setelah ASEAN. Korea Selatan merupakan salah satu mitra strategis yang penting bagi Indonesia. Hubungan dan kerja sama bilateral kedua negara meningkat tajam dalam dekade terakhir ini terutama sejak kedua negara memasuki kemitraan strategis yang ditandai dengan penandatanganan Joint Declaration on Strategic Partnership oleh Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Korsel Roh Moo Hyun pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta. Joint Declaration mencakup 3 (tiga) pilar kerjasama, yaitu: 1) kerjasama politik dan keamanan, 2) kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi; dan 3) kerjasama sosial budaya.

Di bidang politik, hubungan dan bobot kerjasama politik RI-ROK terus terjaga dan menguat dengan intensitas kunjungan high dignitaries kedua negara baik pejabat tinggi RI ke Korea Selatan maupun sebaliknya yang cukup tinggi. Hal ini nampak antara lain:

a. Kunjungan Presiden RI ke Busan dalam rangka Commemorative Summit ASEAN-ROK ke-25 pada 10-12 Desember 2014.

Pertemuan Puncak ASEAN-ROK meletakkan arah hubungan dan kerjasama ke depan. Dalam hal ini antara lain, dicatat penegasan kembali promosi peningkatan dialog kemitraan ASEAN-ROK untuk kemitraan strategis yang bermakna, menguntungkan dan bersahabat, terus mendorong pendirian Komunitas ASEAN, meningkatkan konektifitas, mengurangi gap pembangunan dan memperkuat ASEAN Sekretariat dalam mewujudkan ASEAN yang didasarkan pada aturan, berpusat pada masyarakat, secara ekonomi terpadu, kondusif secara politik dan bertanggung jawab secara sosial. Ditegaskan pula dukungan terhadap ASEAN-Centrality dalam perkembangan arsitektur kawasan menuju keamanan.

Di bidang politik keamanan, para Pemimpin ASEAN dan ROK menekankan pentingnya trust building untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan. Mereka juga menyambut baik inisiatif ROK mengenai Trust-Building Process di Semenanjung Korea, unifikasi secara damai di Semenanjung Korea, serta Northeast Asia Peace and Cooperation Initiative (NAPCI) dalam upaya menciptakan perdamaian dalam jangka panjang di Semenanjung Korea dan di kawasan. Para Pemimpin juga terus mendukung proses denuklirisasi di Semenanjung Korea dan mendorong Republik Demokratik Rakyat Korea untuk mengikuti aturan internasional seperti Resolusi Dewan Keamanan PBB dan Joint Statement Six Party Talks tanggal 19 September 2005. Diharapkan para pihak dapat memulai kembali pembahasan dalam Six Party Talks.

b. Pertemuan bilateral Presiden Joko Widodo dengan Presiden Park Geu-hye pada 11 Desember.

Pada pertemuan bilateral Presiden RI Bapak Joko Widodo dan Presiden Park Geun-hye pada 11 Desember 2014, di Busan, Presiden Park menyampaikan bahwa Indonesia adalah mitra penting kerjasama dan mitra dagang kunci bagi ROK. Kedua negara telah memperdalam kemitraan strategis bilateral dengan kerjasama aktif pada industri pertahanan dan berharap kerjasama bilateral akan terus berkembang.

Dalam pertemuan tersebut Kedua Pemimpin:
- Sepakat untuk menghidupkan kembali Joint Commission Meeting (JCM) pada tingkat Menlu kedua negara dan Pertemuan akan dilaksanakan pada awal tahun depan. Dengan adanya mekanisme JCM ini maka akan lebih mudah bagi kedua negara untuk memantau perkembangan kerja sama kedua negara dan menindaklanjuti kesepakatan yang disetujui pada tingkat Leader.
- Sepakat pula untuk meningkatkan kerja sama industri pertahanan, terutama transfer pengetahuan dan teknologi terkait dengan pembangunan bersama kapal selam dan pesawat tempur yang telah berjalan saat ini.
- ROK menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam pembangunan Kesatuan Penjaga Pantai dan galangan kapal di Indonesia.
- Kedua Pemimpin menyambut baik penandatanganan Persetujuan Pembentukan Komite Bersama di bidang e-Government dan reformasi birokrasi.
- Presiden RI mendukung penuh upaya menciptakan perdamaian dan stabilitas pada tingkat kawasan dan global, termasuk di Semenanjung Korea.

