Informasi Ketenagakerjaan di Yaman

12/15/2009

Pendahuluan


1. Terkait dengan migrasi, Yaman dikenal sebagai negara yang mengirimkan tenaga kerjanya. Sejumlah besar masyarakat Yaman telah berimigrasi ke luar negeri dalam beberapa periode dan keberadaan tenaga kerjanya di luar negeri adalah sumber utama pemasukan devisanya, semenjak naiknya harga minyak bumi pada dekade 1970’an. Sejak tahun 1990’an, Yaman berubah menjadi negara penerima tenaga kerja asing, yang tidak hanya terdiri dari para migran Yaman yang diusir dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk (Gulf Countries Club/ GCC) sebagai akibat invasi Irak ke Kuwait (pemerintah Yaman saat itu mendukung Irak), tetapi juga masuknya arus pengungsi dan para imigran dari negara-negara Tanduk Afrika (khususnya Ethopia dan Somalia) sebagai akibat gejolak politik di negara-negara asal. Jumlah pengungsi dan para migran dari Afrika yang ada di Yaman berkisar antara ratusan ribu orang.
 
2. Satu hal yang sedikit berbeda dengan negara-negara Teluk (GCC) yang sudah makmur dan memperkerjakan banyak pramuwisma asing, Yaman yang kondisi perekonomiannya belum semaju GCC, kalangan menengah dan atasnya juga memperkerjakan pramuwisma asing. Mengingat kaum wanita Yaman enggan dibayar menjadi pramuwisma, maka kaum migran serta pengungsi khususnya dari Afrika mengisi kesempatan itu sebagai pramuwisma. Di Yaman, pramuwisma asing umumnya berasal dari Somalia, Ethopia dan sebagian kecil negara-negara Asia (Filipina, Bangladesh dan Indonesia).

Sejarah Singkat Keterkaitan Yaman dengan Dunia Luar
3. Yaman terletak di ujung barat daya Semenanjung Arabia, berbatasan dengan Laut Merah, Teluk Aden dan Samudra India serta mengingat letaknya yang strategis telah menjadi jalur perdagangan dan migrasi sejak dahulu. Pada masa lalu, Yaman memainkan peran penting sebagai jalur perdagangan antara kawasan Mediterania dan kawasan Timur Jauh. Rombongan pedagang yang menaiki unta (camel caravans) membawa rempah-rempah, garam, tekstil dan berbagai produk lainnya dari India, China dan wilayah pantai timur Afrika ke kawasan Mediterania. Sementara kemenyan dan dupa (incense and myrrh) diperdagangkan dari Yaman dan Somalia.

4. Wilayah bekas Yaman Utara selama beberapa abad diperintah oleh para pemimpin keagamaan, diantaranya dibawah penguasa Imam Yahya (1904-1948) dan dibawah Imam Ahmad (1948-1962) – dua periode yang umumnya mengenal Yaman sebagai negeri yang terisolasi.

5. Kedua Imam secara sengaja “menutup” Yaman dari pengaruh negara-negara Barat untuk menjaga identitas budaya Yaman. Masyarakat Yaman tidak boleh berpergian ke luar negeri, pendidikan hanya terbatas pada sekolah-sekolah agama dan hubungan dengan pihak-pihak asing didasarkan pada hubungan kontrak dan hubungan dengan pemerintah ataupun perusahaan asing dihindari. Hanya sejumlah kecil orang Barat yang diperbolehkan masuk ke Yaman dan pergerakannya diawasi. Walaupun diterapkan politik isolasi oleh kedua Imam tersebut, jumlah orang Yaman yang berpergian atau belajar ke luar negeri meningkat.

6. Sejumlah pengusaha Yaman yang frustasi dengan situasi ekonomi-politik, berimigrasi ke Aden, Arab Saudi, Afrika Timur, Asia Tenggara, Inggris dan AS. Pada dekade 1970’an, beberapa dari mereka kembali ke Yaman yang diantaranya disebabkan perkembangan ekonomi-politik negara-negara yang selama ini mereka tinggali. Utamanya gerakan-gerakan kaum nasionalis yang berjuang untuk kemerdekaannya dan ada pula yang tertarik dengan perubahan politik yang terjadi di Yaman sendiri.

