Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

PELAYANAN KEKONSULERAN & KETENAGAKERJAAN KBRI RIYADH DI WILAYAH UTARA, 26-28 FEB 2015. Al-Jouf (CP: Ahmad Syarifuddin-0503079194) - Ar'ar (CP: Kuwat-0552458045) - Ha'il (CP: Ali-0506998391)     |       Kaleidoskop KBRI Riyadh 2014 (Pdf-Web)     |       PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN     |       Jenis & tarif atas jenis PNBP yang berlaku pada KBRI Riyadh Tahun 2014     |       HIMBAUAN DAN SOSIALISASI TENTANG HUKUMAN BAGI PELAKU PEMBUNUHAN SECARA GHILLAH DI KERAJAAN ARAB SAUDI (Click Disini)     |       MOHON MENJADI PERHATIAN : DENDA DAN HUKUMAN BAGI PEKERJA ASING ILLEGAL DAN MAJIKAN YANG MEMPERKERJAKANNYA DIPERBERAT (Click disini)     |       EDARAN LARANGAN BERKERUMUN DAN BERKUMPUL (Click Disini)     |       

Profil Negara dan Kerjasama

Arab Saudi

  1. BACKGROUND INFORMATION

    HUBUNGAN BILATERAL RI – KERAJAAN ARAB SAUDI

     

    I.          PETA NEGARA

     

    Description: http://geology.com/world/world-map.gif 

     

     

    II.         DATA UTAMA KERAJAAN ARAB SAUDI

    Nama Negara         

    Kerajaan Arab Saudi/ Kingdom of Saudi Arabia/Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Saudiyah

    Ibukota Negara      

    Riyadh

    Kepala Negara       

    Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud

    Perdana Menteri

    Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud

    Menteri Luar Negeri

    Pangeran Saud Al-Faisal

    Luas Wilayah

    2.149.690  km2

    Penduduk

    27.345.986 jiwa

    Mata Uang

    Riyal

    GDP

    US $ 852,1 milyar (2011), US $ 895,8 milyar (2012), US $ 927,8 milyar (2013)

    GDP per kapita (PPP)

    US$ 30,000 (2011), US$ 30,900 (2012), US$ 31,300 (2013)

    Pertumbuhan Ekonomi

    8,6 % (2011), 5,1% (2012), 3,6% (2013)

     

    III.       HUBUNGAN BILATERAL RI – KERAJAAN ARAB SAUDI

     

    Hubungan Diplomatik

    :

    Mulai 1 Mei 1950

    Perwakilan Diplomatik            

    :

    ·       Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk RI,  Mustafa Ibrahim Al-Mubarak

    ·       Duta Besar RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Abdurrahman Muhammad Fachir  (25 Maret 2014)

    Data Perdagangan RI – KAS

    (Sumber : Kemdag RI)

    :

    Tahun       Ekspor           Impor          Total

    2011         1.430.126      5.426.593    6.856.719

    2012         1.776.507      5. 199.395   6.975.902

    2013         1.734.017     6.526.424   8. 260.441

    Surplus (+)/Defisit (-) (RI)

    (-) 3.996.467

    (-) 3.422.888

    (-) 4.792.407

    Ekspor Utama RI ke Arab Saudi (2013)

    :

    HS. 87 : Vehicles other than railway, tramway

    HS. 15 : Animal, vegetable fats and oils, cleavage products, etc

    HS. 44 : Wood and articles of wood, wood charcoal

    HS. 48 : Paper and paperboard, articles of pulp, paper and board

    HS. 40 : Rubber and articles thereof

    HS. 16 : Meat, fish and seafood food preparations nes

    HS. 54 : Manmade filaments

    HS. 39 : Plastics and articles thereof

    HS. 21 : Miscellaneous edible preparations

    HS. 73 : Articles of iron or steel

    Impor Utama RI dari Arab Saudi (2013, berurut dari nilai impor terbesar ke nilai lebih kecil)

    :

    HS. 27 : Mineral fuels, oils, distillation products, etc

    HS. 29 : Organic Chemicals

    HS. 39 : Plastics and articles threof

    HS. 38 : Miscellaneous chemical Products

    HS. 83 : Miscellaneous articles of base metal

    HS. 54 : Manmade filaments

    HS. 47 : Pulp of wood, fibrous cellulosic material, waste etc

    HS. 56 : Wadding, felt, nonwovens, yarns, twine, cordage, etc

    HS. 31 : Fertilizers

    HS. 76 : Alumunium and articles thereof

    Investasi Langsung (FDI) Arab Saudi ke Indonesia

     

    :

    Investasi Saudi saat ini di Indonesia telah lebih dari US $ 40 milyar. Diantaranya kilang minyak dan petrokimia di Tuban (US$ 30 milyar), Proyek pertambangan industri marmer di Sulawesi Selatan (US$ 10 milyar), Proyek Air Minum “Moya Saudiah” di Makassar (US$ 200 juta).

    Investasi Langsung (FDI) Indonesia ke Arab Saudi 

    :

    Pengolahan pangan (instant noodles) dengan nilai investasi sekitar US$ 3.000.000,00 dan beberapa sub proyek yang dilakukan oleh perusahaan jasa konstruksi dan perusahaan electromechanical and engineering.

    Jumlah WNI : 866.663

    (data KBRI per  31 Agustus 2014)

    :

    Wilayah Kerja KBRI Riyadh

    336.434 orang, dengan perincian Mahasiswa  (978), Profesional (142), TKI formal (2.909), TKI informal (254.245), sektor jasa (916), keluarga KBRI (282) dan lain-lain (ABK, rohaniawan, kewarganegaraan ganda terbatas)

    Wilayah Kerja KJRI Jeddah

    530.229 orang, dengan perincian Mahasiswa (1.861),  Profesional (437), TKI formal (51), TKI Informal (519.400), Sektor Jasa (63), Keluarga KJRI Jeddah (77)

     

     

    IV.        HUBUNGAN PERDAGANGAN ARAB SAUDI DENGAN ASEAN (2013)*

     

    Rank

    Partner

    Impor

    Ekspor

    Total

    1

    Singapura

    12.857.969

    1.236.885

    14.094.854

    2

    Thailand

      8.405.097

    2.980.553

    11.385.650

    3

    Indonesia

    6.526.424

    1.734.017

    8.260.441

    4

    Malaysia

    1.977.410

    1.082.526

    3.059.936

    5

    Filipina

    2.866.457

    1.082.526

    2.946.538

    5

    Vietnam

    886.534

    599.066

    1.485.600

    6

    Brunei Darussalam

    1.710

    311

    2.021

    7

    Kamboja

    3.984

    537

    4.521

    8

    Myanmar

    n.a

    n.a

    n.a

    9

    Laos

    n.a.

    n.a.

    n.a.

    *sumber: ITC calculation based on UN COMTRADE

     

    V.          PERKEMBANGAN DALAM NEGERI ARAB SAUDI

     

    Situasi Dalam Negeri ARAB SAUDI

     

    Politik dan Hankam

     

    Arab Saudi adalah monarki didasarkan pada Islam. Pemerintah dipimpin oleh Raja, yang juga merangkap sebagai Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi Militer. Raja menunjuk Putera Mahkota untuk membantu melaksanakan tugas-tugasnya. Putera Mahkota adalah posisi kedua dalam urutan tahta. Hingga kini Kedudukan Raja dan Putera Mahkota masih dipegang oleh kalangan generasi pertama dari keturunan Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud. Dalam sistem politik di Arab Saudi tidak dikenal adanya partai politik, karena menganut sistem monarki absolut.

     

    Arab Saudi adalah negara besar di kawasan Timur Tengah yang memiliki peran penting, baik di lingkungan regional maupun internasional, dengan kenyataan bahwa di negara ini terdapat dua kota suci umat Islam, yaitu Mekkah dan Madinah. Kondisi inilah yang kemudian membuat Arab Saudi mendapat tempat istimewa dan memiliki kekuatan posisi tawar di lingkungan regional maupun internasional.

     

    Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud adalah raja ke-6, yang lahir di Riyadh pada tanggal 1 Agustus 1924, dan menduduki tahta sejak  tanggal 1 Agustus 2005. Putera Mahkota Pangeran Salman bin Abdulaziz Al Saud lahir di Riyadh pada tanggal 31 Desember 1935 dan naik tahta sejak tanggal 18 Juni 2012. Figur Pangeran Salman bin Abdulaziz Al Saud sangat identik dengan jabatan Gubernur Propinsi Al Riyadh, yang diemban sejak tanggal 25 Februari 1963 hingga tanggal 5 November 2011. Pada tanggal 5 November 2011, Pangeran Salman bin Abdulaziz Al Saud dilantik sebagai Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

     

    Kabinet terdiri Dewan Menteri yang membantu pelaksanaan tugas-tugas Raja. Terdapat sebanyak 22 (dua puluh dua) kementerian pemerintah yang merupakan bagian dari Kabinet. Dalam pelaksanaan tugasnya Raja ini juga mendapat masukan dari badan legislatif, yang disebut Dewan Konsultasi (Majlis Al Shoura). Salah satu tugas Dewan adalah mengusulkan undang-undang baru dan menghapuskan yang lama. Dewan terdiri dari 150 anggota yang ditunjuk oleh Raja untuk masa kerja empat tahun dan dapat diperbaharui.

     

    Negara ini dibagi menjadi 13 (tiga belas) propinsi, dengan dikepalai oleh gubernur dan wakil gubernur. Setiap propinsi memiliki dewan sendiri yang bertugas memberikan saran dan masukan kepada gubernur serta ikut berpartisipasi dalam pembangunan daerah.

     

    Pada tanggal 23 September 1932, Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud meletakkan dasar dari Kerajaan Arab Saudi modern. Ditemukannya ladang minyak di Arab Saudi adalah suatu mukjizat yang telah merubah wajah Arab dari suatu negeri padang pasir tandus tak terjamah menjadi sebuah negara kaya yang memainkan peranan penting bagi perekonomian dunia. Arab saudi adalah negara yang memiliki 20% kekeyaan simpanan minyak dunia, atau diperkirakan sebesar + 250 milyar barrel.  Hasil produksi minyak merupakan 80% sumber pemasukan utama Arab Saudi. Pada tahun 2010, produksi minyak Arab Saudi mencapai hingga 12 juta barrel/hari. Disamping minyak, Arab Saudi diperkirakan memiliki simpanan cadangan gas bumi sebesar + 270 trilyun kaki kubik. Pemasukan negara masih ditambah dari kegiatan haji dan umrah, yang diperkirakan menghasilkan sebesar + US$ 8 milyar/tahun.

     

    Arab Saudi melaksanakan hukum Syariah Islam berdasarkan pada Mazhab Hanbali dan ajaran Salafiyah. Di Semenanjung Arab, paham ini disebarluaskan oleh Muhammad bin Abdul-Wahhab pada abad ke-18. Pelaksanaan Syariah mengatur secara tegas pelaksanaan ibadah Agama Islam, pemisahan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di hampir seluruh sektor kehidupan, serta mengingatkan cara berpakaian yang sesuai dengan norma-norma agama Islam. Pemerintah Arab Saudi juga sangat membatasi hal-hal yang dianggap dapat merusak akhlak dan moral masyarakat, seperti larangan beredarnya minuman beralkohol, larangan pertunjukan film dan musik, serta termasuk juga larangan sosial untuk penggunaan gambar-gambar atau hal-hal yang dapat mengarah kepada syirik dan sihir. Guna memastikan pelaksanaan Syariah Islam di tengah masyarakat, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi membentuk Komisi Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (Haia/Mutaween).

     

    Di bawah kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud, Arab Saudi mengalami pembangunan dan modernisasi yang cukup pesat. Raja Abdullah sangat menaruh perhatian yang  tinggi terhadap kemakmuran, kemajuan, serta pendidikan masyarakat di dalam negeri. Karenanya Raja Abdullah merupakan tokoh pemimpin yang cukup dicintai oleh masyarakat Arab Saudi. Figur Raja Abdullah dapat disejajarkan dengan pendahulunya, mendiang Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud yang masih mendapat begitu besar di hati rakyat Arab Saudi hingga sekarang. Kedua pemimpin telah membuat langkah terobosan dalam mengangkat harkat dan hak-hak kaum wanita di dalam negeri. Raja Abdullah juga telah membuka kebebasan untuk mengemukakan pemikiran dan pendapat, dalam batas-batas tertentu, di kalangan masyarakat.