c. Penganugerahan "The Grand Order of Mugunghwa" oleh Presiden Park Geun-hye kepada mantan Presiden RI Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pada 19 November 2014. Penghargaan tersebut diberikan berkat peran aktif dan kontribusi signifikan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dalam memajukan dan memperkuat hubungan RI-ROK baik dalam konteks bilateral, regional maupun multilateral.

d. Pengesahan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Global Green Growth Institute (GGGI) yang baru menggantikan mantan ketua       GGGI yang juga mantan PM Denmark Lars Lokke Rasmussen dengan masa jabatan dua tahun, pada 18 November 2014.

e. Kunjungan Ketua Majelis Nasional ROK Mr. Chung Ui-hwa ke Jakarta dan courtessy call ke Presiden RI pada 22 Desember 2014. Dalam pertemuan tersebut, Mr. Chung Ui-hwa menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan kerjasama maritim yang menjadi prioritas Pemerintah RI.

f. Kunjungan Ketua DPD RI Irman Gusman dan Delegasi ke ROK ke ROK dan bertemu dengan Ketua Majelis Nasional Republik Korea (ROK) Hon. Chung Ui Hwa, yang merupakan orang kedua di ROK pada 19 November 2014.
Dalam kunjungan tersebut dijajagi kerjasama di bidang capacity building dalam bentuk program-program pelatihan kepada anggota staf Sekretariat Jenderal maupun anggota DPD RI, pembangunan sistem IT-based paparless governance dan e-voting. Sekretaris Jenderal Majelis Nasional Mr. Park Heong-joon menyambut sangat positif usulan kerja sama tersebut. Pihaknya siap membantu pelatihan dan pembangunan sistem tata kelola pemerintahan yang berbasis teknologi informasi. Kedua belah pihak akan menindaklanjuti dan mempersiapkan draft MOU untuk landasan kerja sama ini.

g. Kunjungan Wakil Ketua BPK Bapak Sapto Amal Damandari dan Delegasi ke ROK dan bertemu Ketua Board of Audit and Inspection ROK Hon. Hwang Chan-hyun, Desember 2014.
Dalam kunjungan tersebut disepakati kerjasama program pelatihan para auditor dan pegawai BPK untuk meningkatkan profesionalitas dn pengembangan SDM. Direncanakan pada bulan Januari Sekretaris Jenderal Board of Audit and Inspection ROK akan berkunjung ke Jakarta dan pada Februari pengiriman peserta pelatihan ke Education and Training Institute Board of Audit and Inspection ROK di Paju.

h. Kunjungan Wakil Ketua DPD RI GKR Ratu Hemas dan Wakil Ketua Komisi lll DPR RI ke Korea Selatan tanggal 16-17 September 2014.

 

EKONOMI

Presiden Republik Indonesia dan Presiden Republik Korea telah menandatangani the Joint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century di Jakarta pada tanggal 4-5 Desember 2006. Joint declaration tersebut meliputi 3 pilar kerjasama, yaitu: kerjasama politik dan keamanan; kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi; serta kerjasama sosial budaya. Joint declaration tersebut mendorong kedua negara untuk lebih mempererat persahabatan dan menciptakan kerjasama yang lebih kongkrit. Sejak saat itu, tren investasi dan perdagangan antara kedua negara terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Untuk mewujudkan pilar kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi, kedua negara setuju untuk membentuk Indonesia-Korea Joint Task Force on Economic Cooperation (JTF-EC) yang telah menyelenggarakan pertemuan tahunan sejak tahun 2007. Pada tahun 2011, Indonesia-Korea JTF-EC direvitalisasi menjadi Working Level Task Force Meeting (WLTFM) yang melakukan pertemuan dua kali setahun untuk mengakomodasi perkembangan yang signifikan dalam kerjasama ekonomi kedua negara. Pertemuan pertama WLTFM telah dilaksanakan di Bali pada tanggal 18-19 Mei 2011.

