Krisis Kemanusiaan Afrika Utara: Evakuasi WNI via Malta

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sekretaris I Protokol dan Konsuler, June Kuncoro Hadiningrat, memfasilitasi keberangkatan pulang ke tanah air keenam pelaut di bandara udara Malta, Luqa.
 
KBRI Roma, bekerjasama dengan KBRI Tunisia dan Konsul Kehormatan RI di Malta, telah berhasil menghindari 6 pelayar asal Indonesia berlayar menuju kawasan rawan konflik di perairan Afrika Utara. Kapal FV Entisar (Libya-Malta) dimana mereka saat itu bekerja merupakan kapal pemasok minyak yang telah dialih fungsikan menjadi kapal pemasok obat-obatan (yang diperuntukkan bagi korban sipil / pengungsi di perbatasan antara Libya dan Tunisia) setelah intensitas perdagangan bahan bakar antara Libya dan Malta melemah akibat dari krisis internal di Libya.
 
Keenam pelayar adalah: Sdr. Macfud, asal Madura; Sdr. Ridwan Sirait, asal Bali; Sdr. Andri Wijaya asal Banyumas; Sdr. Dwi Tangwun Agustani, asal Pemalang; Sdr. Rahman asal Cirebon; dan Sdr. Sunanto asal Indramayu.
 
Sebelumnya, pada tanggal 16 Maret 2011, dalam suatu misi kemanusiaan dimana FV Entisar mendekati perairan Misurata (Libya) guna membawa obat-obatan atas pesanan sebuah perusahaan swasta Malta untuk diberikan kepada masyarakat Libya, FV Entisar dihadang oleh kapal militer dan tidak diizinkan berlabuh karena kondisi Libya masih konflik/perang. Kapal FV Entisar akhirnya meninggalkan perairan Libya dan tiba di pelabuhan Valletta, Malta, pada tanggal 18 Maret 2011.
 
Kondisi pelayaran masuk ke kawasan Libya dan docking di pelabuhan Libya sangat tidak kondusif terhadap keselamatan awak kapal, dan atas dasar itu – diiringi dengan pengalaman sebelumnya berlayar mengantar obat-obatan ke perairan Libya – keenam awak kapal dari Indonesia menghubungi pihak perwakilan RI di Roma guna menyampaikan bahwa mereka khawatir keselamatan diri mereka terancam seandainya kapal kembali berlayar ke perairan Libya.
 
Informasi awal yang diterima oleh KBRI Roma pada tanggal 19 Maret 2011 setelah berbicara dengan wakil pemilik kapal FV Entisar adalah kapal  tidak akan berlayar ke Libya sampai kondisi negara tersebut aman. Namun, pada keesokan harinya tanggal 20 Maret 2011 pukul 12.00, KBRI Roma menerima informasi tiba-tiba dari Sdr. Dwi Tangwun Agustani bahwa kapal dipaksa melaut pada hari tersebut. Melihat kondisi ini, KBRI Roma akhirnya menyarankan para kru kapal untuk meninggalkan kapal demi keselamatan mereka dan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Konsul Kehormatan RI di Malta.
 
Setelah perundingan Konhor RI Malta dengan pemilik kapal dan agen kapal Malta, para awak kapal Indonesia diperkenankan keluar kapal dan dengan persetujuan imigrasi Malta dapat menuju daratan untuk diurus kepulangannya ke Indonesia oleh KBRI Roma. Para pelayar berangkat dari Malta pada tanggal 21 Maret 2011, dan tiba di Jakarta via Dubai pada tanggal 22 Maret 2011.