     

    Namun demikian, masih terdapat sorotan dan kritik terhadap Raja Abdullah yang dianggap masih belum dapat merubah nasib masyarakat minoritas penganut Syiah di Arab Saudi yang selama ini merasa terpinggirkan dan tertindas. Kritik juga banyak berasal dari kaum konservatif di dalam negeri yang mengaggap Raja Abdullah telah mengambil langkah–langkah kontroversial dalam mendukung kaum moderat dan kaum wanita, walaupun hal ini tidak diungkapkan secara terbuka.

     

    Perlu dicatat bahwa perubahan-perubahan yang terjadi tidak terlepas dari tekanan permintaan masyarakat baik karena kondisi internal sosial politik (pertambahan jumlah penduduk, pengangguran dan sebagainya) maupun kondisi eksternal (perubahan politik yang begitu kencang di wilayah Timur Tengah yang ditandai dengan runtuhnya banyak pemerintahan dictatorial yang dikenal dengan Arab Spring).

     

    Berikut adalah perkembangan di dalam negeri yang menonjol dalam kurun beberapa tahun terakhir:

     

    Pendidikan. Selama kepemimpinan Raja Abdullah telah berdiri sebanyak 24 universitas yang tersebar di berbagai propinsi. Terbesar diantaranya adalah King Abdullah University of Science and Technology dan Princess Noura bint Abdulrahman University. King Abdullah University of Science and Technology merupakan lembaga perguruan tinggi pertama di Arab Saudi yang memperbolehkan percampuran antara pria dan wanita di dalam kelas perkuliahan. Universitas yang disebutkan terakhir adalah universitas khusus bagi wanita pertama di Arab Saudi yang dibangun di Riyadh di atas lahan seluas 8 juta m2 dan diresmikan pada tanggal 15 Mei 2011.

     

    Pada tanggal 30 Mei 2012, Raja Abdullah meresmikan tahap pertama dari University Cities Project yang bernilai SR 8,3 milyar (US$ 2,21 milyar). Proyek ini terdiri dari pembangunan 18 kota universitas dan kompleks akademik. Pada saat yang sama Raja Abdullah juga telah mengesahkan dana sebesar SR 81,5 milyar (US$ 21,73 milyar) untuk pembangunan tahap kedua.

     

    Jumlah mahasiswa Arab Saudi di Amerika Serikat sampai dengan April 2014 telah mencapai 111.000 mahasiwa (dari hanya 10.000 mahasiswa pada 2011)  dan ribuan lainnya bersekolah di universitas-universitas unggulan di Eropa dan Asia. Sebagian besar dari mereka menikmati beasiswa Pemerintah Saudi.

     

    Raja Abdullah pernah mengutarakan bahwa dirinya bercita-cita menjadikan Arab Saudi sebagai pusat pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, sebagaimana dulu pernah ada pada masa kejayaan Islam di Baghdad pada abad ke-9 hingga ke-13 (Baitul Hikmah).

     

    Dalam Anggaran Negara Tahun 2014, Raja Abdullah telah mengesahkan dana sebesar US$ 56 milyar yang diperuntukkan bagi sektor pendidikan dan pelatihan, naik dari dari tahun 2013 yang sebesar US$ 54,4 milyar.

     

    Kemajuan Kaum Wanita. Raja Abdullah sangat menaruh perhatian yang begitu besar kepada para kaum wanita Arab Saudi. Untuk pertama-kalinya, pada tahun 2006, kaum wanita diperbolehkan untuk memiliki kartu identitas diri dilengkapi dengan foto wajah, hal mana sebelumnya mendapat tentangan keras dari para ulama konservatif. Raja Abdullah bin Abdul-Aziz juga adalah pemimpin pertama Arab Saudi yang tidak sungkan berbaur dan berfoto bersama para kaum wanita dalam acara-acara resmi di hadapan publik.

     

    Pada tahun 2008 Arab Saudi menghapus larangan yang tidak memperkenankan wanita bepergian seorang diri serta bermalam di penginapan. Pada tahun 2011, Raja Abdullah menetapkan ketentuan yang memperbolehkan kaum wanita Arab Saudi untuk menggunakan hak pilih dan dipilih dalam pemilihan tingkat kotamadya pada tahun 2015, dan nantinya pada tahun 2017 diperkenankan untuk duduk menjadi anggota parlemen (Majelis Al Shura).

     

    Pada tanggal 11 Januari 2013, Raja Abdullah bin Abdulaziz Al saud telah mengangkat sebanyak 30 orang wanita, dari keseluruhan 150 orang, sebagai anggota parlemen (Majelis Al Shura) yang baru. Pengangkatan ini merupakan suatu terobosan bersejarah yang dilakukan oleh Raja Abdulaziz Al Saud dalam pemajuan kaum wanita di Arab Saudi. Hal ini juga memberikan harapan positif bagi peningkatan hak-hak kaum wanita Arab Saudi di masa depan. Pada tanggal 19 Februari 2013, bertempat di Istana Yamamah, di Riyadh, Raja Abdullah melantik seluruh anggota parlemen yang terpilih.

     

    Hal yang juga hingga kini masih disayangkan adalah belum dihapuskannya larangan bagi wanita untuk dapat mengendarai mobil. Kaum wanita Arab Saudi masih tetap berharap bahwa pada suatu saat nanti peraturan ini akan dihapuskan.

     

    Perekonomian. Sejak bergabung menjadi salah satu anggota World Trade Organization pada tanggal 11 Desember 2005, Arab Saudi menjukkan kemajuan perekonomian yang cukup pesat. Walaupaun Arab Saudi telah mencapai hasil produksi minyak 100 juta barrel/hari,  Raja Abdullah selama ini berupaya untuk menggenjot kemajuan di sektor non-migas dan investasi serta melakukan reformasi ekonomi. Pada tahun 2008 dikeluarkan aturan yang memangkas rantai birokrasi dalam sistem perekonomian di Arab Saudi. Raja Abdullah juga gencar melakukan pemberantasan korupsi di dalam negeri.

     

    Berdasarkan Trade Policy Review yang diterbitkan oleh WTO untuk periode 25-27 Januari 2012, Arab Saudi merupakan negara peringkat ke-delapan dalam penerimaan Foreign Direct Investment, dengan rata-rata per tahun mencapai sekitar US$ 25 milyar selama 2005-2010. Pembukaan aliran investasi terutama di sektor pertambangan, petrokimia, gas, dan telekomunikasi. Peringkat tersebut menjadikan Arab Saudi sebagai sebagai penerima FDI terbesar di kawasan Timur Tengah, berada di atas Turki dan Persatuan Emirat Arab. Arab Saudi juga dianggap sebagai salah satu tempat teraman di dunia untuk penanaman modal asing. Selama tahun 2005-2010, strategi pembangunan Arab Saudi menghasilkan kinerja perekonomian yang positif dengan hasil peningkatan GDP riil per tahun sebesar rata-rata 3,2%.

     

    Dengan kekuatan dan stabilitas perekonomiannya, Arab Saudi tidak terpengaruh oleh berbagai krisis finansial yang melanda AS dan Eropa. Prestasi lainnya dari Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud dalam kemajuan perekonomian adalah telah sukses membawa Arab Saudi sebagai satu-satunya wakil negara Arab dalam Forum G20.

     

    Namun disamping itu, Arab Saudi kini menghadapi tantangan penggunaan energi secara optimal dan efisien dalam rangka mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan serta memenenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pidato pembukaan Saudi Energy Efficiency Forum and Exhibition, yang berlangsung pada tanggal 24-27 November 2012,  Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Kerajaan Arab Saudi,  Ali bin Ibrahim Al Naimi,  menyampaikan bahwa guna menyukseskan hal tersebut salah satunya adalah dengan melakukan efisiensi dan pengurangan konsumsi minyak dalam beberapa tahun mendatang. Arab Saudi harus dapat mengkombinasikan pemanfaatan energi yang seimbang, antara energi konvensional dan energi terbarukan, sehingga dapat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil.

     

    Diperkirakan kebutuhan pasokan listrik bagi Arab Saudi di masa sepuluh tahun mendatang akan mencapai hingga 90.000 megawatt. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan dana investasi sebesar SR 500 milyar  atau sebesar + US$ 133 milyar. Rasionalisasi konsumsi adalah salah satu cara paling efektif dan murah dalam mengatasi tantangan penyediaan kebutuhan pasokan energi. Selain itu juga diperlukan kebijakan yang tepat serta aplikasi pengetatan pertumbuhan penggunaan listrik dan menggalakkan sosialisasi penggunaan sistem isolasi termal pada bangunan-bangunan perumahan kepada masyarakat luas.  Perusahaan listrik Arab Saudi telah menetapkan biaya sebesar SR 120 milyar, atau sebesar + US$ 32 milyar, yang diperuntukkan bagi pengembangan dalam jangka waktu sepuluh tahun mendatang.

     

    Hal yang cukup mengejutkan adalah dalam acara The 2nd Annual US-Saudi Business Opportunities Forum yang diselenggarakan di Atlanta, AS, pada tanggal 5-7 Desember 2011, Menteri Perdagangan dan Industri Kerajaan arab Saudi, Abdullah Zainal Alireza, mengumumkan bahwa Arab Saudi merencanakan untuk membangun sebanyak 16 instalasi nuklir senilai US$ 100 milyar yang diharapkan rampung dalam kurun waktu 20 tahun ke depan. Walaupun dijelaskan bahwa pembangunan instalasi nuklir tersebut dimaksudkan untuk tujuan damai, yaitu dalam rangka pengembangan tenaga listrik penggganti minyak dan gas yang mulai langka, tetapi banyak pengamat mengaitkan pernyataan tersebut dengan sikap dan posisi Arab Saudi dalam menghadapi situasi keamanan regional Timur Tengah saat ini, terutama terhadap adanya ancaman perlombaan pengembangan senjata nuklir di kawasan.

     

    Program Saudisasi. Tantangan yang tengah dihadapi oleh Arab Saudi adalah semakin meningkatnya angka pengangguran di kalangan kaum muda. Pada tahun 2000, angka pengangguran tercatat sebesar 8,2%, dan pada tahun 2009 melonjak menjadi 10,5%. Terjadinya peningkatan pengangguran di dalam negeri banyak disebabkan karena lemahnya sistem pendidikan yang ada sehingga menyebabkan rendahnya mutu para lulusan sarjana yang dihasilkan. Disamping itu, pengangguran juga banyak disebabkan faktor mentalitas masyarakat Arab Saudi yang dalam mencari pekerjaan selalu menuntut gaji dan posisi yang tinggi, tanpa diimbangi oleh kualitas dan semangat kerja yang memadai. Masyarakat Arab Saudi juga sangat menganggap tabu terhadap pekerjaan yang dianggap rendah dan dapat menurunkan martabat. Akibatnya berbagai lahan kerja yang ada banyak dikuasai oleh warga asing.

     

    Sebagai jalan keluar untuk mengantisipasi semakin melonjaknya pengangguran di dalam negeri, Raja Abdullah telah memprioritaskan pembangunan di bidang pendidikan dan pelatihan bagi kaum muda Arab Saudi. Dalam kurun waktu lima tahun telah dibangun tambahan universitas negeri, dari hanya 8 universitas pada tahun 2005 menjadi sebanyak 24 universitas pada tahun 2010. Lebih dari 80.000 warga Arab Saudi kini menikmati kesempatan mengenyam pendidikan di berbagai universitas terkemuka di luar negeri dengan manfaatkan program beasiswa asing yang diperkenalkan sejak tahun 2007. Pada bulan Februari 2012, telah disahkan alokasi dana sebesar SR 135 milyar (US$ 36 milyar) yang salah satunya diperuntukkan bagi pemberantasan pengangguran di dalam negeri. Sejalan dengan hal tersebut, Raja Abdullah membentuk komisi tingkat kementerian tinggi untuk merumuskan respon yang cepat terhadap meningkatnya jumlah lulusan di sektor publik dan swasta yang tidak mampu mencari pekerjaan.

     

    Program pengentasan pengangguran yang ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi pada tahun 2009 memiliki target sepanjang 25 tahun, yang dibagi ke dalam jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Target jangka pendek, selama 2 tahun, adalah untuk mengurangi angka pengangguran melalui berbagai kebijakan bersifat aktif yang bertujuan mengurangi jumlah tenaga kerja asing dan semakin membuka kesempatan kepada warga Arab Saudi. Dalam menunjang program tersebut ditetapkan suatu sistem yang dinamakan “Nitaqat” untuk menentukan apakah suatu instansi/perusahaan telah memenuhi standar prosentase jumlah tenaga kerja Arab Saudi yang telah ditentukan. Namun program Saudisasi dalam perkembangannya kemudian banyak menuai kritik, karena dirasakan sebagai sesuatu yang dipaksakan dan secara sepihak banyak melakukan pemutusan hubungan kerja dengan warga asing.