Untuk memonitor implementasi dari berbagai kesepakatan yang dicapai oleh setiap working group, kedua negara sepakat untuk mendirikan sekretariat bersama WLTFM di Jakarta. Upacara peresmian sekretariat bersama dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2012 pada saat pertemuan ke-3 WLTFM di Jakarta. Anggota dari sekretariat bersama adalah pejabat dari Kementerian Koordinator bidang Perekonomian RI dan Kementerian Knowledge Economy Republik Korea sebagai focal point WLTFM untuk masing-masing negara.

Dengan terbinanya hubungan ekonomi yang erat selama bertahun-tahun di antara kedua negara, masyarakat Korea Selatan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Data menunjukkan bahwa nilai realisasi investasi Korea Selatan di Indonesia terus meningkat pada tahun 2013. Pada tahun tersebut, nilai investasi dari Korsel mencapai USD 2,2 miliar. Nilai tersebut telah melebihi nilai investasi Korsel pada tahun 2012 dan menempatkan Korsel sebagai investor terbesar ke-4 setelah Jepang, Singapura dan Amerika Serikat.

Investasi Korsel di Indonesia terutama pada sektor industri elektronik, telekomunikasi, konstruksi, otomotif, pertambangan, migas, air bersih, perbankkan dan perhotelan. Baru-baru ini, terdapat investasi yang bernilai miliaran US dolar dari perusahaan-perusahaan besar Korsel seperti POSCO, Hankook Tire, Lotte Group dan Cheil Jedang Group di Indonesia. Hal tersebut membuktikan adanya kepercayaan yang tinggi dari para investor Korsel kepada Indonesia. Keputusan investasi tersebut diikuti bukan hanya oleh perusahaan afiliasi dan perusahaan vendor dari perusahaan besar Korsel, tetapi juga oleh perusahaan Korsel lainnya.

Setelah mencapai puncaknya pada tahun 2011, volume perdagangan antara kedua negara mengalami penurunan akibat melemahnya perekonomian global yang dirasakan dampaknya oleh banyak negara di dunia. Total volume perdagangan antara Indonesia – Korea   tahun 2013 sebesar US$ 23 milyar, turun dari tahun 2012 dimana nilai perdagangan mencapai US$ 27,02 milyar. Walaupun tampak ada gejala penurunan pada angka perdagangan bilateral, kedua pemerintahan tetap melakukan upaya untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral dan telah menargetkan bahwa nilai perdagangan kedua negara akan mencapai US$50 milyar pada tahun 2015 dan US$100 milyar pada tahun 2020.

Pencapaian target ini didukung oleh rencana kedua negara untuk membentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk melengkapi perjanjian ASEAN-ROK Free Trade Area (FTA) yang telah ada sebelumnya. Sebuah kelompok studi untuk menilai kelayakan CEPA telah dibentuk pada saat kunjungan Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI ke Seoul pada bulan Februari 2011. Setelah beberapa kali pertemuan kelompok studi, laporan akhir kelompok studi tersebut disahkan pada pertemuan pertama WLTFM di Seoul bulan Oktober 2011. Rangkaian seminar telah dilaksanakan di masing-masing negara pada akhir tahun 2011 sampai dengan awal tahun 2012 untuk mensosialisasikan hasil studi kelayakan kelompok studi kepada masing-masing pemangku kepentingan nasional.

