Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2014

5/20/2014

 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saudara-saudaraku, para staf KBRI, DWP, dan Warga masyarakat Indonesia yang saya hormati,

 

Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Rahman dan Rahim, yang atas rahmat dan karunia-Nya, pada hari ini kita dapat memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-106 pada tahun 2014.

 

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2014 ini tentu saja tidak lepas dari gegap gempitanya suasana politik di tanah air akhir-akhir ini. Kita baru saja menyelesaikan amanat undang-undang untuk melaksanakan Pemilihan Umum legislatif,  dan segera mempersiapkan diri untuk penyelenggaraan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada bulan Juli yang akan datang. Suasana di tanah air, kemarin dan hari ini, diwarnai dengan deklarasi dan pendaftaran para calon Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Dari laporan media, kita melihat bahwa para calon tersebut bertekad untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih oleh rakyat Indonesia nanti, akan mengisi rantai kepemimpinan bangsa Indonesia, yang telah terjalin sejak masa kemerdekan, bahkan sejak era Kebangkitan Nasional pada tahun 1908.

 

Pada tahun 2014 ini, sudah lebih dari seratus tahun berproses dalam kesadaran kita, untuk menjadi bangsa yang berdaulat, menjadi bangsa yang memiliki jati diri ditengah-tengah kehidupan masyarakat antar bangsa. Momentum peringatan kebangkitan Nasional adalah kesempatan kita untuk menyegarkan kembali semangat dan cita-cita kita untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

 

Menteri Kominfo RI, selaku Ketua Panitia Nasional peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-106 pada tahun 2014 ini menyampaikan pidato tertulis yang dikirimkan kepada seluruh warga Negara Indonesia, termasuk kepada kita semua yang sedang berada di luar negeri. Untuk itu perkenankan saya menyampaikan intisari pidato tersebut.

 

Saudara-saudaraku, para peserta upacara yang saya hormati,

 

Sejalan dengan semangat dan jiwa kebangkitan nasional, Panitia Nasional menetapkan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-106 tahun 2014 ini mengambil tema "MAKNAI KEBANGKITAN NASIONAL MELALUI KERJA NYATA DALAM SUASANA KEHARMONISAN DAN KEMAJEMUKAN BANGSA".

 

Tema ini mengandung tiga makna yang sekaligus menjadi ukuran sejauh mana nilai-nilai kebangsaan terwujud dalam kinerja dan kehidupan kita.

 

Pertama, makna dari semangat kebangsaan lebih merupakan tuntutan  bagaimana kita mengejawantahkan semangat perjuangan para pahlawan bangsa ke dalam pola pikir, pola sikap dan perilaku yang selaras dengan tuntutan dan perubahan zaman, dalam bentuk kerja yang nyata. Mungkin ini selaras dengan ayat Al Quran yang menegaskan :

 

?????? ????????? ????????? ??????? ?????????? ??????????? ???????????????

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu”

(QS: At Taubah :105)

 

Kedua, kerja keras kita, harus selalu berlandaskan semangat demi menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semangat Kebangsaan terbangun bukan dari perilaku saling menyalahkan, apalagi untuk saling menyingkirkan. Akan tetapi, kekuatan kebangsaan tersemai dalam keselarasan dari kekuatan yang telah kita miliki. Dengan demikian ukuran kinerja kita dihitung sejauh mana hasil pekerjaan kita mampu memberikan kekuatan bagi terbangunnya suasana keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

Ketiga, suasana yang harmonis perlu diperjuangkan secara sungguh-sungguh karena Indonesia adalah  sebuah Negara yang bercirikan keberagaman. Oleh karena itu ukuran kinerja kita juga dihitung dari bagaimana perbedaan yang ada dapat terkelola menjadi kekuatan yang hebat. Itulah niat mulia, yang menjadi landasan semangat kebangkitan Nasional dan semangat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, yaitu untuk menyatukan perbedaan-perbedaan, karena Indonesia adalah  Negara yang kaya akan keberagaman; etnis, suku, budaya, dan agama.

 

Meski demikian tidak dipungkiri bahwa  dalam kenyataan kehidupan kita, upaya untuk mempertahankan keharmonisan ditengah kemajemukan tidak lepas dari berbagai tantangan. Bentuk-bentuk sekat pemisah, sikap yang membedakan antara "We and Them", “Nahnu wa Hum”,  kita dan mereka” adalah pola pikir dan perilaku yang dapat membahayakan semangat kebersamaan dan persatuan kebangsaan kita.

 

Oleh karena itu, dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2014 ini, kita perlu terus tingkatkan semangat untuk berani melakukan evaluasi diri, semangat untuk memperkuat memperkuat komitmen dalam membangun Indonesia kedepan yang lebih baik.

 

Bagi kita semua yang sedang berada jauh dari tanah air, sekali lagi, mari kita maknai peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini dengan karya nyata yang dilandasi semangat kebangsaandengan tetap mengutamakan keharmonisan suasana ditengah kemajemukan elemen elemen pendukung bangsa Indonesia.

 

Terimakasih.

Wabillaahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

 

Sana’a, 20 Mei 2014