     

    Program Saudisasi juga dimaksudkan sebagai upaya meredam adanya ancaman pergolakan politik di dalam negeri dengan tingginya angka pengangguran yang ada. Hal ini tampaknya berkaca dari rentetan peritiwa tumbangnya kekuasaan Presiden Zine El Abidine Ben Ali di Tunisia, Presiden Husni Mubarak di Mesir, dan Pemimpin Moammar Al Gaddafi di Libya, sebagai imbas dari rangakaian Revolusi Arab Spring di negara-negara Arab, akibat tingginya angka pengangguran di negara-negara tersebut.

     

    Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme. Jauh sebelum runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) di AS pada tanggal 11 September 2001, Arab Saudi telah mengalami serangan kelompok radikal di wilayah negaranya. Drama pendudukan Masjid Al Haram di Mekkah oleh kelompok yang dipimpin oleh Juhayman Al Otaibi, yang berlangsung pada tanggal 29 November hingga 4 Desember 1979, masih terus membekas dan dikenang sepanjang sejarah. Setelah itu, Arab Saudi mengalami peristiwa pemboman gedung di Al Khobar, Propinsi Timur, pada tanggal 25 Juni 1996. Selepas peristiwa 11 September 2001, Arab Saudi juga mengalami dua kali serangan terorisme berupa ledakan bom yang di Riyadh pada tanggal 12 Mei 2003, yang menewaskan 35 orang dan melukai 160 orang, serta serangan kelompok teroris yang kembali terjadi di Al Khobar pada tanggal 29 Mei 2004, yang menewaskan 22 orang dan melukai 25 orang lainnya.

     

    Dalam upaya penanggulangan terorisme dan radikalisme, Arab Saudi melakukan  berbagai penangkapan terhadap para pelaku teroris serta pelacakan asset dan keuangan mereka. Hingga tahun 2008, Arab Saudi telah berhasil menahan sebanyak 2.200 orang tersangka serta menggagalkan sebanyak 180 rencana kegiatan terorisme. Pemerintah Arab Saudi juga menjalankan program rehabilitasi dan penanganan para tahanan. Rehabilitasi dilakukan di rumah-rumah tahanan yang melibatkan para ahli kejiwaan, ulama, serta akademisi. Tujuan dari program ini adalah untuk meluruskan kembali pandangan-pandangan agama yang menyimpang dan mengarah pada radikalisme. Para tahanan yang telah dibebaskan tetap terus diwajibkan untuk mengikuti program konsultasi dan rehabilitasi tersebut apabila dianggap masih diperlukan.

     

    Raja Abdullah juga telah melakukan perombakan di dalam tubuh Komisi Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan (Haia/Mutaween). Pada bulan Januari 2012, Raja Abdullah telah mengganti Sheikh Abdulaziz al-Humain dari kepemimpinan komsi tersebut dengan Sheikh Abdulatif Al al-Sheikh dalam menanggapi semakin banyaknya kritik masyarakat akan tindakan-tindakan satuan pengamanan tersebut di lapangan yang dinilai berlebihan.

     

    Komisi Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan memiliki tugas untuk menjaga ketertiban umum dan melindungi pelaksanaan Ibadah dan penerapan Syariah Islam di kalangan masyarakat, seperti kewajiban mengingatkan masyarakat untuk menunaikan Ibadah Shalat lima waktu, cara berpakaian yang sesuai dengan norma-norma agama Islam, serta mengawasi hubungan pergaulan antara pria dan wanita yang sejalan dengan Hukum-hukum Islam. Namun sebagaian kalangan masyarakat melihat bahwa diantara anggota satuan komisi tersebut sering berlaku kasar dan tidak mengindahkan tata sopan santun, terutama dalam melakukan teguran kepada masyarakat. Karenanya Raja Abdullah memandang bahwa Sheikh Abdulatif Al al-Sheikh merupakan figur yang cocok dengan keadaan perubahan dan perkembangan di tengah masyarakat sekarang ini.

     

    Pada tanggal 29 Januari 2013, Sheikh Abdulatif Al al-Sheikh mengumumkan bahwa Komisi untuk Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan tidak lagi dapat melakukan penahanan, interogasi, serta menjatuhkan sanki kepada masyarakat. Komisi masih bisa menangkap mereka yang melakukan pelanggaran secara mencolok. Namun kasus orang tersebut nantinya akan dirujuk ke polisi dan dibawa ke pengadilan, karena para anggota komisi tidak lagi memiliki hak untuk menentukan tuduhan.

     

         Awal Februari 2014 ini Pemerintah Saudi telah mengeluarkan sejumlah peraturan yang menurut pihak Pemerintah Saudi untuk memperkuat upaya melawan segala bentuk terorisme. Pada tanggal 31 Januari 2014, Kerajaan mengumumkan The Penal Law for crimes of Terrorism and its Financing ( atau yang biasa disebut “Terorism Law”). Undang-Undang ini mendapat kritik karena mempunyai banyak “pasal karet” yang sangat rawan disalahgunakan oleh penguasa untuk membungkam tokoh-tokoh yang kritis kepada kerajaan. UU ini mengkriminalisasi hal-hal seperti “insult the reputation of the state”, “harm public order”, “shake the security of society”.

     

    Beberapa hari setelah diberlakukannya UU di atas, pada tanggal 3 Februari 2014, Raja Abdullah mengeluarkan Dekrit Kerajaan no. 44 yang mengkriminalisasi “participating in hostilities outside the kingdom”  dengan hukuman antara 3 sampai dengan 20 tahun. Selanjutnya pada 7 Maret 2014, Pemerintah Saudi kembali mengeluarkan tambahan kegiatan/aktivitas yang digolongkan kegiatan teroris di antaranya “mempromosikan ideologi ateis” dan “menghina negara atau pemimpin negara lain” serta mengeluarkan daftar organisasi yang digolongkan sebagai kelompok teroris termasuk di antaranya adalah Al-Qaeda dan ISIS (Islamic State of Iraq and Shams/Syria) dan Ikhwanul Muslimin.

     

    Harian Saudi Gazzette pada tanggal 24 September 2014 telah menurunkan berita bahwa Pemerintah Arab Saudi sejauh ini telah menangkap lebih dari 1.100 orang yang terlibat tindak terorisme.

     

    Kelompok Minoritas Syiah. Arab Saudi banyak mendapat tekanan dunia internasional dalam hal praktek penegakkan hukum dan HAM di dalam negeri. Walaupun sejak tahun 2006 telah didirikan Komisi HAM yang sepenuhnya didanai oleh pemerintah, namun Arab Saudi tetap dipandang oleh banyak kalangan masyarakat dunia sebagai negara yang tertutup, otokratik, dan kurang memperhatikan praktek penegakkan HAM sesuai standar internasional. Salah satu yang kerap menjadi sorotan adalah sikap dan perlakuan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi terhadap kelompok warga minoritas Syiah.

     

    Terdapat Sekitar 10%-15% warga Arab Saudi yang menganut paham Syiah. Keberadaan mereka tersebar di berbagai wilayah Arab Saudi, namun konsentrasi terbesar terdapat di Qatif dan Al Hasa, yang terletak di Propinsi Timur. Komunitas Syiah juga banyak terdapat di Madinah dan wilayah Selatan yang berbatasan dengan Yaman. Permasalahan dengan warga Syiah terjadi sejak dilakukannya penguasaan wilayah Propinsi Timur oleh pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud, pada tahun 1913. Ketika itu warga Syiah menerima dan mengakui kepemimpinan Raja Abdulaziz secara damai. Sebaliknya, Raja Abdulaziz juga berjanji untuk memberikan kebebasan bagi warga Syiah dalam menjalankan ritual ibadah sebagai balasan atas loyalitas yang telah diberikan kepadanya. Namun selanjutnya Raja Abdulaziz banyak mendapat tekanan dari barisan ulama Wahhabi atas sikapnya tersebut.

     

    Diantara aliran-aliran paham Sunni, ajaran Wahabbi adalah yang paling keras dalam memusuhi para penganut Syiah. Bagi para ulama Wahabbi, ajaran  Syiah merupakan bentuk penyimpangan ajaran Agama Islam yang tidak dapat ditolerir dan harus dibasmi. Karenanya warga Syiah di Arab Saudi sering mendapatkan perlakuan diskriminasi, intimidasi, serta kerap dituding apabila terjadi gangguan keamanan dan stabilitas di dalam negeri. Dilakukannya pengawasan ketat terhadap warga Syiah di Propinsi Timur juga dikarenakan wilayah tersebut merupakan pusat dari kekayaan sumber alam minyak yang dimiliki oleh Arab Saudi. Sedangkan warga Syiah di selebelah Selatan dicurigai telah berkomplot dengan kelompok separatis Al Houthi yang berasal dari Yaman.

     

    Sempat terjadi serangkaian aksi unjuk rasa pada bulan Februari-Maret 2011 yang dilakukan oleh komunitas Syiah di Propinsi Timur, Jeddah, dan Riyadh. Para demonstran menuntut dibebaskannya aktivis Syiah yang ditahan tanpa adanya proses hukum. Namun hal tersebut tidak mendapat dukungan dan popularitas yang berarti dari masyarakat Arab Saudi.

     

    Pada tanggal 9 Juli 2012, satuan polisi Propinsi Timur Kerajaan Arab Saudi telah menembak dan menangkap seorang tokoh Ulama Syiah bernama Nimr Baqr Al Nimr. Dalam peristiwa tersebut, Nimr Baqr Al Nimr mengalami luka pada kakinya. Menurut keterangan yang ada, Nimr Baqr Al Nimr ditangkap setelah sebelumnya dirinya dan beberapa pengikutnya terlibat aksi baku-tembak dengan satuan keamanan setempat dan kendaraannya menabrak mobil milik kepolisian. Peristiwa penangkapan tersebut telah menyulut aksi demonstrasi warga Syiah di Qatif pada keesokan harinya, yang kemudian dibubarkan oleh pasukan keamanan dan menewaskan dua orang warga Syiah dan melukai dua puluh orang lainnya. Disinyalir dirinya saat ini tengah dirawat di Rumah Sakit Angkatan Bersenjata di Riyadh. Sebelumnya, pada tahun 2006 dan 2009, Nimr Baqr Al Nimr juga pernah ditahan. Dirinya dicap sebagai tokoh yang sering melakukan provokasi terhadap Pemerintah KAS dalam berbagai ceramahnya dan menggerakkan aksi protes warga Syiah sepanjang tahun 2011-2012.

     

    Mohamed Al Nimr, saudara kandung Nimr Baqr Al Nimr, menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh saudara kandungnya tersebut hanyalah semata menuntut perlakuan adil dan penghormatan dari Pemerintah Kerajaan Arab saudi dan para Ulama Wahhabi terhadap warga minoritas Syiah. Mohamed Al Nimr menambahkan bahwa saudaranya sama sekali tidak bermaksud ingin menggulingkan Pemerintahan Dinasti Al Saud dan berkonspirasi dengan Iran. Rentetan peristiwa saling menyerang antara warga Syiah dan satuan keamanan di Propinsi Timur terus berlanjut, sebagai buntut dari aksi penangkapan tersebut.

     

    Postur Militer Arab Saudi

    Arab Saudi masih menjadi kekuatan militer utama (disamping Israel dan Iran) di kawasan. Berikut gambaran kekuatan militernya.

    1.   Angkatan Darat (RSLF - ROYAL SAUDI LAND FORCE)

    a.       Kekuatan

    1)   Personel                         :   75.000 personel.

    2)   Senjata                        :   Artileri (776 unit), Anti Tank (2.500 unit), Hanud (700 unit)

    3)   Kendaraan Tempur    :  Tank/Panser  (2.325 unit), Angkut Personel (1.850 unit)

    4) Helikopter                           :  55 unit

    b.       Komposisi

    1)      3 Brigade Panser, tiap brigade terdiri dari: 3 Batalyon Tank, 1 Batalyon Mekanik, 1  Batalyon Artileri Medan, 1 Batalyon Pengintai, 1 Batalyon Hanud, 1 Batalyon Anti Tank

    2)      1 Brigade Lintas Udara, terdiri dari : 2 Batalyon Lintas Udara dan 3 Kompi Pasukan Khusus

    3)      5 Brigade Mekanik, tiap brigade terdiri dari : 3 Batalyon Mekanik, 1 Batalyon Tank, 1 Batalyon Artileri Medan, 1 Batalyon Hanud, 1 Batalyon Pendukung

    4)      8 Batalyon Artileri

    5)      1 Skadron Penerbangan Angkatan Darat

    c.       Alat Peralatan dan Persenjataan

    1)      Tank Tempur Utama (Main Battle Tanks).

    a)             315 unit M-1A2 Abrams;    b)    290 unit AMX-30;       c)  450 unit M-60A3

    2)     Ranpur Infanteri Tank

    a)                    570 unit termasuk AMX-10P  dan  b)  400 unit M-2 Bradley

    3)     Kavaleri Intai,  300 unit AML60/90.