Di sela-sela Nuclear Security Summit di Seoul pada bulan Maret 2012, kedua Pemimpin negara melakukan pertemuan bilateral dan sepakat untuk memulai perundingan Indonesia-Korea CEPA (IK-CEPA). Perundingan pertama IK-CEPA dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2012 di Jakarta untuk membahas Term of Reference negosiasi IK-CEPA dan cakupan IK-CEPA, yaitu: Trade in Goods, Rules of Origin, Custom, Trade Facilitation, Investment, Intellectual Property Rights, Sustainable Development and Competition. Isu Trade Remedies and Cooperation masih merupakan isu pending yang akan didiskusikan pada negosiasi berikutnya. Sebagai tindaklajut, negosiasi kedua IK-CEPA telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012.

Negosiasi IK-CEPA merupakan awal babak baru dari hubungan bilateral Indonesia dan Korea. Menurut laporan kelompok studi, kedua negara akan menikmati keuntungan dari IK-CEPA, dimana Indonesia akan menikmati manfaat ekonomi sebesar USD 10,6 miliar dan peningkatan PDB sebesar 4,37%. Sementara itu, Korsel akan mendapatkan manfaat ekonomi sebesar USD 1,5 miliar dan peningkatan PDB sebesar 0,13%.

Perundingan Indonesia Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IKCEPA) putaran Ketujuh telah terlaksana di Seoul, Korea, pada tanggal 21-28 Februari 2014. Putaran ini sebagai lanjutan dari putaran keenam IKCEPA yang diadakan di Bali pada tanggal 4-8 Nopember 2013.

Pada tanggal 29-30 September 2014 di Seoul, telah diadakan pertemuan ke-5 Indonesia-Korea Working Level Task Force (WLTF) on Economic Cooperation yang dipimpin bersama oleh Deputi Bidang Koordinasi Kerjasama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dan Deputy Minister for Trade, Ministry of Trade, Industry and Energy Korea. Pertemuan ke-5 WLTF didahului oleh pertemuan enam Working Group terdiri dari WG on Trade and Investment; WG on Industrial Cooperation, WG on Construction and Infrastructure, WG on Environment Cooperation, WG on Agriculture, Forestry and Fisheries dan WG on Policy Support and Financing dan 3 Working Group yang telah bertemu pada bulan Juni dan awal September 2014 yaitu WG on Energy and Mineral Resorces, WG on Defense Industry, dan WG on Green Car.

Dalam pertemuan ke-5 WLTF tersebut, kedua pihak telah membahas berbagai proyek yang sedang berlangsung maupun proyek-proyek baru yang akan dikerjasamakan. Kedua pihak sepakat untuk mengakselerasi kerjasama bilateral dengan memprioritaskan 10 proyek utama yaitu Kerjasama Kawasan Ekonomi Khusus, Kerjasama Industri Perkapalan, Agro-based Multi-Industry Cluster (MIC), kerjasama mesin-mesin pertanian, Jakarta Giant Sea Wall, Pekanbaru City Water Suppy, Restorasi Kali Ciliwung di Jakarta, Restorasi Sungai Citarum, Karian Water Conveyance dan Coal-fired Steam Power Plant.

Pertemuan ke-5 Plenary WLTF juga sepakat untuk memperpanjang TOR pembentukan Joint Secretariat yang akan segera berakhir sehingga Joint Sekretariat yang telah berjalan sejak bulan Februari tahun 2012 tersebut dapat terus berjalan untuk menjembatani berbagai kerjasama antara kedua negara. Pertemuan sepakat untuk melaporkan hasil pertemuan WLTF ini pada pertemuan tingkat Menteri antara kedua negara yang akan diadakan di Indonesia pada tahun 2015.

 SOSIAL BUDAYA

Di sektor sosial budaya terdapat sejumlah program saling kunjung antara kelompok seni budaya kedua negara. Korsel sangat aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan promosi budaya internasional di berbagai kota di Korea dan kesempatan ini telah dimanfaatkan oleh sejumlah kelompok seni tari dan budayawan Indonesia untuk berpromosi di negeri ginseng ini. Beberapa ajang promosi budaya yang cukup besar di Korsel adalah Korea Travel Fair, Hi Seoul, Busan Travel Fair, Busan Film Festival dan lainnya.

