|
|
Berita Kemlu
Subak Diakui Sebagai Warisan Budaya Dunia
Minggu, 01 Juli 2012
Dalam Sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO yang diselenggarakan di Saint Petersburg, Rusia, (29/06), Lansekap budaya Subak Bali secara aklamasi diterima sebagai situs Warisan Budaya Dunia.
"Suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia dengan pengakuan dunia ini setelah melalui proses dan perjuangan selama 12 tahun", kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Wiendu Nuryati yang memimpin delegasi Indonesia dalam sidang tersebut.
Subak adalah salah satu dari 36 usulan situs alam, budaya, serta situs gabungan alam dan budaya yang dibahas dalam sidang tahunan yang berlangsung tanggal 24 Juni-6 Juli 2012 di Ibukota Rusia bagian utara. White night yang masih melintasi kota yang dibangun Peter I pada tahun 1703 turut menerangi jalan Indonesia mendapatkan pengakuan dunia atas Subak ini.
Sekitar 600 peserta plus ratusan observer dari negara 21 anggota Komite Warisan Dunia dan negara pihak Konvensi 1972 tentang Warisan Dunia, tidak ada yang menyatakan keberatannya.
Pada saat memasuki sesi pembahasan Indonesia, International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) yang merupakan salah satu Advisory Body UNESCO menyampaikan presentasi tantang Cultural Landscape of Bali Province : the Subak System as a manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy (CLBP). Semua peserta yang memenuhi ruang sidang menyimaknya dengan seksama.
Subak merupakan sebuah sistem pengaturan pengairan di dalam pertanian. UNESCO menilai subak tidak hanya terlihat dari kesuburan dan hijaunya hamparan persawahan teras sering, tetapi terkait kelestarian budaya asli masyarakat Bali.
Dikatakan bahwa sistem subak erat hubungannya dengan ajaran Hindu yang tertuang dalam Tri Hita Karana atau Tiga Sumber Kebaikan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan manusia.
Harmonisasi hubungan antara unsur-unsur tersebut diwujudkan secara turun-temurun melalui subak yang mengandung arti kepedulian, kebersamaan dan saling menghormati.
Setelah presentasi selesai, langsung saja sejumlah negara menyampaikan dukungannya. Melihat tidak ada yang mengajukan keberatan, ketua sidang mengetuk palu pertanda disetujui.
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruang sidang. Perasaan delegasi Indonesia yang sebelumnya terlihat sedikit tegang, berubah menjadi kegembiraan.
Delegasi Indonesia perwakilan pemerintah daerah Provinsi Bali, antara lain Bupati Badung Anak Agung Gde Raka dan Bupati Gianyar Cokorda Artha Ardana Sukawati yang memakai pakaian adat Bali berdiri sambil tepuk tangan yang mengundang perhatian peserta sidang. Ucapan selamat langsung mengalir dari para peserta sidang.
Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada peserta sidang, Wamendikbud bidang Kebudayaan mengucapkan terima kasih kepada segala pihak atas partisipasinya mendukung upaya nominasi ini. Budaya Subak adalah salah satu budaya kuno yang tetap terjaga dengan baik. Ditambahkan, terdapat 1.200 jaringan Subak di Bali yang terjaga sejak abad ke-19.
"Komitmen pemerintah Indonesia termasuk pemerintah dan masyarakat Bali untuk terus menjaga keutuhan situs ini sesuai ketentuan Konvensi 1972", ujar Wiendu Nuryati.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus Djauhari Oratmangun yang mendampingi delegasi Indonesia mengatakan pengakuan ini dapat lebih meningatkan citra Indonesia di fora internasional.
"Amanat ini harus dijaga dengan baik untuk kelestarian budaya bangsa. Masyarakat dunia akan turut menikmatinya dengan berwisata ke Indonesia", kata Djauhari Oratmangun. (Sumber: KBRI Moskow/Enjay Diana/Dit. Infomed)
|
|
|
 Gedung Kantor KBRI Santiago CHILE
|
|
|
|