    4)     Ranpur Angkut Personel

    a)                    1700 unit M-113;    b)    150 unit  Panhard M-3

    5)     Bermacam-macam Artileri

    d.       Pangkalan Angkatan Darat

    Arab Saudi memiliki 3 (tiga) Pangkalan Angkatan Darat di 3 (tiga) kota yang disebut kota militer dan terletak di dekat perbatasan-perbatasan, yaitu :

    1)      Kota Militer King Faisal  (KFMC- King Faisal Military City) di Wilayah Abha, Provinsi Jizan.

    2)      Kota Militer King Khaled (KKMC-King Khaled Military City) di Wilayah Hafr Al Batin.

    3)      Kota Militer Abdul Azis (KAAMC- King Abdul Aziz Military City) di Wilayah Tabuk.

     

    2. ANGKATAN UDARA  (RSAF-ROYAL SAUDI AIR FORCE)

    a.    Kekuatan

    Personel (18.000 Personel),  Pesawat Tempur  (14  Skadron), Pesawat Angkut (5  Skadron), Pesawat Latih ( 3  Skadron), Helikopter  (2  Skadron) 

    b.    Komposisi

    1)   Fighter  (22 unit Tornado ADV, 66 unit F-15C Eagle, 18 unit F-15D Eagle)

    2)   Fighter Ground Attack  (85 unit Tornado IDS (10 IDS Recce), 15 unit F-5B/F-5F Tiger II/RF-5E,

    71 unit F-15S Eagle)

    3)   Airborne Early Warning (AEW)   (5 unit E-3A Sentry)

    4)   Operational Conversion Unit (OCU) : 15 unit F-5B

    5)   Helikopter  (10 unit AS-532 Cougar, 22 unit Bell 205, 13 unit Bell 206A JetRanger, 17 unit Bell 212, 16 unit Bel 412 Twin Huey (SAR) )

    6)   Angkut   (7 unit C-130E Hercules, 29 unit C-130H Hercules, 2 unit C-130H-30 Hercules, 4 unit CN-235, 3 unit L-100-30HS (pesawat medis) )

    7)   Tanker   (3 unit KE-3A Sentry, 8 unit KC-130H Hercules)

    8)   Pesawat Latih  (25 unit Hawk Mk65 (termasuk Tim Aerobatik), 18 unit Hawk MK65A, 1 unit Jetstream MK31, 20 unit MFI-17 Mushshak, 13 unit Cessna-172, 45 unit PC-9 Pilatus)

    9)   Royal Flight    (1 unit B-737-200, 2 unit B-747SP, 4 unit Bae-125-800, 1 unit Gulfstream IV, 2 unit Learjet-35, 4 unit VC-130H Hercules, 1 unit S-70 Black Hawk (Heli), 4 unit Bell 212 (Heli), 3 unit AS-61 (Heli)

    c.     Pangkalan Angkatan Udara (9 buah)

         Al Jouf, Al Kharj, Dhahran (King Abdullah Azis Air Base), Hafr Al Batin, Jeddah, Khamis Mushayt (King Khalid Air Base)Riyadh (Riyadh Air Base), Tabuk ( King Faisal Air Base), Taif (King Fahd Air Base)

     

    3.   ANGKATAN LAUT (RSNF - ROYAL SAUDI NAVAL FORCE)

    a.       Kekuatan

    Personel  (15.500 Personel), Kapal (26 unit  Kapal Perang    dan 101 unit Kapal Pendukung), Helikopter (31 unit)

    b.       Komposisi

    1)      Kesatuan

    a)                    3 Markas  Angkatan Laut; b) 1 Skadron Penerbangan Angkatan Laut; c) 1 Resimen Marinir

    2)      Alat Peralatan dan Persenjataan

    a)                    Kapal Frigate :   4 unit Fr F-2000 dan 4 unit US Tacoma

    b)                    Kapal Torpedo : 3 unit

    c)                    Kapal Rudal / Missile Craft : 9 unit

    d)                    Kapal Penyapu Ranjau : 2 unit Sandown MCC (Al Jouf) dan 4 unit US MSC-322 (Addriyah)

    e)                    Kapal Patroli Pengamanan Pantai : 29 Unit

    f)                     Kapal Patroli : 17 unit US Halter dan 40 unit Simmoneau 51

    g)                    Kapal Amfibi : 4  unit LCU dan 4  unit LCM

    h)                    Kapal Pendukung dan Jenis kapal lainnya

    i)    Helikopter  :  9 unit AS-565 (5 SAR, 20 dengan AS-15TT ASM), 12 unit AS-532B/F (6 tpt, 6 dengan AM-39 Exocet  dan 4 unit AS-565 MAF

    c.       Pangkalan Angkatan Laut

    1)     Pangkalan Utama

    a)    Jeddah (Armada Barat), b) Jubail (Armada Timur), c) Aziziah (Garda Pantai),  d) Pusat Angkatan Laut Riyadh, e) Jizan

    2)     Pangkalan Pendukung

    a)    Al Dammam, b) Yanbu, c) Al Wajh, d) Ras Al Mishab, e) Ras Tannurah, f) Tamwah, g) Al Qatif, h) Haqi, i) Dhoha

     

     

    Pengamatan KBRI RIYADH

    Membahas kondisi terkini kawasan Timur Tengah kiranya tidak bisa dilepaskan dari gelombang perubahan politik di sejumlah negara Timur Tengah yang dikenal dengan istilah revolusi “Arab Spring”.   Arab Spring membawa semangat perubahan atau transformasi politik di negara-negara kawasan Timur Tengah. Namun sudah menjadi hukum alam bahwa perubahan itu akan selalu mendapatkan resistensi dari pihak pendukung status quo. Hasilnya adalah transformasi tidak selalu berjalan mulus bahkan sebaliknya dapat menyulut konflik yang berkepanjangan.

     

    Arab Saudi -- sebagai negara penting di kawasan -- tidaklah kebal dari gelombang perubahan ini. Sebagai negara terbesar di semenanjung Arab yang diperintah dengan sistim monarki absolut dan penerapan Syariah Islam secara ketat, Arab Saudi sempat memancing perhatian banyak kalangan regional maupun internasional mengenai bagaimana negeri ini bersikap menghadapi derasnya angin perubahan yang melaju kencang.

     

    Tidak sebagaimana yang diperkirakan banyak kalangan, hingga kini Arab Saudi mampu membuktikan bahwa negaranya memiliki ketahanan dan stabilitas yang kuat, sehingga tidak banyak berpengaruh terhadap kejadian-kejadian di negeri sekelilingnya. Ketidakpuasan masyarakat dapat diredam dengan “membeli” loyalty dengan menggelontorkan dana besar untuk berbagai subsidi dan kebijakan-kebijakan yang meninabobokan masyarakatnya sehingga keberlangsungan dinasti ini dapat terus berlangsung. Disamping itu, dukungan barat (Amerika Serikat) terhadap keberlangsungan monarki di Arab Saudi sepertinya masih akan berlangsung lama mengingat Kerajaan Arab Saudi masih menjadi sekutu yang dapat diandalkan dalam melindungi banyak kepentingan mereka di Timur Tengah, seperti dalam masalah pasokan energi, perang melawan terorisme, dan sebagainya. 

     

           Ekonomi

    Perekonomian Arab Saudi dalam 3 (tiga)  tahun terakhir ini menunjukkan suatu perkembangan yang cukup signifikan, hal ini dapat dilihat dari perkembangan ekonomi makronya. Menurut  the Central Department of Statistics and Information (CDSI), perkembangan Gross Domestic Product (GDP) mencapai SR 2,727.4 (727.3 milyar) in current prices tahun 2012. Gross Domestic Product (GDP) mengalami pertumbuhan 8.6% jika dibandingkan dengan tahun 2011. Sektor swasta tumbuh 11.5 pada tahun 2012 dan konstribusi sektor swasta  terhadap Gross Domestic Product (GDP) berkisar 58%.  Konstribusi sektor-sektor lainnya a.l: non oil industry (8.3%), konstruksi (10.3%), elektrik dan gas serta air ( 7.3%), transport, storage dan komunikasi (10.7%), wholesale, retail, restoran dan hotel (8.3%), jasa keuangan dan asuransi  real estate (4.4%). Perkembangan harga, inflasi dan cost of living index mengalami kenaikkan 2.9%, non oil  terhadap Gross Domestic Product (GDP) deflatoir naik 3.8%.

     

    Menurut Central Department of Statistics and information ( CDSI ), GDP Arab Saudi diperkirakan mencapai SR 2,794 triliun ( U$ 745.3 miliar) dalam current account pada tahun 2013, dengan pertumbuhan 1,54%. Sektor swasta diperkirakan mengalami pertumbuhan  9,38%, sedangkan pertumbuhan sektor minyak menurun hingga berada pada posisi 3,83%.

     

    Pertumbuhan ril GDP tahun 2013 diperkirakan sebesar 3,8% dibandingkan 5,81% tahun 2012. Sektor minyak diperkirakan menurun sebesar 0,61% sementara sektor pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 3,73% dan sektor swasta sebesar 5,5% pada 2013. Kontribusi sektor swasta terhadap GDP diperkirakan di atas 58,75%. Semua komponen GDP non - minyak mencatat pertumbuhan yang positif dan sehat pada tahun 2013. Secara khusus, sektor industri non-migas diperkirakan tumbuh sebesar 4,72%, konstruksi 8,11%, sektor transportasi, penyimpanan & komunikasi 7.20%, grosir, eceran, restoran dan hotel, 6,16% dan keuangan, asuransi & real estate  4,86%.

     

    Arab Saudi menduduki peringkat keempat di antara 5 negara  Gulf Cooperation Council (GCC) dalam GDP per kapita pada tahun 2012 mencapai SR 91.300  per tahun dan SR 7600  per bulan.  Rata-rata GDP per kapita lima negara GCC tersebut mencapai SR  323.000 per tahun, dan hampir SR 27.000 per bulan.   Arab Saudi menyumbang 45% dari GDP lima Negara GCC dengan nilai SR 2,666 triliun dibandingkan dengan total GDP lima negara sekitar SR 5,9 triliun menurut data Central Department of Statistics & Information (CDSI) di samping data pusat-pusat statistik dan kementerian ekonomi di negara-negara GCC.

     

    Pertumbuhan Ekonomi Arab Saudi

    Dalam keterangannya, Ketua Misi IMF ke Arab Saudi, Tim Callen menyebutkan beberapa hal tentang pertumbuhan ekonomi Arab Saudi sebagai berikut :

    -      Prospek ekonomi Arab Saudi menguntungkan. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Saudi di atas 4% pada tahun 2014 dan 2015 berkat pengeluaran pemerintah dan aktivitas yang kuat di sektor swasta serta rata-rata inflasi tetap terkendali.

    -      Tersedia cadangan keuangan preventif besar yang disediakan pemerintah  dalam satu dekade terakhir untuk melindungi perekonomian dalam menghadapi keguncangan negatif seperti  penurunan harga minyak.

    -      GDP ril tahun 2013 mengalami pertumbuhan 3.8% atau SR 46 miliar sehingga mencapai SR 1.264 triliun dibandingkan SR 1.218 triliun tahun 2012.

    -      Saudi terus memainkan peran sistemik dalam menstabilkan pasar minyak yang memberikan kontribusi positif terhadap ekonomi global dan kawasan. Arab Saudi telah memberikan berbagai bantuan keuangan kepada negara-negara lain. Remitansi dana yang dikirim para pekerja asing di Saudi ke negaranya masing-masing merupakan sumber penting pendapatan di  banyak negara.

    -      Pemerintah sedang melakukan program ambisius reformasi ekonomi dan investasi   untuk peningkatan, diversifikasi ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Program  difokuskan pada pengembangan infrastruktur, peningkatan iklim bisnis, kualitas pendidikan, keterampilan dan penempatan tenaga kerja warga negara Saudi lebih banyak lagi di sektor swasta.

