Afrika Selatan

REPUBLIK AFRIKA SELATAN

 

 

I.          PROFIL NEGARA

 

Nama Resmi:

Republic of South Africa

 

Bentuk Negara:

Republik

 

Ibu Kota:

  • Ibukota Pemerintahan : Pretoria
  • Ibukota Legislatif         : Cape Town
  • Ibukota Yudikatif         : Bloemfontein

 

Luas Wilayah:

1.219.090 km²

 

Lagu Kebangsaan:

'Nkosi Sikelel' iAfrika' (God Bless Africa)

 

Populasi:

54.002.000 Jiwa (Statistic South Africa)

 

Bahasa Nasional:

English, Afrikaans, Zulu, Xhosa, Tsonga, Swati, Southern Sotho, Tswana, Venda, Northern Sotho, Ndebele

 

Agama/ Kepercayaan:

Nasrani (kristen dan katolik) 68,62%; Budha (0,009%), kepercayaan tradisional (0,29%), Hindu (1,23%), Yahudi (1,67%), Islam (14,59%), Atheis (15,09%), Taois (0,0008%).

 

Mata Uang:

Rand (ZAR), Kurs 1 US$ ± 15.1 Rand, [April 2016]

 

Hari Nasional:

27 April (Freedom Day)

 

Kepala Negara:

Presiden Jacob Zuma (sejak 2009)

 

Kepala Pemerintahan:

Presiden Jacob Zuma (sejak 2009)

Menteri Luar Negeri:

Maite Nkoana-Mashabane (sejak Mei 2009)

 

Partai yang Memerintah:

African National Congress (ANC)

 

Produk Domestik Bruto (PDB):

US$ 326,541 Milyar (nominal, IMF, perkiraan 2016)

US$ 742,461 Milyar (PPP, IMF, perkiraan 2016)

 

PDB per Kapita:

US$ 5.859 (nominal, IMF, perkiraan 2016)

 

Cadangan Devisa:

US$ 45,75 milyar (Data, SA reserve Bank, February 2016)

 

Komoditas ekspor utama Afrika Selatan:

Emas, berlian, platinum, bahan tambang, mesin-mesin       

 

Komoditas impor utama Afrika Selatan:

Mesin-mesin, kimia, produk-produk minyak bumi, alat-alat iptek, bahan pangan

 

Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional:

ACP, AfDB, AU, BIS, BRICS, CD, FAO, FATF, G-20, G-24, G-77, IAEA, IBRD, ICAO, ICC (national committees), ICRM, IDA, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, ITUC (NGOs), MIGA, MONUSCO, NAM, NSG, OECD (Enhanced Engagement, OPCW, Paris Club (associate), PCA, SACU, SADC, UN, UNAMID, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNITAR, UNSC (temporary), UNWTO, UPU, WCO, WFTU (NGOs), WHO, WIPO, WMO, WTO, ZC

 

 

II.             PERKEMBANGAN AFRIKA SELATAN SEJAK 1994

 

A.       Politik

                                                                            

1.        Afrika Selatan (Afrika Selatan) merupakan negara yang menyatakan diri sebagai Rainbow Nation mengingat latar belakang dan komposisi masyarakat Afrika Selatan yang beranekaragam. Istilah Rainbow Nation dicetuskan oleh mantan presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan yaitu mendiang Nelson Mandela yang mengutamakan rekonsiliasi dan persatuan bangsa pasca rezim apartheid. Masyarakat Afrika Selatan memberikan penghormatan yang tinggi kepada mendiang Nelson Mandela dengan menyebutnya sebagai Father of the Nation dan juga meneladani falsafah Nelson Mandela yaitu Ubuntu yang merupakan konsep semangat persatuan dan keselarasan dalam hidup bersosialisasi serta dalam menjaga nilai-nilai demokrasi.

 

2.        Mayoritas penduduk Afrika Selatan merupakan warga kulit hitam yang masih memiliki trauma terhadap rezim apartheid di masa lampau. Masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan selama ini memberikan dukungan yang besar kepada ANC (African National Congress) sebagai partai politik yang pernah dipimpin oleh Nelson Mandela dengan warisan yang membawa Afrika Selatan terlepas dari rezim apartheid. Namun demikian, dengan perkembangan yang terjadi saat ini, masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan mulai kehilangan sosok pemimpin ANC yang menjadi panutan dan dikagumi oleh seluruh bangsa, seperti Nelson Mandela. Banyak masyarakat kulit hitam yang menyatakan tetap mendukung ANC sebagai partai politik yang dinilai telah membebaskan mereka dari rezim apartheid, namun mereka mengharapkan munculnya tokoh pemimpin yang baru yang memiliki semangat Nelson Mandela.

 

3.        Pasca wafatnya mantan Presiden Nelson Mandela, partai ANC sudah mulai mengalami perpecahan di tubuh partai karena kehilangan figur penting ANC. Jacob Zuma, Presiden Afrika Selatan saat ini yang juga sebagai ketua partai ANC dianggap belum dapat menjadi sosok pemimpin yang diharapkan oleh anggota partai karena diduga terlibat dalam berbagai kasus korupsi, terutama kasus pembangunan kediaman pribadi Jacob Zuma di Nkandla, Kwazulu-Natal yang ditengarai menggunakan anggaran negara sebesar Rand 246 juta (equivalent US$ 24,6 juta). Terkait kasus Nkandla, Mahkamah Konstitusi Afrika Selatan memutuskan Presiden Zuma sudah melakukan pelanggaran dan harus mengembalikan sebagian dari anggaran negara yang telah dikeluarkan untuk membangun kediaman pribadi tersebut. Selain itu juga banyak para tokoh ANC mendapatkan tuduhan melakukan korupsi.

 

4.        Keadaan tersebut diperparah lagi oleh keadaan Pemerintahan Afrika Selatan yang saat ini dipimpin oleh ANC masih belum bisa menyelesaikan beberapa masalah utama Rakyat Afrika Selatan yakni masalah memajukan pendidikan, lowongan kerja, kesetaraan kaum perempuan, penurunan kemiskinan, pemerataan pemilikan tanah pertanian dan kesetaraan kesejahteraan bagi masyarakat kulit hitam Afrika Selatan.

 

5.        Demikian juga keputusan politik dalam pemajuan kapasitas Rakyat Afrika Selatan di bidang ekonomi, meskipun Pemerintah Afrika Selatan telah menetapkan kebijaksanaan program Black Economy Empowerment (BEE) yang berupaya untuk meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat kulit hitam dalam kegiatan perekonomian, namun masih dirasakan kurang lancar proses transisi penguasaan ekonomi oleh masyarakat kulit hitam. Hal ini disebabkan oleh sikap trauma masyarakat Afrika Selatan terhadap rezim apartheid dan sikap masyarakat kulit putih yang masih meneruskan pola hidup lama sebagai masyarakat yang sudah lebih awal menguasai perekonomian Afrika Selatan dan terkesan ingin mempertahankannya.

 

6.        Menyatunya masyarakat kulit putih dan kulit hitam Afrika Selatan seperti yang diharapkan Nelson Mandela masih dirasakan jauh dari harapan. Masyarakat kulit putih yang masih memiliki kematangan dalam berpolitik dan menguasai ekonomi, dirasakan masih belum rela untuk mengalihkan kemampuannya tersebut. Pada saat yang sama, masyarakat kulit hitam meskipun di dalam undang-undang Afrika Selatan telah diberikan hak mutlak memimpin negara, tetapi masih dirasakan belum memiliki kematangan dalam berpolitik dan menjalankan roda ekonomi. Pada saat yang sama, undang-undang tidak memberikan kesempatan bagi kaum masyarakat kulit putih untuk memegang tampuk kepemimpinan.

 

  1. 1. Pemilu Tingkat Nasional Tahun 2014

 

17.    Pemilu Tingkat Nasional dan Provinsi Afrika Selatan yang terakhir dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2014 diikuti oleh 33 (tiga puluh tiga) partai politik. Dari ke-33 partai tersebut, 29 partai mendapatkan suara di atas 0,1%. Tiga belas partai politik mendapatkan kursi di Parlemen, yaitu Partai ANC, Democratic Alliance, Economic Freedom Fighters, Inkatha Freedom Party, National Freedom Party, United Democratic Movement, Freedom Front Plus, Congress of the People, African Christian Democratic Party, African Independent Congress, Agang SA, Pan Africanist Congress, dan African People's Convention.

 

18.    Pemilu 2014 telah memenangkan kembali secara mayoritas Partai ANC (dengan perolehan suara sebesar 62,15%) untuk memimpin kembali Parlemen dan Pemerintahan Afrika Selatan. Berdasarkan konstitusi bahwa Ketua ANC akan menjadi Presiden Afrika Selatan untuk masa 5 (lima) tahun mendatang (2014 – 2019). Dengan menguasai parlemen secara mayoritas dan pemegang jabatan Presiden, sudah dapat diperkirakan ANC akan leluasa menjalankan kebijakan dan program politik dan ekonomi dalam dan luar negeri Afrika Selatan. Selain memimpin Pemerintahan dan Parlemen, ANC juga menguasai 8 (delapan) dari 9 (sembilan) Provinsi di Afrika Selatan, yang mana 1 (satu) provinsi dikuasai oleh partai DA (Democratic Alliance).

 

19.    ANC sebagai partai terbesar di Afrika Selatan akan mengadakan pemilihan ketua baru pada tahun 2017. Pemilihan ketua ANC akan menjadi sangat krusial karena seandainya Presiden Jacob Zuma tidak terpilih lagi sebagai Ketua ANC, maka sangat dimungkinkan Ketua ANC yang baru akan menggantikan Jacob Zuma sebagai Presiden Afrika Selatan periode 2019-2024. Berdasarkan Konstitusi Afrika Selatan, ketua partai adalah Presiden Afrika Selatan kecuali jika partai pemenang pemilu menghendaki lain. Presiden Jacob Zuma telah mengindikasikan bahwa Afrika Selatan telah siap untuk memiliki Presiden perempuan pada tahun 2019. Oleh karena itu, para pengamat politik telah memiliki spekulasi bahwa ANC di tahun 2017 akan dipimpin oleh seorang tokoh politik perempuan.

 

20.    Pemilu tahun 2014 tersebut telah melibatkan born free generation, yaitu masyarakat Afrika Selatan yang lahir setelah tahun 1994 dan melaksanakan hak pilihnya untuk pertama kali. Suara mereka adalah independen yang tidak terpengaruh pada masa lalu dan merupakan target bagi partai-partai baru yang pada umumnya terbentuk dari pecahan ANC sebagai ruling party, misalnya Congress of the People (COPE), Economic Freedom Fighters (EFF) dan Partai Agang SA.

 

21.    Dalam pemilu tersebut, Partai DA menjadi partai kedua terbesar di Afrika Selatan dengan persentase suara 22,23%, jumlah suara yang lebih banyak dibandingkan pada pemilu sebelumnya (tahun 2009). Keadaaan kaum muda yang tidak terpengaruh masa lalu dan anggota dan konstituen yang merasa kurang puas dengan hasil kinerja ANC telah banyak memberikan suaranya kepada partai DA.

 

22.    Demikian juga keadaan, partai EFF sebagai partai ketiga terbesar di Afrika Selatan, telah mendapat dukungan suara sebesar 6,35%. Suara untuk EFF pada pemilu 2014 tersebut dipengaruhi oleh janji politik yang tegas dan lugas yang disampaikan oleh pemimpin EFF, Julius Malema bahwa EFF akan membebaskan tanah perkebunan yang dimiliki oleh masyarakat kulit putih dan membagikan tanah tersebut kepada masyarakat kulit hitam, menyediakan lowongan kerja sebanyak-banyaknya dan mengadakan pemerataan penguasaan ekonomi kepada masyarakat kulit hitam.

 

23.    Kampanye pada waktu Pemilu 2014 dan propaganda yang selalu didengungkan oleh Julius Malema tersebut sangat mendapatkan perhatian oleh masyarakat kulit hitam yang masih kurang beruntung saat ini. Para pengamat menilai meskipun propaganda tersebut  masih jauh dari harapannya, namun keadaan ekonomi yang secara makro seperti inflasi yang diikuti dengan kenaikan harga-harga dan tidak adanya perbaikan-perbaikan ekonomi oleh  Pemerintah, maka bisa dimungkinkan akan terjadinya tindakan-tindakan yang merugikan negara Afrika Selatan.

 

  1. 2. Pemilu Tingkat Pemerintahan Lokal Tahun 2016

 

24.    Secara keseluruhan, dari tiga partai politik terbesar Afsel, partai politik berkuasa, ANC mendapatkan jumlah suara paling besar, yakni sebesar 53,91% namun menurun dibandingkan Pemilu Tingkat Pemerintahan Lokal (Local Government Election/LGE) 2011 (61,95%). Sementara itu, DA memperoleh dukungan suara sebesar 26,89% atau meningkat hampir tiga persen dari LGE 2011 (23,94%) dan EFF, yang  baru pertama kali mengikuti LGE, berada di tempat ketiga dengan jumlah suara sebesar 8,2%.

25.    Dari 9.301 kursi yang diperebutkan dalam LGE 2016, ANC memenangkan 5.080 kursi (48,3%), DA memperoleh 1.723 kursi (13,8%), diikuti EFF dengan 731 kursi (6,9%), dan Inkatha Freedom Party (IFP) dengan 427 kursi (4,2%).

 

26.    Dari total 213 municipal, ANC memperoleh mayoritas suara di 161 daerah, DA di 19 daerah sementara IFP di 6 daerah. Sementara itu, di 26 daerah lainnya, tidak terdapat partai politik yang memenangkan suara secara dominan.

 

27.    Pasca pengumuman hasil LGE 2016, partai-partai politik memiliki waktu selama 14 hari untuk dapat membentuk koalisi terutama di daerah-daerah yang tidak memiliki pemenang secara mayoritas, atau yang di Afsel dikenal dengan 'hung council.' Beberapa daerah yang mendapat perhatian sehubungan dengan koalisi ini adalah Tshwane dan Johannesburg yang dimenangkan masing-masing oleh DA dan ANC. Dalam hal ini, kandidat koalisi terkuat adalah EFF yang menduduki peringkat ketiga dari perolehan suara dan kursi di kedua kota di atas. Namun demikian, koalisi baik ANC dan DA dengan EFF diperkirakan tidak akan mudah terbentuk mengingat terdapatnya perbedaan pandangan politik antara masing-masing partai.

 

28.    Selain isu koalisi, LGE 2016 juga diwarnai dengan perolehan suara terendah oleh ANC sepanjang sejarah Pemilu pada era pasca-Apartheid. Oleh banyak pengamat politik Afsel maupun kader ANC, perpecahan internal dan kepemimpinan Presiden Zuma menjadi dua faktor utama penyebab penurunan drastis suara ANC pada LGE 2016 ini. Dengan perkembangan ini, ANC dianggap perlu mengambil pendekatan yang berbeda dalam menyambut Pemilu Nasional dan Provinsi tahun 2019 mendatang untuk dapat memperbaiki citranya secara nasional guna dapat tetap memimpin Pemerintahan Afsel.

 

A.   2. Politik Luar Negeri Afrika Selatan

 

  1. 2. 1. Kerja Sama Regional Afrika

     

25.    Pemerintah Afrika Selatan dalam menjalankan politik luar negerinya selalu berpegang pada pemenuhan African Agenda yang bertujuan untuk sebagai berikut:

 

  1. Penguatan AU beserta perangkatnya, termasuk pemberian dukungan kepada Pan-African Parliament, pembentukan lembaga finansial AU, memfasilitasi implementasi AU Gender Declaration, integrasi AU dengan SADC.
  2. Berkontribusi pada agenda SADC untuk melakukan integrasi program aksi Regional Indicative Strategic Development Plan (RISDP)
  3. Penguatan dan pemberian bantuan teknis kepada SADC, khususnya Sekretariat SADC dan Integrated Committee of Ministers (ICM).
  4. Berperan aktif dalam Post-conflict Reconstruction and Development (PCRD) di Afrika, khususnya di Republik Demokratik Kongo dan Sudan.
  5. Berperan aktif dalam menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas di Kawasan melalui pembentukan the African Standby Force, dukungan terhadap stabilisasi di Sahara Barat, pengiriman pasukan perdamaian di Pantai Gading, serta penguatan kerja sama bilateral dengan negara-negara di Afrika.

     

26.    Pemerintah Afrika Selatan telah menggunakan kesempatan memperingati hari ke-20 tahun kemerdekaannya menegakkan kebijakan luar negeri Afrika Selatan yang berkomitmen untuk terus memainkan peran positif menuju kawasan Afrika dan kawasan regional lainnya.

 

27.    Perdamaian dan stabilitas politik di kawasan Afrika akan tetap menjadi prioritas pemerintah Afrika Selatan, dimana kebijakan luar negeri ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara Afrika Selatan tidak akan dapat berkembang secara stabil, berkelanjutan dan terintegrasi dalam pembangunan di Afrika, jika tidak adanya perdamaian di negara-negara tetangganya

 

28.    Sebagai negara yang bertetangga dengan landlocked countries, Afrika Selatan telah memberikan perhatian khusus kepada negara-negara seperti Lesotho, Swaziland dan Botswana. Kekuatan politik dan ekonomi Afrika Selatan sangat mempengaruhi perkembangan politik dan ekonomi ketiga negara tetangga tersebut. Dalam hubungan politik dan keamanan, Pemerintah Afrika Selatan selalu diminta untuk membantu menyelesaikan permasalahan jika terjadi perkembangan politik dan keamanan yang kurang menguntungkan negara tetangga. Demikian juga, dalam mengembangkan politik, negara tetangga selalu menggunakan kemajuan ekonomi dan infrastruktur Afrika Selatan untuk pembangunan ekonomi dan investasi di  negaranya. Dengan demikian, Afrika Selatan menjadi menjadi rujukan bagi negara tetangga dalam melaksanakan politik luar negerinya.

 

29.    Selanjutnya, pelaksanaan politik luar negeri Afrika Selatan  memberikan prioritas pada peningkatan kerja sama regional di kawasan dengan berpartisipasi aktif dalam organsiasi regional kawasan yaitu African Union (AU), SADC (yang beranggotakan Angola, Botswana, Kongo, Lesotho, Malawi, Maurutius, Mozambique, Namibia, Seychelles, Afrika Selatan, Swaziland, Tanzania, Zambia dan Zimbabwe), Southern African Customs Union/SACU (yang terdiri dari Botswana, Lesotho, Namibia, Afrika Selatan dan Swaziland)  dan Common Market for Eastern and Southern Africa/COMESA (yang terdiri dari Burundi, Comoros, Republik Demokratik Kongo, Djibouti, Mesir, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Libia, Madagaskar, Malawi, Mauritius, Rwanda, Seychelles, Sudan, Swaziland, Uganda, Zambia dan Zimbabwe).

 

A.    2. 2. Kerja Sama Multilateral

 

30.    Afrika Selatan menerapkan kebijakan luar negeri yang pragmatis namun tetap berhati-hati dalam menyikapi gejolak global. Selain itu, Afrika Selatan sebagai negara yang pernah mengalami sejarah kelam apartheid, Afrika Selatan senantiasa mendukung gerakan anti kolonialisme dan condong kepada negara-negara yang pernah mengalami penjajahan. Dalam melaksanakan politik luar negerinya, Afrika Selatan menerapkan kebijakan luar negeri yang mendukung kepentingan dalam negeri, terutama dalam hal pertumbuhan perekonomian, mengingat Afrika Selatan masih menghadapi tingkat pengangguran yang cukup tinggi, yaitu 25,26% (2013).

 

31.    Pemerintah Afrika Selatan juga telah menggunakan kesempatan memperingati hari ke-20 tahun kemerdekaannya dari Rejim Apartheid, menegakkan kebijakan luar negeri Afrika Selatan yang berkomitmen untuk terus memainkan peran positif menuju pembentukan kawasan Multilateral yang demokratis terus menghapuskan bentuk-bentuk penjajahan baru. Sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Afrika Selatan selalu ikut mendukung dan berpartisipasi aktif agenda dan keputusan menjaga perdamaian dunia.

 

B.       EKONOMI

 

B.   1. Perekonomian Dalam Negeri Afrika Selatan 

 

32.    Perekonomian Afrika Selatan adalah yang terbesar kedua di Afrika setelah Nigeria, dimana Pendapatan Domestik Brutonya (PPP) mencakup 24% dari total keseluruhan benua Afrika. Afrika Selatan juga mendapat predikat upper-middle income country dari Bank Dunia (dimana hanya 4 negara di benua Afrika yang mendapat predikat tersebut, yaitu Afrika Selatan, Botswana, Gabon, dan Mauritius). Selepas tahun 1996 (setelah dilepaskannya sanksi internasional), perekonomian Afrika Selatan mengalami peningkatan drastis, dimana PDB-nya membesar berkali–kali lipat menjadi 326 Milyar Dollar AS lebih di tahun 2016, dan cadangan devisa meningkat dari yang hanya 3 Milyar Dollar pada tahun 1996 menjadi lebih dari 45 Milyar Dollar AS pada tahun 2016 ini. Saat ini demografi Afrika Selatan didominasi oleh penduduk berpendapatan kelas menengah yang menganut sistem demokrasi semenjak berakhirnya rezim apartheid.

 

33.    Berdasarkan struktur perekonomiannya, Afrika Selatan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif di sektor: Produksi pertanian, pertambangan, dan manufaktur terkait dua sektor tersebut. Afrika Selatan telah melampaui fase yang semula melandaskan perekonomiannya pada sektor primer dan sekunder (pada abad 20) menjadi perekonomian yang didorong oleh sektor – sektor tersier (mencakup 65% dari seluruh industri). Perekonomian Afrika Selatan terdiversifikasi menjadi beberapa sektor kunci, yaitu : pertambangan, pertanian, perikanan, manufaktur dan perakitan kendaraan, food processing, pakaian dan tekstil, telekomunikasi, energi, jasa keuangan dan bisnis, real estate, pariwisata, transportasi, serta perdagangan grosir serta eceran.

 

34.    Afrika Selatan memiliki perekonomian yang relatif terbuka, dengan perdagangan internasional (ekspor dan impor) yang mencakup 65% dari PDB nasional. RRT, UE, AS, dan Jepang adalah beberapa negara yang menjadi mitra dagang terbesar Afrika Selatan. Perdagangan intra Afrika juga terus meningkat secara signifikan selama 10 tahun terakhir.  Adapun produk ekspor utama Afrika Selatan adalah: Emas, berlian, platinum, bahan tambang, dan mesin-mesin.

 

35.    Pertumbuhan perekonomian yang lebih cepat, penciptaan lapangan pekerjaan, Black Economic Empowerment, dan koreksi ketidakseimbangan sosial – dalam konteks fiskal dan moneter – adalah target utama pembangunan jangka menengah Pemerintahan Presiden Zuma. Tingginya tingkat pengangguran di Afrika Selatan tetap menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan perekonomian dalam negeri Afrika Selatan, hal ini diperparah dengan eksploitasi oleh politikus faksi yang berkuasa dan juga serikat pekerja. Pertentangan akan terus terjadi antara kaum moderat dan sayap kiri, yang hingga kini masih saling berebut dalam melakukan intervensi terhadap ekonomi. Namun demikian, berdasarkan tu ntutan masyarakat yang pragmatis, pada akhirnya belum ada perubahan kebijakan perekonomian yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Perecepatan reformasi lahan tanpa mencederai petani potensial atau menjauhkan investor masih menjadi tantangan tersendiri bagi Afrika Selatan.

 

36.    Dalam rezim perpajakan Afrika Selatan, Pajak Pertambahan Nilai (VAT) sangat menonjol dan berkontribusi besar terhadap perekonomian. VAT dibebankan secara flat. Pajak korporat telah dipotong dari yang sebelumnya 29% menjadi 28% pada bulan April 2008. Pajak sekunder perusahaan dihilangkan dan diganti dengan pajak yang langsung dikenakan pada dividen (pendapatan saham) para pemegang saham sebesar 15%. Marjin pajak pendapatan pribadi adalah mencapai 40%. Wilayah ekonomi khusus (SEZ) menawarkan konsesi pajak bagi investor.

 

37.    Pasca apartheid, Afrika Selatan menerapkan kebijakan, yang dianggap oleh banyak pihak sebagai bentuk affirmative action terhadap suatu ras tertentu. Kebijakan yang disebut sebagai black economic empowerment (BEE) diklaim bukan sebagai inisiatif moral untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. BEE dianggap sebagai strategi pertumbuhan yang pragmatis dalam rangka mengoptimalkan potensi ekonomi nasional, termasuk membantu kaum kulit hitam untuk masuk kedalam arus utama perekonomian nasional. Perusahaan harus mendapatkan BEE Rating dan tanpa adanya sertifikat BEE Rating, maka suatu perusahaan akan didisqualifikasi dan dianggap usahanya tidak legal.

 

38.    Ekonomi Afrika Selatan mengalami pertumbuhan sebesar 1,3% di tahun 2015. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan angka pertumbuhan sebesar 1,5% di tahun 2014 dan 2,2% di tahun 2013. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 ditentukan oleh menurunnya performa dua sektor industri utama Afrika Selatan dan pertumbuhan di delapan sektor lainnya. 

 

39.    Sektor yang mengalami penurunan drastic adalah sektor pertanian. Bencana keekringan menyebabkan sektor pertanian mengalami kontraksi sebesar 8,4%. Industri listrik, gas, dan air juga mengalami kontraksi sebesar 1%. Pertumbuhan sektor manufaktur hanya mencapai 0,1%. Sektor lainnya yang mengalami pertumbuhan di bawah 2% adalah pengeluaran pemerintah (0,9%), jasa perorangan (1,1%), transportasi (1,4%), perdagangan (1,4%) dan kosntruksi (1,9%).

 

40.    Sektor keuangan tumbuh sebesar 2,8%, hal ini merupakan kontributor utama dari pertumbuhan ekonomi Afrika Selatan secara keseluruhan mengingat sektor keuangan mencakup 21% dari ekonomi Afrika Selatan. Industri pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi, di angka 3%. Angka pertumbuhan ini dimungkinkan dengan pertumbuhan produksi Logam Kelompok Platinum (PGM). Angka produksi PGM yang rendah di tahun 2014 akibat peristiwa pemogokan pekerja tambang berujung pada meningkatnya angka produksi sebesar 46,2% dibandingkan tahun 2014. Dari empat bahan mineral utama produksi Afrika Selatan (PGM, biji besi, emas, dan batu bara), hanya PGM yang mencatatkan pertumbuhan produksi di tahun 2015.

 

41.    Pada saat ini, Afrika Selatan tengah mengalami defisit perdagangan. Data bulan Februari 2016 menunjukkan nilai ekspor Afrika Selatan sebesar 90,679 milyar Rand dan nilai impor sebesar 91,747 milyar Rand, dengan deficit perdagangan sebesar 1, 067 milyar Rand. Lima negara tujuan ekspor Afrika Selatan utama adalah Jerman (8,2%), Amerika Serikat (8%), Tiongkok (7,4%), Botswana (5,3%) dan Jepang (4,9%). Adapun 5 negara asal impor Afrika Selatan yang utama adalah Tiongkok (20,2%), Jerman (12,4%), Amerika Serikat (7,3%), India (4%) dan Jepang (3,2%).

 

C.       SOSIAL BUDAYA

 

  1. Total populasi penduduk di Afrika Selatan adalah 54.002.000 Jiwa, dengan komposisi berdasarkan ras : 80,2 % kulit hitam, 8,8% kulit berwarna, 2,5% Asia, 8,4 % kulit putih. Sebagian besar masyarakat Afrika Selatan memeluk agama nasrani (kristen dan katolik) dengan prosentasi sebesar 68,62%; Budha (0,009%), kepercayaan tradisional (0,29%), Hindu (1,23%), Yahudi (1,67%), Islam (14,59%), Atheis (15,09%), Taois (0,0008%).

     
  2. Masalah utama Arika Selatan terletak pada ketimpangan antara warga kulit hitam dan kulit putih. Warga kulit putih tetap berada dalam tingkatan kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan warga kulit hitam. Hal ini tampaknya akan tetap berlanjut di masa yang akan datang mengingat hal yang sama juga terjadi di bidang pendidikan. Data Statistic South Africa menunjukkan bahwa di tahun 2014, untuk warga kulit putih 12,8 persen tidak lulus SMA, 40,4% lulus SMA, dan 46,1% lulus perguruan tinggi. Sebaliknya, untuk warga kulit hitam 53,6% tidak lulus SMA, 29% lulus SMA, dan 16,1% lulus perguruan tinggi.

 

III.      SEKILAS HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA- AFRIKA SELATAN

 

Pembukaan Hubungan Diplomatik:

12 Agustus 1994, sebelumnya telah disetujui pembukaan Kantor Kepentingan RI di Pretoria (LORI – Liaison Office of the Republic of Indonesia) pada tanggal 10 Februari 1994

 

Perwakilan Pemerintah:

Indonesia:

Kedutaan Besar RI di Pretoria dan Konsulat Jenderal RI di Cape Town

 

Republik Afrika Selatan

Kedutaan Besar Republik Afrika Selatan di Jakarta

 

Perwakilan Diplomatik:

Duta Besar RI di Pretoria:

Drs. Suprapto Martosetomo

 

Duta Besar Republik Afrika Selatan di Jakarta:

Mr. Pakamisa Augustine Sifuba

 

Kemitraan Strategis:

Joint Declaration on Strategic Partnership for a Peaceful and Prosperous Future between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of South Africa (ditandatangani 17 Maret 2008)

 

Data Perdagangan RI-Republik Afrika Selatan:

 

(Nilai: Ribu US$)

Uraian20112012201320142015Trend (%) 2011-2015Jan-AguPerub (%) 2016/2015
20152016
TOTAL PERDAGANGAN2.142.367,42.353.483,91.895.266,11.877.999,2898.066,7-17,84606.192,5675.697,911,47
MIGAS24.302,842.744,21.614,521.491,51.799,2-44,531.408,4950,1-32,54
NON MIGAS2.118.064,52.310.739,71.893.651,61.856.507,7896.267,5-17,63604.784,2674.747,811,57
EKSPOR1.436.590,81.691.502,81.270.335,01.379.503,0666.126,7-15,98455.905,6497.514,79,13
MIGAS22.700,541.203,7251,0422,2502,7-70,48259,2166,4-35,79
NON MIGAS1.413.890,31.650.299,01.270.084,01.379.080,9665.624,0-15,52455.646,4497.348,39,15
IMPOR705.776,6661.981,1624.931,1498.496,2231.940,0-22,19150.286,9178.183,318,56
MIGAS1.602,41.540,41.363,521.069,31.296,524,511.149,2783,7-31,80
NON MIGAS704.174,2660.440,7623.567,6477.426,9230.643,5-22,56149.137,7177.399,518,95
NERACA PERDAGANGAN730.814,21.029.521,7645.403,9881.006,8434.186,6-11,28305.618,6319.331,44,49
MIGAS21.098,139.663,3-1.112,5-20.647,1-793,80,00-890,1-617,330,64
NON MIGAS709.716,1989.858,3646.516,4901.654,0434.980,4-10,17306.508,7319.948,84,38

Sumber: BPS, Processed by Trade Data and Information Center, Ministry of Trade

 

 

Investasi langsung (FDI) Republik Afrika Selatan di Indonesia:

Q3 – 2014:

US$ 0,5 Juta, 1 proyek

                                                                            * (Sumber: BKPM)

 

Ekspor Utama RI ke Afrika Selatan:

Perhiasan, dan batu – batu semi perhiasan (43%); Lemak hewani, nabati dan juga minyak termasuk CPO (18%); Karet dan produk turunannya (12%); Kendaraan Otomotif (7%), Kertas dan Papan Kertas (4%), alat – alat elektronik rumah tangga (4%), Filamen buatan (3%), produk alas kaki (3%), produk keramik (2%)                                           

                                                           *(Sumber: ITPC Johannesburg)

 

Impor utama RI dari Afrika Selatan:

Pulp Kertas (37%), Base Metal (32%); Bahan – bahan kimia industri (9.2%), Makanan hasil proses, minuman, cuka, tenbakau, dan barang industri pengganti tembakau (7.52%); Produk Mineral (4.9%); Mesin, alat – alat mekanik dan kelistrikan, serta elektronik (3.69%). Produk Nabati (1,54%)                                                                                

 

* (Sumber: DTI Afrika Selatan)

 

Sektor Unggulan Investasi Republik Afrika Selatan di RI:

Tidak ada Data

 

Wisatawan Afrika Selatan ke Indonesia:

2013:  16.928 orang

2014:  17.375 orang

                                                                 * (Sumber: Kemenpar)

 

 

Wisatawan/ Pengunjung Indonesia ke Afrika Selatan:

2014:    3.102 orang

2015:    2.040 orang                                          

 

* (Sumber: Statistic South Africa)

 

Pertemuan Tingkat Kepala Negara Terakhir:

Kunjungan Kenegaraan Presiden Soesilo Bambang Yudoyono ke Afrika Selatan, Maret 2008