7. Berdirinya negara the People’s Democratic Republic of Yemen (PDRY) atau yang dikenal dengan Yaman Selatan pada 1967 dan the Yemen Arab Republic (YAR) atau Yaman Utara tahun 1970, menyebabkan peningkatan arus imigran dari kedua negara Yaman tersebut. Dengan adanya kenaikan pesat harga minyak bumi/ oil boom, muncul permintaan akan kebutuhan tenaga murah dan tidak trampil dari negara-negara Teluk/GCC dan banyak masyarakat Yaman mencoba keberuntungan.

8. Dalam periode singkat, masuknya devisa dari para tenaga kerja Yaman di luar negeri menjadi sumber pemasukan utama bagi kedua negara Yaman. Selain itu, kedua negara juga mendapatkan bantuan luar negeri – Yaman Selatan dari negara-negara sosialis (US dan Kuba) dan Yaman Utara dari negara-negara Barat dan AS. Walaupun kedua negara Yaman bergantung pada bantuan ekonomi luar negeri, tetapi masing-masing mengambil model pembangunan ekonomi-politik yang berbeda.

9. Yaman Selatan relatif berhasil memenuhi kebutuhan dalam negerinya (self-sufficient) dan mendidik tenaga-tenaga professional seperti insinyur, guru/tenaga pendidik, dosen dan tenaga-tenaga kesehatan. Sementara Yaman Utara “lebih bergantung” pada tenaga-tenaga profesional asing. Menurut peneliti Dresch, pada akhir dekade 1970’an terdapat sekitar 50.000 tenaga asing. Jaringan jalan raya utama dibangun oleh tenaga kerja China, mayoritas tenaga guru berasal dari Mesir dan Sudan, tenaga-tenaga kesehatan berasal dari India, Rusia atau dari negara-negara Arab.

10. Di Ethiopia, Sudan, Djibouti, dan Somalia saat pemerintahan nasionalis berkuasa, mereka mengubah peraturan yang tadinya “menguntungkan” hak-hak tenaga/ masyarakat asing seperti halnya dalam hak kepemilikan. Masyarakat asing yang umumnya adalah orang Yaman menjadi kehilangan kepemilikan hartanya dan beberapa diantaranya kembali ke Yaman. Dalam tahun 1970, terdapat sekitar 300.000 orang Yaman yang bekerja di negara-negara Teluk/GCC dan diakhir dekade 1970’an jumlahnya meningkat menjadi 800.000 orang (Paul Dresch, 2000, A History of Modern Yemen. Cambridge: Cambridge University Press).

11. Peneliti Carapico menyebutkan terdapat sekitar 20.000 tenaga asing asal Arab bekerja di Yaman Utara pada pertengahan dekade 1980’an, umumnya tenaga guru asal Mesir dan Sudan yang kadangkala dibayar oleh Arab Saudi untuk mengajarkan ilmu keagamaan. Dibandingkan melatih tenaga-tenaga profesional dan mengembangkan perekonomiannya, Yaman Utara sangat bergantung pada bantuan asing, tenaga-tenaga profesional asing dan barang-baranmg impor. Kerapuhan ekonomi ini semakin tampak saat krisis Teluk pecah, beberapa bulan setelah unifikasi antara Yaman Utara dan Yaman Selatan pada Mei 1990, Yaman menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan nenentang atas rencana opsi militer terhadap Irak yang menginvasi Kuwait (Sheila Carapico, 1998, Civil Society in Yemen: The Political Economy of Activism in Modern Arabia. Cambridge: Cambridge University Press).

12. Sebagai dampaknya, Arab Saudi dan negara-negara Teluk (GCC) mengubah kebijakan bermukim bagi masyarakat/orang-orang Yaman dan sekitar 800.000 orang Yaman diusir keluar. Pemerintahan yang berkuasa di Yaman (pasca unifikasi) kehilangan salah satu sumber devisanya, yakni remittances dari para tenaga kerja Yaman di luar negeri dan harus menanggung akibat kembalinya ratusan ribu orang Yaman dari luar negeri serta harus menyediakan bagi mereka, perumahan, pekerjaan, layanan kesehatan dan fasilitas pendidikan.