     

    Tingkat biaya hidup mengalami peningkatan 3,35% tahun 2013 dibandingkan tahun 2012 sesuai tahun asas 2007. Tingkat inflasi diperkirakan akan naik 1.85% pada tahun 2013 dibandingkan tahun sebelumnya.

     

    Jumlah Tenaga Kerja Saudi

    8.412.000

    (80 % Angkatan Kerja Non Nasional)

    Tingkat Pengangguran

    2012

    2013

    10,6%

    10,5 %

    Terserap

    Pertanian

    6,7 %

    Industri

    21,4 %

    Pelayanan

    71,9 %

     

           Nilai Ekspor

    Ekspor

    US DOLLAR

    90 %

    Minyak Bumi

     

    USA

    14,2 %

    2013

    2012

    China

    13,6 %

    Jepang

    13,6 %

    Korea Selatan

    9,9 %

    India

    8,2 %

    376.300.000.000

    388.400.000.000

    Singapura

    4,3 %

     

           Nilai Impor

    Impor

    US DOLLAR

    mesin komoditas dan peralatan, bahan makanan, bahan kimia, kendaraan bermotor, tekstil

    China

    13,5%

    2013

    2012

    USA

    13,2%

    Korea Selatan

    6,6%

    Jerman

    6,5%

    India

    6,3%

    147.000.000.000

    141.800.000.000

    Jepang

    6%

     

    Arab Saudi memiliki ekonomi berbasis minyak dengan kontrol pemerintah yang kuat terhadap kegiatan ekonomi utama. Hal ini memiliki sekitar 16% dari cadangan minyak dunia terbukti, peringkat sebagai eksportir terbesar minyak bumi, dan memainkan peran utama dalam OPEC. Sektor minyak bumi menyumbang sekitar 80% dari pendapatan anggaran, 45% dari PDB, dan 90% dari pendapatan ekspor. Arab Saudi mendorong pertumbuhan sektor swasta dalam rangka diversifikasi ekonomi dan untuk mempekerjakan warga negara Saudi yang lebih. Upaya diversifikasi berfokus pada pembangkit listrik, telekomunikasi, eksplorasi gas alam, dan sektor petrokimia. Lebih dari 6 juta pekerja asing memainkan peran penting dalam perekonomian Saudi, khususnya di sektor minyak dan layanan, sementara Riyadh sedang berjuang untuk mengurangi pengangguran di kalangan warga sendiri. Pejabat Saudi secara khusus berfokus pada mempekerjakan penduduk muda yang besar, yang umumnya tidak memiliki keterampilan pendidikan dan teknis kebutuhan sektor swasta. Riyadh telah secara substansial meningkatkan pengeluaran untuk pendidikan dan pelatihan kerja, terakhir dengan pembukaan Raja Abdullah Universitas Sains dan Teknologi - Arab Saudi pertama universitas co-pendidikan. Sebagai bagian dari upaya untuk menarik investasi asing, Arab Saudi memfasilitasi WTO pada tahun 2005 Pemerintah telah mulai membangun enam "kota ekonomi" di berbagai daerah negara itu untuk mempromosikan investasi asing dan berencana untuk menghabiskan $ 373.000.000.000 antara tahun 2010 dan 2014 di pembangunan sosial dan proyek-proyek infrastruktur untuk memajukan pembangunan ekonomi Arab Saudi.

     

    Data 6 Kota Ekonomi

    No

    Nama Proyek

    Lingkup Proyek

    Biaya

    (Billion USS)

    1

    King Abdullah Economic City (KAEC)

    Port, Light Industries & Services

    27.3

    2

    Jizan economic City (JEC)

    Heavy industries, lifestyle, Agro Industries & Development

    27.3

    3

    King Abdullah University for Science & Technology (KAUST)

    Library, University campus, desalination plant, wind turbines, golf courses, neighborhoods, commercial centre, beach clubs, Research Park, waste water treatment plant.

    11.1

    4

    Prince Abdul Aziz bin Musaed Economic City (PABMEC)

    Logistics, Agribusiness,  minerals & construction material

    8.0

    5

    Knowledge Economic City    (KEC)

    Knowledge based industries, Tourism & Services

    7.1

    6

    King Abdullah Financial District (KAFD)

    The leaf (two-towers), Residential, Retaills, & High Quality office space, aquarium, Museum, hotels, exhibition centre, conference centre & Mosques, Support, Facilities, utilites & parking

    7.9

    Total

    87.8

     

     

    PERBANDINGAN APBN ARAB SAUDI

    TAHUN 2013 - 2014

    NO

    SEKTOR

    TAHUN

    2013

    (SR-US$ miliar)

    2014

    (SR-US$ miliar)

    1

    Pendidikan/Pelatihan

    204 (US$ 54.4)

    210 (US$ 56)

    2

    Kesehatan/Sosial

    100 (US$ 26,66)

    108 (US$ 28.8)

    3

    Infrastruktur/Transportasi

    65 (US$ 17.33)

    66.6 (US$ 17.76)

    4

    Air/Pertanian/Sumber ekonomi lainnya 

    57 (US$ 15.2)

    61 (US$ 16.26)

    5

    Kotapraja

    36 (US$ 9.6)

    39 (US$ 10.4)

    6

    Dana Pembangunan Khusus & Program Finansial Pemerintah

    68.2 (US$ 18.18)

    85.3   (US$ 22.74)

     

    Arab Saudi pada tahun 2013 mengalami surplus  APBN sebesar SAR 9 milyar (US $ 2,4 milyar) dimana pendapatan sebsar SAR 829 miliar (US$ 221,1 milyar) sedangkan pengeluaran sebesar SAR 820 milyar (US$ 218,7 milyar) sedangkan untuk cadangan devisa pada akhir tahun 2014 diperkirakan akan mencapai SAR 3.06 triliun atau mengalami peningkatan 13% dari cadangan tahun sebelumnya 2013, kenaikan cadangan sejak 2010 dapat diilustrasikan, sebagai berikut :

     

    Cadangan Arab Saudi

    Aset Cadangan Arab Saudi (SR miliar)

    Jenis

    Desember

    2013

    Desember

    2012

    Investasi di bursa efek Luar Negeri

    1.947.7

    1.665.2

    Mata uang asing & deposito di luar negeri

    716.6

    737.3

    Special drawing rights (SDRs)

    36.2

    37

    Cadangan pada IMF

    19.4

    21.1

    Emas

    1.6

    1.6

    Total 

    2.721.5

    2.462.2

     

    Perbandingan Cadangan Arab Saudi

    TAHUN

    TOTAL CADANGAN (SAR JUTA)

    2010

    1.669.262

    2011

    2.040.055

    2012

    2.462.153

    2013

    2.721.468

    2014 (prediksi)

    3.064.271

     

    Sosial Budaya

    A.      Media massa/Penerangan

    Media massa di Arab Saudi sampai saat ini secara umum masih berada dalam pengawasan ketat Pemerintah yang menerapkan berbagai pembatasan sesuai adat, kebiasaan dan agama yang berlaku. Namun demikian, para penulis/jurnalis sudah dapat menulis dan memuat opini-opini maupun berita-berita yang menyangkut kritik terhadap pelaksanaan pemerintahan/birokrasi di tingkat bawah. Sedangkan untuk masalah-masalah yang menyangkut keluarga raja maupun kerajaan, media massa cenderung menahan diri.

    Dalam perkembangan media cetak di Arab Saudi, hingga saat ini beredar beberapa surat kabar utama, baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Inggris. Surat kabar utama berbahasa Arab antara lain adalah Ar-Riyadh, Al-Jazirah (Riyadh), Al-Bilad, Al-Madina, Al-Hayat, Okaz, Al-Eqtisadiah (Jeddah), Al-Watan (Abha), Makkah, An-Nadwa (Makkah), dan Al-Yaum (Dammam). Sedangkan surat kabar utama yang berbahasa Inggris adalah Arab News dan Saudi Gazette (berpusat di Jeddah). Disamping itu, ada satu surat kabar berbahasa Arab yang terbit di London: Asharq Al-Awsat (bagian dari Arab News). Selain media-media cetak tersebut, masih banyak majalah ekonomi perdagangan, hobby dan khusus agama yang terbit di Arab Saudi.

    Sementara terkait dengan media elektronik, saat ini di Arab Saudi terdapat satu stasiun TV yang dimiliki dan dijalankan oleh pemerintah Arab Saudi yaitu Saudi TV (berdiri tahun 1965). Sebelumnya, Saudi TV hanya memiliki 4 saluran antara lain Saudi TV 1 (berbahasa Arab), SaudiTV 2 (berbahasa Inggris), Al-Riyadhiah (saluran khusus olah raga) dan Al-Ikhbaria (saluran khusus berita). Dalam tiga tahun terakhir mengalami perkembangan dengan bertambahnya 6 saluran TV antara lain, Ajial (saluran untuk anak-anak), Eqtesadia (saluran khusus ekonomi), Atthaqafia (saluran kebudayaan), Al Quran (saluran khusus Islam-live 24 jam dari Mekkah) dan Al Sunnah (saluran khusus Islam-live dari Jeddah) dan Iqra (khusus syiar Islam).

    Di samping itu, beberapa pengusaha Arab Saudi juga memiliki perusahaan jaringan televisi yang berkedudukan di Dubai dan melaksanakan penyiaran langsung dari Dubai. Beberapa diantaranya adalah TV Al-Majd (siaran khusus agama), Rotana (saluran hiburan yang dimiliki oleh Prince Al-Waleed, keponakan Raja Abdullah), Al-Arabiya (di Dubai), MBC Channel (di Dubai).

    Selain itu, masyarakat Arab Saudi juga dapat menikmati saluran TV lainnya dari berbagai negara (kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan Tengah, termasuk juga beberapa saluran TV Eropa) dengan menggunakan antena parabola. Saluran berita yang paling digemari adalah Al-Jazeera (di Doha-Qatar), Al-Arabiya (di Dubai), MBC Channel (di Dubai).

    Sedangkan masyarakat Indonesia di Arab Saudi dapat menikmati siaran TV nasional Indonesia yang dapat diakses melalui satelit Palapa, diantaranya adalah TVRI Nasional, Metro TV, TV One, RCTI, SCTV, Indosiar, Bali TV, Bloomberg Indonesia dan Global TV.

    Arab Saudi juga memiliki stasiun radio resmi yaitu Broadcasting Service to the Kingdom of Saudi Arabia yang tersebar di berbagai kota dengan frekwensi yang berbeda-beda, yaitu: Dammam 882 KHz, Jeddah 648 KHz, 684 KHz, 1485 KHz, Riyadh 585 KHz, FM 98,0 MHz (Riyadh), 98,0 FM MHz (Jeddah). Radio tersebut (Jeddah-648 KHz) juga mengalokasikan waktu untuk siaran dalam bahasa Indonesia yang mengudara setiap hari, pukul 12.00 – 15.00 Waktu Saudi.

    Seiring dengan perkembangan dunia internet, memasuki awal tahun 2011, Kementerian Kebudayaan dan Informasi telah mengeluarkan izin berdirinya 140 surat kabar online. Surat kabar dan majalah elektronik tersebut diwajibkan memperoleh izin sesuai dengan peraturan publikasi elektronik baru. Peraturan baru dimaksud mengharuskan 140 surat kabar online tersebut mendukung keragaman budaya dan dialog, serta memperkuat budaya hak asasi manusia. Melalui E-Government Program yang dicanangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi, semua surat kabar dan majalah online harus mendapatkan ijin dari National Center for Digital Certification dari King Abdulaziz City for Science and Technology (KACST) sebagai satu-satunya filter internet di Arab Saudi.

    Menurut data dari “Global Web Index’s ‘Stream Social: Quarterly Social Platforms Update”, dan Social Clinic, pengguna media sosial di Arab Saudi meningkat pesat. Twitter mencapai 3 juta users (2012) meningkat menjadi 5 juta users (2013) dimana 73 persen pengguna menggunakannya melalui selular. Sementara facebook dari 6 juta users (2012) meningkat 7.8 juta (2013) dan Linkedin dari 800,000 (2012) menjadi 1 juta users.

    Sementara Youtube masih menjadi situs video pilihan dan tetap stagnan dengan pengunjung 90 juta per hari seperti pada tahun 2012. Rata-rata pengguna menonton 7 (tujuh) video per hari.

    Data Komisi Komunikasi dan Informasi Teknologi (CITC) menunjukkan bahwa penetrasi perangkat seluler meningkat sebesar 188 persen pada akhir 2012, sedangkan

    Pada bulan September 2013, Kementerian Urusan Islam untuk urusan masjid, Abdulmohsin Al-Alsheikh mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah memantau status tweet yang dibuat oleh para imam masjid di Twitter. Komite khusus telah dibentuk untuk mengawasi apa yang ditulis oleh para Imam Masjid yang berpengaruh tersebut di media sosial. Langkah ini diambil setelah sebelumnya terjadi perkelahian beberapa WN Saudi dan WN Mesir setelah khutbah sholat Jum’at di masjid Al-Firdous, yang berisi kutukan kepada Menteri Pertahanan Mesir Abdul Al-Fatah Al-Sisi. Kejadian tersebut mengakibatkan kemarahannya banyak orang di Twitter atas perilaku imam yang mengungkit masalah politik dalam khotbahnya. Namun demikian pihak Pemerintah tidak akan menyatukan isi khutbah para imam, dan hanya meminta agar mereka benar-benar dapat memilih topik yang tepat dan cocok.

    Kantor Berita Arab Saudi adalah Saudi Press Agency (SPA) yang berpusat di Riyadh. Didirikan pada tahun 1971, SPA merupakan kantor berita nasional pertama dengan tujuan utamanya adalah untuk melayani, mengumpulkan dan mendistribusikan berita lokal dan internasional di Arab Saudi dan di luar negeri.

    SPA yang diketuai oleh seorang Direktur berada dibawah Kementerian Informasi dan Kebudayaan ini menyediakan berita dalam 3 (tiga) bahasa, masing-masing Arab, Inggris dan Perancis.

    Pada akhir Mei 2012, Dewan Menteri Arab Saudi membuat keputusan untuk memisahkan Saudi Televisi/Radio dan SPA menjadi dua badan dimana SPA bertanggung jawab untuk menyediakan berita/peristiwa dan isu-isu di tingkat nasional, regional dan internasional, khususnya yang berkaitan dengan Kerajaan serta memberikan kontribusi untuk memperkuat profesi jurnalistik di Arab Saudi. Peraturan ini juga meningkatkan status SPA menjadi setingkat Presidency.

    B.      Sosial

    Sejak Raja Abdullah naik takhta pada 3 Agustus 2005, perubahan-perubahan sosial mulai secara terbuka diwacanakan secara hati-hati, antara lain isu-isu mengenai perempuan dimana suara-suara mereka dan juga permasalahan mereka sudah sering muncul di media massa dan di berbagai forum. Demikian juga, tokoh-tokoh perempuan semakin banyak tampil berbicara di depan umum dengan menyuarakan desakan peningkatan peranan mereka.

    Masalah-masalah sosial lain yang dihadapi oleh warga Arab Saudi juga mulai secara terbuka dimunculkan ke permukaan. Beberapa masalah yang menonjol antara lain tentang masih adanya keluarga miskin (kemiskinan), pengangguran, perumahan bagi keluarga miskin, kenakalan remaja, peningkatan angka perceraian, masalah yang timbul dari pernikahan antara warga Saudi dengan warga asing, kekerasan rumah tangga, masalah kesehatan terkait dengan tingginya kasus kanker, obesitas serta diabetes, masalah hukum, dan masalah lainnya.

    B.1.          Problem kemiskinan

    Pemerintah Saudi terkesan menyembunyikan data tentang kemiskinan warganya, sehingga sangat sulit untuk menyertakan data resmi dari Pemerintah. Namun demikian, laporan media lokal dan para ahli ekonomi memperkirakan bahwa terdapat antara 2 juta sampai 4 juta warga Saudi yang hidup dengan kekurangan dengan penghasilan sekitar SR 1987.5 ($ 530) per bulan atau sekitar SR 63.75 ($ 17) per hari. Angka tersebut dianggap sebagai garis kemiskinan di Arab Saudi.

     

    B.2.          Pengangguran

    Departemen Statistik dan Informasi Arab Saudi mengungkapkan bahwa pada tahun 2012 tingkat pengangguran di Arab Saudi mendekati 12,1% atau mencapai 602.800 orang, di antaranya 243.000 pria dan 358.000 perempuan. Data tersebut juga menunjukkan bahwa 73,3% perempuan Saudi dengan gelar sarjana adalah pengangguran. Namun demikian, beberapa ekonom mengatakan bahwa ada lebih dari 1,5 juta pengangguran di Arab Saudi.

    Melalui program "Hafiz", Pemerintah Arab Saudi memberikan subsidi 2.000 riyal per bulan selama lebih dari satu tahun kepada para pengangguran. Pemberian tunjangan baru ini diumumkan Raja Abdullah pada Rabu, 28 Maret 2012.

    Lebih dari 80 persen penerima tunjangan pengangguran ini adalah wanita. Ini membuktikan upaya pemerintah Saudi untuk menciptakan pekerjaan bagi kaum Hawa, walaupun mendapat penentangan dari kaum Ulama.

    Menurut Menteri Tenaga Kerja, Adel al-Fakeih, Arab Saudi perlu menciptakan tiga juta pekerjaan bagi warga Saudi pada 2015 dan 6 juta pada 2030. Untuk itu, pemerintah menerapkan program “Nitaqat”, yaitu program Saudisasi yang menerapkan sistem kuota pegawai pada perusahaan swasta, dengan perbandingan yang imbang antara karyawan asing dan pribumi.

    B.3.          Perumahan bagi keluarga miskin

    Pada bulan Maret 2011, Raja Abdullah telah meminta Menteri Perumahan Arab Saudi, Dr. Shuwaish Bin Saud Al-Dhuwaihi untuk mengadakan proyek pembangunan 500 ribu rumah tinggal dengan harga murah dan dengan sistem kredit bagi rakyat Saudi.

    Data Coldwell Banker Richard Ellis (CBRE- sebuah perusahaan properti terbesar di dunia) menyebutkan bahwa 60 persen dari 20 juta penduduk Arab Saudi masih tinggal di rumah atau apartemen sewaan.

    B.4.          Kenakalan Remaja

    Masalah kenakalan remaja adalah hal klasik, dan semakin beraneka ragam dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan jaman, ilmu dan teknologi, termasuk di Arab Saudi. Kenakalan rremaja "masa kini" Arab Saudi didominasi kenakalan seputar dunia otomotif, dimana banyak dijumpai anak-anak muda di jalanan yang kebut-kebutan mobil atau roda dua, bahkan sampai menantang maut, seperti melakukan gerakan slalom (meliuk-liukkan mobil dalam kecepatan tinggi) di tengah lalu lintas yang ramai. Juga para pemuda yang mengendarai motor jenis All Terrain Vehicle (ATV-motor roda empat) dengan atraksi nekad di jalanan. Aksi-aksi mereka tidak jarang mencapai klimak dengan jatuhnya korban, baik bagi si pengendara maupun orang lain.

    Sementara untuk kasus penyalahgunaan narkotika, tidak ada data resmi mengenai berapa jumlah pemakai khususnya pada generasi muda. Namun, pada bulan Agustus 2012, Abdul Elah Al-Shareef, Asisten Direktur pada The Anti-Drugs Directorate, Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa pihaknya menerima laporan tentang ketergantungan obat-obatan oleh 25 orang warga Saudi berusia dibawah 30 tahun yang tengah belajar (beasiswa) di Kanada dan Amerika Serikat. Pada bulan Oktober 2013, Abdul Elah Al-Shareef juga menyatakan bahwa adanya peningkataan pengguna narkoba sebesar 2000 kasus per minggu. Kota Riyadh dan Jeddah menempati urutan teratas dalam hal pemakai narkoba di Arab Saudi dengan target utama pemuda berusia 13 tahun.

    B.5.          Tingginya kasus perceraian

    Arab Saudi mempunyai masalah tersendiri terkait tingginya tingkat perceraian di antara masyarakatnya yang menikah. Menurut Kementerian Kehakiman Arab Saudi, 28 persen dari perceraian di Arab Saudi terjadi pada awal pernikahan. Menurut data, terdapat lebih kurang 500.000 kasus perceraian di Arab Saudi dalam waktu kurang dari dua dekade. Perceraian umumnya terjadi di antara pasangan muda. Sekitar setengah dari pria yang menceraikan istri mereka berusia antara 24 dan 28 ketika mereka menikah, sementara 18 persen berusia 18-23 tahun. Hampir 76 persen dari orang yang bercerai menyandang pendidikan tinggi dan pemegang gelar universitas, sementara kurang dari 2 persen muncul dari kalangan yang tidak berpendidikan.

     

    B.6.          Perkawinan campur

    Masalah inti yang muncul dari perkawinan campur adalah negara tidak menjamin hak-hak perempuan Saudi dan anak-anak mereka. Anak-anak hasil perkawinan campur tidak mendapat pengakuan sebagai warga negara Arab Saudi. Sementara, jika laki-laki Saudi menikahi perempuan non-Saudi, semua hak laki-laki tersebut dan juga status anaknya terlindungi oleh negara. Pemerintah Arab Saudi, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri dan Komite Kabinet Ahli telah mengesahkan UU Perkawinan antara Saudi dan Non-Saudi yang baru menggantikan UU Perkawinan yang telah berlaku selama 40 tahun.

    Sejak awal bulan September 2013, Pemerintah Arab Saudi telah mengesahkan peraturan baru bahwa bagi perempuan yang menikah dengan WN Saudi akan diperlakukan sama hak-hak dasarnya dengan WN Saudi dan diperkenankan tinggal di Arab Saudi tanpa harus melalui sistim sponsor/kafil. Keputusan ini disambut dengan sangat antusias baik oleh WN Saudi maupun WN Non-Saudi yang menikah dengan WN Saudi.

    B.7.          Korupsi

    Menghadapi maraknya kasus korupsi di lingkungan pemerintah, Pemerintah Arab Saudi pada Juni 2011 telah menyetujui Undang-Undang Anti Korupsi dan mendirikan Otoritas Nasional Anti-Korupsi (the National Anti-Corruption Authority - NACA), sebagai lembaga yang bertugas untuk memerangi kejahatan, menegakkan transparansi dan memerangi penipuan keuangan dan administrasi dalam pemerintahan.

     

    B.8.          Kesehatan

    Dalam Laporan Tahunan Statistik Kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Arab Saudi menyebutkan bahwa Arab Saudi kini memiliki 415 rumah sakit umum dan swasta dengan total 58.126 tempat tidur. Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengelola 249 rumah sakit dengan total 34.370 tempat tidur.

    Arab Saudi memiliki 65.619 dokter, dengan jumlah dokter Saudi sebanyak 21,7 persen dari total dimaksud. Tercatat ada 3.073 dokter gigi Saudi dari total 9.160 dokter gigi di Arab Saudi dan lebih kurang 2.583 apoteker Saudi bekerja di fasilitas pemerintah dari total 4.579 dan ada 10.349 apoteker bekerja di apotek swasta.

    AIDS di Arab Saudi. Terkait dengan kasus AIDS, menurut laporan Kementerian Kesehatan Saudi, jumlah penderita AIDS meningkat cepat di Arab Saudi. Menurut Program Nasional untuk AIDS, bagian dari Kementerian Kesehatan Saudi, dalam laporan terbarunya mengungkapkan kenaikan jumlah kasus HIV di Arab Saudi diperkirakan 10 persen, dengan peningkatan pertahun sebanyak 439 pasien baru. Menurut Dr. Sanaa bin Mustafa Flimban, Direktur Saudi Arabia's AIDS Charity Foundation, pada tahun 2012 terdapat 1,233 kasus baru yang 96 persen diakibatkan oleh hubungan seks. Sebanyak 850 perempuan Saudi terjangkit HIV AIDS terinfeksi dari suaminya dan sisanya terjangkit setelah kehamilan. Masyarakat Arab Saudi menganggap tabu terhadap penyakit ini yang menurut data dari UNDP terdapat hampir 10,000 kasus HIV AIDS sejak 1986.

    Kanker dan Obesitas. Di Arab Saudi juga tercatat kasus kanker dan obesitas yang cukup tinggi. Kasus kanker di Arab Saudi adalah empat kali lipat dari kasus kanker yang terjadi di tingkat internasional. Pihak Saudi menuduh meningkatnya kasus kanker tersebut disebabkan oleh masuknya barang impor yang terkontaminasi. 35 persen dari populasi di Saudi didapati memiliki penyakit hati. Sementara itu, terkait dengan kasus obesitas, Pemerintah Arab Saudi menghabiskan SR 19 milyar per tahun untuk mengobati obesitas yang melanda warganya. Lebih dari 20.000 orang meninggal setiap tahun di Arab Saudi akibat dari obesitas yang menunjukkan terjadinya penurunan harapan hidup sebesar 20 tahun.

