the 60th Commemoration of the 1955 Bandung Conference and an Evening of Indonesian Culture and Cuisine

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria, bekerjasama dengan keluarga Moses Kotane dan Molvi Cachalia serta Al-Ghazali College, menyelenggarakan peringatan ke-60 Konferensi Asia-Afrika 1955. Acara tersebut diberi judul the 60th Commemoration of the 1955 Bandung Conference and an Evening of Indonesian Culture and Cuisine.

 

Acara diikuti oleh + 500 tamu yang terdiri dari komunitas diplomatik, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan para undangan lainnya.

 

Dalam pidato utamanya, Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Bpk. Suprapto Martosetomo menyampaikan bahwa KAA 1955, yang di Afrika Selatan lebih dikenal dengan nama Konferensi Bandung, adalah hasil karya para Bapak Bangsa Indonesia, terutama Presiden Pertama RI Ir. Soekarno. KAA 1955 telah menghasilkan prestasi besar dengan mempercepat proses dekolonisasi dan memfasiltasi kemerdekaan bagi banyak negara Asia dan Afrika. Duta Besar Martosetomo juga menekankan  bahwa KAA 1955 memfokuskan diri pada proses dekolonisasi, sedangkan KAA tahun 2005 dan 2015 ditujukan untuk merealisasikan kerja sama Selatan-Selatan guna mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, perdamaian dan keamanan untuk mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh negara Asia dan Afrika.

 

Keluarga Moses Kotane dan Molvi Cachalia, aktivis anti-apartheid dari Afrika Selatan yang turut menghadiri KAA 1955, Duta Besar Jo Kotane dan Ibu Saiida Cachalia. Keluarga Kotane dan Cachalia pada saat ini tetap sangat dihormati dan berperan aktif dalam perpolitikan Afrika Selatan. Dalam kata sambutannya, Perwakilan Keluarga Kotane dan Cachalia menceritakan perjuangan kedua ayah mereka untuk menghadiri KAA 1955, dikarenakan pemerintahan apartheid yang berkuasa ketika itu menolak untuk memberikan paspor kepada mereka. Ditekankan bahwa KAA 1955 memberikan dukungan dan pengakuan dunia internasional yang pertama bagi Partai African National Congress (ANC), yang ketika itu berjuang untuk mengakhiri politik apartheid. Mereka mengakui dan menghargai peran penting dari KAA 1955 dan dukungan Pemerintah Indonesia dalam perjuangan melawan rezim apartheid dan akhirnya dapat mewujudkan kemerdekaan dan kebebasan yang hakiki bagi Afrika Selatan di tahun 1994.

 

Acara peringatan KAA 1955 tersebut juga menampilkan promosi budaya dan makanan khas Indonesia. Acara tersebut menampilkan Tari Saman, Tari Giring-Giring, demonstrasi pencak silat, dan pameran kain tradisional Indonesia. Tarian dan pencak silat dibwakan oleh anak-anak dari Komunitas Cape Malay di Bostmon. Komunitas Cape Malay merupakan diasporan Indonesia yang telah tinggal di Afrika Selatan selama 300 tahun. Para undangan juga menikmati makanan khas Indonesia seperti sate ayam dan sate kambing serta penganan khas seperti lumpia, martabak, lapis surabaya, dan kue soes.

 

 

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Pretoria, Juli 2015