Indonesia tekankan pentingnya konektifitas Asia-Eropa pada KTT ASEM ke-10

10/17/2014

?

Empat puluh satu Kepala Negara  Asia Eropa hadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Europe Meeting ke-10 (KTT ASEM10) di Milan tanggal16-17 Oktober 2014, termasuk mitra ASEM yang baru yaitu Kazakhstan dan Kroasia. Pertemuan dihadiri oleh Perdana Menteri Italia, Matteo Renzi, sebagai tuan rumah KTT ASEM10.
 
KTT ASEM tahun ini mengangkat tema Responsible Partnership for Sustainable Growth and Security. KTT dibuka secara resmi dan dipimpin oleh Presiden Dewan Eropa, Herman van Rompuy. Presiden Dewan Eropa dalam pembukaannya menyampaikan, “saat ini Asia dan Eropaperlu memperkuat dialog dan kerja sama, khususnya terkait konflik di Ukraina, Afrika dan Timur Tengah yang dampaknya mulai dirasakan oleh dunia internasional.” Disampaikan lebih lanjut oleh Rompuy, “Eropa sendiri masih menghadapi banyak tantangan setelah diterpa krisis keuangan. Eropa terus berjuang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi pengangguran.”
 
KTT ASEM10 telah menghasilkan Chair’s Statement yang berisi hasil pembahasan para Kepala Negara/Pemerintahan. Pada KTT ASEM10 dibahas mengenai upaya peningkatan kerja sama untuk memperkuat konektivitas Asia dan Eropa, peningkatan kemitraan Asia-Eropa dalam menghadapi berbagai tantangan global, peningkatan kerja sama di bidang ketenagakerjaan,pendidikan, serta sosial dan budaya.
 
Para Kepala Negara/Pemerintahan mitra ASEM membahas upaya-upaya kerja sama untuk mengatasi ancaman keamanan tradisional dan non-tradisional, kerja sama untuk menanggulangi penyebaran penyakit menular Ebola, dan membahas perkembangan-perkembangan di Eropa, Asia, dan Timur Tengah.
 
Duta Besar Dian Triansyah Djani, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, selaku Ketua Delegasi RI, menekankan "pentingnya kemitraan antara Asia dan Eropa dalam mengahadapi tantangan dunia dewasa ini termasuk tantangan pembangunan dan pencapaian kemakmuran bersama". Disampaikan perlunya bekerjasama untuk, antara lain, agenda pembangunan paska 2015 yang perlu memberikan perhatian pada upaya pengentasan kemiskinan dan human development; perlunya menindaklanjuti hasil paket Bali pada Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-9 di Bali dan perlindungan terhadap pekerja migran; perlunya komitmen dalam pengurangan emisi gas rumah kaca; kerja sama dalam pencegahan penyakit menular, khususnya ebola; menangani krisis di Timur Tengah, dan memajukan kerja sama bi-regional ASEM untuk meningkatkan konektivitas Asia dan Eropa.
 
ASEM merupakan forum dialog dan kerja sama antara Asia dan Eropa yang dibentuk pada tahun 1996. Pada saat ini ASEM terdiri dari 53 mitra dari kawasan Asia dan Eropa, termasuk 2 (dua)institusi regional yaitu Sekretariat ASEAN dan Uni Eropa. Kedua kawasan ini mewakili sekitar50% Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dunia, 60% populasi dunia, dan 60% perdagangan internasional.
 
Pertemuan berikutnya KTT ASEM ke-11 akan diselenggarakan di Mongolia pada tahun 2016.