Indonesia telah meratifikasi perjanjian kerjasama kedua negara di bidang budaya yang ditandatangani tahun 2000. MOU di bidang pariwisata juga telah disepakati oleh kedua negara tahun 2006. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, bulan Mei 2008 telah diadakan Pertemuan Komite Budaya Indonesia Korsel di Yogyakarta.

Di bidang pendidikan, Indonesia dan Korsel telah menandatangani MOU di bidang pendidikan dalam kunjungan Presiden Lee Myung Bak ke Jakarta tahun 2009. Bentuk kerjasama dalam MOU tersebut adalah proyek penelitian bersama, pertukaran pengajar, pelajar, peneliti dan ahli lainnya, pertukaran informasi, pertemuan berkala, konperensi, seminar, pameran, pertukaran bahan-bahan yang diperlukan, pendirian pusat riset bersama, pendidikan, pelatihan dan bentuk kerjasama pendidikan lainnya.

Terakhir Indonesia dan Korsel juga telah menandatangani MOU kerjasama di bidang industri kreatif pada kunjungan presiden Park Geun Hye ke Jakarta tahun 2013. MOU tersebut adalah untuk meningkatkan kerjasama di bidang industri kreatif. Setelah MOU tersebut di tandatangani diharapkan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Korea Selatan dapat lebih meningkat lagi terutama di bidang seni, kerajinan, musik, film, dan video games.

Jumlah mahasiswa dan pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Korsel terus meningkat setiap tahun. Tahun 2004 jumlah mahasiswa Indonesia di Korsel hanya sekitar 70 orang meningkat menjadi 1200 siswa sampai bulan November 2014.

Jumlah mahasiswa Korsel yang belajar di Indonesia juga terus bertambah setiap tahun, tersebar di berbagai perguruan tinggi diseluruh Indonesia. Mahasiswa Korsel yang belajar di Indonesia melalui program Darmasiswa yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga terus meningkat. Selain itu terdapat program pendidikan singkat dari Kementeri Luar Negeri yaitu Beasiswa Budaya Indonesia yang bertujuan lebih mengenalkan seni budaya Indonesia kepada generasi muda Korsel. Minat mahasiswa Korsel untuk mempelajari bahasa Indonesia juga meningkat terlihat dari banyaknya pendaftar untuk mengikuti program pendidikan bahasa Indonesia di BIPA Universitas Indonesia.

Potensi pariwisata Korsel sangat tinggi. Menurut data Korea Tourism Organization jumlah orang Korsel yang berwisata ke luar negeri setiap tahunnya lebih dari 14 juta orang (tahun 2014). Tingginya tingkat kemakmuran dengan pendapatan percapita lebih dari US$ 33.100 berdasarkan purchasing power parity yang di keluarkan oleh IMF, menyebabkan kebutuhan untuk berwisata ke luar negeri tidak lagi kebutuhan sekunder tapi merupakan kegiatan yang dipersiapkan setiap tahun. Jumlah wisatawan Korsel ke Indonesia terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir, walaupun sedikit berfluktuasi akibat sejumlah peristiwa di dalam negeri Indonesia antara isu terorisme, bencana alam dan wabah penyakit flu burung. Data terakhir tahun 2014 jumlah wisatawan Korsel yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 328.122 orang, keenam terbesar setelah wisatawan Singapura, Malaysia, Australia, Tiongkok dan Jepang. 

Pada tahun 2013 lalu Indonesia dan Korsel merayakan 40 tahun hubungan diplomatik. Acara puncak dari perayaan itu adalah Gala Dinner yang diadakan di hotel Lotte Seoul pada tanggal 25 September 2013. Gala Dinner ini dihadiri oleh lebih dari 400 undangan dari berbagai kalangan setempat termasuk Menteri Perdagangan dan Industri Korsel. Menko Perekonomian RI Hatta Rajasa hadir dalam Gala Dinner usai mengikuti pertemuan CEPA hari sebelumnya. Menko didampingi oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan serta Agus Yudhoyono menjadi tamu kehormatan dalam Gala Dinner tersebut. Batik fashion show oleh Alleira dengan menampilkan Anissa Pohan sebagai model utama merupakan salah satu acara gala dinner. Artis Indonesia lainnya yang tampil malam itu adalah Angels Percussion dan kelompok angklung Daeng Udjo. Selain itu ada artis Korsel yaitu Eru yang tampil bersama Atiqah Hasiholan dan Taejina yang menyanyikan sejumlah lagu. Acara ini merupakan salah satu bentuk soft power diplomacy yang di selenggarakan KBRI Seoul dalam rangka mempromosikan dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan.

