Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta PM Thailand, PM Vietnam, dan PM Laos, menjadi panelis utama dalam sesi pembukaan World Economic Forum on East Asia (WEFEA) di Bangkok (31/05). Dalam paparannya, Presiden Yudhoyono menyorot masa depan kawasan Asia Tenggara.
"Masa depan Asia Tenggara yang ingin dituju adalah suatu kawasan yang damai dan stabil serta pertumbuhan ekonomi yang kuat. Dari kondisi tersebut, akan tercipta harmoni dan persahabatan antarperadaban," papar Presiden Yudhoyono.
Presiden Yudhoyono menekankan pula bahwa konektivitas yang ingin dibangun tentunya harus memiliki pengaruh nyata pada penguatan ketiga sasaran tersebut.
“Konektivitas tersebut melingkupi dua arsitektur utama di kawasan, yakni ASEAN dan East Asia Summit,” tegasnya.
Terkait pidato Presiden Yudhoyono, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Dr. Teuku Faizasyah menyatakan sambutan Presiden di hadapan peserta forum WEFEA, telah memberikan konteks yang tepat terkait sasaran yang ingin dicapai melalui pembangunan konektivitas di kawasan ASEAN dan di kawasan yang lebih luas, yakni East Asia Summit.
“Ketiga sasaran tersebut adalah, suatu kawasan yang damai dan stabil; kawasan yang mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan terciptanya harmoni dan persahabatan antarperadaban,” tutur Faizasyah kepada Portal Kemlu.
Ditambahkan Faizasya, Presiden Yudhoyono memanfaatkan kesempatan berbicara di forum tersebut untuk mengundang partisipasi investor asing, utamanya para CEO peserta WEFEA, dalam MP3EI yang merupakan upaya mempercepat pembangunan dan konektivitas di Indonesia.
Dalam panel diskusi WEFEA yang dipimpin oleh Profesor Klaus Schwab, Indonesia ditempatkan pada posisi yang khusus di forum ini, karena merupakan satu-satunya anggota ASEAN yang menjadi anggota G-20.
Panel diskusi tersebut dihadiri oleh para CEO utama dunia, pejabat pemerintah di Asia Pasifik, dan kalangan media massa.
WEFEA yang kali ini bertema besar “Shaping the Region’s Future through Connectivity”.(sumber: SKHI/PY/Yo2k)