Pray For Indonesia

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Dari ide sekedar mengumpulkan dana sebagai ungkapan keprihatinan dan rasa senasib sepenanggungan antar sesama anak bangsa, gagasan semakin berkembang dan meluas. Inilah buah dari suatu wahana urun rembuk yang disebut “coffee morning” yang secara rutin dan spontan berjalan setiap Senin pagi sejak kedatangan Dubes baru sebulan lebih lalu. Selanjutnya hal-hal yang dipandang serius yang muncul dalam wahana tersebut dilanjutkan pembahasannya dalam rapat staf rutin pada hari Selasa. Awalnya ide pengumpulan dana sangat sederhana, yakni sebarkan edaran yang berisi ajakan dan himbauan kepada seluruh warga masyarakat Indonesia yang ada di Port Moresby dan sekitarnya yang berjumlah +/- 400orang untuk secara bersama-sama dan dengan sukarela memberikan sumbangan kemanusiaan bagi saudara-sadara kita yang mengalami penderitaan akibat bencana alam di Indonesia (Wasior, Mentawai dan Merapi). Lalu ada usul untuk mengkaitkan peringatan hari pahlawan dengan situasi prihatin yang sedang menimpa bangsa tercinta. Selanjutnya ide berkembang lagi untuk sekalian melaksanakan himbauan “pray for Indonesia”. Mengingat bahwa pertengahan bulan biasanya juga merupakan hari pembinaan masyarakat maka diputuskan bahwa seluruh rangkaian acara tersebut dipadukan, diramu dan dilaksanakan pada tanggal 14 November 2010. Hal yang semula merupakan oborolan “bapak-bapak” pada acara coffee morning tersebut secara cepat sampai pula ke “ibu-ibu” (DWP) dan bak gayung bersambut timbul gagasan-gagasan baru lagi, yaitu “membeli sambil menyumbang”. Nah lahir lah ide untuk menjual makanan-makanan khas Indonesia pada acara hari itu. Tentunya harganya agak dimahalin sedikit, namanya juga acara pengumpulan dana sumbangan. Ibu-ibu agak optimis karena masyarakat Indonesia yang ada di PoM dan sekitarnya umumnya pekerja “bujangan” yang pasti rindu makanan Indonesia. Namun untuk tidak mengecewakan yang tidak bawa uang, disediakan juga porsi kecil nasi goreng gratis. Ide tak berhenti sampai disini, bak bola salju semakin deras meluncur dan semakin besar saja. Anak-anak tidak mau ketinggalan memberi kontribusi. Jelas uang mereka tidak punya, tapi semangat besar dan menggebu. Mereka usul untuk adakan permaninan meriah dan menghibur dengan bayaran kecil. Pada saat mereka agak kebingungan mencari bentuk permainan, secara cerdas dan Jenara Pak Dubes datang dengan ide lempar gelang ke leher bebek. Ide spontan tersebut sempat menyetrum anak-anak, mereka semangat, sampai salah seorang dari mereka berkata dengan lirih: “Pak Dubes, selama di PoM saya tidak pernah lihat bebek hidup, adanya hanya bebek merah yang tergantung di rumah makan cina…he..he..he….”. Sebagai pemicu oke lah, tapi memang usulan Pak Dubes tersebut untuk kesempatan kali ini tidak workable. Tapi kemudian muncul ide-ide brillian lain dari anak-anak…..Nah lengkaplah partisipasi masyarakat Indonesia di PoM dari berbagai lapisan dan umur dalam misi mulia ini. Jadi secara umum urutan acara pada hari Minggu, 14 November 2010 lalu adalah sbb: Upacara Bendera Peringatan Hari Pahlawan, dipimpin oleh Dubes RI sebagai inspektur upacara; penjelasan dan tayangan kondisi terakhir korban bencana alam di Indonesia; doa bersama dipimpin oleh pemuka-pemuka agama (Islam, Katholik, Protestan) secara bergantian; penjualan beragam makanan Indonesia dan permainan dalam rangka pengumpulan dana; serta penghitungan dan pengumuman hasil pengumpulan dana. Semua senang, semua puas dan jumlah sumbangan yang terkumpul pada hari itu sebesar 32.500 Kina+150 Dollar AS+107.000 Rupiah yang keseluruhannya ekwivalen dengan Rp 98.000.000 (sembilan puluh delatan juta rupiah). Adapun jumlah tersebut terdiri dari berbagai komponen sbb: hasil penjualan makanan sebesar 9.000 Kina; sumbangan spontan 23.500 Kina+150 Dollar AS+107.000 rupiah; hasil permaninan anak-anak 70 Kina. Dana tersebut akan disalurkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan melalui Dompet TV One. Sedikit yang kami miliki, tetapi keihlasan dan dan ketulusan serta rasa sepenanggungan yang mendasarinya membuat yang kecil dapat menjadi besar.