13. Krisis Teluk dan dampak kesulitan ekonomi yang menyertainya, menimbulkan ketegangan antara partai politik eks penguasa di Yaman Utara dan partai politik eks penguasa di Yaman Selatan. Tahun 1994, pecah perang saudara singkat dan Partai Sosialis (yang merupakan partai politik eks penguasa di Yaman Selatan) dapat dikalahkan dan terhapus dari panggung politik.

Kebijakan Pemerintah Yaman Terkait dengan Ketenagakerjaan
14. Situasi ekonomi pasca perang saudara sangat parah, utamanya akibat biaya perang tersebut dan naiknya harga minyak bumi di pasar internasional serta negara-negara donor Barat yang mengurungkan pemberian bantuan ekonominya. Selain juga umumnya tenaga-tenaga asing meninggalkan Yaman saat terjadinya perang saudara.

15. Dalam upaya memperbaiki kondisi perekonomian Yaman, Bank Dunia dan IMF memberlakukan structural adjustment programme pada 1995. Salah satunya adalah, devaluasi nilai tukar Yemeni Riyal, pencabutan subsidi terhadap barang kebutuhan pokok seperti tepung dan minyak serta “pembekuan” atas jumlah pegawai pemerintah. Kemudian, mulai dilakukan program Yemenisasi atas perekonomiannya – tenaga-tenaga guru asing diganti oleh orang Yaman dan mendorong diperkerjakannya tenaga Yaman pada bidang kesehatan.

16. Secara prinsip, masuknya tenaga-tenaga asing untuk bidang-bidang tertentu dibatasi seperti pada bidang konstruksi, keadministrasian, pertanian serta pemberian jasa. Alasannya adalah, tingkat pengangguran di Yaman relatif tinggi dan tenaga-tenaga asing tidak seharusnya mengisi jabatan/jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh orang Yaman. Untuk sektor pramuwisma tidak disebutkan secara jelas, tetapi secara resmi Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour) hanya mengijinkan bahwa permohonan bagi tenaga pramuwisma asing akan diberikan manakala  kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi dari tenaga pramuwisma perempuan Yaman.

17. Tingkat pengangguran di Yaman adalah sebesar 11,5% tahun 1999 dan meningkat menjadi 14,7% pada 2003 berdasarkan proyeksi dari Direktorat Jenderal Perencanaan Kependudukan, Kementerian Perencanaan dan Kerjasama Internasional.

18. Umumnya keluarga besar yang kaya dengan banyak anak yang kaum perempuan (istrinya) bekerja ataupun keluarga yang ada anggota keluarganya sakit/cacat, yang diperbolehkan menggunakan tenaga pramuwisma asing. Namun faktanya, banyak tenaga pramuwisma asing yang bekerja di Yaman baik yang mempunyai ataupun yang tidak mempunyai ijin dari Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan.

19. Kondisi ini yang membuat permintaan akan kebutuhan tenaga pramuwisma bagi keluarga kelas menengah dan atas Yaman di daerah perkotaan yang akhirnya diisi oleh tenaga pramuwisma asing yang umumnya berasal dari Somalia dan Ethiopia, serta ada juga yang berasal dari negara-negara Asia. 

Tenaga Pramuwisma asal Asia
20. Selain dari Ethiopia dan Somalia, tenaga kerja pramuwisma asal Asia juga mulai banyak bekerja sebagai tenaga pramuwisma walaupun jumlahnya masih dibawah yang berasal dari Ethiopia dan Somalia. Tenaga kerja pramuwisma asal Asia adalah dari Filipina dan Indonesia serta ada juga yang berasal dari India dan Srilanka.

21. Diluar dari komunitas Filipina di Yaman, diperkirakan ada sekitar 600 orang Filipina (separuhnya tinggal di Sana’a) yang mayoritas adalah perempuan dan bekerja di perkantoran dan sebagai tenaga pramuwisa. Tenaga kerja pria Filipina umumnya bekerja di kawasan industri/pabrik-pabrik yang berlokasi di luar Sana’a; ada pula tenaga Filipina yang bekerja sebagai perawat.


22. Pada masa lalu, cukup banyak yang menimpa mereka yang bekerja pada sektor informal/perumahan yang hak-haknya dilanggar, tetapi dewasa ini permasalahan yang dihadapi oleh tenaga pramuwisma Filipina adalah seperti mereka tidak mempunyai ijin tinggal dan tidak dapat kembali ke negerinya karena belum terdokumentasi/tidak melaporkan dirinya untuk beberapa waktu. Kepentingan masyarakat Filipina di Yaman diwakili oleh kedubesnya di Riyadh dan konsulatnya di Jeddah. Dalam kasus-kasus yang serius, perwakilan dari konsulat ataupun kedubesnya datang ke Yaman.