Masih dalam rangkaian peringatan 40 tahun hubungan diplomatik RI-Korea, pada tanggal 26 September 2013, Menko Perekonomian meresmikan pembukaan Festival Film Indonesia di bioskop CGV Seoul. Dalam festival film yang pertama kali diadakan di Korsel, sebanyak 9 film Indonesia diputar selama 10 hari di bioskop CGV di kota Seoul dan Ansan. Ini adalah terobosan baru dalam mempromosikan film Indonesia di negerinya K-Pop.

Pada tahun 2013 untuk melakukan branding, positioning dan memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, Duta Besar RI Seoul menyadari bahwa melalui celebriti-celebriti Korea Selatan merupakan media yang paling baik dan efektif karena otomatis akan di siarkan oleh banyak media masa bahkan oleh televisi Korea Selatan. Olah karenanya pada bulan Juni 2013, KBRI Seoul mengangkat seorang artis terkenal Korsel, Lee Beum Soo dan istrinya Lee Yoon Jin menjadi Ambassador of Goodwill Indonesia yang tugasnya antara lain membantu memperkenalkan dan mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korsel. Pada saat acara pengangkatan Lee Beum Soo tersebut diberitakan oleh berbagai media cetak dan televisi Korea Selatan. Peristiwa ini juga dilakukan karena KBRI melihat bahwa Negara ini mempunyai potensi bagus untuk menjadi lahan promosi budaya Indonesia. Pendapatan perkapita yang cukup tinggi dengan predikat sebagai Negara maju membuat masyarakat Korsel mempunyai keingintahuan yang besar terhadap budaya asing.

Selanjutnya pada bulan Januari 2014, untuk lebih mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia dikalangan masyarakat Korsel, KBRI Seoul mengangkat Tae Jin A seorang artis terkenal sebagai Spesial Friend of Indonesia. Pada acara pemberian plakat penghargaan tersebut juga ditayangkan lebih dari 20 media cetak dan televisi di Korsel. Sebagai Spesial Friend of Indonesia, Tae Jin A berkenan menjadi media promosi bersama anaknya Eru yang juga merupakan penyanyi muda cukup terkenal di Korsel dan Indonesia. Salah satunya ialah memasang photo keduanya di depan Kantor KBRI Seoul dengan tanpa biaya.

Lalu pada bulan Agustus 2014,  KBRI Seoul juga memberikan penghargaan Special Friend of Indonesia kepada putra Tae Jin A yang merupakan penyanyi Korea Selatan terkenal Eru karena telah banyak berperan dalam mempromosikan dan mempererat hubungan antara Indonesia dan Korea melalui pertukaran kebudayaan.

Selama tahun 2014 dalam rangka mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, selain kegiatan-kegiatan promosi rutin ada beberapa kegiatan besar yang dilakukan KBRI Seoul antara lain Open House Seoul yang  bekerjasama dengan pemda kota Seoul pada bulan Agustus 2014 dan Indonesia Food Festival yang bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif pada bulan Oktober 2014.

Selain acara diatas, KBRI Seoul juga mengadakan beberapa acara promosi budaya dengan bekerjasama dengan masyarakat Indonesia antara lain seperti acara One Indonesia Day bulan Agustus 2014 yang dihadiri oleh 5000 masyarakat Indonesia di Korea Selatan dan diperkirakan ada sekitar 1000 pengunjung warga Korea datang pada kegiatan tersebut, Indonesian Week di Kyunghee University bulan Juni 2014 yang diperkirakan dikunjungi oleh sekitar 500 pengunjung dan Indonesian Week pada bulan November 2014 di Seoul National University yang dikunjungi oleh lebih dari 1000 pengunjung.