    Sejak mencuatnya kasus Khaled Mohsen Shaeri, seorang pemuda Saudi dengan bobot 610 kg, Pemerintah Arab Saudi akan mendirikan Pusat Perawatan Obesitas, di King Fahd Medical City, Riyadh.

    Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). Pada bulan September 2012, dunia dikejutkan oleh penyakit mematikan Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) dan Arab Saudi menduduki peringkat atas di seluruh dunia. 

    Bulan Mei 2014, Kementerian Kesehatan (Kemkes) Saudi melalui Command & Control Center memeriksa dengan ketat data yang terkait dengan pasien Mers-CoV dari tahun 2012 dengan tujuan untuk memastikan pemahaman yang lebih lengkap dan akurat atas wabah Mers-CoV yang hasilnya untuk pengembangan kebijakan Kementerian dan langkah-langkah perbaikan yang diambil untuk mengatasi situasi.

    Setelah di-review, jumlah baru kasus MERS yang tercatat di KAS antara tahun 2012 s/d Juni 2014 adalah 688 dengan rincian 282 kasus kematian, 53 tengah dirawat dan 353 telah pulih.

    Dengan peningkatan jumlah kematian akibat MERS tersebut, maka tingkat kematian virus ini di Arab Saudi adalah 41%, dan bukan 33% seperti yang diperkirakan sebelumnya.

                    EBOLA. Pada tanggal 6 Agustus 2014, Kantor Berita Saudi (SPA) melaporkan seorang pasien yang diduga terinfeksi virus Ebola pertama di Arab Saudi meninggal meski telah dirawat di Jeddah. Menurut rilis dari website Kementerian Kesehatan (Kemkes) Saudi, pasien tersebut adalah seorang laki-laki berusia 40 tahun dan berada dalam kondisi kritis saat masuk ke ruang isolasi ICU dua hari sebelumnya. Namun demikian, hasil test yang dilakukan oleh the Center for Disease Control and Prevention, Atlanta, Amerika Serikat, ternyata penyebab kematian pria tersebut adalah akibat serangan jantung.

    Pada tanggal 7 Agustus merebak kembali berita tentang seorang pasien kedua yang meninggal akibat Ebola. Namun kabar tersebut segera dibantah oleh otoritas setempat dan mengingatkan agar media mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada pihak yang berwenang di Arab Saudi sebelum menurunkan laporannya.

    Sebelumnya pada tanggal 5 Agustus Pemerintah Arab Saudi melalui juru bicara Kemkes Arab Saudi, Dr. Khaled Marghalani mengatakan bahwa pihaknya melarang sementara penerbitan visa Haji dan Umrah untuk negara Sierra Leone, Guinea, dan Liberia karena kekhawatiran tentang penyebaran virus Ebola dari negara-negara tersebut. Demikian juga larangan penerbitan visa kunjungan dan kerja.

    B.9.          Isu-Isu Gender

    Di bidang peranan kaum wanita, Pemerintah Arab Saudi menaruh perhatian besar. Hal ini dapat dilihat dari rencana pendirian beberapa lembaga pendidikan tinggi khusus untuk wanita, peningkatan peran wanita di bidang bisnis dan sebagainya. Demikian juga, suara-suara yang menyerukan peningkatan peran wanita sudah semakin dapat didengar dan dibaca di berbagai media massa.

    Dewasa ini kaum wanita Arab Saudi semakin banyak berperan di bidang-bidang sosial dan bisnis. Bahkan pada tahun 2011, Pemerintah Arab Saudi memberikan peluang bagi kaum wanita untuk dapat berpolitik dengan memberikan kesempatan untuk memberikan suaranya dalam pemilihan umum di Kotapraja.

    Isu-isu perempuan bekerja, di lingkungan kerja dan hak-hak perempuan pada umumnya, telah memicu perdebatan sengit di Arab Saudi. Hak asasi manusia dan aktivis perempuan telah menyerukan lapangan kerja harus disediakan bagi perempuan. Mereka telah mengeluh bahwa laki-laki, sebagian besar ekspatriat, masih melayani perempuan di toko-toko pakaian dalam wanita, sehingga menyebabkan hal-hal yang memalukan bagi pelanggan wanita. Masalah peluang kerja bagi perempuan telah menjadi perhatian utama Pemerintah Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir yang dijawab dengan Dekrit Raja pada tanggal 25 September 2011 dimana perempuan diperbolehkan untuk bekerja di toko-toko yang menjual barang-barang keperluan wanita (lingerie) dan kasir supermarket.

    Media massa terutama siaran televisi Arab Saudi juga sudah terbiasa menampilkan wanita sebagai pembicara/nara sumber maupun pembawa acara yang sebelumnya dianggap tabu.

    Isu menonjol lain tentang wanita di Arab Saudi adalah mengenai tuntutan agar mereka diizinkan mengemudi mobil.

    Menurut laporan sebuah penelitian, sektor publik adalah yang terbesar mempekerjakan perempuan Saudi, dan para perempuan saat ini telah mengisi sekitar 30 persen dari pegawai pemerintah. Sekitar 95 persen perempuan Saudi yang bekerja ada di sektor publik: 85 persen di bidang pendidikan - baik mengajar atau posisi administrasi, 6 persen pada kesehatan masyarakat, dan 4 persen dalam administrasi.

    Upaya perubahan yang dilakukan oleh Raja Abdullah secara perlahan memberikan hasil, dan tercatat ada banyak wanita Arab Saudi  yang menorehkan prestasi di berbagai bidang, seperti berikut: 

    1)      Norah Al-Fayez adalah perempuan Saudi pertama yang ditunjuk untuk menduduki posisi Wakil Menteri. Dia adalah Wakil Menteri Pendidikan untuk Pendidikan Wanita.

    2)      Lama Al-Suleiman perempuan Saudi pertama yang terpilih menjadi anggota dewan direksi dari Kamar Dagang dan Industri Jeddah.

    3)      Dr. Hayat Sindi, salah satu wanita pertama yang diangkat menjadi anggota Dewan Syuro Arab Saudi  dan terpilih serta diundang oleh Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk bergabung dengan badan yang baru dibentuk PBB, Scientific Advisory Board yang bertugas untuk memberikan saran kepada kepemimpinan PPB tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi serta pembangunan yang berkelanjutan.

    4)      Dr. Khawla Al-Kuraya, Direktur Riset di King Fahd National Center untuk Anak-anak sakit Kanker, bagian dari King Faisal Specialist Hospital dan Research Center di Riyadh, diangkat sebagai editor senior di jurnal penelitian ilmiah, BMC Genomics.

    5)          Zaki Bin Abboud, perancang terkenal, memenangkan Oscar Golden Palm untuk koleksi pakaiannya, berjudul Angels, di Carnival European Film Festival di Italia.

    6)          Thoraya Ahmed Obaid, perempuan Saudi pertama menjadi Direktur Eksekutif pada United Nations Population Fund (UNFPA).

    7)          Wojdan Shaherkani dan Sarah Attar merupakan atlet perempuan Saudi pertama yang mengikuti Olympic Games di London pada bulan Juli 2012.

    8)          Haifaa Al Mansour menjadi sutradara film perempuan pertama Arab Saudi dengan filmnya “‘Wadjda’” yang seluruh pengambilan gambarnya dilakukan di Arab Saudi. Film ini tayang pertama kali dalam Festival Film Venesia 2012.

    9)           Raha Moharrak tercatat sebagai perempuan pertama Arab Saudi yang menaklukkan Gunung Everest. Raha Moharrak (25) berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia pada Sabtu (18/05/2013) sebagai bagian dari tim yang terdiri dari empat orang.

    10)             Bayan Zahran, beserta tiga orang rekannya Jihan Qurban, Sarra Al Omari, dan Amerah Quqani merupakan wanita-wanita pertama yang memperoleh ijin praktek sebagai pengacara dari Kementerian Kehakiman (Ministry of Justice) Arab Saudi pada bulan April 2013. Pada tanggal 31 Oktober 2013 untuk pertama kalinya Bayan Zahran mendampingi kliennya di Pengadilan Umum Jeddah.

    B.10.        Olah Raga dan Kepemudaan

    Negara Kerajaan Arab Saudi sampai saat ini tidak/belum memiliki lembaga yang menangani olah raga dan pemuda setingkat Kementerian atau Departemen. Kegiatan olah raga dan pemuda berada dibawah General Presidency of Youth Welfare (GPYW) yang terdiri dari pejabat-pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kementerian Pendidikan Tinggi. Namun demikian GPYW diketuai oleh seorang Presidency dengan rank setingkat Menteri.

     

    Di antara program GPYW adalah: 

    §  Membangun fasilitas olaharga di semua kota Arab Saudi, mulai dari kota-kota besar hingga kota kecil.

    §  Memperkenalkan program acara tahunan di tingkat lokal dan nasional di semua bidang termasuk penyeleggaraan liga lokal, Sports for All dan Folk Games Days.

    §  Mengatur pertandingan klub-klub olah raga lokal sepanjang tahun.

    Saat ini Arab Saudi memiliki 18 federasi olah raga yang selain dinaungi oleh GPYW, juga diatur liga dan turnamennya dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilannya.

    C.      Kebudayaan

    C.1. Bahasa
    Dilihat dari sisi bahasa, secara umum bahasa Arab yang digunakan oleh masyarakat Arab Saudi ada dua macam, yaitu bahasa Arab fushah (bahasa arab standar/baku) dan bahasa Arab amiyyah (bahasa arab pasaran). Bahasa Arab fushah umumnya digunakan dalam komunikasi resmi, misalnya di sekolah, kantor, dan ruang publik formal lainnya. Sementara bahasa Arab amiyyah digunakan untuk keperluan komunikasi atau percakapan sehari-hari.

    C.2 Pola komunikasi Masyarakat Arab Saudi

    Secara umum, pola komunikasi orang Arab termasuk tipe komunikasi yang sangat ekspresif. Tipe ini memadukan bahasa verbal dengan nonverbal sekaligus, seperti berbicara dengan mimik, gerak tubuh (gesture), dan pendukung nonverbal lainnya untuk meyakinkan lawan bicaranya.

    Meski pada umumnya warga Saudi beragama Islam, tidak berarti cara dan etika mereka dalam berkomunikasi selalu santun. Sebagian dari mereka berkomunikasi berdasarkan budaya, sama seperti di Indonesia. Hal ini penting dipahami oleh orang-orang yang berziarah atau berkunjung ke Arab Saudi, baik untuk menunaikan ibadah haji atau umroh. Hal ini berguna untuk mengatasi kesalahpahaman dan konflik yang mungkin muncul saat berhubungan dengan orang arab.

    Gaya komunikasi orang arab tidak berbicara apa adanya, kurang jelas, dan kurang langsung. Umumnya orang Arab Saudi suka berbicara berlebihan dan banyak basa-basi. Sebagai contoh, jika seorang arab Saudi bertemu dengan temannya utuk sekadar tanya kabar, tidak cukup dengan satu kali ungkapan, tapi berkali-kali agar tidak terjadi kesalahpahaman dan meyakinkan.

    C.3. Sastra

    Sastra Arab Saudi  dipengaruhi dari dua sumber yang kaya akan inspirasi: yakni nilai-nilai keislaman yang terpersonifikasi melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perilaku para Salafus-Shalih, dan Bahasa Arab yang kata-kata dan susunan kalimatnya terbentuk di wilayah Jazirah Arabia ini.

    Dari kedua referensi inilah, budaya, pemikiran dan sastra berkembang di Saudi Arabia, yang putera-puteranya merasa bangga karena mereka menjadi pewaris para pujangga besar yang dilahirkan di bumi ini. Mereka memahami betul akan tanggung jawab dan peran yang mesti mereka mainkan di alam modern saat ini. Sebagaimana tertera dalam Anggaran Dasar Pemerintahan, Negara berkewajiban memelihara kebudayaan, pemikiran dan sastra. Karena itulah, perkembangan budaya dan seni di Saudi Arabia berkembang sangat dinamis sejak beberapa dasawarsa yang lalu, hal itu terbukti dengan banyaknya karya sastra, buku, perpustakaan dan forum-forum budaya. Di antaranya terdapat 16 sanggar budaya yang tersebar di kota-kota Saudi Arabia yang cukup berperan dalam pembentukan generasi sastrawan dan ilmuwan di Saudi, dan menghubungkan antara sastra dan budaya yang ada dalam negeri dengan aliran umum budaya arab. Ditambah lagi adanya beberapa aktivitas budaya yang dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi dan forum-forum sastra dan budaya yang bersifat khusus.

