Resesi Ekonomi Afrika Selatan Berlanjut Pada Kuartal Kedua 2009

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pemerintah Afrika Selatan melaporkan resesi ekonomi Afrika Selatan yang dimulai pada kuartal pertama masih berlangsung pada kuartal ke-2 tahun 2009. GDP kuartal kedua menurun sebanyak 3 persen dari kuartal sebelumnya. GDP kuartal pertama 2009 dilaporkan menurun 6.4 persen dari kuartal sebelumnya. Beberapa pengamat memperkirakan pemerintah akan sulit mencapai sasaran memperkerjakan sebanyak 500 ribu orang pada akhir tahun 2009 di tengah-tengah situasi ekonomi saat ini.
 
Kontraksi ekonomi Afrika Selatan terkait langsung dengan situasi resesi ekonomi dunia yang mengakibatkan menurun drastis ekspor produk-produk pertambangan dan manufaktur ke berbagai negara. Akibatnya terjadi pemutusan hubungan kerja bagi ribuan tenaga kerja. Dampak lainnya adalah penurunan penerimaan dari sektor pajak, membengkaknya defisit anggaran belanja diperkirakan mencapai 3.8 persen GDP. Kontraksi ekonomi terparah terjadi pada kuartal pertama dan diperkirakan dampaknya akan berlangsung hingga beberapa waktu mendatang. Mr. Pravin Gordhan, menteri keuangan, mengindikasikan bila perekonomian pulih kembali, pertumbuhan ekonomi afrika selatan hanya akan berkisar pada 2.5 - 3.5 persen pertahun.
 
Sektor manufaktur merosot sebanyak 10.9 persen setelah pada kuartal pertama menurun sebesar 22.1 persen. Sektor pertambangan menurun sebesar 5.5 persen setelah sebelumnya merosot sebesar 32.8 persen. Sektor ritel merosot selama lima kuartal berturut-turut dan pada kuartal kedua 2009 menurun sebanyak 4.5 persen. Sektor konstruksi menurun sebesar 12.2 persen setelah sebelumnya menurun sebanyak 9.4 persen.