Tenaga Pramuwisma Indonesia
23. Dalam tahun-tahun terakhir, jumlah tenaga pramuwisma Indonesia ilegal cenderung bertambah. Data statistik tidak ada mengingat mereka datang ke Yaman menggunakan visa on arrival yang diuruskan oleh agen penempatan yang ilegal.

24. Kondisi perekonomian yang belum menentu di Indonesia “memaksa” kaum perempuannya untuk bekerja di luar negeri dan umumnya mereka memilih bekerja di negara-negara Muslim. Perantara/brokers di Indonesia melaksanakan operasinya di daerah pedesaan dengan mengatakan bahwa lebih mudah mendapatkan visa di Yaman daripada negara-negara Teluk (GCC). Tidaklah aneh bilamana kaum perempuan Indonesia tersebut akhirnya “terperangkap” bekerja di Yaman – negara yang sebenarnya bukan tujuan bekerja mereka. Walaupun dari mereka ada juga yang sebelumnya bekerja di negara-negara Teluk (GCC), bagi sebagian dari mereka, Yaman adalah negara pertama kalinya mereka bekerja di luar negeri.

25. Kaum perempuan Indonesia umunya bekerja pada sektor informal/perumahan sebagai pembersih, juru masak dan perawat bayi dan lansia (nannies) bagi masyarakat kelas menengah dengan gaji berkisar US$ 100.00 per bulan. Tenaga pramuwisma Indonesia umumnya hanya tamatan sekolah dasar dan kebanyakan tidak dapat berbahasa Inggris.

Lapangan Kerja yang Dimasuki oleh Tenaga Indonesia (diluar pramuwisma)
26. Saat ini terdapat sekitar 641 tenaga kerja Indonesia yang bekerja pada proyek pembangunan kilang LNG di daerah Balhaf (nama proyeknya adalah Yemen LNG Balhaf) dengan spesialisasi sebagai berikut:
• Skilled insulator, sheet metal fitter, planning engineering yang diberangkatkan oleh PT. Teras Teknik Perdana (perusahaan yang bergerak di bidang thermal insulation and refractory specialist).
• Foreman, fabricator, tinsmith dan insulator yang diberangkatkan oleh PT. Kaefer Krazu d/h PT. Krazu Nusantara (member of the Kaefer Group).

27. Kemudian, ada pula yang bekerja pada perusahaan Tanmia for Oil and Gas Construction Limited (salah satu perusahaan swasta di Yaman yang bergerak dibidang perminyakan, gas dan konstruksi) yang diberangkatkan oleh PT. Falah Rima Hudaity Bersaudara (PPTKIS yang terdaftar pada Depnakertrans dan BNP2TKI). 

28. Beberapa waktu lalu (sekitar tahun 2007 s/d 2008) terdapat 25 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Movenpick Sana’a Hotel sebagai bartender, waitress dan food and beverages (F/B) yang diberangkatkan oleh pihak di Indonesia. Dalam perjalanan kontrak, sebagian besar dari mereka tidak menyelesaikan kontrak ataupun tidak memperpanjang kontrak dengan alasan seperti: sikon di Sana’a (Yaman) tidak seperti gambaran semula, “rendahnya” gaji yang diterima dalam pengertian mereka hanya menerima gaji saja dan jarang menerima “tip” dari pengunjung sebagaimana bila bekerja di Indonesia ataupun di negara-negara GCC. Dewasa ini, jumlah yang bertahan hanya 3 orang. 

29. Terdapat empat teknisi perawatan pesawat terbang yang bekerja pada fasilitas pemeliharaan dan perawatan di Angkatan Udara Yaman dan mereka adalah teknisi dari PT. DI (Bandung).

30. Ada pula tenaga profesional Indonesia yang bekerja pada perusahaan internasional yang mempunyai cabangnya baik di Indonesia maupun di Yaman, seperti perusahaan Nabors Drilling International Limited, Yemen Medco Limited (saat ini belum melakukan kegiatan operasional).