 

Kunjungan Kenegaraan Terakhir:

Presiden Soesilo Bambang Yudoyono ke Afrika Selatan bulan Maret 2008

 

Presiden Thabo Mbeki ke Indonesia 2005

 

Pertemuan Tingkat Menlu Terakhir:

Pertemuan Bilateral Menlu tanggal 19 April 2015 di Jakarta, di sela Peringatan Konferensi KAA ke-60

 

A.       HUBUNGAN BILATERAL POLITIK

 

44.    Hubungan politik Indonesia dan Afrika Selatan merupakan warisan dari kedua pendiri negara. Presiden Soekarno yang memimpin kemerdekaan Indonesia dan pembentukan Konperensi Asia-Afrika telah menginspirasi Pendiri negara Afrika Selatan, Neslon Madela memerdekakan Rakyat Afrika Selatan dari penjajahan rejim Apartheid. Hubungan yang bersejarah ini terus ditingkatkan sampai saat ini melalui saling kunjung pejabat tinggi dan kerjasama kedua negara.

 

45.    Pada tanggal 1 Maret 2014 di Jakarta, Indonesia dan Afrika Selatan selaku co-chair melakukan launching fase ke-2 NAASP capacity building program untuk Palestina (dalam kerangka CEAPAD II). Dalam kesempatan tersebut, Menlu RI dan Menlu Afrika Selatan melakukan pertemuan bilateral membahas perkembangan dan upaya peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Kedua Menlu antara lain menyepakati agar Plan of Action implementasi Kemitraan Strategis antar kedua negara.

 

46.    Ditingkat Internasional, Afrika Selatan telah memberikan dukungannya pada pencalonan Indonesia pada Dewan ITU (International Telecomunication Union). Pemerintah Afrika Selatan telah memberikan dukungan bagi pencalonan Indonesia di Dewan ITU 2014– 2018 dan Pencalonan Bapak Meiditomo Sutyarjoko sebagai Anggota Radio Regulation Board (RRB) ITU periode 2014–2018.  Demikian juga, Pencalonan Indonesia pada United Nations Human Rights Council (UNHRC),  untuk periode tahun 2015 – 2017, Indonesia dan Afrika Selatan melakukan aksi saling dukung.

 

47.    Adapun kegiatan saling kunjung pemimpin kedua negara dan pejabat tinggi, adalah sebagai berikut:

 

  • Presiden Nelson Mandela ke Indonesia, September 1994 dan Juli 1997
  • Presiden Soeharto ke Afrika Selatan, November 1997
  • Presiden Abdurrahman Wahid ke Afrika Selatan, April 2000
  • Presiden RI Megawati Soekarnoputri ke Afrika Selatan, September 2002.
  • Presiden Thabo Mbeki, tanggal 19‑20 April 2005 (kunjungan kenegaraan) dilanjutkan dengan kehadirannya pada KTT AA 2005 dan Peringatan 50 tahun KAA 1955
  • Wakil Presiden RI H.M. Jusuf Kalla ke Afrika Selatan September 2005
  • Deputi Presiden Afrika Selatan, Phumzile Mlambo‑Ngcuka ke Indonesia, April 2006
  • Kunjungan Kenegaraan Presiden S.B. Yudhoyono ke Afrika Selatan pada bulan Maret 2008
  • Deputi Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa ke Indonesia, April 2015

     

     

B.       HUBUNGAN BILATERAL EKONOMI

 

B.   1. Perdagangan Luar Negeri

 

48.    Dalam dimensi perdagangan luar negeri, Afrika Selatan adalah negara urutan ke-7 dari seluruh negara tujuan ekspor Indonesia. Sedangkan bagi Afrika Selatan Indonesia adalah negara urutan ke-29 dari seluruh negara tujuan ekspor Afrika Selatan. Walaupun neraca perdagngan Indonesia-Afrika Selatan terus menerus menujukkan penurunan pada kurun waktu 2012-2015, Indonesia selalu mendapat surplus perdagangan.

 

49.    Pada umumnya aktifitas pengusaha Indonesia di Afrika Selatan dan sebaliknya masih sangat minim. Beberapa hal yang masih menjadi penghalang antara lain adalah persepsi negatif pengusaha Indonesia mengenai Afrika, jarak yang cukup jauh dengan sarana transportasi udara yang cukup terbatas, dan terutama masih terbatasnya ketersediaan letter of credit (LC) yang dikeluarkan bank-bank di Indonesia yang dapat diterima di Afrika dan juga sebaliknya.

 

50.    Berdasarkan data yang diperoleh dari UNCOMTRADE (database perdagangan internasional yang dirilis oleh PBB), dapat disimpulkan bahwa, disamping produk udang, kelapa sawit, karet dan alas kaki, produk unggulan Indonesia masih belum bisa meraih pasar Afrika Selatan dengan optimal (dengan pangsa rata – rata di bawah 3%). Berdasarkan data dan observasi yang diperoleh, disimpulkan salah satu penyebabnya adalah belum diprosesnya produk – produk unggulan Indonesia pada kelas yang lebih tinggi (value added process)¸contohnya untuk Kakao biji tidak ada permintaan dari Afrika Selatan, namun  untuk after process productnya, seperti minyak Kakao dan Bubuk Kako, permintaanyya cukup tinggi, namun tidak bisa dipenuhi oleh eksportir Indonesia. Indonesia sebagai negara yang memiliki keunggulan komparatif juga belum mengakses pasar produk pakaian jadi di Afrika Selatan yang cukup tinggi permintaannya dan juga memiliki trend yang sangat positif. Selain itu, Indonesia sebagai salah satu produsen komponen kendaraan bermotor di Asia, tidak memanfaatkan permintaan yang cukup besar dari Afrika Selatan.

