Ceko mengenang sang Negarawan, Penulis dan Revolusioner, Vaclav Havel, 1936 - 2011

12/19/2011

 

 

 

Saat rezim komunis berkuasa di Cekoslovakia selama 40 tahun, pada umumnya orang memilih untuk diam dan menerima kenyataan, namun tidak bagi Vaclav Havel yang sempat dipenjara selama 5 tahun. Kini dunia kehilangan salah satu tokoh yang akan terus dikenang sebagai pejuang hak asasi manusia dan demokrasi di Ceko dan wilayah Eropa Tengah dan Timur. Mantan presiden pertama Republik Ceko Vaclav Havel telah meninggal dunia karena sakit yang telah lama dideritanya, pada 18 Desember 2011, di usia 75 tahun, di kediaman pribadinya di kota Hdradecek, wilayah Bohemia Timur, Republik Ceko.

 

Vaclav Havel, yang lahir pada 5 Oktober 1936, adalah seorang sastrawan dan dramawan. Pada tahun 1977, Havel bersama 6 rekannya menggagas Gerakan Piagam 77 yang mengkritik rezim Komunis Cekoslovakia karena pelanggaran Hak Asasi Manusia selama masa pemerintahannya. Pada tahun 1989, Vaclav Havel memimpin Revolusi Beludru (Velvet Revolution) tanpa adanya satu peluru yang ditembakkan bersama para seniman dan mahasiswa, yang mengakibatkan jatuhnya komunisme di Cekoslovakia, menyusul runtuhnya Tembok Berlin di Jerman. Vaclav Havel kemudian terpilih menjadi presiden pertama negara demokratis Cekoslovakia pada Desember 1989. Havel terus menduduki jabatannya sebagai Presiden Republik Ceko, bahkan setelah Ceko dan Slovakia berpisah menjadi dua negara berdaulat, hingga tahun 2003.

 

Mendiang Vaclav Havel melepaskan karir politiknya seusai masa jabatannya pada tahun 2003 dan meneruskan perjuangannya melawan kediktatoran dan ketidakadilan melalui tulisan dan naskah pertunjukan teater pada tahun 2008 dan karya filmnya Odchazeni (Kepergian) tahun 2011. Havel memberikan dukungan kuat kepada kawan-kawan dekatnya Aung San Suu Kyi di Myanmar dan Dalai Lama di Tibet.

 

Vaclav Havel adalah salah seorang pendiri the Forum 2000 pada tahun 1996, yang menyelenggarakan konferensi global tahunan di Praha. Forum 2000 telah menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan terkait isu-isu strategis global seperti pencegahan eskalasi konflik, toleransi beragama, pemahaman keanekaragaman budaya dan suku bangsa, lingkungan hidup, HAM, gender, dan demokrasi. Terakhir Vaclav Havel menjabat sebagai Ketua Human Rights Foundation yang bermarkas di New York. Vaclav Havel terakhir kali terlihat oleh publik pada 10 Desember 2011 saat bersama Dalai Lama menandatangani petisi mendukung para pemberontak rezim totaliter di seluruh dunia di Praha sewaktu Dalai Lama menjadi salah seorang pembicara dalam Forum 2000.

 

Havel telah menerima berbagai penghargaan asing dan internasional antara lain medali Kemerdekaan dari Presiden Amerika Serikat, Order of Canada, Ambassador of Conscience Award oleh Amnesty International, International Gandhi Peace Prize dari India, penghargaan tertinggi the Order of St. George oleh Presiden Georgia Saakhasvili, dan pernah terpilih sebagai tokoh intelektual paling berpengaruh nomor 4 di Dunia oleh Prospect Magazine tahun 2005, serta salah satu dari 15 Pahlawan Demokrasi Dunia oleh A Different View tahun 2008.

 

Pada Desember 2010, atas undangan KBRI Praha, wartawan senior Budiarto Shambazy berkesempatan bertemu dan mewawancarai Vaclav Havel di kantornya, sementara Forum 2000 pernah mendatangkan pembicara dari Indonesia, Dewi Fortuna Anwar pada tahun 2010.

 

Mewakili rakyat dan pemerintah Republik Indonesia, Duta Besar RI Praha, Emeria Siregar, telah mengisi buku duka bertempat di the New Royal Palace, Prague Castle, yang dibuka bagi kalangan diplomatik asing di Ceko.

 

Istana Presiden Ceko di Praha mengibarkan bendera hitam pada 18 Desember 2011 sebagai tanda berkabung atas wafatnya Vaclav Havel, sementara pertemuan-pertemuan Dewan Uni Eropa pada 19 Desember 2011 diberitakan diawali dengan acara mengheningkan cipta sejenak guna mengenang tokoh pejuang HAM dan Demokrasi tersebut.

 

Praha, 19 Desember 2011