Selain pertunjukan seni budaya dalam rangka mempromosikan Indonesia kepada masyarakat Korea Selatan, pada tahun 2014, Duta Besar RI juga memberikan kuliah umum mengenai Indonesia dibeberapa universitas terkemuka di Korea Selatan, yaitu antara lain di Kyung Hee University, Sookmyung Woman's University, Kyungsung University, Seoul National University (SNU) dan Korea Institute of Science and Technology (KIST). Pada setiap kuliah umum yang dilakukan selalu dipadati oleh dosen dan mahasiswa Korea yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Indonesia.

KETENAGA-KERJAAN

Korea Selatan sebagai negara industri memerlukan berbagai sumber daya, tidak hanya sumber daya alam yang sebagian diimpor karena sangat sedikitnya sumber daya alam Korsel, negara ini juga mendatangkan tenaga kerja asing untuk menjalankan mesin-mesin industrinya. Disamping kurangnya angkatan kerja yang tersedia, masyarakat Korsel yang sudah mempunyai tingkat kemakmuran yang tinggi umumnya kurang berminat untuk bekerja di sektor industri terutama bagian pekerjaan yang berkategori dangerous, dirty dan difficult (3D). Untuk memenuhi kebutuhan sektor industri yang sebagian besar adalah usaha kecil dan menengah maka dibukalah pintu masuk bagi tenaga kerja asing. Sampai saat ini terdapat 15 negara termasuk Indonesia yang mengirimkan tenaga kerjanya ke negeri ginseng ini.

Indonesia mulai mengirim TKI ke Korsel sejak tahun 1994 melalui mekanisme yang disebut Industrial Trainee Program. Disebut sebagai trainee karena waktu itu undang-undang ketenagakerjaan Korsel belum membolehkan tenaga kerja asing bekerja di Korsel. Baru tahun 2004 Korsel menerima secara resmi kehadiran tenaga kerja asing melalui skema EPS = Employment Permit System. Indonesia menandatangani MOU EPS dengan pihak Korsel 13 Juli 2004 untuk pengiriman TKI dengan format G to G. MOU ini sudah diperpanjang dua kali yaitu tahun 2008 dan 2012. Dibawah MOU ini, pengiriman dan penerimaanTKI dilakukan pemerintah Indonesia (BNP2 TKI) dan pemerintah Korsel (HRDK) sehingga tidak ada keterlibatan Pengerah Jasa TKI dalam pengiriman TKI ke Korsel sejak skema EPS yang G to G dijalankan.

Sampai akhir 2014 terdapat sekitar 35 ribu tenaga kerja Indonesia di Korsel. Kurangnya ketersediaan tenaga kerja lokal untuk jenis pekerjaan industri kecil menjadi peluang yang potensial bagi tenaga kerja asing. Korsel sedikitnya membutuhkan 100 ribua tenaga kerja asing setiap tahun. Setiap negara tidak dapat menyuplai tenaga kerja sebanyak-banyaknya ke Korsel karena adanya kuota bagi setiap negara yang ditetapkan oleh pemerintah Korsel. Indonesia mempunyai kuota sebesar 9000 orang setiap tahun.

Sebaliknya, saat ini terdapat sekitar 50 ribu warga negara Korsel di Indonesia dengan sekitar 2.500 perusahaan untuk segala ukuran. Saat ini warga Korea Selatan merupakan warga asing terbanyak di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, investasi Korsel di Indonesia meningkat pesat sehingga kini Korsel investor ketiga terbesar setelah Singapura dan Jepang.​



KBRI Seoul


Hotline Keadaan Darurat

static1


Surat Terbuka


static2


static3


Static7


static5


static4


APEC 2013

running1Hotline Kecelakaan Kapal Oryong 501running2running3running4
running6running7running8running9static6
Running12
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan