KERIS DIBAHAS DI MILAN, ITALIA

11/16/2013

Keris, yang merupakan warisan budaya dunia dari Indonesia, telah menjadi topik bahasan hangat oleh lebih dari tujuh puluh orang kolektor dan pecinta keris dalam sebuah seminar bertempat di Museum Seni dan Ilmu Pengetahuan Milan, Italia (14/11 malam). Dengan tema “Tidak Hanya Sekedar Senjata – Sekala, Dunia Nyata Keris”, seminar telah menghadirkan dua kolektor keris kondang di Italia sebagai pembicara yaitu Dr. Sandro Forgiarini dan Dr. Marco Noris. “Keris itu unik, hanya ada di Indonesia.”, demikian Dr. Sandro Forgiarini seorang dokter forensik, mengawali paparannya menguraikan proses pembuatan keris oleh seorang empu. Kemudian Dr. Marco Noris mengulas mengenai penyebaran keris di wilayah nusantara serta karakteristik khusus dari hulu (pegangan keris) dan warangka (sarung keris) dari tiap-tiap daerah di Indonesia. 


Seminar ini menjadi lebih berbobot karena menghadirkan kurator dan kolektor keris ternama dari Perancis, Dr. Jean Greffioz, pengarang buku Kris: the Passion of Indonesia. Dalam ulasannya, yang bersangkutan menyatakan bahwa keris telah diakui dunia dan pada masa sekarang pembuatannya pun masih menggunakan cara-cara yang sangat tradisional. Lebih lanjut yang bersangkutan menjelaskan bahwa bentuk dan karakteristik keris dapat menunjukkan dari daerah mana keris itu berasal.


Wakil Duta Besar Republik Indonesia di Roma, Priyo Iswanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bentuk kontribusi nyata bagi para pecinta keris untuk membangkitkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian keris sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia dan para empu di Indonesia akan merasa sangat terhormat dengan adanya seminar ini. 


Seminar tentang keris ini akan dibahas lagi pada seminar berikutnya tanggal 24 bulan ini di tempat yang sama dengan menghadirkan pembicara dan kurator yang berbeda. Seminar ini terlaksana atas kerjasama antara Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma, Pusat Kebudayaan Italia-Asia, dan Museum Seni dan Ilmu di Milan, dengan penggerak utama Dr. Vanna Scholari, seorang kolektor dan penulis benda-benda seni Indonesia di Italia. 


Sumber: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.