 

51.    Peningkatan hubungan dan kerja sama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Afrika Selatan juga ditandai antara lain dengan meningkatnya intensitas pengiriman misi ekonomi dari Afrika Selatan ke Indonesia dan sebaliknya. Delegasi Afrika Selatan setiap tahunnya aktif berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) di Jakarta. Sebaliknya delegasi bisnis Indonesia telah berpartisipasi dalam berbagai pameran di Afrika Selatan seperti pameran Africa Big Seven, Saitex dan Decorex.

 

B.   2. Kerja Sama Ekonomi Indonesia – Afrika Selatan

 

52.    Adapun kerjasama bilateral ekonomi yang telah dilakukan antara Indonesia dan Afrika Selatan adalah sebagai berikut:

 

  • Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Afrika Selatan mengenai Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak atas Pendapatan dan atas Kekayaan (15 Juli 1997)
  • Persetujuan Hubungan Udara antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Afrika Selatan (20 November 1997)
  • Persetujuan Dagang antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Afrika Selatan (20 November 1997)
  • Memorandum Saling Penegertian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Afrika Selatan mengenai Kerja Sama Pengembangan Pertanian (19 April 2005)
  • Memorandum Saling Pengertian antara Otoritas-Otoritas yang Kompeten dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Indonesia, Republik Indonesia dan Pusat Intelejensi Keuangan Republik Afrika Selatan mengenai Kerja Sama dalam Pertukaran Intelejen Keuangan yang Berhubungan dengan Pencucian Uang dan Keuangan Teroris (19 November 2006)

     

B.   3. Investasi

 

53.    Hubungan investasi Indonesia dan Afrika Selatan belum berkembang secara baik. Tercatat pada tahun 2014 kuartal ketiga, pengusaha Afrika Selatan telah melakukan investasi ke Indonesia sebesar US$ 0.5 Juta untuk 1 proyek. Catatan ini adalah yang pertama setelah pada tahun 2011 terdapat 3 proyek di bidang perhotelan dan resor senilai US$ 1,2 Juta.

 

B.   4. Ekonomi Pertahanan (Alutsista)

 

54.    Afrika Selatan adalah negara yang memiliki industri pertahanan yang sangat maju. Beberapa perusahaan besar, seperti Daenel dan Paramount adalah perusahaan industri persenjataan  peninggalan masa apartheid yang memiliki spesifikasi teknologi persenjataan yang sangat maju dan banyak dimanfaatkan oleh NATO dan negara – negara maju lain. Pasca apartheid, banyak mantan prajurit dan pasukan khusus Afrika Selatan (yang mengundurkan diri) membentuk firma swasta yang bergerak di industri keamanan serta  menjadi tentara bayaran di berbagai perusahaan mercenary internasional, seperti Sandline, Blackwaters, dan juga Halliburton.

 

B.   5. Forum Komunikasi Ekonomi

 

55.    Indonesia dan Afrika Selatan hingga kini memiliki 2 forum komunikasi ekonomi, yaitu Joint Trade Commission (JTC) dan Joint Agricultural Cooperation Commission (JACC). JTC dibentuk ditandai dengan penandatanganan deklarasi pembentukan JTC pada tanggal 19 April 2005. JTC sudah berlangsung sebanyak 2 kali, masing – masing di Afrika Selatan dan Indonesia. Pada JTC terakhir pada tahun 2012, disepakati untuk dilakukan pertukaran informasi terkait joint feasibility study untuk melakuka kerjasama tarif preferensial (preferential trade agreement) dan juga penandatanganan MoU Special Economic Zone (SEZ)  Afrika Selatan dan juga Batam International Free Trade Zone Area (BIFZA). JTC ke 3 direncanakan untuk dilaksanakan pada tahun 2014, namun masih terhalang isu persetujuan tanggal pelaksanaan oleh pihak Afrika Selatan (Department of Trade and Industry). MoU SEZ – BIFZA masih dalam proses pertukaran draft.

 

56.    JACC pertama direncanakan untuk dilaksanakan pada tahun 2014, tapi hingga kini masih belum bisa terlaksana diakibatkan belum didapatkannya kepastian tanggal dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

 

C.       HUBUNGAN BILATERAL SOSIAL BUDAYA

 

C.   1. Kerja Sama Kebudayaan

 

57.    Telah ditandatangani Memorandum Saling Pengertian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Afrika Selatan tentang Kerja Sama Kebudayaan (Memorandum of Understanding between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Republic of South Africa) pada tanggal 17 Maret 2008 di Pretoria. Perjanjian ini berlaku selama 5 tahun dan secara otomotis akan diperpanjang 5 tahun berikutya, kecuali ada pernyataan tertulis terkait pembatalan oleh salah satu atau Pemerintah Indonesia maupun Afrika Selatan.

 

58.    Di bidang pendidikan, kerja sama RI-Afrika Selatan telah terjalin dalam pemberian Beasiswa Darmasiswa, Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia, Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang serta Beasiswa Kementerian Agama. Selama periode 2007-2015, sekitar 50 mahasiswa Afrika Selatan tercatat sebagai penerima beasiswa tersebut.

 

C.   2. Kerja Sama Pariwisata

 

59.    Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pariwisata, ITPC dan bekerjasama dengan fungsi ekonomi KBRI Pretoria, setiap tahun mengikuti event internasional di bidang pariwisata yang dikenal dengan nama Getaway Show. Pada acara ini, Indonesia mempromosikan berbagai aspek kebudayaan nasional dan juga komoditas pariwisata nasional kepada masyarakat Afrika Selatan.