Thabo Rapoo, Pribumi Afrika Selatan yang Menjadi Duta Budaya Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Seni dan budaya Indonesia yang adiluhung membuat Thabo Rapoo, warga Afrika Selatan, jatuh cinta. Thabo pun didaulat menjadi orang pertama Afsel sebagai duta budaya Indonesia.

 

FISIK Thabo Rapoo tidak berbeda jauh dengan warga pribumi Afrika Selatan (Afsel). Berkulit hitam, rambut keriwil tipis. Tingginya sekitar 170 cm. Yang membedakan dari seorang Thabo adalah pembawaan dan tutur katanya yang kalem. Sikap Thabo berbeda dengan pembawaan anak muda Afrika Selatan kebanyakan yang tampak garang.

 

''Selamat pagi, saya Thabo," kata Thabo dalam bahasa Indonesia saat mengenalkan diri kepada Jawa Pos di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Pretoria, Afrika Selatan, Jumat (19/6) lalu. Awalnya, kami mengira Thabo adalah seorang wanita. Referensi kami adalah cerita dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Lesotho dan Kerajaan Swaziland Sugeng Rahardjo.

 

Dia bercerita bahwa KBRI Pretoria menyekolahkan warga pribumi untuk belajar menari dan mendalami seni serta budaya Indonesia. Namun, kami tidak mengira kalau Thabo seorang pria. Kami baru tersadar ketika bertemu langsung dengan pria 31 tahun tersebut. "Thabo kini menjadi duta budaya Indonesia. Saya berharap lewat Thabo, kita dapat mempromosikan Indonesia kepada orang Afrika Selatan,'' kata Sugeng dalam penyerahan dukungan KBRI Pretoria bagi pementasan Ken Arok, tarian hasil garapan Thabo Rapoo, di lantai dua KBRI Pretoria.

 

''Dia menjadi seniman muda terbaik di negaranya. Ketika diwawancarai media, nama Indonesia sering disebut-sebut sehingga negara kita semakin dikenal dunia," lanjutnya. Thabo menjadi orang pertama Afsel yang mendapat beasiswa seni dan budaya dari Departemen Luar Negeri. Cerita itu bermula pada 2007 ketika Direktorat Informasi Publik Departemen Luar Negeri menawarkan beasiswa pendidikan budaya kepada masyarakat keturunan Indonesia di Afrika Selatan.

 

Pada 2008, Deplu memperluas tawaran itu dengan memberikan penawaran kepada warga Afrika Selatan yang dianggap dapat menyebarluaskan ketrampilan seni budaya Indonesia yang dipelajarinya selama di Indonesia kepada masyarakat Afrika Selatan. ''Ternyata respons warga lokal sangat bagus. Ada empat atau enam orang yang mengajukan lamaran. Salah satunya Thabo,'' kata Sugeng. ''Dia pernah belajar ke Rusia dan negara lain. Tapi, dia ternyata lebih cocok dengan budaya Indonesia,'' sambungnya.

 

Namun, Thabo tidak mudah mendapat kesempatan untuk belajar seni dan budaya ke Indonesia. Dia harus melalui seleksi dengan persyaratan yang ketat. Pelamar yang terpilih diwajibkan mengajarkan ilmu yang dipelajari di Indonesia kepada warga Afsel. "Thabo sekarang mengajarkan tari di kampungnya. Ke depan kita harapkan agar masyarakat Afrika Selatan memahami budaya Indonesia," kata pria yang senang sepak bola itu.

 

Thabo mengaku jatuh cinta dengan seni dan budaya Indonesia setelah tinggal di Solo, Jawa Tengah, tahun lalu. Saat itulah dia mulai belajar seni budaya Indonesia. "Saya ke Indonesia tahun lalu. Mulai Juli hingga November, saya dibimbing guru bernama Pak Tresno di Solo. Dia banyak mengajarkan ke saya tarian Jawa,'' kata Thabo yang ingin kembali ke Indonesia tahun depan.

 

Dia mengaku semakin tertarik dengan budaya Indonesia setelah mengetahui tarian di Jawa mirip dengan di Afrika Selatan.''Budaya Indonesia tidak banyak perbedaan dengan kultur di Afrika Selatan. Saya merasa ada sesuatu dalam diri saya yang menuntun untuk mempelajari budaya Jawa lebih dalam," kata suami Bafikile Sedibe itu.

 

Dalam setiap penampilan, Thabo senang memainkan peran sebagai Ken Arok dan cakil. Menurut dia, jiwa Ken Arok ada dalam diri setiap manusia yang memiliki nafsu ingin berkuasa. "Saya paling suka Ken Arok. Saya melihat spirit Ken Arok ada pada diri setiap manusia. Jiwa yang ingin berkuasa meski harus melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya," jelasnya.

 

Selain tari, Thabo mengaku senang dengan wayang orang, wayang golek, wayang kulit, dan membatik. Bahkan, dia menyatakan ingin mendalami ilmu kejawen yang menurutnya sangat mirip dengan di Afrika Selatan. ''Kalau di wayang kulit, karakter favorit saya Gatutkaca. Selain kuat, dia bisa terbang,'' kata Thabo. ''Saya tertarik kejawen karena filosofinya identik dengan kebiasaan orang-orang tua kami,'' kata pria yang mengaku se¬nang dengan nasi goreng Jawa dan minuman es jeruk itu.

 

Thabo juga menyimpan kekaguman dengan cara orang Indonesia dalam menghormati orang tua atau raja. Menurut dia, ada nilai penghormatan yang tinggi ketika kaum muda atau orang awam berhadapan dengan raja dan orang tua. ''Cara orang muda menghormati orang tua atau raja mirip dengan apa yang kami lakukan di sini,'' kata Thabo sambil mencontohkan cara menyembah ke raja dan bersalaman dengan dua tangan kepada orang tua.

 

Dia bercerita jika pada awalnya sulit untuk meyakinkan orang tuanya saat kali pertama mengambil keputusan untuk mendalami seni dan budaya Indonesia. Namun, setelah dilakukan pendekatan dari hati ke hati, akhirnya orang tua dan keluarga Thabo mendukung penuh. ''Saya sering mengajak mereka menyaksikan saya ketika menari di hadapan publik Afsel. Saya kemudian mengartikan setiap gerakan yang saya mainkan dan mereka mengerti,'' tutur pria yang baru terpilih sebagai seniman muda terbaik Afsel itu. (iro)

 

Sumber: Andryanto W., Farid R. - Jawa Pos (29/06/2009)