31. Ada pula yang masuk bekerja di Yaman karena ditawarkan oleh (calon) majikan saat berkunjung ke Indonesia, diantaranya adalah tenaga montir pada bengkel di kota Aden. Namun, yang bersangkutan meminta pulang ke Indonesia dengan alasan tidak betah.

Bentuk Perjanjian dan Kerjasama
32. Dewasa ini belum ada perjanjian bilateral yang mengatur ketenagakerjaan antara Indonesia – Yaman dan Pemerintah Indonesia belum menetapkan Yaman sebagai negara tujuan bekerja mengingat masih rendahnya penggajian di Yaman.

33. Di KBRI sendiri telah disiapkan ruangan seadanya yang berfungsi sebagai shelter dengan kapasitas maksimal untuk sekitar 6 orang dan apabila dibandingkan dengan fasilitas serupa baik di KJRI HK SAR ataupun yang di KBRI Singapura, masih sederhana (hanya ada beberapa kasur, lemari kecil, satu kamar mandi dan kebutuhan pokok disediakan oleh KBRI meskipun tidak ada alokasi dana khusus untuk itu terutama dari Depnakertrans). Kadangkala guna mengurangi rasa kebosanan dan untuk mendapatkan penghasilan, mereka yang di shelter diminta membantu tugas-tugas kebersihan di kantor ataupun kegiatan lainnya di kantor (serta Wisma Keppri) dengan upah sekedarnya dan dilibatkan pada kegiatan olah raga.

34. Faktor keagamaan adalah alasan mengapa keluarga Yaman memperkerjakan tenaga pramuwisma Indonesia serta faktor lainnya adalah, semakin sulitnya memperkerjakan pramuwisma Ethiopia mengingat pemerintahnya memperketat aturan imigrasinya.

Keberangkatan Tenaga Asing Melalui Agen Penempatan
35. Salah satu jalur keberangkatan tenaga kerja asing ke Yaman adalah melalui agen penempatan. Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour) telah mengeluarkan ijin beroperasi bagi sejumlah agen penempatan.

36. Persyaratan bagi agen penempatan di Yaman untuk mendapatkan ijin beroperasi adalah, mempunyai dana simpanan sebesar satu juta Yemeni Riyal (5,719 US$) di bank yang dibuktikan dengan bank statement; harus terdaftar di Kamar Dagang Yaman/Yemeni Chamber of Commerce; mempunyai kantor resmi (dibuktikan dengan surat kontrak bangunan/ ruang; memberikan copy identitas diri dari pemilik agen penempatan dan keterangan pribadi lainnya.

37. Sampai Januari 2006, hanya ada satu agen penempatan yang diberikan ijin untuk mendatangkan pramuwisma asing ke Yaman dan agen ini menggunakan mitranya di Addis Ababa untuk merekrut pramuwisma asal Ethiopia. Namun kantor mitranya ini ditutup tahun 2005 karena mengutip uang dari para perempuan yang akan bekerja sebagai pramuwisma yang besarannya melanggar peraturan setempat.

38. Pertengahan Januari 2006, pemilik agen penempatannya yang di Yaman ditangkap dan dipenjara karena memperkosa pramuwisma Ethiopia yang datang ke Yaman melalui kantornya. Pemilik agen ditangkap dan dipenjara setelah adanya laporan dari kedubes Ethiopia di Sana’a. Kemudian, Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour), Kementerian dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri diberitahukan dan perkaranya dilimpahkan ke pengadilan yang memberikan putusan bahwa agen penempatan tersebut dicabut ijin operasinya.

39. Sejumlah agen penempatan beroperasi tanpa ijin dari Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour) dan salah satu penyebabnya adalah, besaran dana simpanan sebesar satu juta Yemeni Riyal (5,719 US$) di bank yang dibuktikan dengan bank statement yang berfungsi sebagai jaminan manakala terjadi konflik/kesulitan keuangan. Namun ada juga agen penempatan yang memilih tidak mendaftarkan diri karena jikalau terdaftar akan membuat kemampuan kontrol pemerintah semakin luas atas segala aktivitasnya.

40. Beberapa agen penempatan juga melanggar HAM dari para pramuwisma asingnya dengan menahan mereka, memegang paspornya, melakukan pembatasan ruang geraknya, menunda waktu pembayaran gajinya dengan alasan pihak majikan harus membayar hutangnya (“debt bondage”).

41. Fakta bahwa agen penempatan menahan passpor pramuwisma asingnya membuat para wanita ini menjadi semakin “bergantung” pada agen penempatan. Sejumlah kasus ini kerap dilaporkan kepada kedutaannya, pihak kepolisian maupun pada Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour), tetapi jarang yang dipublikasikan di media massa.

42. Saat ini hanya ada satu organisasi yang membela/memperjuangkan HAM dari para pramuwisma asing, yakni UNIDOM (United for the Improvement of Domestic Work) yang dibentuk atas dukungan finansial dari UNIFEM (United Nations Development Fund for Women) yang bertujuan memberikan bantuan keuangan dan teknis terhadap program-program dan strategi yang bersifat inovasi untuk membantu penguatan kaum perempuan dan persamaan gender.  Namun demikian, UNIDOM masih baru dan kekurangan SDM serta fasilitas penunjang guna membantu penyelesaian kasus-kasus pramuwisma asing dalam skala besar.

43. Umumnya pramuwisma Ethiopia dan Indonesia merupakan korban dari perekrutan ilegal yang dilakukan oleh agen penempatan. Mengingat mereka hanya bertemu dengan perantara/broker di negara asalnya yang meyakinkan mereka akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang menarik di Yaman.

44. Mereka umumnya mengetahui bahwa akan bekerja sebagai pramuwisma, namun kadangkala tidak diinfokan bagaimana mereka akan diperkerjakan, tugas/kewajibannya apa saja, beban kerjanya seperti apa dan besaran gaji yang akan diperolehnya. Dalam beberapa kasus, perantara/broker itu berbohong mengenai gaji yang akan diterimanya ataupun tidak memberitahukan kepada mereka berapa nilai tukar 1 Yemeni Riyal (YR) terhadap US$ 1.00 

45. Selain itu, mereka yang datang melalui agen penempatan yang ilegal harus membayar biaya rekruitmen yang bila dipukul rata mencapai US$ 200.00 s/d US$ 400.00. Masuk akal bilamana mereka meminjam uang dari keluarga, teman di negara asalnya atau meminjam dari perantara/broker yang berakibat tertundanya mereka menerima gaji (karena harus dipotong terlebih dahulu). Prosedur birokrasi terkait dengan arus migrasi legal ini memakan waktu lama dari para calon pramuwisma asing dan acapkali mereka memilih jalur tidak resmi/traffickers, walaupun memakan biaya yang lebih besar.

46. Calon pramuwisma asing yang memilih jalur resmi hanya membayar biaya pengeluaran paspor dan biaya tes kesehatan, sementara yang memilih jalur tidak resmi/traffickers harus membayar lebih mahal (kadangkala walaupun sudah membayar mahal, tetapi proses migrasinya berjalan lamban).

47. Pada 27 Juli 2005, Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour), telah mengeluarkan pengumuman di harian Al-Thawra, nama agen penempatan resmi yang berjumlah 15 buah untuk segera memperpanjang ijin beroperasinya. Namun, sebagaimana disebut diatas, hanya satu agen penempatan yang memperpanjang dan tetap mendatangkan calon pramuwisma asing ke Yaman. Sementara agen penempatan lainnya memfokuskan pada perekrutan orang Yaman untuk bekerja di luar negeri (Arab Saudi dan GCC).

48. Dewasa ini, tidak ada agen penempatan yang diakui secara resmi oleh Pemerintah Yaman untuk mendatangkan tenaga kerja asing. Namun faktanya jumlah tenaga asing yang masuk ke Yaman jumlahnya terus bertambah.

49. Pemerintah Yaman masih sedikit mencurahkan perhatian terhadap permasalahan perekrutan tenaga kerja/pramuwisma asing ataupun atas sepak terjang agen penempatan yang merekrut calon pramuwisma asing secara ilegal, mengingat “adanya” kepentingan politis dan keuangan. Bagian Urusan wanita pada Kementerian Urusan Sosial dan Perburuhan (Ministry of Social Affairs and Labour), yang secara teknis dan keuangan didukung oleh the International Labour, telah memasukkan masalah pramuwisma asing ke dalam rencana kerjanya, tetapi harus melangkah hati-hati untuk menciptakan kemamuan politik pada pemerintah Yaman.