    C.4. Kesenian

    Dalam hal kesenian dan warisan tradisional, Saudi Arabia memiliki  berbagai koleksi seni tradisional yang menunjukkan adanya keragaman budaya di Saudi Arabia, seperti lagu-lagu yang bercorak kelautan dan lagu-lagu yang bernuansa padang pasir dan pedesaan, sampai adanya bermacam kesenian panggung dan tarian tradisional.

    Pada sisi lain, di Saudi Arabia terdapat beberapa oraganisasi kebudayaan dan kesenian yang tersebar di berbagai kota. Oraganisasi-organisasi ini mampu melestarikan bakat-bakat seni panggung, lagu-lagu, musik dan seni lukis. Hal yang menjadi bagian penting dalam fenomena kehidupan modern di Kerajaan Saudi Arabia adalah banyaknya pameran-pameran seni, museum-museum pemerintah dan swasta, pekan-pekan kesenian terutama yang dilaksanakan pada event-event tertentu seperti hari raya dan musim-musim kunjungan wisata, salah satu pekan budaya yang cukup tekenal baik di dalam maupun luar negeri adalah Festival Budaya dan Tradisi yang diadakan setiap tahun di Al-Janadiriyah Riyadh. Festival Janadiriyah ini mampu membangun kesinambungan antara generasi warga Saudi masa kini dengan warisan kebudayaan masa sebelumnya. Perayaan Festival Janadriyah ke-29 dibuka pada tanggal 12 Pebruari 2014 yang lalu dengan tamu kehormatan Uni Emirat Arab.

    Dalam festival tersebut, berbagai acara digelar diantaranya, The Operetta (menampilkan para penyanyi top Saudi),  pameran/paviliun dari berbagi provinsi dan institusi, paviliun perusahaan swasta, balap onta, pembacaan puisi/syair, pasar tradisional dan pameran handicraft, tarian rakyat “Ardah”, teater rakyat dll.

    C.5 Tarian dan Musik Tradisional 

    Salah satu ritual yang paling menarik Arab Saudi rakyat adalah tari nasional Al Ardha, yaitu tarian pedang yang didasarkan pada tradisi Badui kuno. Selain itu ada Al-sihba, yaitu musik rakyat Hijaz yang memiliki asal-usul dalam al-Andalus. Ada juga Samri, yaitu bentuk tradisional populer musik dan tari di mana puisi dinyanyikan. Ada juga tari Dabka di utara, dan tari perut untuk wanita dengan berbagai gaya, seperti gaya khaleeji di timur, dan gaya saedi di Hijaz. Salah satu tarian populer lainnya di dunia Arab disebut Dabka, suatu bentuk tradisional tari baris unisex ditemukan di Dunia Arab Timur. Tari ini berdasarkan menghentak berirama, melangkah dan melompat, benar-benar disinkronkan dengan drummer. Tarian ini biasanya ditarikan dalam pernikahan dan pertunangan oleh semua orang dari segala usia.

    C.6 Privasi

    Bagi orang Arab Saudi, rumah betul-betul menjadi bagian privasi yang tak semua orang bisa mengakses bagian dalamnya dengan mudah. Setiap rumah selalu ditutup pagar tembok tinggi dengan pintu gerbang yang berlapis-lapis. Setiap yang ada di balik tembok merupakan privasi yang tidak boleh di akses publik. Hal ini memang sejalan dengan syariah Islam yang membatasi hubungan antara pria dan wanita, terutama terkait dengan masalah aurat dan interaksi. Orang asing yang berusaha untuk melongok-longok mengamati di depan pintu orang Saudi, bisa jadi akan dianggap sebagai maling atau penculik yang sedang mengintai mereka.

    Nilai kehormatan orang Arab terutama melekat pada anggota keluarganya, khususnya wanita, yang tidak boleh diganggu orang luar. Di Arab Saudi wanita adalah properti domestik. Di Saudi, adalah hal yang lazim jika seorang pria tidak pernah mengenal atau bahkan sekadar melihat wajah istri atau anak perempuan dari sahabatnya, meskipun mereka telah lama bersahabat dan sering saling mengunjungi. Juga tidak lazim bagi seorang pria untuk memberi bingkisan kepada istri sahabat prianya itu atau anak perempuannya yang sudah dewasa

    C.7 Busana

    Hampir semua busana orang Arab Saudi sama, yaitu pakaian putih yang biasa di sebut ”tsaub” yang mengekspresikan kesetaraan dan juga sangat cocok dengan iklim Saudi panas. Namun warna “tsaub” itu akan berubah menjadi bermacam warna gelap terbuat dari wol pada musim dingin. Selain itu, mereka menggunakan sorban motif kotak-kotak kecil berwarna merah-putih yang dinamakan “Ghutrah” yang diikat dengan “iqal” berwarna hitam di kepala. Namun, mayoritas tokoh-tokoh agama tidak suka memakai iqal ini. Biasanya penampilan dengan iqal tersebut membuat orang Indonesia minder sehingga  oknum Arab sering menggunakanya untuk menekan. 

    C.8 Bertamu

    Budaya/tradisi Arab mementingkan keramahtamahan terhadap tamu, kemurahan hati, keberanian, kehormatan, dan harga-diri.

    C.9 Lalu lintas

    Aturan/rambu-rambu lalu lintas yang berlaku di Arab Saudi berbeda 180 derajat dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Di Indonesia, setiap pengguna jalan umum, baik kendaraan pribadi ataupun umum semua wajib berada di jalur kiri jalan (kemudi berada di bagian kanan). Demikian pula untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Semua berada di jalur kiri. Berbeda dengan Arab Saudi. Semua pengguna jalan, termasuk aktivitas menaikkan atau menurunkan penumpang, berada di jalur kanan jalan.


    C.10 Situs-situs Bersejarah

    Perhatian Pemerintah Arab Saudi terhadap situs-situs bersejarah semakin meningkat dengan semakin banyak membangun dan membenahi situs-situs sejarah dan museum-museum di beberapa wilayah/kota. Tidak hanya itu, Pemerintah Arab Saudi melalui Saudi Council for Tourism and Antiquities (SCTA) juga berupaya memasukkan beberapa situs-situs sejarah ke dalam tujuh keajaiban dunia di bawah PBB (UNESCO).

    C.11.        Kehidupan Beragama

    Arab Saudi adalah sebuah negara Islam yang berlandaskan pada kaidah-kaidah yang ditetapkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah (Petunjuk dan tauladan) Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kehidupan beragama di Arab Saudi sangat menonjol.

    Perhatian Pemerintah Arab Saudi terhadap urusan keagamaan sangat besar, termasuk dalam hal peningkatan pelayanan ibadah haji dan umrah. Hal ini dapat dilihat dari pengembangan/perluasan dan peningkatan berbagai sarana untuk ibadah haji dan umrah yang terus dibangun dan diperbaiki dari tahun ke tahun demi kelancaran dan kenyamanan ibadah haji dan umrah.

    C. 12        Penyelenggaraan Ibadah Tahunan Haji

    Salah satu berkah dari Allah SWT bagi Arab Saudi adalah keberadaan dua kota suci, Makkah Al-Mukarromah dan Madinah Al-Munawwarah. Khususnya Makkah, merupakan kota suci tempat beradanya Ka'bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim sekaligus sebagai tempat pelaksanaan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam ke-lima bagi semua Ummat Islam.

    Dalam rangka memberikan pelayanan kepada para tamu Allah SWT yang datang ke Arab Saudi setiap tahunnya, baik untuk melaksanakan umroh maupun ibadah haji, Pemerintah Arab Saudi memiliki perhatian yang sangat tinggi untuk memberikan pelayanan maksimal, hingga Raja sendiri dijuluki sebagai Khodimul Haramain atau pelayan dua kota suci. Dalam rangka meningkatkan berbagai saranan dan fasilitas yang memberikan kemudahan bagi seluruh jamaah haji, dari tahun ke tahun, Pemerintah Arab Saudi terus melakukan berbagai proyek renovasi dan perluasan bangunan kedua masjid suci, agar semakin memberikan kenyamanan bagi para jamaah yang dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya. 

    Pelaksanaan proyek renovasi Masjidil Haram di Makkah, meskipun dimaksudkan untuk perluasan masjid agar dapat lebih banyak menampung jamaah, untuk sementara waktu berimbas pada pembatasan quota jamaah haji dari semua Negara. Pada tanggal 6 Juni 2013, Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji Arab Saudi mengeluarkan kebijakan pengurangan kuota haji dari seluruh dunia yakni sebesar 20 persen dari kuota dasar sesuai kesepakatan negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) termasuk Indonesia.

    C.13 Pariwisata

    Keberadaan dua kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, merupakan sumber aliran abadi wisatawan religius, dengan jutaan umat Islam mengunjungi Arab Saudi setiap tahun untuk haji. Menurut data the Saudi Tourism and Antiquities Committee (SCTA), dari 17 juta wisatawan yang mengunjungi Arab Saudi pada tahun 2013, 6,9 juta (40,6%) diantaranya adalah wisata religi (Haji/Umroh).

    Seiring dengan pembangunan infrastruktur pariwisata secara besar-besaran di Arab Saudi, maka pada tahun 2013 terjadi peningkatan wisatawan domestik yang menurut data dari the Tourism Information and Research Center (MAS) terjadi peningkatan dari 19 juta (2012) menjadi 23.8 juta (2013) atau meningkat 4.8 juta dan membelanjakan SR 28 miliar.

    Pada tahun 2013, lebih dari 203 ribu WN Saudi bekerja di sektor ini dengan 27 persennya adalah pekerja tetap. Sektor pariwisata juga menyumbang hampir tiga persen dari GDP atau sekitar SR. 75 miliar. Saat ini terdapat 300,000 kamar hotel dan 87,000 furnished apartments dimana sekitar 77 persennya berada di Mekkah dan Madinah.

    Sementata data WN Saudi yang bepergian ke luar negeri pada musim panas 2013 diperkirakan mencapai 12 juta orang dan menghabiskan dana sebesar SR 40 miliar. Dubai tetap menjadi favorit tujuan wisata yang diikuti oleh Eropa dan negara-negara Asia.

    C.14 Pemindahan Makam Nabi SAW

    Pada tanggal 1 September 2014 sebuah portal surat kabar Inggris “The Independent” menurunkan laporan yang menurutnya adalah ekslusif dengan judul “Saudis risk new Muslim division with proposal to move Mohamed’s tomb”, yang memuat laporan Andrew Johnson bahwa terdapat proposal dalam suatu studi setebal 61 halaman yang merekomendasikan pengelola al-Haramain untuk memindahkan makam Rasulullah ke komplek pekuburan Baqi. Akibatnya, rumor pun berkembang termasuk di Indonesia yang menolak usulan dimaksud.

    Namun hal tersebut kemudian dibantah oleh Juru bicara Kantor Pusat Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Ahmed bin Muhammad Al-Mansouri yang menyatakan bahwa laporan yang muncul di media Barat tersebut adalah salah. Menurutnya wacana pemindahan makam Nabi SAW merupakan pandangan pribadi dari seorang peneliti yang telah menyampaikan pendapatnya dalam sebuah studi, dan sama sekali tidak merefleksikan pandangan dari Kantor Pusat Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi atau kebijakan Pemerintahan Kerajaan Arab Saudi.

     

    VI.        HUBUNGAN BILATERAL RI-KERAJAAN ARAB SAUDI

     

    Politik

    Kerajaan Arab Saudi bersama-sama dengan tujuh negara Arab lainnya memberikan pengakuan atas Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 4 November 1947. Hubungan diplomatik resmi antara Arab Saudi dan Indonesia terjalin sejak tanggal 1 Mei 1950. Sebelum membuka kantor perwakilan di Arab Saudi, Indonesia membuka Kantor Perwakilan pertama di Timur Tengah di Kairo, Mesir, pada tanggal 7 Agustus 1949. Pada tahun 1950, Kantor Perwakilan ini kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Kedutaan Besar yang juga terakreditasi untuk Arab Saudi, Iran dan Pakistan.

     

    Indonesia baru membuka kantor Kedutaan Besar di Jeddah pada tahun 1964. Kedutaan Besar Republik Indonesia selanjutnya dipindahkan dari Jeddah ke Riyadh pada tanggal 29 September 1985. Perwakilan RI di Jeddah kemudian diubah statusnya menjadi Konsulat Jenderal Republik Indonesia. Sedangkan